Menusuk hati

1187 Kata
Zahrah POV "Astaga semua badanku rumuk rasanya, aaagggrrr bagaimana bisa dia begitu ganas semalam. Aku pikir bercinta itu nikmat tidak disangka malah jadi seperti ini hikkk .... Sakit banget lagi" Gumamku mendengus kesal, sungguh rasanya badan ini sangat sakit berjalan saja membuat aku ngangkang. Hufffff .... Aku menarik nafasku dalam-dalam baru setelah itu membuangnya ke sembarang arah, sekarang. Ekor mataku melihat jarum jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Sementara aku belum membereskan semua perlengkapan rumah. Ingin rasanya aku beristirahat memanjakan tubuhku yang rumuk ini tapi melihat keadaan rumah kotor aku harus membuang jauh-jauh pikiran bersantai. Perutku terasa kenyang, makanan yang dibuat kan Varrel berhasil menganjal perutku yang lapar, walaupun nasi goreng dan s**u itu sudah dingin tapi setidaknya itu masih bisa dimakan kan. Aku pikir dia tipe laki-laki tidak bisa masak. Tapi teryata cukup lumayan masakannya, tidak hambar melainkan sedikit asin. Wajar namanya juga laki-laki kan. Aku kembali kedalam kamar Varrel, biasanya aku tidak pernah mendekati kamar itu, tapi melihat isi kamar begitu berantakan membuat aku tidak bisa menahan diri untuk membersihkannya. Dengan perlahan-lahan aku menyapu dan membereskan dimana pun tempa yang kurang rapi, setelah itu baru kembali ke dalam keranjang pakaian kotor, menurunkannya kedapur. Sekalian aku mencuci pakaian Varrel dengan pakaianku. Jujur selama aku menikah dengannya belum sekalipun aku mencuci pakaian laki-laki itu, dia biasanya selalu mencuci sendiri saat hari libur kantor. Apa kalian berpikir saat kami tinggal satu atap berdua kami bisa saling mengenal sama lain. Tidak, sama sekali tidak. Kalian tau, kami di rumah bagaikan orang asing yang hanya akan bersuara ketika ada perlu saja. Aku bangun pagi-pagi sekali membersikan rumah, menyapu, mencuci piring dan memasak sarapan pagi. Aku sadar kalau sekarang stastu ku ini seorang istri. Dan kewajiban istri adalah melayani suaminya lahir batin. Aku bukan munafik, saat aku pertama kali menikah dengan Varrel aku tidak menyukainya, bahkan aku sedikit membencinya, karena dia terlihat selow dengan pernikahan atas penjodohan ini. Tapi saat satu Minggu aku satu atap dengannya dirumah ini. Aku menyukai kepribadiannya. Walaupun dia terlihat cuek kepadaku, terkesan dingin kayek beruang kutub Utara. Tapi ada jiwa kepedulian yang aku rasakan dalam dirinya. Kalian tau, kadang dia membelikan aku makanan makan enak dari restoran kelas bintang. Dia pulang malam, saat dia pulang aku lagi menonton drama kesukaanku. Ada beberapa kali dia melakukan itu kepadamu, sejak saat itu aku sadar teryata dibalik sikap dinginnya itu ada rasa kepedulian dalam dirinya. Ok, lanjut ke pembahasan pertama. Mencuci pakaian Varrel dulu baru setelah itu pakaian ku sendiri. Takutnya kalau aku satukan ada pakaian ku yang luntur mengenai pakaiannya. Bisa bisa beruang kutub Utara itu bisa marah besar. Siap mencuci aku berencana merebahkan tubuhku di sofa ruangan keluarga. Rasa lelah dan letih menghantuiku. Tidak lama baru sepuluh menit aku beristirahat tiba-tiba suara bel pintu membuat aku terkesiap. "Siapa siang-siang begini bertamu?" Tanyaku pada diriku sendiri. Jujur biasanya tidak ada orang yang mau bertamu dalam rumah ini, kecuali Mama dan mertuaku yang sesekali datang. Apa mungkin itu mereka, tapi biasanya mereka menelpon ku dulu. Atau pun tukang paket datang. Tapi aku juga tidak memesan paket apa-apa pun. Setelah berasumsi sendiri aku memutuskan untuk membukakan pintu, siapa tau orang penting pikirku sembari melangkah mendekati pintu. Cekle Suara pintu terbuka, manik-manik mataku langsung menatap sosok laki-laki muda yang umurnya tak jauh dariku sedang berdiri di ambang pintu. Dia terlihat terkejut melihatku, wajahnya langsung tersenyum kecil. "Hey kita bertemu lagi ya?" Katanya antusias spontan membuat aku menaikkan alisku tidak paham. Tapi tunggu, tunggu, dia. Bukanya laki-laki yang aku temui kemaren di cafe." Batinku semakin memicingkan tatapanku. "Mau apa dia kemari!" Batinku lagi. "Kau ngapain disini?" tanyanya dengan nada mengintimidasi. "Bukan urusanmu. Yang ada aku yang harusnya tanya kamu ngapain disini. Oh aku atau, atau jangan-jangan kamu mengikutiku sampai sini ya. Ngaku!" Tukasku menajam. "Hey hey sembarangan kalau ngomong. Ngapain juga aku mengikutimu gak penting banget." Ketusnya membuang muka. "Ya kalau enggak penting juga ngapain kamu ada dirumah ku?" tanyaku. "Rumahmu sejak kapan ini rumahmu, dasar wanita liar sekarang kamu mulai gila. Berhayal terus!" ujarnya, aku menatap sinis. "Dih, mau apa kemari, kalau enggak penting mending pergi deh, aku sibuk gak ada waktu buat ngelayani orang kek kamu!" Ucapku hendak menutup pintu kembali. Tapi tangan Rama lebih cepat menghentikannya. "Tunggu, tunggu! Ok, gue salah. Gue kemaren mau tanya Varrel dimana? Apa dia masih tidur!" tanyanya tanpa pikir panjang menerobos masuk kedalam rumah. Gila ni orang main masuk aja, tanpa aku suruh. "Hey, ngapain kamu masuk kedalam rumahku tanpa izin dariku!" Seruku. "Aku enggak perlu izin darimu! Lagian kamu siapa sih kenapa bisa ada rumah Varrel?" tanyanya memicingkan tatapan menatap kearahku dari kepala sampai bawah. "A-Aku, aku sepupunya mas Varrel kenapa?" Jawabku sedikit gugup, entah pikiranku kacau saat dia menanyai siapa aku. Aku gugup. "Sepupu!" Matanya menajam selangkah demi selangkah mendekatiku. Aku menelan salivaku kasar bagaimana ini, teryata dia teman si beruang kutub. "Du-Duduklah, a-aku akan menyiapkan kamu air. Katakan kamu mau minum air apa?" "Jawaban dulu pertanyaanku sejak kapan Varrel punya sepupu sepertimu. Mencurigakan!" Ketusnya. "A-Aku sepupu jauh, ya, sepupu jauh. Aku kuliah di Pakistan jadi jelas kami jarang bertemu!" Jelasku. "Begitukah!" Dia terlihat manggut-manggut, entah dia percaya atau tidak. "Lalu, sejak kapan kamu tinggal disini?" "Hm, itu. Aku sudah satu bulan disini!" "Oh, hm, cepat buatkan aku kopi. Kebetulan mulutku haus perlu di isi air hangat!" pintanya aku mengangguk pertanda sebagai jawaban. Kulihat dia dengan santai menjatuhkan tubuhnya diatas sofa ruangan tamu. Sementara aku langsung menuju dapur. Pikiranku entah kemana-mana sekarang. Apa dia teman si beruang kutub, atau saudaranya. Aku tidak tau, dia sepertinya sangat mengenal tempat ini! Dengan hati-hati aku menyiapkan apa yang dimana si pria yang tidak punya sopan santun itu. Setelah siap aku membuatkan apa yang ia perintahkan aku kembali menuju padanya meletakkan minuman yang bawa diatas meja. "Wah, kau sangat cepat teryata!" Katanya tersenyum manis. Hueeekkkk rasanya aku hampir muntah melihat senyumannya itu. Dengan malas aku menatap ke sembarang arah. Ekor mataku tanpa sengaja melihat sosok pria yang sangat aku kenali disana, di ambang pintu dengan wajahnya yang seperti biasa datar. "Varrel kamu sudah pulang!" gumamku. Dia terlihat masam berjalan kearah kami, sesuatu yang ia bawa membawa menarik perhatianku. "Ambil ini, bawakan kedapur!" Tintanya dingin tanpa menoleh. Aku mengerti mengangguk pelan, suaranya terlihat emosi apa aku melakukan kesalahan. Tanpa pikir panjang buru-buru aku mengambil apa yang bawa menuju dapur. Sampai di dapur aku tidak tau apa yang mereka bicarakan tapi yang jelas setelah aku membuka apa yang bawa Varrel aku melihat Rama sudah berjalan menuju pintu. "Apa dia mengusirnya?" Gumamnya tidak peduli. Wah apa ini pizza dan stek. Ah dia membelinya untukku. Benar-benar romantis pikirku tersenyum kecil. Tapi senyuman itu tiba-tiba saja buyar saat aku dengar suara yang sangat aku kenal berada dibelakang ku. "Jangan biarkan dia masuk lagi ke rumah ini, dan aku apa-apaan. Berpakaian seperti ini didepan laki-laki lain. Apa kau ingin menjadi p*****r!" Ucapan dengan nada membentak. Duggg .... Pelacur, jantungku berdetak sakit mendengarnya, sumpah demi apapun rasanya seperti di tusuk jarum. Apa aku segitu rendahnya dimatanya. "Lihat dirimu, seperti tidak tau malu." Sambungnya lagi semakin membuat d**a ini sakit mendengarnya. Kenapa dia begitu cepat menyakiti perasaanku saat dia membawakan makanan ini rasanya aku senang dan sekarang dia meruntuhkannya dalam sekejap. Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN