Malah hari saat suasana hening sehening ditengah malam. Zahra mengerjapkan kedua bola matanya dengan malas, diliriknya kearah jam dinding yang terletak diarea dingin atas pintu.
Pukul sepuluh malam. Untuk kesekian kalinya ia berdecak kesal membolak-balikkan tubuhnya atas ranjang mencari kenyamanan.
Astaga kenapa gue gak bisa tidur sih. Batin Zahra bergerutu entah kenapa jiwanya bergejolak memikirkan Varrel sadari tadi. Bayang-bayang laki-laki itu terlintas dalam pikirannya seolah di gembok tidak bisa pergi kemana-mana.
"Aaagggrrr .... Gue mau tidur! Tu lakik kenapa belum pulak juga. Keluyuran dimana sih dia!" decak Zahra memukul kasar bantal guling yang menjadi prioritas utamanya saat ini meluapkan emosinya yang memucat.
"Ngapain juga gue mikirin dia ah sial!"
"Ayo cepat tidur udah malam, bodoh amat, mau dia pulang mau kagak kek. Bodo amat, gue gak peduli." desis Zahra mengatur nafasnya untuk segera tidur.
Kedua kelopak matanya seakan susah untuk ia tutupkan hingga suara deringan ponsel membuat wanita itu berdelik.
"Siapa sih malam-malam nelpon!" dengusnya. Satu, dua, tiga, empat, sampai sepuluh kali panggilan ia abaikan hingga dipanggil ke sebelas terpaksa ia beranjak bangkit dari ranjang menuju nakas mengambil ponselnya itu tanpa membaca siapa sosok nama siapa yang telah meneleponnya di jam seperti ini.
"Halo!" Ucap Zahra dengan nada ketus setelah sesaat ia menurunkan tombol hijau kebawah.
"Lo habis dari mana sih, sekarang baru di angkat!" nada suara kesal terdengar diseberang sana, suara yang sangat familiar ditelinga Zahra siapa lagi kalau Intan, best friend forever.
"Apa sih, Lo ya kebiasaan kalau nelpon enggak lihat waktu. Lo enggak lihat jam berapa sekarang hah, udah tangah malam malah nelpon gak ada waktu besok apa!" cibir Zahra.
"Gak hhhhhhhh, gue nelpon cuma mau mengingatkan Lo tentang satu hal!" Suara Intan terkekeh kecil di sebrang sana.
"Apa?"
"Foto suamimu Ra jangan lupa, eh Ra, lo lagi sama suami Lo ya. Lagi enak-enak kalian ya. Sorry ya gue ganggu. Soalnya gue gak sadar. Udah sana kasi gue ponakan yang imut, cantik dan lucu!"
"b*****t Lo, anjirrrrr awas ku tempeleng enggak muka Lo nanti saat jumpa ama gue anak ingusan!" dengus Zahra cerocos kesal. Ia tidak sadar kalau teryata Intan sudah lebih dulu mematikan sambungan telpon bahkan wanita itu belum selesai dalam kalimat pertamanya.
Cekle
Pintu kamar terbuka. Zahra menyadari hal itu buru-buru ia mengambil selimut dan menutupkan seluruh badannya dengan selimut itu.
Sosok Varrel melengos masuk tak lupa ia menutup pintu itu rapat-rapat. Tak ada pembicaraan keduanya saling hening. Wajar datar Varrel menarik ekor matanya menatap kearah ranjang. Seperti gunung berbentuk panjang bagi seorang semut.
Varrel melonggarkan dasinya, rasa letih dan lelah menghantui. Dengan langkah kakinya yang panjang ia melangkah masuk kedalam kamar mandi.
Tak lama selang beberapa menit suara rintikan air terdengar.
'Dia sudah mandi!'
'Tapi tunggu! Apa dia akan tidur seranjang denganku!'
'tidak, aku tidak mau tidur seranjang dengannya'
'Siapapun tolong bawa aku pergi segera'
Duggg
'Astaga apa ini'
'Kenapa jantungku tiba-tiba seperti ini, serasa empedu rasanya memaksa ingin keluar!'
Decak Zahra reflek segera mengentakkan kakinya kasar baru. Memiringkan wajahnya melirik kearah pintu kamar mandi.
Suara rintikan masih terdengar.
Hufffff ....
Zahra menarik nafasnya mengatur secara perlahan-lahan baru setelah beranjak bangkit dari ranjang berjalan menuju lemari mengeluarkan selimut kesayangannya disana bergambar hello Kitty. Selimut yang ia beli sewaktu ia masih SMA.
Setelah itu meletakkannya diatas sofa juga dengan bantal disana.
"OK, ini kamar gue, kalau dia mau tidur disini kalau enggak dilantai. Hahaha!" tawa Zahra terkekeh sendiri.
"Kenapa Lo tawa sendiri, udah sarap Lo?" ucap Varrel tiba-tiba diambang pintu kamar mandi berdelik ketika melihat istrinya tertawa sendiri.
Varrel keluar dengan melilitkan handuk diarea pinggangnya. Bertelanjang d**a, terlihat jelas bagaimana bentuk roti sobek siap panggang diarea perutnya. Membuat Zahra menelan salivanya kasar.
"S-serah gue dong. Mau gue teriak, mau gue nagis, apa urusan sama situ!" Sinis Zahra lalu melanjutkan cepat langkahnya menuju kearah ranjang. Menarik selimut tebal itu dan langsung menutupi tubuhnya dengan cepat.
Duggg
Duggg
Duggg
Jantungnya Kembali memompa dengan sangat kencang, bahkan lebih kencang dari yang pertama.
Varrel mengacak-acak rambutnya yang masih basah mencoba mengeringkan.
Sebelas alisnya naik menaungi keheranan. Aaahhhh siallll!" decak pria itu kecil tapi sangat jelas terdengar didaun telinga Zahra yang berada didalam selimut.
"Dimana baju yang Lo beli tadi pagi?" tanya Varrel tanpa Zahra sadari pria itu sudah berdiri di sampingnya.
"...."
Tak ada jawaban, membuat Varrel mengulangi pertanyaannya yang sama
"Dimana baju yang Lo beli tadi pagi?" Kali ini dengan nada sedikit tinggi.
"....."
Masih tidak ada jawaban.
"Apa kau sudah tulis sekarang!" Hanya sekali tarik selimut itu sudah terlempar jauh kesana.
"Hey ..."
"Dimana baju ya Lo beli tadi pagi?" bentak Varrel, suaranya mengaung membuat Zahra terkesiap seketika.
Entah kenapa hatinya seperti ditusuk oleh jarum ketikan mendengar bentakan dari sosok laki-laki yang telah menjadi suaminya baru dua malam ini.
Jujur seumur hidupnya belum pernah sekalipun ia dibentak.
"A-ada! dibawah! A-Aku lupa menaruhnya disini!" jawab Zahra terbata-bata. Tubuhnya langsung terperanjat dari kasur.
"Ambil!"
"Iya, sabar!" buru-buru Zahra melayangkan kakinya untuk keluar kamar dan mengambil paper bag itu.
Zahra sudah berkeliling, wanita itu mengigit bibir bawahnya kasar, "is dimana baju itu!" gumam Zahra panik sendiri. Seingatnya ia melempar Paper Bang itu tadi pagi sudut sudut ruangan lantai dua.
"Nona muda anda mencari sesuatu, apa ada yang bisa saya bantu?" tawar sang pelayan berjalan mendekati Zahra.
"Ah iya, pas banget Bibik datang, ini paper bang yang Zahra lempar tadi pagi apa bibi melihatnya?" tanya Zahra cepat.
"Oh, iya. Nona, Bibi melihatnya. Nyonya besar mengambilnya dan menyuruh Bibi untuk meletakkan baju-baju itu di lemari Nona mudah!" jawab wanita paruh baya itu apa adanya.
"Apa, ok. Kalau begitu, terimakasih! aku pamit dulu!" tinta Zahra.
'Pantas saja gue cari-cariin enggak ada teryata sudah ambil Mama!' batin Zahra mengerucutkan bibirnya.
**
"Nih, ambil gak usah marah-marah juga keles, telinga gue enggak budek!" dengus Zahra sembari menyerahkan pakaian ia beli tadi pagi.
"Baguslah kalau Lo enggak budek! Kalau budek bisa repot gue punya istri budek kayek Lo!" dengan kasar Varrel merampas baju itu.
"Dasar pria tempramen!" Gumam Luna berdecak kesal dengan suara pelan, sembari berjalan melewati Varrel begitu saja. Merebahkan tubuhnya kembali diatas tempat ranjang. Tak lupa selimut itu ia tarikkan kembali menutupi tubuhnya.
"Kau bilang apa barusan!"
"....."
Varrel memicingkan tatapannya kedua ekor matanya menyipit melihat baju apa yang dibelikan istrinya. Warnanya sih Ok, Varrel menyukai warnanya. Tapi ya kali dia harus memakaikan kemeja mau tidur.
Varrel mengacakkan rambutnya lagi. Terpaksa ia mengambil baju itu dan segera ke kamar mandi.
Ahhhhh
Siallll
Dia lupa lagi akan celana dalam.
Aaagggrrr ....
Varrel menjabat rambutnya dengan sangat kasar. Untuk pertama kalinya ia tidak mengunakan celana dalam seumur hidupnya.
Varrel keluar dari kamar mandi setelah ia siap mengunakan celana panjang itu. Jujur Varrel kagum dengan Zahra pandai membeli pakaiannya. Bisa pas ditubuhnya. Celananya pun tidak longgar.
Pria itu menaikan alisnya sebelah. Melihat kearah tempat ranjang lalu memutar melirik kearah sofa. Keningnya berkerut.
'Jadi dia ingin gue tidur di sofa!' batin Varrel Manggut-manggut.
"Bodo amat, lihat saja siapa yang akan tidur disofa dan siapa yang akan tidur di ranjang." gumam Varrel tersenyum menyeringai.
Goyangan tempat tidur sangat terasa, Zahra membulatkan kedua biji bola matanya. Ia paham betul, pasti suaminya kini tengah menaiki ranjang.
"Apa dia buta, tidak lihat kalau gue sudah mempersiapkannya selimut dan bantal di sofa!" batin Luna bergerutu kesal.
"Sayang ..." suara yang begitu lembut mengalun begitu juga dengan letakan tangan di pinggang Zahra. Reflek membuat wanita itu terperanjat kasar dari tempat tidur.
"Aaaaaa ...."
"Dasar m***m!" Teriak Zahra.
"Lah, kenapa m***m. Lo kan istri gue! Lo sudah menjadi hakku sekarang. Ayo cepat sini duduk di pangkuan gue. Layani gue." kata Varrel tanpa rasa malu. Seulas senyuman licik mengukir disudut bibirnya.
"Najissss! Ogahhh!" Zahra langsung terbirit-b***t keluar kamar.
Sementara Varrel sudah terkekeh sendiri melihat istrinya itu. Cukup menarik. Batinya.
Bersambung .....