"Aaagggrrr.... dia itu benar-benar, baru satu hari menikah tapi dia sudah mengatur hidup gue. lagi pula apapun yang terjadi padaku di sana nanti gue pasti tidak akan membuatnya terlibat. Ogah banget gue membuatnya terlibat."
Zahra mendengus kesal. pupus sudah harapannya sekali lagi untuk berangkat liburan ketempat impiannya. Padahal ini bisa dibilang adalah kesempatan besar baginya untuk bisa bersenang-senang, berdebat dengan Varrel sama sekali tidak akan merubah apapun. Pria itu mutlak.
Zahra menjatuhkan tubuhnya di atas kasur matanya masih saja terbuka menatap ke arah langit-langit dinding. "Agrrr..." berguling bolak-balikkan di atas kasur perasaannya tak karuan masih saja kesal pada Varrel.
Ia mengigit bantal yang menjadi sandaran kepalanya sekarang dengan sangat kasar.
Tring... Tring... Bunyi ponsel terdengar
Dengan perasaan malas Zahra beranjak mengambil ponselnya dari dalam tas jinjit yang ia letakkan di atas nakas sebelum sesaat tadi ia merebahkan tubuhnya di atas kasur. wanita itu semakin kesal saat melihat panggilan masuk tapi tidak tertera nama di sana hanya nomor ponsel saja. Zahra sebenarnya malas mengangkatnya apalagi panggilan masuk tidak di kenal tapi apa boleh buat ponselnya itu masih saja berdering dari tadi.
"Ini ada keperluan apa sih, ni orang nelpon malam-malam. Siapa sih malam-malam begini ngajak ngelut, gak tau orang lagi kesal apa." gerutu Zahra lalu wanita itu mengangkat panggilan dari pada tidak bisa tidur karena ponsel terus berdering lebih baik angkat saja agar cepat diam.
"Halo, ngapain malam-malam begini nelpon? ada urusan apa menelpon gue heh? kalau salah sambung matikan saja gue sama sekali tidak punya banyak waktu." oceh Zahra dengan suara keras setelah sesaat ia mengangkat panggilan.
"....." Hening tak ada jawaban diseberang sana.
"Hey bicaralah, gue tanya siapa Lo, kalau Lo tidak bicara ya sudah gue matikan saja." Zahra semakin kesal karena tak ada sahutan apapun yang terdengar membuat dia semakin bergerutu. ia hendak mematikan sambungan telepon tersebut namun samar-samar ia mendengar sesuatu.
"Ambil kopermu di kamarku ----." Tet.. Tet.. panggilan langsung terputus, Sebelah pihak.
"Halo, halo siapa ini." Zahra masih menaruh ponsel di telinganya. "Siapa sih, ambil koper. koper siapa yang harus aku ambil." Zahra mencoba mengingat-ingat. "Hahhh... dia a-apa itu dia." Zahra baru teringat kalau kopernya tadi di ambil oleh Varrel. "T-Tapih bagaimana dia bisa mendapatkan nomorku. Papa aaaa... ini pasti Papa yang memberikannya." Zahra kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Ting... bunyi pesan masuk wanita itu segera membukanya.
"Cepat ambil kopermu di kamarku kalau tidak maka kamu tidak akan mendapatkan bajumu lagi."
Sed
"Agrrr.... iya iya gue akan mengambilnya tidak usah memberitahuku sebanyak itu juga. tadi sudah menelpon sekarang malah mengirim pesan." Dengus Zahra kini beranjak ke arah kamar Varrel.
Tok... tok... tok...
"Masuk..." terdengar suara sahutan dari dalam barulah Zahra berani membuka pintu kamar suaminya. pelan-pelan ia masuk kedalam sorotan matanya mencari sosok pria yang membuat ia kesal sadari tadi siapa lagi kalau bukan sang suami.
"Rupanya dia di situ." Ekor mata Zahra mendapatkan Varrel sedang duduk di sofa dengan laptop di depannya dan juga beberapa berkas tersusun rapi di samping laptop. "Sepertinya dia sedang sibuk." Zahra masih melirik ke arah Varrel.
"Jangan terus-terusan menatap gue nanti Lo bisa tergila-gila pada gue cepat ambilkan koper Lo dan pergi dari sini." ucap Varrel tanpa menoleh sama sekali tangannya masih saja mengetik di laptop.
"Dih pede amat Lo, kepedean ngapain juga mau lihat Lo nggak banget" celutus Zahra. "Dia itu manusia apa bukan sih kenapa selalu tebakannya benar pertama dia membelikan gue makanan saat aku lapar dan sekarang dia tau gue memperhatikannya padahal dia tidak melirik ke arah gue sama sekali." Batin Zahra berjalan ke arah koper tak jauh dari sofa yang di duduki oleh Varrel. tanpa melirik lagi Zahra bergegas ingin keluar.
"Tunggu..." kata Varrel juga masih tidak melirik.
Zahra sontak menghentikan langkahnya. "Apa? Gak puas mau marah? bukannya tadi Lo manggil gue buat cuma ambil koper." Ketus Zahra kembali melirik ke arah Varrel yang masih saja fokos pada laptop.
"Lo meninggalkan sesuatu, ambil itu dan gunakanlah untuk berbelanja bulanan. Itu pun kalau Lo mau. Dan satu lagi jangan melakukan sesuatu yang membuat gue kesal. Gue paling enggak suka dibantah apalagi menyusahkan. Jangan coba-coba pergi tanpa memberitahu gue lebih dulu. Paham!" Serkas Varrel setelah ia melempar karya kredit berwana gold dia atas meja.
Zahra mengerutkan keningnya. "Apa sih..." Bola mata Zahra n ikut melirik ke arah nakas dan di lihatnya kartu kredit di sana. Zahra semakin mengerutkan keningnya. "Di pikir gue ini tidak punya uang apa."
"Ambil saja tidak usah memikirkannya." ucap Varrel lagi.
"Gak sudah sok baik, gua punya kartu sendiri. jadi gak usah repot-repot nafkahin gue." sahut Zahra cepat.
"Lo dengar apa yang gue bilang tadi enggk sih. Gue bilang gue enggak suka dibantah. Cepat ambil!"
"Kartu Lo itu tidak ada gunanya lagi ambil saja tidak usah banyak bicara." tegas Varrel membuat Zahra tersentak.
"Iya iya, gak udah bantak-bentak juga kali!" dengan cepat mengambil kartu kredit itu lalu ia pergi tanpa berbicara apapun lagi."Heh... dia sangat menakutkan."
***
Pagi harinya saat sinar Surya menyinari kembali mencerahkan bumi ini dengan sinarnya, terlihat Zahra menggeliat di atas kasur. Suara bunyinya ponsel berdering tak pernah berhenti membuat wanita itu mengerjapkan kedua bola mata coklatnya. "Siapa lagi sih pagi-pagi buta telpon." Zahra mengaruk kepalanya tak gatal berasa malas bangun sepagi ini apa lagi tidak ada pekerjaan apapun yang harus ia lakukan.
Zahra mengucek-ngucek ekor matanya mencoba melihat dengan jelas siapa yang menelponnya sepagi ini. matanya langsung melotot seakana ingin keluar. "Astaga Intan..." Zahra spontan dengan terperanjat dalam kasur. Buru-buru mengangkat panggilan itu.
"Halo Tan." ucap Zahra lembut menampakkan gigi putihnya yang berjejer rapi.
"Halo-halo sekarang baru angkat panggil gue" terdengar suara Intan menajam. Seekor singa betina sedang mengamuk sekarang.
"Hehehe maaf Tan, sumpah semalam gue benar-benar lupa ngabari Lo, hp gu lowbatt, maaf ya gue benar-benar lupa." sahut Zahra dengan wajahnya dengar cengir.
"Lo tau enggak gara-gara Lo semalam enggak datang gue sampai ketiduran di sini nungging Lo aiggg. Seharusnya kalau Lo gak jadi pergi bilang dong kalau enggak jadi datang jadi gue enggak capek-capek nungging kamu sampai pagi begini"
"Iya-iya gue tau gue yang salah maka dari itu gue minta maaf, gue benar-benar lupa ngabarin Lo kalau gue enggak bisa datang."
"Emang Lo kenapa sih enggak bisa datang giliran gue enggak mau pergi Lo ajak. Setelah gue siap-siap malah Lo yang enggak jelas"
"Anu Tan"
"Anu-anu. anu apa sih ?? kasih tau itu yang jelas kenapa, jangan anu-anu enggak aku para normal bisa nebak."
"Hehehe sebenernya gue ketahuan sama dia kalau mau pergi!"
"Apa! Lo gak ngabarin lakik Lo kalau mau pergi, parah Lo. Kan gue udah bilang kabirin lakik Lo dulu!"
"Tadinya juga mau kabari, tapi percuma juga gak bakal dikasih oleh dia."
"Lo sih, udahlah lupakan. Gue juga gak bisa maksa ataupun marah sama Lo. Gua maklum Lo udah menikah dan tentunya semua tanggung jawab suami Lo."
"Tan, gue mintak maaf ya. Lo gak marah kan? Sumpah gue benar-benar gak tau kalau dia gak ngijinin."
"Dah gue, ngapain juga marah sama Lo. Selow gua paham. Dan sono lakukan tugas Lo jadi istri yang baik dan penurut satu lagi cepat kasi tau gue kabar bahagia."
"Iya iya, bawel. Kalau ada kabar bahagia gue kasi, kalau enggak ada jangan ngarep!"
"Gue akan tetap berharap."
"bay"
"Bay!"
***
Sehabis percakapan dengan Intan melalui sambungan telepon, Zahra langsung turun ke bawah terasa perutnya sudah lapar. sekilas Zahra melirik ke kamar Varrel, di lihatnya kamar masih tertutup dengan rapat. mungkin dia masih tidur, lagi pula ngapain dia bangun di jam seperti ini hem. wanita itu lalu turun ke bawah menelusuri dapur, sepertinya Zahra lupa lagi kalau dia belum belanja bulanan di rumah barunya ini.
"Astaga gue kan belum belanja bulanan. agr... kenapa gue selalu saja lupa sih." gumam Zahra menepuk pelan kepalanya ketika membukakan kulkas nampak masih kosong. "Hahhh.... mau makan apa coba." Zahara mengelus-elus perutnya, dengan sangat terpaksa Zahra harus segera bersiap-siap untuk pergi ke supermarket.
Setelah menghabiskan waktu hampir satu jam Zahra kini sudah berdandan dengan rapi memakaikan dress mini selutut dan mengantungkan tas branded berwarna krem yang ia sesuaikan dengan baju yang ia pakai sekarang. wanita itu nampak tersenyum setelah menatap dirinya dari pantulan cermin. "Sempurna." gumamnya singkat lalu pergi ke luar. Zahra memang banyak sekali koleksi tas dia termasuk salah satu wanita suka berbelanja jadi tidak heran jika dia sering mengonta ganti tas dan bajunya.
Langkah Zahra langsung terhenti tak kala hendak turun dari anak tangga, wanita itu kini melirik lagi ke arah kamar Varrel. "Dia sudah bangun apa belum ya? sudah jam segini dia masih belum turun juga." Zahra kini melangkah mendekati pintu kamar Varrel mencoba membangunkan suaminya itu.
"Di kunci." Zahra mulai mengetok pintu namun belum juga ada tanda-tanda pintu akan di buka. "Sebenarnya jam berapa sih sekarang kenapa dia belum bangun juga." tangan Zahra langsung membukakan tas mengambil ponselnya.
"Hah..." mata Zahra tak berkedip ia begitu terkejut saat melihat angka sebelas lewat dua puluh tertera sangat besar di layar ponsel. "Pantesan tidak ada orang teryata gue bangun kesiangan aaaaa...." Zahra langsung berlari ia tidak menyangka kalau ia bangun kesiangan, ini mah bukan lapar karena belum serapan pagi melainkan belum makan siang.
Di tempat lain Varrel nampak sibuk mengurus tender yang akan di presentasikan sebentar lagi. ini adalah hari pertama sekaligus presentasi pertama bagin Varrel di perusahaan Fwc Grup, ya karena mulai sekarang Varrel sudah mengambil alih kedudukan Papanya di kantor sebagai direktur utama atau pun Presdir. Varrel nampak gugup ia khawatir kalau ia tidak akan memenangkan tender ini apalagi saingannya saat ini adalah para perusahaan ternama dalam negeri. ini adalah proyek sangat besar, kalau Varrel bisa memenangkan tender ini maka bisa di jamin tahun ini perusahaan Global Grup akan masuk sebagai perusahaan peringatan pertama yang paling di takuti di Asia. sebelumnya pak Romi Papa Varrel juga sudah memenangkan tender proyek sangat besar di Amerika serikat, semua para pesaing begitu terkejut ketika melihat hasil presentasi yang di tunjukkan pak Romi. mereka tidak menyangka kalau presentasi pak Romi begitu detail dan teratur membuat para tetua saham tidak berkutik.
"Jangan khawatir kalau kita kalah itu hal yang biasa." ucap pak Romi tak kala melihat anak semata wayangnya nampak gugup.
"Tapi Pah..."
"Tidak apa-apa kalau kita kalah berati bukan rezeki kita, masih banyak proyek-proyek besar lainnya di luar sana jadi jangan khawatir." pak Romi menepuk pelan bahu Varrel memberi semangat agar tidak terlalu kepikiran.
"Sekarang Varrel baru paham Pah kenapa selama ini Mama selalu marah pada Papah, Mama bercerita kalau Papa selalu saja sibuk dengan perusahaan tidak pernah memikirkan diri sendiri." ucap Varrel ia baru menyadari betapa susahnya masuk dunia bisnis.
"Hahahaha... benarkah Mama bercerita seperti itu hem Mama kamu itu, dari dulu selalu marah-marah pada Papa. tapi Mama kamu tidak pernah marah ketika Papa pulang kerja walaupun Papa pulang larut malam sekalipun dia hanya marah ketika Papa pergi kerja saja."
"Kenapa seperti itu...??" tanya Varrel ini adalah pertanyaan yang sangat ingin ia tahu, sejak dari dulu Varrel hanya mendengar Ibunya marah pada waktu pagi saja. tapi ketika malam Ibunya langsung lunak tidak berkata apa-apa lagi.
"Itu karena Mama sudah tau kalau menjadi seorang pembisnis itu tidak mudah, yang hanya duduk di kursi membaca laporan yang sudah jadi. melainkan seorang pembisnis itu mempunyai tanggung jawab yang sangat besar."
"Papa benar seorang pembisnis mempunyai tanggung jawab yang sangat besar." ucap Varrel dengan nada lesu.
"Hey kenapa lesu seperti ini?? percayalah kalau kamu itu bisa nanti lama-lama kelamaan kamu pasti akan terbiasa." ucap pak Romi tak henti-hentinya memberi semangat.
"Tuan acaranya presentasinya akan di mulai." ucap seorang wanita paruh baya yang merupakan sekretaris pak Romi.
"Semangat-semangat Papa yakin kamu pasti bisa." bisik pak Romi di telinga Varrel seraya berjalan ke ruang rapat.
Meeting pun berjalan lancar menghabiskan waktu lebih kurang tiga jam. semua para member nampak gugup ketikan tetua saham hendak menyatakan siapa pemenang dalam proyek besar ini. proyek besar ini akan di bangun di negeri Paman Sam atau lebih tepatnya di kenal Amerika serikat yang akan mengeluarkan dana miliaran dolar. setelah mendiskusikan dengan para tetua lainnya akhirnya tetua saham menyatakan bahwa proyek besar ini akan di tangani oleh perusahaan fwcy Grup.
Jantung Varrel langsung berdetak sangat kencang ketika nama perusahaannya di nyatakan menang, Varrel memejamkan singkat matanya.
"Selamat nak." pak Romi langsung memeluk Varrel. laki-laki tua itu tidak menyangka kalau Varrel teryata bisa memiliki kecerdasan sangat liar biasa, sempat berpikir kalau Varrel akan kalah tapi setelah menunjukkan hasil presentasi pak Romi benar-benar kagum dengan kepintaran Varrel membuat rancangan sangat detail.
"Selamat kemenangan anda tuan muda Varrel." para member menyalami Varrel dengan penuh hormat dan juga para tetua saham.
"Selamat pak Romi, ada memiliki putra tunggal yang luar biasa saya sangat kagum dengannya." puji tetua saham.
"Pak Samuel terlalu memuji." ucap pak Romi membalas salaman pak Samuel.
Tak berlangsung lama setelah adegan salam menyalam para member dan tetua saham pun pulang ke perusahaan mereka masing-masing.
"Sekarang Papa makin yakin kalau kamu bisa mengurus perusahaan." ucap pak Romi memecahkan keheningan dalam mobil.
"Papa yakin akan pindah ke perusahaan lain...??" tanya Varrel ia merasa tidak yakin jika mengurus perusahaan tanpa bimbingan ayahnya.
"Iya, Papa sudah lelah mengurus perusahaan. Papa ingin beristirahat sebentar meluruskan pikiran." jawab pak Romi dengan penuh tekad.
"Tapi Varrel kurang yakin Pah jika Varrel mengurus perusahaan ini sendiri tanpa bimbingan dari Papa."
"Jangan berpikir seperti itu. kamu lihat sendiri tadi kan kalau presentasi kamu yang paling menonjol dari pada member lain. itu membuktikan kalau kamu bisa, kamu itu mampu mengurus perusahaan jadi jangan terlalu di pikirkan percaya diri saja." pak Romi kembali menepuk pelan pundak Varrel.
"Lagian kamu nanti tidak sendiri mengurus perusahaan, ada Dira yang akan membantu kamu dia akan menjadi sekretaris kamu nanti di perusahaan." sambung pak Romi lagi.
"Maksud Papa Dira, anaknya pak Kenzo Pratama??" tanya Varrel antusias.
"Iya. teryata kamu masih ingat dengannya??" pak Romi langsung tersenyum senang.
**Bersambung.....