"mas ... tunggu! ini sangat sakitn!" zahra sedikit memekik karena tangannya di tarik dengan kasar oleh varrel. sang suami yang mengisi hatinya.
"sakit? atau jangan-jangan kamu suka lagi ditatap seperti itu oleh tuan alex!" celutus varrel cepat setelah sesaat ia mengehentikan langkahnya dan menatap zahra dengan tatapan menajam.
"tidak, aku tidak bilang begitu, kamu suudzon padaku mas. aku cuma ingin tau apa benar kita nanti malam akan dinner?" sahut zahra dengan sedikit kikuk.
sesaat varrel terdiam, sebenarnya dia tadi hanya berbohong mengatakan dinner. tapi sekarang, saat melihat manik-manik mata istrinya yang begitu dalam terpancar rasa senang ketika mendengar nama dinner. varrel merasa tidak tega jika bilang tidak. "iya, aku tadinya ingin memberimu kejutan tapi pak alex malah mengacaukannya." dengus varrel.
"benarkah yes ...." zahra antusias senang kegirangan memeluk varrel sangat kuat. bisa dibilang ini adalah dinner pertamanya bersama orang yang dicintainya, duduk di bawah sinar rembulan malam, tiupan angin sepoi-sepoi dan berpegangan bersama sungguh impian semua wanita.
"sayang, apa se-senang itu kamu dinner denganku?" dadanya terasa sesak karena zahra terus menerus memeluknya sangat kuat.
"iya, ini adalah dinner pertamaku dengan orang yang aku cintai." zahra berucap tanpa sadar namun sesaat kemudian ia dengan cepat menutup mulutnya dengan kedua tangannya, matanya membulat memandang wajah suaminya. 'apa tadi aku mengutarakan cinta ku kepadanya'
"apa kamu bilang barusan, aku tidak mendengarnya?" tanya varrel memicingkan tatapannya, padahal telinganya sangat jelas apa yang baru saja dikatakan zahra.
"tidak, tidak, aku tidak bilang apa-apa. sepertinya, sepertinya aku haru pergi ke toilet dulu, perutku tiba-tiba saja diaduk kuat, aku tidak tahan!" jawab zahra beralasan.
varrel tersenyum hatinya begitu senang mendengarnya. tentu saja dia dengan sangat jelas mendengar apa yang di katakan zahra barusan. "apa dia sudah mulai menyukaiku? aku harus menyiapkan semuanya dengan rapi agar dia tidak akan melirik laki-laki lain." batin varrel akan membuat suasana malam ini seromantis mungkin.
***
di hotel.
dira meluapkan kekesalannya terhadap zahra, dia dengan kasar menjatuhkan tubuhnya sendiri di atas sofa. matanya menajam menahan amarah. "w*************a itu selalu saja berhasil satu langkah dariku. dia benar-benar sangat licik. lihat bagaimana semua orang tadi memujinya, mereka seakan lupa kalau aku juga ikut dalam presentasi itu tapi tidak ada yang melirikku sama sekali." gerutu dira sembari berdecak kasar.
"hey, kau ini kenapa datang marah-marah tidak jelas seperti itu. apa kau sudah bosan hidup." celutus rama juga baru tiba di kamar dira dan mendapati wanita itu sedang bad mood.
"ram, kamu di sini?" dira menaikkan alisnya.
"iya, memangnya aku mau dimana lagi. varrel di cariin enggak ketemu-ketemu, lagian itu anak udah kayek kota sendiri maen pergi hilang tanpa jejak." laki-laki itu ikut merebahkan tubuhnya di samping sahabatnya sembari memijit pelipisnya pelan.
"dira, boleh aku kasi saran?"
"apa katakan saja, asal bukan saran yang membuat aku kesal!"
"bisakah kamu mulai belajar menjauhi varrel, maksudku! menyerahlah, dia sudah menikah dan punya kehidupannya sendiri. aku tau kamu pasti akan kesal mendengar ini dan bisa kamu akan mencekiku. tapi aku berkata jujur dira, bisakah kamu melupakannya." jelas rama dengan nada sedikit sedih.
"ram aku tidak bisa. kamu tau kan, aku mencintai varrel sudah lama sekali sejak kita sma. dia satu-satunya pria yang aku cintai, aku tidak bisa ram. dulu aku sudah berusaha untuk melupakannya tapi apa, aku tetap kembali mengingat dirinya!" dira menjatuhkan punggungnya pada sofa ruang kamarnya.
"iya, aku tau dira, tapi kamu terlalu memaksa!"
"cukup ram kalau kamu tidak mau membantuku lagi tidak apa-apa. aku bisa sendiri untuk mendapatkan varrel dari wanita itu. dari awal varrel memang sudah jadi milikku."
**
masih di perusahaan alex grup, tepatnya di ruangan khusus tamu.
"kenapa masalah ini aku yang kerjakan sih, bukanya ini kerjaan bu dira." intan tak henti-hentinya mengumpat kekesalannya, wanita ini sudah kewalahan sadari tadi mengetik tugas yang tidak seharusnya dia kerjakan.
"salah kamu sendiri, kenapa kamu terima tadi." ketus zahra, wanita itu juga sedang sibuk mengerjakan tugas-tugasnya selaku humas. semua berkas-berkas yang di kerjakan adalah surat kontrak dan akumulasi modal antar dua perusahaan.
"ya, mau bagaimana lagi. masak aku menolak, dia kan atasan sementara aku, bawahan. berbeda denganmu, astaga aku lupa ra, kamu kesini sudah dapat izin suamimu belum bukannya suamimu me--" intan langsung menghentikan kalimatnya karena zahra sudah menatap dirinya dengan tatapan membunuh.
"apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya justin, ia sedikit bingung dengan arah pembicaraan intan dan zahra.
"hm, bukan apa-apa. intan lagi ngelantur mungkin dia kecapean." zahra memegang dadanya. 'hampir saja.'
"ooooo. oh ya, nanti malam apa kamu ada acara." tanya justin lagi.
"a-aku..." zahra diam sejenak ingatannya langsung teringat kalau malam ini varrel mengajaknya dinner. " ah, iya. a-aku ada beberapa urusan nanti malam, temanku yang tinggal di sini ingin mengajakku bertemu." elak zahra sembari tersenyum menampakkan gigi putihnya.
"aku ikut." intan dengan cepat mengangkat tangannya. "kalau kamu pergi aku sama siapa, aku tidak punya teman selain kamu."
"intan!" zahra membulatkan kedua bola matanya. 'jangan mengikutiku' sebuah kode keras di tunjukkan oleh zahra, kedua bola matanya masih membulat menatap sahabatnya.
"hehehe... aku dengar malam ini ada pesta kembang api di kota paris. apa kalian berdua tidak punya rencana pergi bersama." ucap zahra melirik kedua sahabatnya secara bergiliran, berharap kalau keduanya mau, sekaligus intan tidak mengekornya malam ini.
"benarkah. di sini juga ada kembang api." intan antusias kegirangan.
"dasar bodoh. emang kamu pikir ini negara kolot sampai kembang api saja tidak ada." ketus zahra.
"aku pikir, aku ingin mengajakmu kesana." tutur justin.
"ah, heheheh .... maaf kalau aku tidak bisa. kalian saja berdua yang pergi." zahra sekali lagi menampakkan gigi putihnya.
ting... sebuah masuk di ponsel zahra. wanita itu dengan cepat mengambil tasnya dan menyalakan ponselnya.
"sayang, nanti malam aku akan menjemputmu di lorong hotel, jadi berdandanlah dengan cantik. satu lagi jangan mengunakan baju seksi gunakan baju tertutup nanti malam akan turun salju. jangan lupa pakek syal" sebuah pesan berlebel cinta dari varrel.
zahra tersenyum cengir membacanya.
"baiklah kalau kamu memaksa, aku akan berdandan secantik mungkin malam ini. tunggu aku" balas zahra.
ting...
"jangan-jangan, tidak usah berdandan. aku tau kamu ingin menggoda laki-laki kan". balas varrel.
"*lah, bukannya tadi kamu yang suruh aku berdandan dengan cantik. kenapa sekarang malah nuduh aku menggoda laki-laki sih"
"aku tidak mau kalau sampai kamu berdandan nantinya, semua mata laki-laki akan menatapmu. aku tidak suka itu"
"hem, baiklah aku tidak akan berdandan, hanya sedikit menaruh bedak my baby saja."
"itu bagus. aku perbolehkan, sampai ketemu nanti malam sayangku i love you*"
zahra tanpa sadar mencium layar ponsel dengan bibirnya sendiri secara berangsur-angsur, membuat kedua sahabatnya yang berada di sampingnya terheran-heran melihatnya.
"ra, kau baik-baik saja. baikla nanti malam aku tidak akan mengikuti mu, kamu bisa pergi sendiri." intan menelan salivanya kasar.
bersambung .....