chapter 6

1226 Kata
"Apakah aku terlambat?" Suara zahra bertanya, dengan seulas senyuman yang mengembang memenuhi sudut bibir wanita itu. Keheningan terjadi, sekilas mereka masih menatap kagum dengan penampilan yang di tunjukkan zahra sekarang yang sangat jauh berbeda dari penampilan yang biasanya. Apalagi dengan gaya rambutnya yang bergelombang membuat kecantikannya semakin terpancar. Serta polesan makeup yang bertaburan di wajah Zahra bertambah membuat dia semakin terlihat cantik. Berbeda hal dengan Varrel sekarang, laki-laki itu menatap ketidaksukaannya terhadap penampilan istrinya itu. Kedua ekor matanya menatap tajam ke arah zahra hingga gara-gara tatapan itu senyuman zahra menyusut dengan sendirinya. Wanita itu terdiam seribu bahasa pandangannya menunduk menjauhi tatapan Varrel yang kian menajam menatap ke arahnya. "Dia selalu saja menatapku seperti itu? Apa dia marah? Matanya sangat mengerikan". batin zahra tidak tenang mendapat lirikan tajam dari suaminya. "Apa dia sungguh senang menggoda para lelaki hah. Apa aku kurang jelas tampan di matanya, hingga dia selalu saja mencari kesempatan mendekati para laki-laki." "Hey. Kenapa kalian pada bengong hah? Ayo kita berangkat." cetus Dira. " Cih... Bisa-bisanya mereka terpesona dengan w*************a dia.". *** Perjalanan pun menempuh waktu 16 jam menuju ke Prancis. Pesawat jet pribadi mereka berhasil mendarat mulus di bandara Charles de Gaulle. Tepat pukul satu pagi, langit yang cerah tidak ada hambatan akan cuaca buruk membuat perjalanan sedikit lebih singkat dan terasa nyaman. Setelah turun dari pesawat mereka semua langsung diarahkan ke hotel yang memang sudah di siapkan oleh pihak perusahaan Prancis. ya, karena saat mereka tiba di Prancis beberapa laki-laki dan wanita yang memakai serba hitam menjemput mereka. "Tuan Varrel, kalau anda membutuhkan sesuatu silahkan menghubungi kami. Kami siap untuk anda dua puluh empat jam." tutur salah satu dari mereka dengan hormat setelah sesaat menunjukkan kamar masing-masing bagi karyawan Global Grup. "Terimakasih, kalau saya membutuhkan sesuatu pasti saya akan menghubungi anda." sahut Varrel dengan sedikit senyuman. Di kamar zahra langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang meluruskan semua otot-ototnya yang terasa kaku kerena sudah 16 jam hanya duduk diam tanpa melakukan apapun. Wanita itu langsung tertidur seketika, mungkin karena kelelahan menyerangnya dalam perjalanan. Sementara Varrel mencoba memasuki kamar istrinya tanpa mengetuk pintu dan masuk langsung mengunci pintu itu. Varrel berencana ingin menegur zahra atas apa yang dia lakukan hari ini. Dia benar-benar tidak suka jika istrinya berpenampilan seperti itu lagi apalagi sampai menampakkan paha putih mulusnya itu pada laki-laki lain, hal itu sungguh membuat Varrel cemburu. kemolekan tubuh istrinya hanya dia yang boleh lihat selain itu tidak. Varrel menghentikan langkahnya saat ia berada tepat di samping ranjang. "Sudah tidur rupanya." memerhatikan wajah istrinya yang sudah tertidur pulas seperti bayi yang lucu. Senyuman kecil tersungging begitu saja di bibir Varrel lalu mengecup sekilas kening zahra. "Jangan pernah lagi melakukan hal yang tidak aku sukai Zahra, aku sungguh tidak milikku dilirik oleh pria lain!" Setelah itu ikut berbaring di sampingnya. Ya, Varrel memutuskan malam ini dia akan menghabiskan malam di kamar zahra saja agar dia lebih leluasa mengontrol Istri ini. Membawa istrinya itu kedalam pelukannya. "Varrel mana? Apa kalian melihatnya?" tanya Dira kepada Sinta dan Rama yang terlihat berbincang bincang di balkon kamar. Secangkir kopi hangat melengkapi suasana yang terasa sangat dingin. Apalagi mereka diatas gedung dengan ketinggian lebih lima puluh lantai, angin malam pasti akan jauh lebih terasa sejuk. "Tidak," jawab Rama cepat sembari menggelengkan kepalanya. "Kalau tidak salah tadi aku melihatnya, masuk kamar Zahra!" suara Sinta menimpali. Spontan kedua ekor mata Dira langsung terarah kearahnya juga Rama. "Kamu yakin?" Tanya Rama. "Iya, aku tadi melihatnya. Aku rasa dia akan tidur sekarang dengan istrinya!" Sinta sedikit menekan dibagian akhir. "Tapi bukannya Varrel juga dapat kamar sendiri?" "Sial!" *** Pagi harinya. Pagi pertama di kota Paris, cahaya panas sinar matahari menembus sela-sela jendela hotel berhasil mengenai wajah seorang wanita cantik yang masih tertidur pulas. Zahra mengerjapkan matanya beberapa kali setelah sesaat wanita itu tersadar kalau ini sudah pagi. Zahra yang merasakan ada sesuatu yang berat menimpa perutnya pun langsung saja mencoba melihat. Dia dengan gerak cepat mengusurkan tubuhnya ke depan tak kala berhasil melihat tangan kekar laki-laki sedang memeluknya erat. "Mas Varrel ..." gumam Zahra terkejut melihat suaminya tiba-tiba saja ada di kamarnya. Zahra berusaha memindahkan tangan kekar suaminya itu dari perutnya tapi tidak bisa. Karena Varrel begitu sangat kuat memeluknya. "Biarkan seperti ini sebentar." tiba-tiba Varrel berucap dengan mata tertutup, mengagetkan zahra yang masih berusaha memindahkan tangannya. "Mas kamu sudah bangun? Ke-kenapa kamu tidur di sini?" "Ehm. jangan berisik cepat tidur, aku masih mengantuk." "Mas ini sudah pagi. Sebentar lagi kita akan ke perusahaan Alex Grup menunjukkan hasil presentasi perusahaan kita mas. Kalau kita terlambat semuanya nanti bisa berantakan." "Sudah di undur sayang. Kita akan berangkat nanti siang. Pihak perusahaan menghubungi ku semalam. Sudah jangan banyak bicara lagi cepat tidur temani lah suamimu sebentar. "Tapi---" "Suuttttt....." Varrel menarik kembali tubuh istrinya kedalam pelukannya. Zahra yang di perlakukan seperti itupun tidak punya pilihan lain selain tidur lagi. Tapi kali ini berbeda gaya, dia menghadap kearah suaminya membenamkan wajahnya di belahan d**a Varrel sekaligus juga ikut memeluk. Ya, tidak pukuri Zahra juga sangat membutuhkan sentuhan dari suaminya. Dalam hati zahra dia sudah pasrah sekarang jika Varrel menuntut haknya sebagai suami, karena dia kini sudah menyadari kalau dia sangat mencintai suaminya. Varrel tersenyum tipis saat merasakan pelukan balas dari istrinya. dia dengan sangat lama mengecup ubun-ubun istrinya merasa bahagia. ** Tepat pukul tiga sore di perusahaan Alex Grup zahra baru saja selesai menunjukkan hasil presentasi yang telah ia buat dengan sangat teliti dan rapi. semua orang bertepuk tangan puas merasa sangat takjub sekali. CEO mereka mengangguk pertanda menyetujui. Tak berlangsung lama karyawan kantor mereka langsung mendatangi Varrel untuk menyerahkan surat menyetujui kontrak. "Selamat tuan Varrel. Saya benar-benar kagum dengan kepintaran karyawan anda yang menjelaskannya begitu sangat detail." puji CEO perusahaan Alex Grup. "Pak Alex terlalu memuji. Saya juga sama seperti bapak, sangat kagum dengan kepintaran Bu zahra" Varrel tersenyum senang tapi, tak berlangsung lama senyumannya itu menyusut dengan sendirinya tak kala melihat Alex menatap zahra dengan tatapan penuh maksud. Di sisi lain Dira berdecak kesal ketika mendengar semua orang memuji kepintaran zahra. Di merasa seperti tersisihkan tidak terlihat padahal tadi dia juga sudah mempersentasi rancangannya tapi tidak ada satupun orang pun yang memuji. Hal itu sungguh membuat Dira menatap zahra dengan tatapan menusuk. "Selamat Ra kamu berhasil." bisik Intan tak kalah heboh senang terhadap sahabat ini. "Selamat Ibu zahra." Justin juga tidak ketinggalan mengucapkan selamat. "Terimakasih. Ini semua juga berkat kalian, kalau kalian tidak memberikan aku semangat aku mungkin tidak bisa melakukan itu dengan benar. Justin, aku berterima kasih padamu. karena kamu sudah membatu ku menyelesaikan tugas ini waktu itu." Zahra merasa beruntung punya sahabat yang selalu mendukungnya dengan sepenuh hati. Ia merasa hari-hari yang sulit pun bisa dilewati dengan mudah. "Sama-sama." sahut Justin. Acara pun selesai semua orang secara bergiliran keluar dari ruangan rapat secara berangsur-angsur. Hingga pada saat zahra keluar pak Alex langsung menghadangnya secara tiba-tiba dan mengajaknya makan malam. "Nona zahra. Mau kah anda Dinner dengan saya malam ini. Saya merasa sangat senang jika anda mau menerimanya." ucap Alex dengan senyuman penuh. "Saya---" "Maaf tuan Alex yang terhormat." Varrel langsung menyambar. "Ibu zahra ini tidak bisa dinner dengan laki-laki lain karena dia sudah janji dengan saya akan dinner bersama saya malam ini." "Benarkah, saya kecolongan." sahut Alex dengan nada menyindir. "Maaf tuan Alex, saya pergi duluan karena ada sesuatu yang harus saya kerjakan." Varrel merasa tidak suka jika berlama-lama berbicara dengan laki-laki ini apalagi Alek selalu menatap zahra dengan tatapan penuh maksud. Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN