Di luar ruangan Varrel terlihat Dira bergerutu kesal, mengumpat bahkan Sinta sekretaris Varrel jadi orang yang mendengar ocehan Dira. Wanita itu kesal setengah mati karena ruangan Varrel tidak kunjung dibuka. Memanggil, bukan lagi, melainkan Dira sudah berteriak memanggil Varrel agar membukakan pintu ruangannya. Alhasil Dira semakin kesal dibuatnya.
Ruangan itu kedap akan suaranya, ruangan yang memang didesain untuk kedap suara oleh pak Edy sendiri. Guna untuk menjaga privasi ruangan, dan terlebih lagi Varrel dan Zahra berada didalam kamar ruangan itu. Jelas suara teriakan Dira mau sekeras apapun tetap tidak akan terdengar oleh Varrel.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul lima sore, itu pertanda sudah waktunya jadwal pulang kantor. Dan Dira sudah lebih dua jam menunggu Varrel membukakan pintu ruangan itu.
"Sebenarnya apa yang mereka lakukan sih, didalam bisa-bisa mereka berdua dan dengan keadaan pintu di kunci seperti ini!" dengus Dira untuk kesekian kalinya.
Ya, dia sudah tau kalau di dalam ruangan Varrel ada Zahra, ia tau karena bertanya kepada Sinta. Sang sekretaris juga merasa ada yang aneh, dengan apa yang ia lihat. Bagaimana bisa Zahra anak baru masuk hari ini bisa masuk kedalam ruangan Varrel dan terlebih lagi, mereka berdua terlihat sangat akrab yang membuat Sinta kepo.
Jujur, Sinta mengetahui semua orang yang berteman dengan Varrel baik itu laki-laki maupun perempuan, karena memang Sinta selalu berkecamuk dengan kehidupan Varrel, sebagai sekretarisnya. Tapi untuk Zahra, dia baru kali ini melihat Varrel begitu dekat seorang wanita.
"Siapa wanita itu, apa kamu tahu tentangnya?" Tanya Dira kepada Sinta, wanita itu segera menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya, yang aku tau, dia karyawan humas baru. Itu saja sih, karena tadi aku memanggilnya untuk kesini!" Jawab Sinta seadanya.
"Sialan, jangan-jangan dia ingin menggoda Varrel, dasar jala**. Cepat panggil HRD suruh bawa data wanita itu keruangan ku sekarang!" Tinta Dira, membuat Sinta menganggukkan kepalanya pertanda mengerti.
***
Sementara didalam ruangan atau lebih tepatnya di dalam kamar, kedua pasangan suami-istri itu sudah siap dalam ritual mandi mereka. Dan kini penampilan mereka sudah lengkap dengan pakaian masing-masing. Zahra terpaksa memakai pakaian yang tadi ia pakai, walaupun pakaian itu sudah terlihat kusut. Ya mau bagaimana lagi, karena tidak ada baju ganti.
Berbeda halnya dengan Varrel, pria itu dengan mudahnya memilih baju dalam lemari pakaian, kini Varrel sudah rapi dengan setelah jas hitam di pandu kemeja putih serta wajahnya terlihat begitu segar dari pada biasanya.
"Sudah jam Lima. Aku terlambat kerja, Intan dan Justin pasti mencari ku!" gumam Zahra berdecak kecil. Kenapa bisa-bisa tanpa ingat waktu dia sudah setengah hari dalam ruangan Varrel.
Walau ia sadar kalau dia istri bos, tapi sebagai seorang professional bukankah waktu itu lebih berharga dari apapun.
"Mereka tidak akan memakanmu kan, sayang. Tenang saja!" Kata Varrel menyahut tenang.
"Iya, mereka memang tidak akan memakan ku, aku ini manusia tapi mereka pasti nanti akan bertanya tentang ini kepadaku Varrel, mereka pasti akan bertanya kenapa aku tidak balik-balik, mereka pasti akan berpikir kalau aku ditelan bumi, hilang begitu saja. Bahkan tidak ada kabar. Lihat betapa banyak Intan menghubungi ku. Menanyai aku lagi berada dimana, dua pesan dan dua puluh lima kali panggilan tak terjawab dan itu Semuanya dari Intan!" cerocos Zahra kesal sekaligus garam sendiri.
"Bilang saja kamu lagi bersama suamimu!" Kata Varrel, pria itu datang menghampiri.
"Is, kamu kalau ngomong itu enak ya mas. Kamu tidak mengenal Intan, dia itu keras kepala banget kayek batu serta mulutnya itu gak ada rem dan lagi dia kepo sampai akar-akarnya. Kalau aku berusaha ngeles dia langsung interview aku, tanya ini dan itu!" Jelas Zahra memanyunkan bibirnya kesal, membuat Varrel yang melihat itu merasa gemas sendiri.
"Kan aku udah bilang sayang, katakan saja padanya kalau kamu itu sedang bermesraan dengan suami kamu sendiri. Toh, kamu istri Bos, jadi tidak akan ada yang berani marahin kamu. Kalau pun ada, saat itu juga aku akan menendangnya keluar dari perusahaan ku. Tidak ada yang boleh mengatai istriku kecuali aku sendiri." Varrel tak kalah menantang dengan zahra.
"Aaagggrrr ...." Zahra mengigit bibir bawahnya kasar, merasakan rasa nyerinya di area sensitifnya.
"Kamu kenapa sayang, apa masih sakit?" tanya Varrel khawatir.
"Aku tidak apa-apa, ini hanya sebentar beberapa jam lagi nantinya juga akan membaik!" balas Zahra.
"Apa sebaiknya kita kedokteran!" tawar Varrel.
"Ke dokter, mau ngapain?" tanya Zahra spontan menatap Varrel heran.
"Ya, mau periksa keadaan kamu lah sayang, aku khawatir!" jawab Kenzo.
"Gak mau!" Tolak Zahra cepat. Mau taruh Dimana wajahnya kalau sampai dia konsultasi ke dokter hanya gara-gara sakit habis melakukan hubungan intim. Bisa dia akan malu tidak berani keluar rumah berbulan-bulan.
*
Zahra POV
Aku kembali mengigit bibir bawahku kasar, saat langkahku berjalan menuntun keluar kamar Varrel, dengan kuat aku menahan rasa sakit itu berusaha berjalan seperti biasa.
"Sayang bagaimana kalau aku mengendongmu?' tawar Varrel, dia merasa iba kepadaku dan ini semaunya salahnya. Aku jalan ngangkang seperti itu karena dia yang menyebabkannya. Kalau saja dia tidak melakukan kasar pasti aku tidak akan kesakitan seperti ini.
"Tidak perlu aku bisa jalan sendiri!" Jawabku padanya, dia mengangguk kecil lalu membukakan pintu kamar.
Aku melangkah keluar setelah semuanya aku pastikan bajuku dan penampilanku seperti biasa. Varrel membukakan kunci pintu dengan remote controlnya.
"Pulang nanti tunggu aku!" katanya, aku masih mendengar lalu mengangguk paham. Baru setelah itu aku membukakan pintu ruangan Varrel.
Aku melangkah, baru tiga langkah aku melayangkan kakimu pelan, sosok wanita berambut panjang dengan gelombang menghadang ku, wanita yang aku ketahui namanya Dira, ya, Varrel mengatakannya tadi siang. Teman kecil suamiku, mereka sudah berteman sejak lama.
Dia berdiri menantang, wajahnya terlihat kesal, seolah-olah ingin menerkamku. Sementara aku diam tidak membalasnya. Namun sudah dipersekia detik dia masih saja berdiri di depanku tanpa mengatakan apapun, kecuali wajahnya yang masam itu.
"Permisi!" Akhirnya aku bersuara, memilih pergi darinya. Dan lagi-lagi dia menghadangku.
"Sebenarnya apa yang dia mau sih!" Batinku kesal.
"Beraninya kamu melewati ku tanpa aku perintah!" katanya yang setelah itu menarik rambutku secara tiba-tiba.
"Aaagggrrr ...." aku merintis kesakitan.
"Katakan padaku! Apa yang kalian lakukan didalam hah?!" katanya dengan nada membentak semakin kuat menarik rambutku.
"Aaagggrrr sakit, lepasin!" aku semakin merintis kesakitan. Hingga karena tidak tahan lagi aku-pun menendang kakinya kuat.
"Aaagggrrrr ...." Suaranya spontan melepaskan rambutku.
"Nona Dira!" Sinta yang melihat itu membulatkan matanya menghampiri wanita yang bernama Dira itu.
"Kalau anda sedikit sopan terhadap saya maka saya akan menghargai Anda, tapi kalau anda tidak sopan kepada saya. Maka jangan harap saya akan sopan kepadaku anda!" Ketusku penuh penekanan lalu kembali hendak pergi, dan untuk ketiga kalinya dia mengadang langkahku. Menarik tanganku agar mendekatinya lalu sebuah tamparan ia layangkan dipupuk, nyaris membuat aku tergusur.
Plakkkk
"Beraninya kamu menendang ku!" teriaknya meluap.
Plakkkk
Dengan menantang dan kuat aku menampar wajahnya kembali. Bahkan lebih keras dari tamparannya tadi.
"Jangan anda pikir mentang-mentang anda sekretaris pak Varrel anda bisa seenaknya melakukan kekerasan terhadap saya. Saya tegaskan kepada Anda, kalau anda merasa tidak senang makan jangan mencari masalah dengan saya!" Tukasku tak kalah keras dengannya.
"Apa yang kau lakukan, Zahra!" kali ini Sinta menimpali. Wajahnya yang tadi terlihat biasa-biasa saja kini memerah menahan amarah, mungkin dia marah karena aku menampar sahabatnya. Tapi aku harus melakukan itu, agar dia tidak bisa seenaknya dengan bawahnya. Dia pikir kami ini bukan manusia, atau b***k yang bisa dia perlakuan seenaknya. Aku jelas tidak terima kalau dia memperlakukan ku seperti ini, Ibuku dan ayahku saja tidak pernah melakukan kekerasan kepadaku walaupun aku sering melakukan kesalahan. Mereka selalu berbicara lembut kepadaku.
Dan dia dengan seenaknya menindasku, hello, aku tidak pernah makan nasi dari pemberian orang tuanya.
"Maaf, Bu Sinta, tapi saya tidak terima kalau saya di tindas seperti ini!" jawab Zahra