Tidak jadi

1560 Kata
Sore hari saat matahari sudah mulai turun dan tidak lama lagi sinarnya akan berganti dengan cahaya rembulan malam. Zahra pulang tepat pukul setengah enam di mana matahari sudah benar-benar mau tergelam. Ia baru saja turun dari taksi dan langsung melangkah menuju pintu utama. terasa hari ini sangat melelahkan apalagi tadi berurusan dengan Intan, mati-matian Intan menawarkan diri untuk mengantarkannya dan mati-matian juga ia menolak. berbagai alasan sudah Zahra berikan tapi sahabatnya yang satu ini tidak mau mendengarkannya sama sekali. hehhh... benar-benar sangat susah di bujuk sudah seperti mencari jarum dalam jerami. Setelah berbagai agenda yang terjadi akhirnya Intan mau menuruti apa yang di katakannta, wanita itu langsung pamit pergi meninggalkan Zahra di tepi jalan. tak lama setelah Intan pergi taksi online yang di pesan Zahra melalui aplikasi pun datang. Bukan maksud lain Zahra tidak membiarkan Intan untuk datang kerumahnya namun sepertinya dia belum siap saja, entahlah Zahra tidak tau kenapa dirinya seperti merasakan cemburu jika saja Intan kerumahnya. Bagaimana jika Intan nanti melihat Varrel, dia terpesona dan terus membayangkan Varrel. Zahra akui kalau Varrel adalah pria sempurna memiliki wajah tampan dan badan atletis. "Aaagggrrr .... Kenapa gue memikirkan pria itu sih, biarkan saja Intan merebutnya aku tidak membutuhkannya, sialan!" gumam Zahra mengerutu dirinya sendiri. Tiba dirumah Ia segera merebahkan tubuhnya di sofa ruangan tamu mencoba meluruskan semua urat syarafnya yang seakan kaku. Rasanya lelah dan letih menghampirinya tiba-tiba saja ia teringat akan tiket liburan Maladewa. Salah satu tempat impian untuk berlibur sejak dari kecil. Intan memberikannya secara cuma-cuma. Sebenarnya Zahra bisa saja pergi kesana dihari setelah kelulusannya dinyatakan sebagai meluruskan otak dari pekerjaan kampus. Tapi ia mengurungkan niatnya untuk kesana karena merasa tidak puas jika ia pergi sendiri tanpa ada sahabatnya. Kalau bisa keluarganya. Krukkk... terdengar suara bunyi perut Zahra. wanita itu langsung tertawa kecil teryata ia baru menyadari kalau ia belum sarapan siang dari tadi. padahal tadi Zahra pergi ke cafe bertemu dengan Intan sekalian makan pikirnya. tapi semua itu seakan menghilang di pikiran Zahra tak kala Intan menunjukan tiket liburan Maladewa. "He... lapar nya, makan apa ya. balik lagi ke cafe tidak mungkin, cafe kan sangat jauh." dengan langkah gontai Zahra berjalan ke arah dapur sesaat setelah ia menaruhkan tas queltek bag di atas meja ruang tamu. Wanita itu melirik ke setiap sudut dapur nampak sangat rapi dan bersih seperti belum di gunakan sama sekali. hehehehe padahal ini kan memang rumah baru di beli. Pikir Zahra. Memukul kecil kepalanya kenapa sampai ia berpikir sebodoh itu. "Kenapa tidak ada satupun makanan di sini." gerutu Zahra ketika ia membukakan kulkas yang isinya kosong tidak ada satupun makanan di sana jangankan makanan sayuran saja tidak ada. "Ini rumah manusia apa rumah hantu sih kenapa sampai tidak ada satupun makanan di sini." Dengus Zahra mulai kesal, perutnya juga sudah mulai sakit menahan lapar. setelah kewalahan mencari makanan namun tidak menemukan juga akhirnya Zahra kembali ke ruangan tamu mengambil tasnya kembali dan hendak pergi ke kamar. tapi belum sempat ia melayangkan kakinya ia sudah di kejutkan dengan suara seseorang di belakang. "Ini makanan untukmu, makanlah dan jangan banyak tanya." ucap Varrel tiba-tiba seraya menaruh bungkusan yang isinya kotak makanan di atas meja. Varrel membelinya tadi sebelum ia sampai di rumah, sengaja karena ia berpikir pasti Zahra belum makan sejak tadi siang karena memang ia belum belanja bulanan di rumah barunya. Zahrah mengerutkan dahinya. bagaimana dia bisa tau aku belum makan. krukkk.... ahhh.... aku sangat lapar lagi. "B-Bagaimana Lo tau kalau gue belum makan...?" " Bukankah sudah aku katakan, tidak usah banyak tanya makan saja." sahut Varrel cepat lalu langsung pergi meninggalkan Zahra yang masih mematung di tempat. pria itu kini sedang melangkah menaiki anak tangga. Zahrah menatap sekilas punggung Varrel lalu pandangan beralih ke arah bungkusan yang di taruh oleh suaminya itu di atas meja. "Nasi goreng lengkap dengan ayam panggang." guma Zahra di ikuti senyuman tipis, dengan lahap ia memakan makanan itu terasa sangat enak sekali di lidahnya. setelah usai makan Zahra langsung pergi ke arah kamar dia sudah sangat gerah ingin mandi. mandi air panas kayek nya enak ni. weekkk... badanku bau sekali. Ia mengibar-ngibas angin di hidungnya. ** Setelah menghabiskan waktu dua puluh menit dalam ritual mandi, Zahra kini menatap dirinya dari pantulan cermin sebelum sesaat ia akan memakaikan baju. Zahra masih memakaikan handuk putih yang sudah di lilitkan di tubuhnya itu. "Hem teryata aku sangat cantik, seharusnya aku dari dulu jadi model saja tidak usah masuk dunia bisnis." guma Zahra seraya memutarkan badannya. "Aku yakin Oppa-Oppa pasti akan terpesona saat melihatku aaaa...." Zahra memutarkan badannya mengelilingi sofa. halusnya lancar ya Bun wkwkwkw. "Sadar Zahra, sadar. Lo itu sudah punya suami masih saja mengharapkan Oppa. dia kenal kamu aja kagak malah asik-asiknya kamu ngehaluin dia buat apa cobak. yang ada kamu malah di tertawa sama orang-orang." Zahra memayunkan bibirnya, nasib-nasib. Tring.... suara bunyi ponsel Zahra pertanda ada panggilan masuk. Tanpa sabar wanita itu langsung terperanjat melihat ke arah ponsel yang diletakkannya di atas nakas. "Intan." guma Zahra melihat nama sahabatnya tertera di layar ponsel. "Halo" ucap Zahrasetelah sesaat ia menurunkan tombol hijau kebawah pertanda ia menjawab panggilan itu. "Ra, kek mana udah siap apa belum kalian? kalau udah cepat berangkat nanti keburu pesawatnya teke off." Pesan Intan sebrang sana. "Siap bagaimana gue saja belum memberitahunya. Sebaiknya geu tidak jadi pergi. Lo saja yang pergi, gue enggan memberitahunya. Gue yakin dia bakal nolak. Dia tipe cowok gak ada romantis-romantisnya." Balas Zahra. "Ahhhh, gak asik. Gue udah capek-capek beliin tiket liburan malah enggak Lo pakek." Balas Intan ketus. "Bagaimana kalau kita aja yang pergi!" tawar Zahra. "Suami Lo gimana. Padahal kan gue beliin itu buat Lo bulan madu!" "Alah, gak apa-apa. Dia gak akan marah. Malah dia senang kalau gue pergi mungkin udah. Lo tungguin gue. Kasian ini tiket udah ada, gue siap-siap dulu!" balas Zahra cepat langsung mematikan sambungan telepon. Kimmy langsung bergegas memakaikan baju, wanita itu tergesa-gesa menghias dirinya. Setelah menghabiskan waktu dua puluh menit dalam dandanan kilat, Zahra pelan-pelan melangkah keluar dari kamar seraya tangannya menenteng koper mini kecil, yang memang sudah tersedia di samping pojok lemari. Zahra terheran sendiri kenapa bisa ada koper di sana namun ia tidak mau memikirkannya labih baik ia bersiap-siap. "Kasi tau enggak ya, kasi tau, enggak. kasi tau, enggak. duh kenapa jadi pusing begini sih. kalau enggak kasi tau nanti dia nyariin gue lagi, terus kalau gue kasi tau dia pasti enggak izinkan gue pergi aaggrrr.... bodoh amat ah mending gue pergi aja enggak usah kabarin lagian aku pergi cuma tiga hari bukan setahun." Dengus Zahra endap endap turun dari anak tangga. "Huffff... aman" Zahra menggosokkan dadanya pelan tak kala ia sudah turun dari anak tangga yang terakhir. Zahra kembali hendak melanjutkan langkahnya. "Mau ke mana Lo malam-malam begini?" Suara yang sangat Zahra kenali ya, siapa lagi kalau bukan Varrel yang sudah berada disampingnya, pria itu baru saja habis dari dapur. "Buset ketahuan!" "Alamak ..." Zahra memejamkan singkat matanya sebelum sesaat ia akan melirik kearah suaminya itu. "Mau kemana?" tanya Varrel lagi seraya memerhatikan penampilan Zahra dari ujung kepala sampai kaki lalu matanya langsung tertuju pada koper yang di pegang pria itu. "I-itu, a-anu, apa namanya." Zahrah mengarukkan kepalanya tak gatal. "Kenapa pakek ketahuan segalak lagi sih!" Bagun Zahra kesal. "Gue tanya kamu mau kemana?" kali ini suara Varrel sedikit lebih keras. "Gue mau ke Maladewa." jawab Zahra cepat. Ada sesuatu yang harus aku hadiri di sana." Zahrah menatap sekilas wajah Varrel lalu pandangan menunduk ke sembarang arah. "Cuma tiga kok enggak lama habis itu gue balik lagi." sambung Zahra lagi. mudah-mudah dia tidak mau bertanya aku mau kemana. "Tiga hari." Varrel mangut mangut. "Sampai harus bawa koper segalak." sorot mata Varrel langsung berubah menajam. "Ya kalau enggak bawa koper terus gue makek baju apa nanti disa--" belum sempat Zahra menyahut Varrel sudah lebih dulu merampas kopernya. Varrel langsung membukakan koper Zahra, ia ingin melihat sendiri apa yang di bawa istrinya ini. "Apa ini?" tanya Varrel mengerutkan keningnya dalam, ia benar benar tidak tau apa yang ia pegang sekarang. Mata Zahra spontan langsung membulat sempurna ia begitu sangat malu. Zahra dengan cepat langsung merampas apa yang di pegang Varrel. "Dasar tidak tau malu ini itu punya perempuan." ketus Zahra setelah sesaat merampas pembalut dari tangan Varrel. "Katakan apa itu??" Varrel menatap tajam. ia masih sangat penasaran apalagi tadi Zahra merampasnya sangat cepat hal itu membuat Varrel bertanya tanya. "Sudah gue bilang kan kalau ini punya perempuan." ketus Zahra. "Iya gue tahu tapi untuk apa itu, apa kegunaannya. karena dari kecil sampai sekarang gue belum melihat apa yang Lo pengang itu." ucap Varrel polos. "hahhhh.... aggrrrr.... Lo bodoh atau apa sih, kan gue udah bilang ini punya perempuan. mana mungkin gue mengatakan kalau ini untuk--" Zahra geram sendiri. "Pokoknya ini punya perempuan." sambungnya lagi. "Heh... Lo tidak boleh pergi tetap di sini." Varrel mengalah lalu ia menutup kembali koper Zahra. "What.... tidak bisa gue harus pergi sekarang. Gue mau meluruskan otak gue" "Gue bilang tidak boleh pergi maka tetap tidak boleh pergi. Lo paham enggak sih" ucap Varrel lalu pria itu hendak pergi namun tangannya sudah lebih dulu di tarik oleh Zahra. "Berikan koper gue, please. Gue harus pergi karena kesana tempat impian gue dari kecil." Zahra berusaha meluluhkan Varrel. "Tidak." sahut Varrel cepat. "Kalau sampai terjadi sesuatu pada Lo di sana siapa yang repot? Gue juga. jadi Lo tidak boleh pergi mengerti. Kalau Lo tatap pengen pergi tunggu gue cuti." tegas Varrel lalu langsung pergi seraya menenteng koper Kimmy tadi. "Aaaggrrr.... menyebalkan...." Bersambung......
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN