chapter 5

1428 Kata
Zahra POV Besok adalah persiapan pergi ke Paris rancangan dokumen proyek kesana sudah tujuh persen aku siapkan. Walaupun aku belum handal di bidang itu, namun aku bisa yakin bisa menyelesaikannya. Tidak bisa kalau kita tidak mencobanya. Aku mengambil koper, berniat memasukkan semua pakaian yang aku rasa perlu untuk aku bawakan ke Paris besok. Namun suara pintu terbuka membuat aku menoleh cepat. Sosok pria yang membuat hatiku sakit terlihat di ambang pintu, ya. Siapa lagi kalau bukan mas Varrel. Pandangan kami langsung bertemu, namun tidak berlangsung lama karena aku dengan cepat memalingkan kearah almari. Memasukkan cepat pakaianku kedalam koper. Kudengar langkah kaki Mas Varrel kian mendekat, hingga aku rasa jarang antara aku dengannya sangatlah dekat. "Maaf!" Katanya yang aku dengarkan. Aku semakin mempercepat kegiatanku. Sungguh melihat Mas Varrel membuat otakku langsung ingat kejadian kantor. Moodku memburuk. "Sebenarnya, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku---" ucapnya terjeda sendiri. Aku tidak menyahut, jangankan itu menoleh saja tidak. Aku rasanya sangat malas berdebat dengannya saat ini. Tanpa menghiraukan setelah aku rasa semua pakaian yang aku butuhkan sudah masuk semuanya dengan gegas aku melangkah pergi. "Zahra, tolong jangan seperti ini!" kata Mas Varrel spontan memegang tanganku secara tiba-tiba, membuat langkahku terhenti. "Aku tau aku salah, aku tidak seharusnya seperti itu. Tapi sungguh, aku melakukan itu hanya ingin--" aku masih diam. "Maafkan aku, aku menyesal!" Sambungnya. "Maaf, untuk saat ini biarkan aku sendiri dulu, aku ingin istirahat!" Selaku lalu berlalu pergi. *** Author POV Pagi hari di bandara internasional Jakarta. Tepat pukul setengah delapan pagi beberapa orang sudah berkumpul di ruangan tunggu VVIP bandara. Kecuali Zahra dan Varrel, karena mereka berdua masih belum menampakkan batang hidung sadari tadi. Di sisi lain Dira baru saja tiba di bandara dengan sahabatnya, Rama. Ya, pria itu ikut serta dalam perjalanan ke Prancis. Laki-laki itu tidak bisa mendengar sahabatnya pergi keluar negri selalu pengen ikut, bagaikan anak mengekor induknya. Ettt..... Jangan salah, Rama hanya seperti itu jika pada kedua sahabatnya saja Varrel dan Dira selain itu tidak. Karena memang mereka sudah dari kecil terbiasa bertiga jadi tidak heran lagi. * Di kediaman Varrel dan Zahra. "Bik ... Nanti kalau mas Varrel nanyak aku udah pergi atau belum. Bilang saja kalau zahra udah pergi ya, Bik. Soalnya zahra masih males banget berbicara sama mas Varrel, Zahra masih sakit hati dengan perlakuan mas Varrel." ucap Zahra dengan wajah di tekuk ketika menyebutkan nama suaminya. "Emang Non, enggak pergi sekarang?" tanya Bik Ani sembari menghidangkan makanan di atas meja makan. Wanita tua itu baru saja selesai masak. "Enggak Bi, Zahra pergi agak terlambat sedikit. Sekalian ngerjain mereka." jawab xahry tersenyum dengan ide liciknya. Ia ingin membuat semua orang menunggu akan kedatangannya. "Jangan Non, nanti kalau pesawatnya langsung terbang bagaimana. Kan Non sendiri yang rugi. lebih baik Non pergi barengan aja sama tuan muda. Bibik yakin tuan muda pasti sudah merasa bersalah sama Non. Soalnya sudah dari kemaren Bibi perhatikan tuan muda seperti kesal di diamkan sama Non." Tutur Bu Ani. "Bibik, mulai deh. Pokoknya apapun ceritanya zahra masih enggan pergi barengan sama pria tak berperasaan itu. lagian kami pergi enggak naik pesawat umum kok Bik, Kami pergi naik jet pribadi." Zahra baru saja tau kalau keluarga Varrel teryata memiliki jet pribadi, sungguh luar biasa. Zahra sempat melengot saat pertama kali di beritahu oleh Intan, kalau mereka akan pergi mengunakan jet pribadi. "Ooooo ...." Bik Ani hanya mengangguk pertanda mengerti. "Bibik enggak terkejut?" tanya zahra cepat. Merasa heran karena bik Ani tidak menunjukkan reaksi apapun. Tidak sama sepertinya yang langsung loncat kegirangan saat mendengar jet pribadi, seumur hidupnya naik jet pribadi adalah salah satu impiannya sadari kecil. "Untuk apa terkejut Non, bukankah itu hal yang biasa. Orang kaya seperti tuan muda sudah pasti mempunyai jet pribadi, itu sudah tidak heran lagi. Mereka mengunakan pesawat kecil untuk terbang lebih cepat dan lebih leluasa dalam perjalanan mereka. Majika Bibik juga seperti itu dulunya, mempunyai pesawat pribadi sendiri jadi bik ani sudah tidak heran lagi Non heheh." jelas Bik Ani menampakkan gigi putihnya. "Bibik benar. Untuk apa terkejut bukankah itu hal yang biasa bagi orang kaya, hem." "Bibik ... Bibik ...." terdengar suara teriakan Varrel dari lantai atas. "Iya tuan muda. Sebentar..." Bik Ani dengan cepat menyelesaikan tugasnya di meja makan. "Bik, pokoknya sesuai apa yang zahra bicarakan tadi ya." ucap Zahra yang langsung kabur setelah mendengar teriakkan Varrel. Sudah waktunya bagi dia untuk bersiap-siap. * "Iya tuan muda. Ada yang bisa Bibik bantu?" tanya Bik Ani sesaat setelah ia sampai di kamar Varrel, dan menampati laki-laki itu seperti sedang mencari sesuatu. "Baju yang Varrel suruh setrika tadi malam di mana Bik, kenapa enggak ada. Di mana Bibik menaruhnya?" Varrel masih mengotak atik lemari. Namun usahanya sia-sia baju ia cari tidak terlihat sama sekali. "Ya Tuhan, Bibi lupa tuan." Bik Ani menepuk jidatnya pelan. "Baju tuan ketinggalan di keranjang setrika. Udah Bibik setrika cuma Bibi lupa ngasih tuan muda semalam." Bik Ani hanya bisa mengaruk-garukkan kepalanya tak gatal. "Apa... Hahhh... Ya sudah tolong ambilkan." Varrel terkesiap sembari merebahkan tubuhnya di atas ranjang percuma nyariin baju yang tidak ada di sini sampai matipun enggak akan ketemu. Laki-laki itu memejamkan matanya singkat sembari berdo'a agar perjalanannya berjalan dengan lancar. 'Ya Tuhan berkati lah kami, semoga aku menang.' Tok ... "Tuan muda ini bajunya." suara bik Ani sudah kembali sembari meletakkan baju itu di atas sofa. "Bik." Panggil Varrel, "Iya, Tuan." "Tolong sampaikan pada zahra, kalau aku menunggunya di mobil." "Maaf tuan muda, Non zahra sudah berangkat." ucap bik Ani terpaksa berbohong mengikuti perintah majikannya. "Secepat itu, apa dia selamanya ingin menghindar dariku." Varrel mendengus kesal. "Tuan muda, Bibik permisi dulu." "Tuan tenang saja saya akan sekuat tenaga menyatukan Tuan muda dan Non zahra" *** Di bandara semua orang sudah mulai bosan menunggu kedatangan dua sepasang manusia yang tak kunjung datang juga. Dua manusia itu bahkan tidak memberikan kabar kalau mereka sedang ada di mana sekarang. Dira yang sudah mulai habis kesabaran menunggu pun langsung saja menelpon Varrel, namun niat terurus tak kala bola matanya berhasil menangkap sosok laki-laki yang sudah dari tadi ia tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Sementara Intan sudah uring-uringan sendiri sadari tadi. Sudah belasan kali ia menelpon zahra tapi tak kunjung di angkat juga. "Kebiasaan ni anak, kalau lagi genting sangat susah di hubungi. Kalau ada orang sekarat dari pada menghubunginya lebih baik menghubungi malaikat mau sekalian percuma sudah pasti lebih dulu malaikat maut datang dari pada dia." Ketus Intan masih saja menghubungkan Kimmy. "Bagaimana? Apa sudah ada kabar tentang zahra?" tanya Justin. "Belum." "Kamu yakin dia akan datang?" Justin sudah merasa ragu kalau zahra tidak akan datang, sudah jam sembilan tapi masih belum datang juga. "Dia datang, aku sudah menghubunginya tadi pagi. Dia bilang dia akan datang sedikit terlambat. Tapi aku tidak tau kalau dia akan datang selambat ini." intan semakin pusing dengan sahabatnya yang satu ini. "Dasar zahra mentang-mentang orang kaya jadi kamu seenaknya pergi dan datang sesuka hati. Awas aja ya, nanti aku akan memberikanmu pelajaran sudah membuat aku sudah seperti orang tidak punya pekerjaan lain menghubungi kami terus-menerus." Umpat Intan kesal. "Akhirnya kamu datang juga. Kamu kemana sih sudah jam sembilan ini tau enggak?" tanya Dira memanyunkan bibirnya se-imut mungkin. "Iya, lama banget udah kayek nunggu jodoh aja." Sambung Rama. "Sorry, tadi jalanan macet." sahut Varrel sembari melirik setiap orang mencari keberadaan zahra tapi kedua bola matanya tidak menemukan sosok orang yang di cari. "Ayo kita berangkat, kita sudah kesiangan. Pasti pilotnya sudah kewalahan menunggu kita." ajak Dira sembari merangkul tangan Varrel. "Tunggu Bu Seli. Ibu zahra belum datang." ucap Intan. "Apa kita harus menunggunya sampai matahari terbenam. Kalau dia tidak sampai juga itu berarti dia tidak ada niat pergi. Wanita tidak konsisten seperti dia untuk apa di tunggu. Kalau dia punya rasa tanggung jawab pasti dia akan menyusul kita nantinya dengan pesawat lain." ketus Dira "Semoga saja dia naik pesawat lain, supaya aku lebih leluasa sama Varrel nantinya di pesawat." Kening Varrel berkerut, bagaimana bisa zahra belum sampai bukankah lebih dulu dia pergi ketimbang dirinya. Varrel sontak antusias menghempaskan tangan Dira dan dengan gerak cepat mengambil ponselnya dari saku jas menghubungi Istrinya. Rasa kekhawatiran telah muncul di benaknya. "Itu Ibu zahra" ucap Intan. Zahra baru saja melayangkan kakinya di bandara dan berjalan menuju ruang tunggu, karena ia sudah menduga kalau mereka menunggu di ruang tunggu. Penampilan dan gaya jalan zahra sungguh memukau siapa saja yang melewatinya. Wanita itu memakaikan dress hitam selutut yang di bagian pahanya terbelah, hingga membuat bentuk paha putih mulusnya terlihat sangat jelas. Banyak lelaki hidung belang yang menatap zahra langsung menelan ludahnya kasar, matanya langsung melotot tak berkedip hingga zahra lenyap dari padanya. Sungguh penampilan yang sangat luar biasa bak seperti model papan atas dunia. Bersambung ......
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN