pindah rumah

1203 Kata
Pagi saat suasana kembali ramai akan lalu lalang orang-orang di jalanan, rutinitas yang memang selalu mereka lakukan apalagi kalau bukan bekerja. Karena memang itu adalah prioritas utama hidup bukan. Sinar matahari silau menembus disela-sela jendela membuat siapapun pasti akan mendelik kan bola matanya. Mengerjapkan sembari menggeliat di atas tempat tidur. Huuaaaaaa .... Zahra membukakan pelan kelopak matanya yang sayup-sayup. Ia mengumpulkan seluruh alam kesadaran kembali. Hmmm "Dimana aku, di ranjang. Ehhhh tunggu! aku di ranjang!" Spontan Zahra terduduk diam mengibakkan selimut melihat kondisinya sekarang. Hahhhh Suaranya nafasnya terdengar lega, berati tidak terjadi sesuatu yang membahayakan tapi! Bagaimana aku ada disini, perasaan aku semalam tidur di atas sofa kenapa sekarang ada disini. Apa pria itu mengendong ku. Pikir Zahra kedua ekor matanya menyipit lalu di susul dengusan kesal. "Dasar pria m***m!" gumamnya meremas bantal. Cekle suara pintu terdengar terbuka. Yang langsung saja menarik ekor mata Zahra untuk melihat siapa yang membukanya. Varrel, tentu. Pria itu dengan tampang dinginnya berkata setelah itu kembali menutup pintu. "Lo udah bangun! Cepat kemasi semua barang-barang yang seperlunya dan segera turun. Gue enggak punya banyak waktu untuk menunggu!" Itulah kata Varrel yang terselip didaun telinga Zahra. "Ngemasi barang-barang, dia bilang apa? Maksudnya barang-barang gue. Dia mau membawa gue pergi, tidak! Gue tidak mau pergi dengannya!" gumam Zahra. Cekle suara pintu kembali terdengar namun kali bukan orang yang sama melainkan Ibu Ningsih tersenyum kecil kearah putrinya. "Gue tidak mau ikut dengan Lo!," Kata Zahra tanpa menoleh kearah pintu dia langsung seru. Mungkin dia pikir itu adalah suaminya tapi nyatanya bukan. "Luna!" suara Ibu Ningsih berjalan mendekati. Wanita paruh baya itu menggeleng-gelengkan kepalanya menatap sang putri tercintanya. "Apa yang kamu katakan sayang!" Sambung Bu Ningsih. "Mama!" "Kamu kenapa?" kini wanita paruh baya itu sudah duduk tepat didepan Zahra. "Aku enggak mau pergi dari rumah ini Mah. Aku enggak mau jauh-jauh dari Mama!" rengek Zahra menunjukkan ekspresi sedihnya. "Sayang. Kamu enggak boleh gitu. Kemanapun suami kamu pergi kamu harus tetap ikut. Itu bukti sebagian kesetiaan seorang istri kepada suaminya." Jelas Bu Ningsih mencibir gemas pipi putrinya. "Tapi Zahra enggak mau jauh-jauh dari Mama!" "Gak, sayang. Gak jauh kok. Kan kamu juga bisa sering-sering mampir pulang ke rumah. Nanti pas nak Varrel libur ya. Sekarang cepat beres-beres barangmu. Kasian suamimu sudah menunggu dari tadi. Dia bangun sangat pagi hari ini bahkan lebih pagi dari Mama." Kata Bu Ningsih membujuk. "Hikkk Mama!" rengek Zahra lagi. "Ayo cepat sayang!" *** Hampir satu jam Varrel menunggu Zahra turun dari kamarnya. Pria itu menghabiskan waktunya dengan memainkan ponsel di ruangan tamu. Sesekali berdecak kesal entah apa itu. Zahra berjalan menghampiri sembari menenteng koper bawaannya. Wanita itu berwajah masam berdelik saat ekor matanya saling berada dengan Kenzo. "Sudah siap!" Gumam pria itu Manggut-manggut kecil. "Dasar lelet!" Sambung Varrel sembari merampas koper yang di bawa Zahra tadi menuju parkiran mobilnya. "Dia!" Zahra mengeraskan rahangnya kesal. Tiba di mobil, Zahra memeluk Ibu Ningsih erat. Mengucapkan salam perpisahannya dengan mata berkaca-kaca. "Jaga diri kamu baik-baik ya sayang. Jangan menyusahkan suamimu ingat." kata Ibu Ningsih yang langsung di angguk cepat oleh Zahra. "Mama juga, baik-baik dirumah! Nanti kalau ada waktu Mama kerumah Zahra ya?" pinta wanita itu seakan tidak rela untuk berpisah dari sosok ibu yang telah melahirkan dan membesarkannya. "Iya, nanti kalau ada luang waktu Papamu kami akan mampir!" sahut Bu Ningsih menyakinkan anaknya. "Janji ya?" "Iya!" Senyuman senang muncul di bibir Zahra lalu langsung memasuk kedalam mobil. Dia memilih duduk di bangku belakang, malas jika dia berurusan sama suaminya itu. Moodnya masih belum turun. "Mah, Varrel pergi dulu ya. Titip salam buat Papa!" kata Varrel menyalami mertuanya lembut. "Iya, nak Varrel. Hati-hati dijalan!" "Iya Mah, kalau begitu Varrel pamit!' Ucap Varrel lagi memasuki mobil tak lama setelah itu mobi yang dikendarainya pun menembus jalan raya. Cukup jauh perjalanan yang ditempuh. Tak ada percakapan diantara kedua sepasang suami-istri itu. Jangankan berbicara saling menatap saja seakan ragu bagi keduanya. Varrel terfokus mengemudi sedangkan Zahra sibuk dengan ponselnya saling tukar chat dengan Intan, sang sahabat yang sudah dari semalam membuat dia kesal. "Ra, mana foto suami Lo. Gue mau lihat!" Pesan masuk dari Intan. "Gak ada, gue malas ngefotoin dia gak penting banget!" "Loh, Ra kamu udah janji sama aku gak boleh ingkar!" "Heh, dudul, kapan gue janji sama lo. Yang ada Lo sendiri yang maksa buat gue ngefotoin Suami gue ngirim ke Lo!" "Hilih. Lo cemburu, astaga Zahra aku enggak akan rampas suami kamu. Aku enggak tertarik lagian aku udah punya pacar!" "Serah, lagian gue enggak peduli mau kamu rampas dia atau enggak gue enggak peduli!" "Dih, ngambek. Ya udah cepat fotoin suami kamu aku mau lihat!" desak Intan. "Ogah!" "Kalau kamu enggak kirim foto suami kamu dalam waktu dua jam maka aku akan blokir nomor kamu!" "Kamu ancam aku" "Enggak aku cuma kesal sama kamu. Sama sahabat aja kamu pelitnya nauzubillah! Udah nikah enggak kasi kabar lagi." "Tan, sumpah Lo resek Amat, tunggu gue fotoin dulu!" Zahra mendengus kesal dengan terpaksa ia menghidupkan camera belakang ponsel dan mengarahkannya kearah punggung Varrel. Ya karena hanya itu yang terlihat dari arah belakang. Lalu dengan cepat ia mengirimnya ke Intan sebelum ia kepergok. "Udah kan, puas!" "Mana, gak jelas. Kamu niat enggak sih. Ini belakangnya, kirim ulang aku mau melihat wajahnya. Siapa tau kamu membodohi ghe kamu nikah sama sama akik-akik kata hahahaha!" "Sialan!" Luna menghidupkan kembali camera ponselnya kali ini dengan mengambil posisi samping tentunya dengan secara diam-diam. Varrel melirik ekor matanya memutar karena merasa ada yang aneh. Ia melihat Zahra dari pion mobil sedang berusaha memotret dirinya. Tanpa aba-aba Varrel tiba-tiba saja menekan rem mobilnya hingga membuat wajah Luna tergusur kedepan nyaris saja terbentur kursi depan. "Aaaauuu ...." Pekik Luna ponselnya terjatuh tepat disamping Kenzo. "Lo kalau mau berhenti bisa ngomong dulu enggak sih." Gerutu Zahra memegang keningnya Yang sakit. Tak ada respon. Varrel diam sembari mengambil ponsel Luna dan melihat sudah berapa foto yang sudah di ambil istrinya itu. Ada tiga foto rupanya. Dua dari tiga sedikit jelas karena dari arah samping sedangkan satu lagi tidak jelas cuma terlihat punggung saja. "Ponselku, mau Lo apapain!" Teriak Zahra terkejut sekaligus ia malu ketahuan. Cekrekkkl Dua foto bagus berhasil di potret. Varrel memotret dirinya sendiri melalui Camera depan lalu menyerahkan ponsel itu kepada si empunya. "Lain kali kalau mau mintak foto orang minta izin dulu jangan diam-diam seperti itu!" kata Varrel lalu kembali melanjutkan mobilnya. "K-kata siapa. Kepedean Lo, ngapain juga gue ngefotoin Lo. Gak penting banget!" elak Zahra. Wajahnya sudah merah menahan rasa malu. "Intan, awas Lo ya. Akan gue balas Lo sialan!" batin Zahra kesal setengah mati. "Udah salah enggak mau ngaku lagi." ketus Varrel tanpa ekspresi, seperti biasa wajahnya datar. *** Satu jam tiga puluh menit berlalu akhirnya mobil yang dikendarai Varrel tiba disalah satu rumah bertingkat dua. Tidak besar sih, namun dengan dekorasi dan nuansa modern membuat Zahra menelan salivanya kagum. Benar-benar indah apalagi ada taman santai di samping rumah itu. Menambah kekaguman Varrel. Kalau di imbangi dengan mansion keluarganya sedikit lebih kecil ini dari luar saja Zahra bisa membedakannya. "Ngapain begong disitu! Cepat turun atau Lo mau bermalam di mobil!" kata Varrel tanpa melirik lalu melangkah memasuki rumah bercat putih itu. "Eh, koperku!" Teriak Zahra. Aaagggrrr .... Terpaksa ia menurunkan kopernya sendiri lalu membawa masuk. 'njirrrr berat banget. Dasar laki-laki tidak peka bukanya di bantuin kek." Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN