sepupu

1213 Kata
Dira bertanya kepadaku seolah-olah tidak berdosa. Aku tidak menyahutnya entah kenapa kalau mengingat kejadian semalam dia berusaha menjebakku rasanya aku ingin membunuhnya. Aku tau dia menyukaiku, dia mencintai sudah lama saat kami masih remaja tapi tidak seperti itu juga memaksaku untuk bersamanya. Aku tidak suka seperti itu, lagian aku udah menikah, Zahra adalah istriku. Cukup dia satu-satunya istriku. "Rel, lihat aku, aku tanya kemana kamu semalam. Kenapa kamu tiba-tiba menghilang begitu saja?" tanya Dira lagi kini dia sudah berada di sampingku. Memegang daguku agar menatap kearahnya. "Kamu kemana semalam! Kamu tidur dengan siapa! Katakan padaku wanita mana yang berani menyentuh milikku." katanya dengan sorot mata menajam. "Jaga batasan mu Dira. Aku ini bosmu tidak seharusnya kamu berbicara seperti itu. Dan satu lagi kemanapun aku semalam itu bukan urusanmu. Sekarang cepatlah kembali bekerja, ini bukannya waktu beristirahat dan berbicara masalah pribadi!" kataku dengan suara penuh penekanan sembari membalikkan badanku kembali ke pusat awal. "Rel, kamu membentakku!" Ucapannya terdengar pilu. Sumpah aku lama-lama merasa muak mendergarnya. "Dira, apa aku pergi mengulangi lagi kata-kataku. Cepat pergi dari sini, kembali kedalam ruangan mu. Bukankah aku memberikan kamu tugas untuk memeriksa deposit dan perkembangan kantor cabang. Apa pekerjaan itu terlalu sepele sehingga kamu bisa bebas seperti ini. Ingat Dira, aku tidak mau kamu melakukan kesalahan dalam laporan ku. Aku ingin sempurna, tidak ada toleransi bagi yang melakukan kesalahan." Tukasku lagi. Dira terlihat masam. Ia berdecak kesal. "Rel, kamu!" "Keluar Dira aku harus bekerja!" Kataku berusaha menahan emosi untuk berteriak. "Ok, kalau itu yang kamu mau. Aku akan keluar sekarang." Katanya lalu melengos pergi. Aku memijit pelipisku, kepalaku terasa pusing memikirkannya. Apa aku terlalu kasar padanya, aaagggrrr ..... Kenapa dengan diriku ini. Kalau saja aku tidak mau ikut dengannya tadi malam pasti kejadian seperti ini tidak akan terjadi. Zahrah, maafkan aku selama ini aku mengabaikan mu. Aku kembali fokus pada pekerjaan ku saat ini. Ada beberapa tender dan proyek bisnis di luar negeri. Untuk memastikannya aku harus turun tangan sendiri. Spanyol, itu adalah tempat baru yang ingin aku jelajahi. Papa menyarankan ku untuk bisa menanam saham di salah satu perusahaan terbesar disana. Untuk meningkatkan daya deposit yang ada di perusahaan cabang. Tak terasa setelah berkutik beberapa jam kini sudah waktunya jam makan siang, seperti biasa Sinta menghampiriku untuk memberitahu jam makan siang tiba. Namun kali ini bukan Sinta yang aku harapkan Melainkan Dira. Wanita itu, jujur aku malas jalan dengannya akhir ini. Dia terlalu banyak Maunya membuat aku kesal harus menuruti. "Rel, ini sudah waktunya jam makan siang. Hmm aku ingin mengajakmu makan kamu mau?" tawanya. "Tidak!" Jawabku singkat. "Ayolah Rel, aku minta maaf atas kejadian semalam, jujur. Aku menyesal ya maafkan aku!" katanya dengan nada lembut hendak menyentuh lenganku. Spontan aku berdiri menjauh. "Aku tidak bisa, aku ada janji akan makan siang dengan seseorang. Kau makan saja bersama Sinta!" pintaku meraih jasku yang sempat tadi aku lepaskan memakaikannya lalu pergi. Tiba di ruangan Sinta aku berhenti sejenak. "Siapkan semua berkasnya tentang keberangkatan Spanyol dan. Kunci pintu ruangan ku. Aku rasa aku ingin pulang awal hari ini!" kataku pada Sinta, dia mengangguk cepat sebagai jawaban. "Rel, tunggu. Kamu tidak bisa pergi begitu saja, aku ikut." suara Dira mengejarku dibelakang. Beruntung aku mendahului lift dengan cepat aku menekan tombol tutup tidak butuh waktu lama pintu itu segera tertutup. "Varrel ..." "Sangat membosankan!" ** Hari ini cuaca terlihat terik, bola matahari hampir melewati kepala pada titik tengah, aku mengendarai mobil. Rencananya aku mau langsung pulang, tiba-tiba saja aku teringat kepada Zahra, dia pasti belum makan siang. Dan lagi tubuhnya sakit atas apa yang aku lakukan semalam kepadanya. Aku berhenti disalah satu cafe berbintang membelikan makan siang. Namun kali ini aku tidak makan di sana melainkan membungkusnya agar aku bisa makan dengan Zahrah. Jujur sudah sebulan lebih usia pernikahanku dengan Zahra tapi kami belum pernah sekalipun makan siang bersama. Sekali aku pernah melihatnya di cafe yang biasa aku datangi dengan Dira. Aku melihatnya memakan dengan seorang wanita, kurasa dia temannya. Terlihat mereka sangat akrab. Siapa namanya, ah iya hampir saja aku lupa. Intan, dia adalah salah satu anggota humas di perusahaan ku. Keterampilannya sangat bagus aku menyukai hasil kerjanya. "Ini tuan, pesanan anda!" kata salah satu pelayan menghampiriku sembari menyerahkan makanan apa saja yang aku pesan. Tidak banyak, aku hanya membeli stek dan dua pizza keju. Kurasa Zahra menyukainya. Pikirku setelah membayar semua makanan itu aku langsung kembali kearah dimana aku memarkirkan mobilku tadi. Ngomong-ngomong soal belanja dan kartu kredit aku salut dengan Zahra. Dia tidak boros seperti wanita lainya. Aku pikir wanita seperti Zahra akan boros masalah uang. Aku sangat terkejut ketika Sinta memberikan aku catatan uang yang di ambil Zahra dalam rekeningku. Tidak banyak, hanya tiga puluh juta bulan lalu. Bulan pertama kami menjadi suami istri. Pukul setengah tiga sore aku tiba dirumah, penuh percaya diri aku melangkah memasuki rumah sembari menenteng makanan yang aku pesan. Namun tiba-tiba saja langkahku terjeda saat melihat sosok pria yang sangat aku kenali sedang berada ruang tamu rumahku. Dan yang membuat aku terkejut lagi Zahra menjamunya. Dress hitam selutut berwarna merah muda serta rambut disanggul seadanya bahkan lekuk lehernya terlihat jelas. Apa dia tidak sadar kalau ada yang melihat tanda cupang milikku di lehernya. Tiba-tiba saja rahangku mengeras, aku sangat tidak suka jika Rama memperhatikannya. Jelas ekor mataku menatap membunuh kearah Rama yang terlihat menyunggingkan senyum manis kepada Zahra. "Varrel kamu sudah pulang!" ucap Zahra tersadar melihatku ada di ambang pintu. Aku tidak menjawab, manik-manik mataku masih terfokus pada Rama. Kenapa bisa dia ada disini. Tumben-tumbenan dia datang ke rumahku tanpa memberitahu terlebih dahulu. Ya, Rama satu-satunya orang yang tau dimana rumahku berada selain mertuaku dan orang tuaku. aku berjalan mendekati sofa kosong yang ada di depan Rama. Kutaruh makanan yang aku beli tadi diatas meja. "Ambil ini, bawakan kedapur!" Kataku pada Zahra, dia menjawab pelan lalu mengambil makanan itu. Mataku menatap punggung Zahra, terlihat kalau dia jalan sedikit berbeda dari biasanya. Apa segitu ganasnya aku semalam sampai membuat dia seperti itu. "Mau apa Lo kesini?" Tanyaku akhirnya kembali menatap Rama didepanku. Wajahnya masih tersenyum sok manis. "Sepupu Lo cantik juga ya. Kenapa Lo gak bilang-bilang sama gue kalau Lo punya sepupu cantik seperti Zahra." Bukannya menjawab dia malah berbalik bertanya. Tunggu-tunggu, sepupu, Zahra. Maksudnya Zahra memperkenalkan dirinya sebagai sepupu gue. Apa dia bercanda atau bagaimana. "Sepupu!" gumamku menyipitkan mataku menatap Rama penuh intro dan penjelasan. "Iya, sepupu Lo yang barusan. Gila parah demeknya gak main-main. Cahhhh" Aku spontan mengeraskan rahangku menatapnya. Jadi Zahra memperkenalkan dirinya sebagai sepupuku. Apa dia sudah kehilangan akal. "Sepupu!" Gumamku. "Jawab aku, kenapa kamu datang kemari tanpa memberikanku terlebih dahulu?" Tanyaku mengintimidasi. "Hey, A-Aku hanya ingin berkunjung. Aku khawatir kamu sesat pulang semalam. Jadi aku pikir ingin menjenguk mu apa salah?" tanyanya tanpa rasa berdosa sedikitpun. "Seperti yang kau lihat, tidak perlu berlebihan mencemaskan ku seperti seperti itu. Cepat habiskan minumanmu dan pergi dari sini!" tintah ku to the poin. "Kau mengusirku?" Tanyanya seolah-olah tak percaya apa yang aku katakan barusan. "Apa perkataan ku tadi kurang jelas!" Tukasku. "Ok, baiklah. Selow. Aku akan akan pulang. Titip salam kenapa Zahra lain kali akan datang!" Pintanya beranjak bangkit dari sofa. "Tidak perlu. Dia tidak ada urusan apa-apa pun denganmu!" "Rel, ayolah lagian dia hanya sepupu mu kan. Kenapa kamu sangat sensitif amat!" "Keluar Ram, aku lagi tidak ingin berdebat." Kataku memaksa. "Ok, ok aku akan pulang. Salam untuk Zahra." Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN