Rama POV
Pukul sebelas siang akhirnya aku tiba di bandara internasional Kanada. Puji Tuhan kami mendarat sempurna. Aku segera mengecek ponselku, melihat apakah ada panggilan atau pesan lagi dari Justin.
Ya, kini aku tau kalau ada seseorang yang membantu Sinta kabur dari tuan Alek. Dia adalah Justin, Varrel memberikan nomornya padaku tadi. Sebenarnya aku tidak terlalu mengenal pria Eropa itu. Namun setelah aku dan Varrel menyelidik tentang riwayat hidup pria itu, aku langsung sadar dan paham siapa sosok pria yang telah menolong calon istriku.
Aku dan Justin sempat berbicara beberapa kata tadi saat aku masih didalam pesawat tadi pagi. Dia duluan menghubungiku, aku sempat berpikir kalau Sinta kembali yang menghubungiku namun teryata setelah aku mengangkat panggilan masuk itu ternyata aku mendengar suara laki-laki.
Dia adalah Justin Joshua, merupakan anak kedua dari keluarga Joshua. Siap yang tidak mengenal keluarga Joshua. Keluarga yang sangat berpengaruh akan kekuasaannya di Italia. Bahkan bagian produk baju perusahaannya termasuk paling laris di dunia.
Tapi jujur, aku bekum pernah bertemu langsung dengan sosok pria itu. Kabarnya dia sangat dingin dan tampan, jadi tidak heran jika banyak dari kau hawa begitu mengidolakannya. Pernah sekali aku bertemu dengan keluarga Joshua di ajak fashion internasional tahun lalu di Miami Florida. Dulu aku sempat berniat mengajak kerja sama, namun setelah beberapa saat kemudian aku mengurungkan niatku. Entahlah, tapi waktu itu aku sibuk jadi tidak bisa memikirkan kerja sama lainya dengan pihak perusahaan.
Ok, lanjut ke pembahasan awal. Aku dan Justin segera naik taksi yang menuju kearah tujuanku. Yaitu sebuah cafe yang memang dikatakan oleh Justin. Katanya, Sinta akan menemuinya disana.
Tapi saat aku tiba disana, apa yang aku harapkan malah pupus. Tidak ada tanda-tanda kedatangan Sinta disana.
"Apa dia mencoba mempermainkan ku!" batinku berasumsi. Tanpa menunggu lagi segera aku meraih ponselku dan langsung menghubungi nomor Justin.
Satu kali, dua kaki, tiga kali, masih belum ada jawaban diseberang sana. Hingga di keempat kali baru aku mendengar suara sangat familiar menyahut panggilanku.
"Halo!" kata Sinta, sangat jelas ditelinga ku mendengar perkataannya.
"Sinta, Sinta. Ini aku!". kataku setelah beberapa saat terjadi jeda.
"Rama!" ucap Sinta terdengar sangat antusias.
"Kamu dimana? hm, aku sudah tiba di cafe yang dimaksud oleh Justin!" tanyaku cepat.
"Maaf Ram, aku lupa mengabarimu. Pergilah ke apartemen Justin, aku berada disini bersamanya?" ucapnya di sebrang sana. Aku mengerutkan keningku saat otak kecilku mencerna apa yang dikatakan Sinta barusan. Berdua di apartemen Justin. Hanya berdua!
"Rama, halo. Kenapa kau diam?" tanya Sinta spontan membuyarkan lamunanku.
"Sinta, katakan kepadaku. Apa yang kalian lakukan disana. Bukankah seharusnya kita bertemu disini!" tukasku kesal.
Cemburu, apa aku cemburu, duggg .... hatiku berdenyut sakit mendengar apa yang dikatakan Sinta barusan bagaimana bisa dia bersama Justin berdua.
"Rama, sebenarnya---"
"Cepat kirim alamat apartemen Justin sekarang juga, aku akan kesana!" tintaku, entah kenapa volume suaraku naik secara tiba-tiba.
"Rama! Kau marah?" tanyanya.
"Jangan membuat aku emosi Sinta, cepat kirimkan alamat apartemen Justin sekarang juga!" tukasku lagi.
"Iya, aku akan mengirimkannya segera." Balas Sinta diseberang sana.
Tutttt
Panggilan pun berakhir, rahangku mengeras seketika. Awas saja kalau sampai Justin melakukan hal sesuatu yang tidak akan inginkan kepada calon wanita ku. Aku bersumpah akan mencabik-cabik tubuhnya dengan sangat kasar.
Tig ...
Pesan masuk Sinta. Aku segera melihatnya. Teryata letaknya tak jauh dari tempat aku berdiri sekarang hanya berjarak belasan kilometer saja.
"Bagaimana, Ram. Apa yang dikatakan Sinta. Dia baik-baik saja kan?" tanya Varrel padaku.
"Kita ke apartemen sekarang Justin sekarang, mereka disana!" kataku. sementara Varrel hanya mengangguk pertanda mengiyakannya. Lalu kami berdua kembali menaiki taksi.
***
Lima belas menit kemudian akhirnya aku tiba dimana apartemen yang dimaksud Sinta. Aku menghela nafas panjang, genggaman tanganku tiba-tiba saja mengepal erat. Lalu aku menuntun masuk kedalam.
Dan tiba disana, aku langsung dikejutkan dengan pemandangan yang benar-benar membuat aku rasanya ingin menghancurkan bumi ini. Dimana ekor mataku melihat Sinta sedang menyuapkan sesuatu kepada Justin, sesuatu yang lembek, yang aku yakini kalau itu adalah bubur nasi. Dan lagi aku melihat Justin tidak mengenakkan baju apapun yang menutupi bidang dadanya.
"b******k!" Umpat ku kesal tanpa aba-aba aku langsung berlari melayangkan pukulan tinjuku diwajahnya.
Brukkkk
"b******n, akan aku bunuh kau!" Teriakku keras.
Brukkkk
"Ramwi, hentikan! apa yang kamu lakukan!" Teriak Sinta, aku tidak mempedulikannya sama sekali. Tujuanku saat ini adalah membunuh pria b******k ini.
"Rama," teriak Sinta lagi dia sudah berhasil menghentikanku. Mendorong tubuhku kasar lalu menghampiri Justin terkapar dilantai. Sudut bibir Justin terlihat banyak sudah mengalir darah segar karena ulahku.
"Kau membelanya. Ck, oh jadi kau sekarang lebih memilihnya ketimbang diriku, kau sudah tergila-gila kepadanya sekarang. Apa kalian sudah tidur berduan. Berapa kali dua menyetubuhi mu. Apa permainannya lebih hebat hah. Kau begitu puas dengannya. Sialan, aku pikir kau wanita baik-baik tidak kusangka teryata kau p*****r berkedok polos" ucapku tersenyum sinis menyeringai.
"Ram apa yang kau katakan," suara Varrel sepertinya dia terkejut mendengarnya.
Kulihat Sinta berjalan mendekatiku, dia menatapku dengan tatapan tidak bisa aku artikan. Aku ingin memeluknya karena begitu merindukannya. Andai saja dia tau bagaimana rinduku saat mengetahui dia diculik pasti dia akan berpikir sepuluh kali lipat sebelum ia akan melakukan ini, hatiku, bagaikan disambar petir melihat Sinta. apa aku jatuh cinta kepadanya. kenapa dengan ini!
"Berlututlah Luna, berlutut dihadapanku. Memohon ampun, maka aku akan mempertimbangkannya dan aku akan tetap membunuh pria b******n itu karena telah berani menyentuhmu." lanjutku, entah setan apa yang merasuki tubuhku sekarang.
Plakkkk
Sebuah tamparan keras melayang begitu saja di pipiku. Aku tidak percaya ini, dia menamparku.
"Kamu bilang apa barusan?" tanyanya dengan mata sudah berkaca-kaca menahan bendungan.
"Katakan, apa yang kau katakan barusan Rama!" Teriaknya ambisius.
"p*****r, kau p*****r!" Seruku keras.
Plakkkk
Satu tamparan lagi aku rasakan, kali ini lebih keras dari sebelumnya. Air matanya sudah terjatuh membasahi pipi putihnya itu.
"Kau tau! Kau lihat, buka matamu baik-baik Rama sebelum kamu berkata sesukamu. Lihat kakinya, lihat apa yang telah dia lakukan untukku. Apa yang telah ia korbankan demi menyelamatkan ku. Tidakkah kau berpikir dulu sebelum mengatakan apapun. Apa orang berkuasa dan kaya sepertimu selalu melakukan hal bodoh seperti ini, sesuka hati merendahkan orang lain" Teriaknya kepadaku, aku diam tidak bersuara sedikit pun. Sementara Sinta susah menagis terisak-isak.
"Kakinya tertebak peluru, kau tau kenapa? Karena dia menolongku, dia mempertaruhkan nyawanya untukku, kalau bukan karena dia yang berkorban mungkin saja aku sudah menjadi mayat sekarang. Mungkin saja aku tidak akan pernah bisa bertemu lagi denganmu Rama!" gerutu Sinta dengan keras.
"Tapi apa yang kau lakukan, kau memukulnya, seharusnya kau memberikan dia pertolongan karena dia telah mau menukarkan nyawanya dengan melindungiku, hikkk ... Hik ... Tapi kamu malah memukulnya!" Lirih Sinta berkata, dia sudah terduduk lemas dilantai.
***
POV Sinta.
Aku marah, sangat marah. Kenapa bisa dia berkata begitu kasar kepadaku. Apa dia pikir aku perempuan penghibur seperti apa yang dia katakan itu, rasanya aku ingin menghilang dari bumi. Padahal dia tau jelas kalau aku diculik oleh tuan Alek dan Justinlah yang menolongku tapi kenapa dia bisa berkata seperti itu.
"Aaagggrrr .... Jangan salah paham seperti ini, Sinta dan aku tidak melakukan apapun. Dia hanya membantu merawatku saja. Ini salahku seharusnya aku tidak menahannya!" ucap Justin dibelakangku, aku sangat jelas mendengarnya. Dia terlihat kesakitan. Bahkan wajahnya membiru karena pukulan keras dari Rama tadi. Dan diapun berbohong, padahal sebenarnya akulah yang memaksa diri untuk merawatnya.
"Ram, tenangkan dirimu! ini tidak seperti yang kita lihat. Kadang ada kala kebenaran tidak seperti apa yang kita lihat." Timpal Varrel, aku mengangkat kepalaku menatap kearah kearah Rama, raut wajahnya masih sama. Dia terlihat memendamkan emosinya.
Aku berusaha bangkit, menegangkan tubuhku agar bisa sejajar dengannya. Kuhapus air mataku yang jatuh ini.
"Sekarang apa yang kamu inginkan dariku, kamu ingin marah, silahkan. Kamu ingin membuangku silahkan. Aku lelah Ram, kamu tiba-tiba saja berkata seperti itu kepadaku, menuduhku yang bukan dengan pria lain, padahal kamu tau sendiri berkat Justin, kita bisa bertemu sekarang. Berkat Justin juga aku terbebas dari tuan Alek, dan berkat Justin juga aku masih bernafas sampai sekarang. Kamu tau, hari itu Justin menolongku dari incaran para anak buah tuan Alek, dia membawaku ke rumahnya. Dan disaat tiba aku langsung menelponmu mengabari mu kalau aku sedang berada di Kanada jadi tawanan tuan Alek. Aku sangat berharap kamu dapat secepatnya membawaku kabur dari ini. Pulang menemui Mama, ibu dan keluarga lainnya. Tapi setelah kamu datang sampai disini, kamu marah-marah tidak jelas menuduhku s
pelacur, aku pikir kamu akan sangat berterimakasih kepada Justin karena dia telah mengorbankan nyawanya menolongku. Kamu tau, tadi pagi anak buah tuan Alek datang ke mansion Justin, mereka mengobrak Abrik seisi mansion. Dia, pria yang kamu pukul tadi lah yang melindungiku dari gejatan pistol kala tidak mungkin tubuhku sudah tergelatak tak bernyawa, Dia---"
Tiba-tiba saja perkataanku terhenti saat kurasakan benda kenyal menyentuh bibirku, melumatkan dengan dalam. Aku mematung, tubuhku berdiam diri tidak bergerak sedikitpun. Rama, dia menciumiku, tidak peduli akan keberadaan Justin dan Kevin yang aku yakin mereka berdua pasti melihat kejadian ini.
Rama semakin memperdalam ciumannya, bahkan ia menjulurkan lidahnya bermain dengan rakusnya.
Aku hendak menolak ransangan itu tapi tidak bisa karena tubuh varrel jauh lebih kuat ketimbang diriku.
Hahhhh .... Suara nafas ku yang kehabisan nafas karena Rama tak kunjung melepaskan ciumannya.
"Maafkan, aku!" Perkataan itulah yang aku dengar dari rongga mulutnya. Dia membawaku kedalam pelukannya, memelukku sangat erat.
"Aku sangat merindukanmu, aku sangat mencintaimu, aku takut kehilanganmu, aku tidak bisa melihat kamu berdekatan dengan pria lain, maafkan aku. Maafkan aku karena telah berkata kasar kepadamu. Aku pantas dihukum! Aku gegabah, gampang menyimpulkan sesuatu tanpa menyelidikinya, maafkan aku," Ucap Rama, dia masih memelukku erat.
Aku diam, tidak bersuara dan tidak berkata sepatah katapun lagi. Mulutku seakan kaku setelah mendengar perkataan maaf dari Rama, dia mencintai ku. aku tidak sedang salah dengar kan Rama bilang dia mencintaiku.
"Aku tau, aku sudah menyakiti perasaanmu, tapi satu hal yang aku rasakan. Aku cemburu melihatmu berdekatan dengan dia, apalagi dengan dia yang tidak berpakaian seperti itu. Aku pikir, aku pikir kalian--"
"Buang pikiran itu, pikiran yang membuat kamu salah paham, kamu percaya padaku, Rama. sebenarnta aku juga mencintaimu. Jantungku selalu berdekatan kencang jika berdekatan denganmu, aku merasa nyaman, sangat nyaman bersamamu. Jadi aku tidak mungkin semudah itu berpaling darimu. Justin tidak berpakaian itu karena tadi semua pakaiannya sudah berlumuran darah, dokter yang merawat Justin-lah yang membukanya bukan aku, aku hanya membantu membersihkan dari yang melekat ditubuhnya. Percayalah Rama, aku hanya mencintaimu, hanya kamu!" potongku, berkata seadanya.
"kamu mencintaiku, hah. terimakasih aku juga sangat mencintaimu"
katanya.
"Aku sudah memaafkanmu, tapi tidak lain kali. Kamu tau, saat kamu berkata kasar kepadaku tadi jantungku tadi rasanya ingin pecah, tertusuk seperti tombak. Bahkan dalam pikiranku pun, tidak pernah ada secuil pun untuk berselingkuh darimu."
"Hm, apa sesakit itu?"
"Iya, sakit, sangat sakit!"
"Kalau begitu aku minta maaf, dan siap menerima semua hukuman yang kamu berikan."
"Apa kamu yakin?"
"Tentu, demi mendapatkan maaf darimu. Apapun akan aku lakukan!"
"Hm, kalau begitu, aku ingin kamu berpelukan dengan Justin, minta maaf kepadanya. Apa kamu bisa!"ucapku sembari menyipitkan kedua manik-manik mataku menatap kearahnya. Dia terlihat diam, tidak menunjukkan ekspresi apapun untuk beberapa saat.
"Ok, akan aku lakukan. Asal kamu memaafkanku!" katanya menantang, aku tersenyum kecil mendengar.
"Tapi itu tidak gratis, di sini harga diriku dipertaruhkan, harga diri seorang Rama. Seumuran hidupku aku belum pernah meminta maaf kepada siapapun. Kecuali kamu dan sahabat kita lainnya, kamu berhasil membuat kata yang awalnya tidak ada di kamusku menjadi ada. Maka dari itu kamu harus membayarnya mahal!" katanya, seketika aku menelan salivaku kasar.
"Ma-maksudmu. Aku juga mendapatkan hukuman?" aku bertanya dengan ragu.
"Iya, selama satu Minggu kedepan kamu harus bersamaku terus menerus, dan .... Aku akan membuat kamu tidak akan melupakan seorang Rama Rama pria tampan dan juga yang begitu panas diatas ranjang." katanya.
Glukkk aku spontan langsung menelan salivaku kasar.
Sekali lagi aku menelan salivaku, tentu aku tau maksud yang dibicarakan Rama kepadaku.
"Tapi--"
"Ini untuk pembuka!" Rama hendak mencium bibirku lagi, namun aku sudah lebih dulu menahannya.
"Ada pak bos Varrel dan Justin!" ucapku, ekor mataku langsung melirik kearah tempat mereka tadi dan teryata sudah tidak tidak ada lagi sosok keduanya.
"Dimana mereka?" tanyaku, menaikkan alis.
"Sudah keluar!"
"Sejak kapan?"
"Sejak saat kita berciuman!"
"Rama!"
"Apa!"
Spontan wajahku merah merona, aku sungguh malu sekali.
"Kamu cantik kalau lagi seperti sayang."
"Jangan membuat aku kesal!"
"Aku berkata jujur, kamu memang cantik sayang!"
"Siapa cantik antara aku dan Dira?"
"Jangan membicarakannya!"
"Tuhkan, dia lebih cantik dariku berati!"
"Tidak, bukan seperti itu. Maksudku tidak ada satupun orang yang sebanding dengan kecantikanmu sayang. Kamu lebih cantik dari siapapun."
"Kamu sedang memuji atau meredakan ku?"
"Dua-duanya!"
"Rama!"
"Apalagi sayang?"
"Kenapa kamu sangat menyebalkan!"
"Sungguh, apa semenyebalkan itu!"
"Hem, lebih dari apapun. Kamu sangat menyebalkan dan menjengkelkan."
"Bagus dong!"
"Lah kenapa bagus?"
"Itu berati aku selalu ada di kepalamu!"
"Rama!"
"Apalagi sayang?"
"Aku membencimu!"
"Aku mencintaimu!"
"Aku kesal padamu!"
"Aku sayang padamu!"
"Aku ingin membunuhmu!"
"Aku ingin memakanmu!"
"Jangan bicara apapun, aku sedang kesal!"
"Aku tau!"
Krukkk ....
"Hehehe ..." Aku langsung menampakkan gigi putihku saat mendengar suara perut berbunyi. Sungguh dari kemaren aku belum makan apapun apalagi sekarang sudah siang. Astaga perutku sangat lapar.
"Kamu kenapa, lapar?" Tanya Rama aku masih menampakkan gigi putihku dengan rapi.
"Iya!" jawabku pelan.
"Baiklah, tapi kamu haru mandi dulu. Aku akan menyuruh seseorang membelikan makanan, lihat baju kamu penuh dengan darah. Cepat mandi aku tunggu di ruangan tengah." Kata Rama aku hanya bisa mengangguk pertanda mengiyakan.
Aku menaikkan alisku sebelah, sembari mengoceh tidak jelas, bagaimana bisa aku mandi sedangkan aku tidak memiliki baju ganti sama sekali.
"Astaga!" gumamku kesal. Mana aku sudah didalam kamar mandi lagi. Mau melangkah sangat malas kalau aku keluar lagi untuk memberitahu kan Rama. Lebih baik aku langsung mandi saja.
Dua puluh lima menit berlalu, akhirnya setelah bersemayam dengan air sabun membersikan semua darah yang melekat serta bau badan yang menyengat, aku baru sadar sudah dua hari semenjak aku diculik belum mandi. Bahkan aku belum menggosok gigi sama sekali. Sedangkan tadi Rama menciumiku, apa dia tidak merasa.
Hihihihi
Entah aku harus tertawan senang atau aku harus malu, tapi sepertinya dia tadi sangat menikmati ciumanku.
Kini aku sudah siap dengan pakaian handuk melekat di tubuhku serta handuk kecil yang aku lilitkan di kepalaku. Aku mengambil semua pakai ini didalam lemari kaca yang dalam kamar mandi.
Setelah aku pikir beres barulah aku memberanikan diri untuk keluar, kulihat ruangan kamar masih kosong, belum ada tanda-tanda orang masuk. Dengan langkah santai aku mendekati pintu, membukanya sedikit lalu memanggil nama Rama pelan.
Kulihat dua sosok pria itu duduk saling berjauhan, tidak ada pembicaraan dari mereka berdua. Rama dan Justin, tapi tatapan keduanya cukup mengintimidasi, aku sedikit khawatir, masih jelas aku melihat wajah Justin pucat dicampur lebam. Itu pasti sangat sakit. Apa mereka berdua secanggung itu, dimana
"Dimana Varrel!'
"Rama!" panggilku, kali ini dengan suara sedikit keras. Sanga empunya nama langsung melirik. Spontan aku menganyun kan, tanganku memanggil pria itu.
"Aku!" Rama menunjuk dirinya sendiri. Secepat kilat aku mengangguk cepat.
"Iya, sini!" Pintaku lagi. Barulah pria itu beranjak bangkit mendekatiku.
"Ada apa? Apa kamu mengajak aku mandi bersama?" tanyanya, yang rasanya ingin aku petak kepalanya pakek kayu. Pikirannya selalu saja ples-ples.
"Bukan, aku ingin minta kamu belikan aku baju?" Ucapku, setelah membiarkan Rama masuk lalu menutup pintu itu lagi. Aku malu jika Justin melihat penampilanku seperti ini.
"Apa? Maksudku kenapa kamu baru bilang Sayang. Baiklah, tadi Varrel ada diluar membelikan makanan, katanya sembari menelpon dengan Istrinya, aku akan memintanya untuk membelikan kamu baju." Kata Rama dia hendak mengambilkan ponselnya. Namun buru-buru aku mencegahnya.
"Jangan!" Tolakku, langsung saja Rama menaikkan sebelah alisnya menatap heran kepadaku.
"Maksudku, hehe aku ingin kamu yang membelinya. Sekalian beli aku anu!" Aku merasa malu sendiri mengatakannya. Tapi kalau aku tidak mengatakannya makan aku akan tidak akan merasa nyaman kalau hanya memakai baju saja tanpa pakaian dalam.
"Anu, anu apa?" Tanya Rama dia merasa semakin tidak paham apa yang aku katakan tadi.
Tapi sungguh, aku merasa sangat malu mengatakannya. Oh Tuhan, tolonglah aku, mau taruh dimana wajahku, tapi ini baru Rama. Gimana kalau Varrel yang membelinya, sudah pasti aku akan malu rasanya ingin menghilang dari bumi.
"Maksudku, sekalian kamu belikan aku CD dan bra!" ucapku menahan rasa malu.
"Bra!" gumam Rama mengulang kata-kata ku, wajahnya terlihat polos tidak tau. Tapi kalau aku enggak mintak bantuannya siapa lagi, karena dia calon suamiku, eh dia belum mengatakan seperti itu. tapi semoga saja..
"Iya, bra yang dipakaikan disini!" Tunjuk pada bagian d**a. Spontan membuat Rama membulatkan kedua bola matanya, kurasa dia sudah tau apa maksudku.
"Iya, itu, cepat carikan. Aku akan menunggu disini!" pintaku sembari mendorong tubuh Rama keluar kamar. "Dan ingat jangan lama-lama, karena aku sangat lapar sekarang. Aku ingin segera makan!" Pintaku lagi sebelum benar-benar aku menutup pintu kayu sebagai pembatas ruangan.
***
Rama POV
Aku menggarukkan kepalaku terasa gatal, memikirkan apa yang akan aku beli nanti. Bukan soal malu membeli pakaian dalam wanita, tapi aku tidak tau membeli yang mana. Apa sebagai aku tanya tanya Varrel, mungkin dia bisa bantu aku, kan dia sudah menikah.
Dringgg
"Halo, iya ada apa Ram" ucap Rama di seberang sana setelah sesaat ia mengangkat panggilan dariku.
"Rel, kamu dimana?" tanyaku langsung.
"Oh, ini aku, aku lagi dalam perjalanan pulang sebentar lagi juga akan sampai!" jawab Varrel.
"Jangan pulang dulu, bukan maksudku, bantu aku mencari sesuatu!" kataku, entah kenapa aku merasa kikuk sendiri.
"mencari sesuatu? Cari apa sih, apa ada yang diperlukan lagi?"
"Tidak ada, hanya membeli pakaian untuk Sinta. Aku tidak tau harus membeli yang mana, jadi bisakah kamu membantu?"
"Apa pakaian dalam. ogah beli sendiri." ketus Varrel.
"Tolongin gue Napa, gau benar-benar gak tau."
"Lah emangnya gue tau, malu anjirrrrrr." ketus Varrel.
"Gini deh, anggap aja aku hutang ini. kapan-kapan lu bisa nyuruh gue apa apapun." kataku.
"benar ya?"
"Iya!"
"ok, baiklah. Tapi bagaimana dengan makanan ini, bukanya Sinta tadi sangat lapar?"
"Tunggu saja dulu, kita belikan pakaian dulu. Selepas itu baru pulang bersama-sama!".
"Baiklah serah, aku tunggu dimana?"
"Hm, cari saja toko butik wanita lalu kirim alamatnya kemarin, nanti aku akan ketempatmu!"
"hm ok. Eh itu ada butik wanita. Pak berhenti!" Aku masih diam mendengar perkataan Varrel, sepertinya dia sedang berbicara dengan supir taksi.
"Ram, aku sudah menemukan tokonya. Sebentar aku kirimkan alamatnya dulu!"
"Ok!"
***
Sepuluh menit berlalu akhirnya aku tiba di tempat Kevin, dia sudah berdiri menungguku di depan toko.
"Bagaimana, apa disini ada jualan pakaian wanita. Kamu sudah melihatnya?" Tanyaku, langsung mendapatkan anggukan kepala dari Rama.
"Ada. Butik ini lengkap, aku sudah memeriksanya!" Jawab Varrel.
"Ok bagus, sekarang ayo kita masuk. Bantu aku mencari pakaian yang cocok untuknya!" Kataku lalu langsung melayangkan kakiku menuntut masuk.
"Permisi tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang wanita mengunaka bahasa Inggris menghampiriku dan juga ku, seperti dia tau kalau aku sudah kelimpungan mencari pakaian yang cocok untuk Sinta.
"Oh iya, apa ada baju keluaran terbaru?" Tanyaku, wanita itu diam sesaat lalu baru menganggukkan kepalanya.
"Ada tuan, sebentar!" Katanya lalu melengos pergi menuju kesebuah pakaian panjang berjejer rapi disana.
"Rel, tadi Sinta memintaku membelikannya pakaian dalam. Aku ragu membelikannya. Karena aku tidak tau ukuran Sinta sebesar apa, aku takut dia tidak suka!" Kataku seadanya.
Memang benar, aku benar-benar tidak tau memilih bra mana yang cocok untuk Sinta.
Aku dan Kevin mendekati tempat dimana ada banyak sekali bra yang tersusun rapi diatas meja.
Ekor mataku melirik satu persatu macam jenis bra, kulihat ada banyak sekali bra dengan model dan ukuran berbeda-beda.
"Maaf Ram, sepertinya aku tidak bisa bantu kali ini, jujur Ram. Aku belum pernah membeli pakaian dalam wanita seperti ini. Aku benar-benar tidak tau!" mata Varrel menatap pasrah kepadaku.
"Lalu, aku juga sama tidak pernah terpikirkan oleh ku akan membelikan pakai dalam seperti ini."
"Ram, satu-satunya cara adalah membayangkannya. kamu harus membayangkan saat-saat kebersamaan Sinta."
Bersambung ....