"Iya Rel, tuan Alek menculikku. Dia membawaku ketempat jauh, hikkk. Rel aku sangat takut. Kamu tau, bahkan tuan Alex berencana ingin menjadikan aku istrinya agar bisa menyuruhku sesuka hatinya." Keluh Sinta mengatakan seadanya.
"Apa, brens** akan aku bunuh dia." umpat Varrel kesal dengan rahang mengeras di seberang sana.
"Rel, aku ingin pulang. Hikkk, aku ingin pulang, aku takut disini Rel!" Lirih Luna.
"Iya, . Kamu yang tenang, malam ini juga aku dan Rama akan berangkat kesana. Segera kamu kirim alamat, aku pergi sekarang." Kata Varrel yang tergesa-gesa. (Perbedaan waktu Indonesia dan Kanada)
"Iya, aku menunggu kamu!"
"Iya jaga baik-baik diri kamu. jangan lupa hubungi aku kalau terjadi sesuatu!"
Tutttt
Panggilan pun terputus. Sinta segera mengirim alamatnya melalui google map kepada Varrel. Baru setelah itu ia memberikan kembali ponsel pria yang telah menolongnya itu.
"Terimakasih!" Kata Sinta lagi.
"Hm, sama-sama. Maaf, aku pikir kamu seseorang yang aku cari!"
"Oh, tidak apa-apa. Aku bersyukur kamu mau menolongku. Sekali lagi aku ucapkan terimakasih!"
"Sinta, Sinta Alira" ucap Sinta menjulurkan tangannya.
"Justin!" Kata pria, sembari membalas uluran tangan Sinta singkat.
"Maaf aku menganggu mu, tapi semua meja penuh dan hanya di mejamu yang kursinya kosong," ucap Sinta pelan.
"Hem, Iya," dengan see sedikit malas pria itu menjawab.
"Kamu sendiri disini, kuperhatikan kamu sepertinya bukan orang sini," kata Sinta karena merasa suasana sedikit canggung membuat ia terpaksa bertanya.
"Aku sedang mencari tunangan kakakku, dia diculik di negara ini," jawab pria itu.
"Oh, kok bisa?" Seketika Sinta langsung tertarik lebih dalam.
"Rahasia," ketus Justin.
"Baiklah, btw kamu berasal dari negara mana?" tanya Sinta lagi.
"Selandia baru,"
"Hah, Selandia baru!"
"Kenapa? Apa ada yang aneh?' tanya Justin balik.
"Tidak, aku hanya terkejut. Kamu dari negara asing tapi bisa selancar ini bahasa Inggris. Apa kamu belajar ?" Tanya Sinta.
"Iya, aku suka berbahasa asing salah satunya Inggris." Jawab Justin seadanya.
"Hm, tapi, ngomong-ngomong kenapa bisa calon tunangan kakakmu ada disinu. Maksudku apa penculikan tuan Alek juga?" Tanya Sinta ia masih sangat penasaran.
"Begitulah, sudah jangan membahasnya lagi. Tidak penting juga bagimu kan!" Sahut Justin diikuti pejaman matanya yang singkat.
"Maaf, kalau pertanyaanku membuatmu terganggu!" Sesal Sinta.
"Hm, tidak apa-apa. Sudah biasa,"
"Hem, tidak apa-apa. Naiklah keatas, terus belok kiri, di sana ada kamar tamu. Kamu bisa memakaikannya sampai keluargamu datang." Kata Justin lalu ia melangkah melengos pergi kearah lorong sebelah timur yang sama sekali Sinta tidak tau lorong apa itu.
"Dan satu lagi, kunci-lah kamarmu. Karena aku tidak bisa menjaminkan kalau tua Alexander itu akan datang kesini. Bisa saja dia akan menemukan kita disini!" Kata Justin lagi lalu benar-benar menghilang dari lorong itu.
"Terimakasih!" Sinta menyahut pelan, jelas suaranya pasti tidak akan terdengar oleh Justin. Dengan langkah hati-hati dan pelan Sinta melangkah menaiki anak tangga, menuju tempat dimana tadi sudah dijelaskan oleh Justin. Tak lupa Sinta mengunci pinta kamar dari dalam.
***
Sementara di suatu tempat, tempat yang hanya berjarak dua jam dari mansion yang di tempati Sinta, seorang pria paruh baya terlihat sedang meluapkan emosinya dengan kesal. Bahkan beberapa biasa diatas meja sudah ia hancurkan begitu saja tanpa tersisa.
"Sialan, bagiamana bisa kalian membiarkan wanita itu pergi hahhhh .... Tugas kalian apa?" Teriak Alexander meluap-luap, berhasil membuat para bodyguard yang bertubuh besar dihadapannya gemetar hebat.
"Maafkan kami bos!" Ucap salam satu dari mereka dengan bibir gemetar.
"Maafkan, kalian bilang. Dan apa lagi. Jon, Lay, Wella, Hons terbakar dijalan saat hendak mengejar mereka." kata Alex. Pria paruh baya itu mengusap wajahnya dengan kasar.
Sekarang lenyap sudah apa rencananya yang sudah ia susun bersama Dewi, dan lagi ia telah menyuruh putrinya untuk tidak kembali terbang ke Indonesia. Aku tidak sekarang Varrel sudah tau dimana keberadaan Sinta, wanita itu sudah jelas akan menghubungi Bosnya. Pikir Albert Alexander.
"Aaagggrrr ..... Sialan!" Teriak Albert Alexander kembali mengamuk.
***
Sementara di negara lain, tepatnya di Indonesia. Terlihat Rama tergesa-gesa menuruni anak tangga, ia bahkan tidak menghiraukan untuk membawa beberapa pakaiannya. Sekarang ia tidak bisa berpikir jernih. Terpenting adalah keselamatan Sinta yang terutama dalam dirinya. Secepat mungkin dia harus menatap Sinta dengan kedua bola matanya sendiri. .
setelah mendapatkan kabar Varrel seakan tidak baginya untuk segera pergi ke Kanada.
"Rama, kamu kenapa, apa kamu sudah menemukan keberadaan Sinta?" Tanya Mama Rama yang spontan berdiri melihat putranya terlihat tergesa-gesa. Mama Rama tau betul, kalau sikap anaknya sudah seperti ini kalau sedang panik.
"Iya, Mah. Rama sudah tau dimana keberadaan Sinta sekarang. Mah, Pah." Sahut Rama menghampiri kedua orang tuanya yang berada di ruangan keluarga.
"Benarkah, hahhhh Alhamdulillah.... Syukurlah. Akhirnya Sinta sudah ditemukan. Jadi bagaimana keadaan Sinta, dia baik-baik saja bukan?" Pertanyaan seakan tidak sabar Mama Rama lontarkan.
"Mama tenang, Sinta baik-baik saja sekarang." Jawab pria jangkung itu.
"Lalu kemana Alex membawa Sinta? Menurut informasi dari Varrel kalau Alex dia sudah membawa Sinta kabur keluar negeri!" Kali ini Rama yang menjelaskan kepada keluarganya.
"Kanada Pah, Mah, Sinta dibawa ke Kanada!"
"Apa? Kanada!" Kedua ekor mata Mama Rama melotot sempurna.
"Kanada! Seperti dugaan Papa. mereka itu pasti akan membawa Sinta jauh dari kita. Agar kita tidak bisa melacak keberadaannya. karena setahu papa mendapatkan informasi kalau mereka sering melakukan penculikan tidak beralasan," kata papa Rama.
"Iya, Mah Pah. Makanya sekarang juga Rama putuskan akan terbang ke Kanada malam juga bersama Varrel agar bisa bertemu dengan Sinta. Rama sangat khawatir dengannya!" Kata tampan itu.
"Kamu yakin, cuaca saat ini sedang tidak mendukung. Tidak bisakah kamu menunggu besok pagi!" Ucap Papa Rama, ikut khawatir takut terjadi sesuatu dengan putra kesayangannya.
"Tidak, Pah. Rama tidak bisa menunggu sampai besok. Rama benar-benar takut kalau Alexander akan melakukan hal yang tidak diinginkan kepada Sinta." jelas Varrel.
"Hm, Papa tau, Alexander adalah pria nekat bisa saja dia akan melakukan hal gila kepada Sinta. Baiklah, kalau kamu ingin pergi gunakan pesawat Papa. Pesawat Papa setidaknya lebih sedikit menyakinkan dari pesawat lainya!" Balas Papa Rama.
"Iya, Pah, Rama juga tadi awalnya akan pergi mengunakan pesawat Papa."
"Bagus!" Papa Rama mengangguk setuju.
Pria itu langsung memeluk tubuh kedua orang tuannya singkat.
"Sayang, apa kamu tidak akan membawakan pakaian sepasang apapun?" tanya Mama Rama, ia melihat putranya tidak menenteng koper apapun ditangannya.
"Tidak, Mah. Rama tidak sempat bersiap-siap. Rama harus pergi sekarang juga." jawab pria tampan itu.
"Iya, sayang Mama tau. Kamu sangat khawatir dengan Sinta, tapi kamu juga harus memikirkan keadaan mu sayang. Kamu tidak bisa pergi tanpa membawa baju ataupun perlengkapan lainnya. Kamu tau sendiri kan, perjalanan kamu itu sangat jauh. Membutuhkan waktu yang sangat lama sayang." jelas Mama Rama menatap putranya dengan nanar.
"Tapi Mah!"
"Sudah, diam di sini sebentar. Mama dan Tias akan membereskan beberapa pakaian dan perkembangan kamu kesana. Tunggu disini! Jangan pergi dulu, Mama tidak akan lama!" Pinta Mama Rama lalu melayangkan langkahnya untuk menuntun kearah kamar putranya.
"Tias, cepat naik ke kamar Kenzo!" panggil Mama Rama kepada pelayannya.
***
Bandara internasional Jakarta.
Pukul setengah sepuluh malam akhirnya Rama tiba di bandara. Setelah mengalami macet dan beberapa agenda lainnya. Tanpa menunggu lagi Rama segera menenteng kopernya berjalan menunju ruang tunggu, dimana Varrel sang sang sahabatnya yang sudah menunggu disana.
Tentu, Varreal sudah datang duluan. Ia harus mempersiapkan dengan matang-matang kepergiannya, dan juga Pria itu menyuruh seseorang untuk mengurus semuanya mulai dari paspor dan lainnya. Takutnya kalau tidak diurus segara nanti akan membuang waktu lama, dari pada menunggu Rama menyiapkannya pria itu berinisiatif melakukannya lebih dulu.
"Apa semuanya sudah siap?" tanya Varrel. Kacamata hitam pekat menutupi kedua bola matanya serta sweater yang membungkus tubuh kekarnya.
"Sudah beres semuanya bos, pilotnya pun sudah siapa, kita hanya menunggu bos saja." Jawab salah satu anak buahnya yang mengurus bagian kepergiannya.
"Bagus, kalau begitu ayo cepat!" tinta Varrel pada Rama.
Beberapa menit kemudian merekapun tiba di pesawat pribadi Papa Rama. Serta dua puluh menit selanjutnya. Akhirnya pesawat lepas landas dari bandara internasional Jakarta.
***
Pagi cerah meliputi Ibukota Kanada. Sedikit awan diatas langit membuat sinar matahari lebih luasan memenuhi bumi. Sinta, menggeliat diatas tempat tidurnya untuk kesekian kalinya. Saat ia mendengar suara ketukan pintu yang secara berangsur-angsur terdengar keras. Untuk sesaat ia masih menatap langit-langit kamar mengumpulkan seluruh alam kesadarannya namun dipersekia detik berikutnya ia sudah terkejut akan Justin yang terus-menerus memanggil namanya dari balik pintu.
"Luna, cepat buka pintunya!" teriak Justin bergemuruh.
"Iya!" Sinta yang terkesiap spontan terperanjat dari kasur bergegas membukakan pintu terbuat dari kayu pilihan itu.
"Kenapa kau lama sekali!" gerutu Justin, bahkan pintu belum sepenuhnya terbuka, pria itu sudah merenggut pergelangan tangan Sinta membawa Sinta secara paksa arah lorong sempit mansion.
"Ada apa,kenapa kamu membawaku kesini!" tanya Sinta mengerutkan keningnya, ia hendak melawan namun Justin semakin mengeratkan pergelangan tangannya.
"Apa aku ingin tertangkap lagi, dan tidak akan pergi kembali lagi ke keluargamu?" tanya Justin menghentikan langkahnya sejenak.
"Tidak!" tanpa menunggu Sinta menjawab cepat nam tegas.
"Kalau begitu cepat ikutin aku, dengarkan apa yang aku bilang. Anak buah Alek si tau Bangka itu sudah mengetahui tempat mansion ini. Mereka sekarang lagi berada di teras depan. Jadi jangan menunggu lagi atau kita akan tertangkap!" Jelas Justin.
"Ta-tapi bagaimana bisa mereka tau?" tanya Sinta.
"Ayolah berhenti bertanya sesuatu hal yang bodoh. Kalau ingin ingin mati mengenaskan, ikut aku kita akan segera pergi dari sini. Dan ini gunakan ini agar kamu bisa melindungimu!" sahut Justin lalu menyerahkan sebuah pistol lengkap dengan anak beberapa anak pistol.
"Aaaaa----" lidah Sinta seakan kaku untuk berbicara, dia tidak tau harus mengatakan apa saat manik-manik matanya melihat apa yang diberikan Justin kepadanya. Sesuai benda yang bahkan akan membuat jantungnya berdebar saat saat melihatnya.
"Aku yakin kamu bisa, percayalah. Kamu pasti bisa, lihat itu!" tunjuk Justin kearah satu pohon rimbun disana seberang danau air pancuran yang hanya berjarak beberapa ratus meter saja.
Ekor mata Sinta ikut melirik kearah yang ditunjukkan Justin.
"Dibawah pohon itu ada terowongan, masuklah ke terowongan itu tunggu aku dalam waktu lima belas menit. Jika dalam waktu lima belas menit aku tidak sampai maka, kamu tidak boleh lagi menoleh kearah belakang, masukkan terowongan itu, akan membawa kamu keluar dari mansion ini. Lari-lah sekuat yang kamu bisa kearah gudang eskrim. Disana ada mobil pakai mobil itu dan pergilah sejauh mungkin dari ini mengerti. Ini kunci mobilnya, temui lah keluargamu di ibukota cafe run . Aku sudah mengirim alamat kepada keluargamu!" kata Justin panjang lebar.
"Apa kau mengerti apa yang aku katakan?" Tanya Justin, sedangkan Sinta sudah berkaca-kaca menahan bendungan air dengan ragu dia mengangguk apa yang dikatakan Justin barusan.
"Jangan menangis, aku yakin kamu bisa bisa, jangan sia-siakan hidupmu. Kau memiliki keluarga dan cita-cita. Ayo cepat!" Pria yang umurnya mungkin setara dengan Rama, juga ketampanannya tak kalah dari calon Rama. Baru kali ini ia menangis didepan orang asing yang bahkan baru baru satu hari satu malam mereka mengenalnya.
Sinta memeluk Justin erat, menumpahkan air matanya di bahu pria itu.
"Aku takut!" kata Sinta lirih dan pelan namun sangat jelas terdengar daun telinga Justin.
"Aku tau, maka dari itu kuatkan dirimu. Mungkin ini adalah yang terburu yang pernah kau alami tepi percaya selepas ini mentalmu pasti akan kuat!" Justin membalas pelukan Sinta sekilas. Lalu merenggangkan pelukannya.
"Ayo cepat! Kita tidak punya banyak waktu!" kata Justin.
Duarrrrr ....
Suara tembakan peluru yang secara bertubi-tubi terdengar.
"Cepat!"
"Turun, segeralah pergi jangan pikirkan aku, ingat apa yang aku katakan. Cepat loncat." Tukas Justin membawa Sinta kearah stenlis besi berwarna putih mengkilat. Sinta menelan salivanya, sekarang ia paham maksud apa yang dikatakan Justin kepadanya. Ia harus lompat kedalam kolam renang besar disana.
"Jangan takut, kolam renangnya sangat dalam jadi pasti akan aman. Cepat lomba kota tidak punya banyak waktu." Paksa Justin ia sudah bolak-balik melirik ke sembarang arah was-was kalau anak buah Alexander melihat mereka.
Kaki Sinta bergetar, rasa takut semakin melanda, dengan perlahan-lahan wanita itu melewati stenlis besi itu. Memijakkan kakinya di ujung lantai.
"Justin!" Panggilan.
"Aku yakin kamu bisa!" kata Justin mengangguk memberikan semangat kepada Sinta.
Duarrrrr ....
Suara tembakan kembali terdengar nyaris saja mengenai punggung Sinta beruntung Justin mendorong tubuh Sinta agar meloncat segara.
Buuuurrrr .....
Air kola renang megempar kasar saat tubuh Sinta mengenai permukaan air.
Sementara Justin sudah berlari mengalihkan perhatian para anak buah Alek.
Duarrrrr
Duarrrrr
Duarrrrr
Sinta seakan yang kehabisan nafas segera mencari udara.
Hahhhh
Hahhhh
Hahhhh
Suara nafas Sinta tersengal-sengal. Ia mengusap kasar wajahnya, mencoba mengatur pernafasan yang sempat sesak. Baru setelah itu melirik kearah atas sudah tidak ada Justin lagi disana. Dengan buru-buru Sinta berenang ke tepi kolam.
"Itu disana!" Suara teriakan salah satu bodyguard dari lantai bawah sempat melirik Sinta yang sedang berlari kecil dari.
Duarrrrr ....
Satu peluru tembakan berhasil dilayangkan, beruntung kaki jenjang dan tidak mengenainya.
Sinta berhenti di sudut tembok, ia memegang jantungnya berdetak kencang karena takut. Apalagi ia tau tadi peluru itu diarahkan ke arahnya.
Jantung Sinta semakin berdebar, manik-manik matanya menangkap dua sosok pria bertubuh besar sedang berjalan ke tempat persembunyiannya. Lengkap dengan pistol ditangan mereka masing-masing.
"Ayo, Sinta. Kamu pasti bisa, kamu pasti bisa. Huuufffff" Sinta mengatur nafasnya. Ia bertekad, harus bisa melenyapkan kedua orang itu atau dirinya yang akan lenyap.
Demi apapun Sinta seumur hidupnya dari kecil sampai sekarang dia belum pernah punya keberanian membunuh hewan, apalagi manusia. Tidak pernah terpikirkan olehnya akan mendapatkan posisi seperti ini, dimana posisi hanya antara dua pilihan. Membunuh, atau, dibunuh.
Sinta mulai menaikan akan peluru, setelah ia rasa anak peluru benar-benar naik barulah wanita itu mengumpulkan seluruh keberaniannya.
"Kamu pasti bisa, pasti bisa!" gumam Sinta.
Duarr .... Peluru pertama meleset. Membuat dua bodyguard itu terkesiap saat Sinta menembaki mereka.
"Sial, dia memiliki senjata!" kata salah satu dari dua bodyguard itu terdengar kecil di daun telinga Sinta.
"Kita harus--"
Duarrrrr .... Peluru kedua berhasil mengenai tepat di belahan d**a pria itu. Spontan membuangnya tergelatak tak berdaya.
"Jon!"
"b******n!"
Duarrrrr
Pria itu satunya lagi menembak Sinta, namun sayang Sinta berhasil mengetahui kalau ia akan ditembak. Secara cepat wanita itu menguling-gulingkan tubuhnya sembari posting mengarah kepada sosok yang masih berdiri disana.
Duarrrrr
Sekali lagi Sinta berhasil menembak pria itu, tapi kali ini bukan di d**a melainkan di kaki pria itu.
"Aaagggrrr ...." Rintis pria itu memegang kakinya yang sudah berdarah hebat.
"Sial, aaagggrrr ....."
"Apa yang aku lakukan!" Sinta merasa tak percaya. "Aku membunuh orang."
"Aaagggrrr ...."
*
Duarrrrr
Duarrrrr
Duarrrrr
Sementara dilain tempat, Justin sedangkan beradu senapan di mansionnya. Mansion yang awalnya megah dan mewah kini bagaikan kapal pecah, hampir seluruh perabotan hancur seketika akibat tembakan peluru yang begitu keras.
Setidaknya Justin sudah membantai lima bodyguard yang nyaris menembaknya.
"Berhentilah bermain-main dengan kami bocah kecil!" seru salah satu bodyguard yang bertubuh besar berjalan mendekati Justin, pria itu sudah menelan salivanya kasar, ia kehabisan anak peluru untuk menembak. Dan lagi, dirinya sudah terpojok di siku ruangan.
"Menyerahlah, atau kau akan mati sia-sia!" guma bodyguard itu lagi.
"Cihhhh, aku lebih baik mati dari pada bertekuk lutut pada kalian!" Decak Justin membuang air ludahnya kasar.
"Pilihan yang bagus kawan, cepat tanggap dia!" tintah bodyguard yang bertubuh besar itu kepada empat bodyguard yang tersisa.
"Berani mendekat akan aku lenyapnya kalian!" kata Justin sudah ancang-ancang siap berkelahi.
"Kau ingin berkelahi, baiklah. Dasar bocah kecil. Lepaskan senjata kalian. Berkelahi dengan tangan kosong. Kita lihat sekuat apa dia!" tintah lagi ketua bodyguard. Membuat bodyguard yang lainya mengangguk dan dengan kasar menjatuhkan pistol mereka.
"Ok, kalau kalian laki-laki. Hadapi aku dengan tangan kosong!" tukas Justin.
"Hahahaha .... Kau akan menyesal bocah, karena menantang ku!"
"Hajar!"
Brukkkk
Tanpa aba-aba perkelahian pun berlangsung perkelahian sengit, Justin pria yang ahli dalam bela diri satu persatu membantai empat bodyguard itu. Walaupun dia mendapatkan beberapa pukulan keras wajah dan perutnya beberapa kali.
"Lumanya!" kata ketua bodyguard tersenyum menyeringai.
"Hm, ayo!" Justin menghapus kasar darah segar yang mengalir di sudut bibirnya.
Saat tonjolan keras hendak menghantam tubuh Justin, pria berwajah Eropa itu dengan mudah mengelak dari beberapa pukulan yang dilayangkan ketua bodyguard. Ia sempat-sempatnya tersenyum sini. Barulah Justin menendang tubuh ketua bodyguard itu. Hanya sekali tendangan keras tubuh ketua bodyguard itu sudah tergusur jauh kesana.
"Hahhh .... Bagaimana!" kata Justin senyuman menyeringai masih terukir indah disudut bibirnya.
Secara perlahan-lahan Justin melangkah mendekati ketua bodyguard sudah terlihat sakit di dadanya.
Duarrrrr
Tanpa disadari Justin salah satu bodyguard yang terkapar sakit tadi menembak kaki kanan Justin. Membuat si pria wajah Eropa itu tergeletak sembari merintis kesakitan.
"Aaaaagggrrr ....." Justin mengigit bibir bawahnya kasar menahan rasa sakit yang menyerang.
"Bocah!" Karena tak berdaya tergeletak menahan sakit yang menyerang, tanpa disadari Justin ketua bodyguard sudah berdiri didepannya dengan pistol yang ia tunjukkan ke arah kepala Justin.
"Kau sangat ingin bermain-main dengan kami bukan, sekarang kau lihat sendiri bagaimana ketidak berdayaanmu sekarang. Ck!" Sinis ketua bodyguard.
"Kalian curang!" samar-samar Justin berkata.
"Curang, tidak ada kata curang dalam perkelahian bocah. Jadi sekarang nikmatilah detik-detik kematianmu. Kau sudah banyak merepotkan kami!"
"Apa kau punya permintaan terakhir?" tanya ketua bodyguard berjongkok memenang rahang Justin kasar, karena tidak ada jawaban dari laki-laki itu membuat dia menghempaskannya kasar.
"Sialan, baiklah. Kalau kau tidak punya pilihan lain! Aku beri kau penawaran terakhir. Katakan dimana nona Sinta, dan kami sedikit akan mempertimbangkan dirimu, atau kau akan mati menyedihkan disini." tukas ketua bodyguard memberikan tawaran.
"Cihhhh, aku tidak mengerti siapa yang kalian maksud. Dan aku juga tidak mengerti kenapa kalian tiba-tiba datang ke rumahku!" balas Justin bersuara sembari menahan rasa sakit yang teramat.
Brukkkk
Satu kali tendangan berhasil dirasakan Justin.
"Jagan berpura-pura bodoh, kau tau. Aku paling tidak suka bermain-main apalagi dengan bocah ingusan sepertimu!"
"Kau berubah pikiran, cepat katakan dimana, nona Sinta atau aku akan benar-benar membunuhmu disini!" seru ketua bodyguard keras.
"Sekali lagi aku katakan, aku tidak mengerti apa yang kalian maksud, dan siapa nona yang kalian cari. Aku tidak tau!" Ucap Justin, ia sudah merobek bajunya sendiri lalu ia ikatkan kepada kakinya yang tekena tempat. Guna agar darah tidak mengalir deras lagi.
"Baik, kalau itu yang kau inginkan bocah, kau ingin mati rupanya. Jadi bersiaplah, kau sudah kehilangan kesempatan untuk hidup!" Ketua bodyguard memegang kasar pistol sembari menunjuknya kembali kearah kepala Justin.
"Satu"
"Dua"
"Tiga"
Duarrrrr .....
Kevin memejamkan matanya kuat, tubuhnya sudah bergetar hebat, apalagi saat mendengar suara tembakan..
Duarrrrr
Duarrrrr
Duarrrrr
Duarrrrr
Suara tembakan masih didengar oleh Justin, namun anehnya dia tidak merasa sakit apapun di kepalanya. Membuat pria berwajah Eropa itu secara perlahan-lahan membuka kelopak matanya. Dan betapa terkejutnya Justin saat melihat kepala ketua bodyguard sudah berlumuran darah segar mengalir banyak.
Glugk
Justin menelan salivanya kasar. Ekor matanya melirik juga menemukan hal yang kepada empat bodyguard lainnya. Sudah tergeletak tak bernyawa dengan lumuran darah membasahi kepala mereka.
"Sinta!" gumam Justin terkejut.
"Kau tidak apa-apa?" Sinta berdiri tak jauh dari Justin, tubuhnya masih bergerak hebat. Tanpa menunggu lagi segera ia menghampiri pria Eropa itu. Memeluknya erat.
"Kenapa kamu kembali, bukankah aku sudah menyuruhmu untuk pergi?" Tanya Justin sekilas memeluk Sinta erat. Debaran jantungnya yang tidak berdetak kencang kini secara perlahan-lahan mulai menurun.
"Apa kau susah gila! Bagaimana bisa aku meninggalkanmu disini sendirian." Sahut Sinta setelah pelukannya renggang.
"Ck, kau memang sangat keras kepala!" ketus Justin
"Jangan, menyuruhku pergi aku tidak bisa. Kamu sudah membantuku lari dari mereka, dan sekarang sudah seharusnya giliranku untuk membalasnya!" kata Sinta
"Hm, terimakasih aku sudah berhutang nyama kepadamu!" sahut Justin.
"Aku juga ucapan terimakasih karena kamu telah menolongku, kalau enggak ada kamu aku mungkin enggak berada disini."
"Dan juga kalau aku tidak menolongmu rumahku tidak akan hancur seperti ini!"
"Hehehe .... Jadi kamu tidak ikhlas menolongku!"
"Aku tidak berkata begitu. Aaagggrrr ...."
"Astaga kamu tertembak. Kita harus kerumah sakit!" tinta Sinta panik.
"Kau yakin, membawaku ke rumah sakit!"
"Bagaimana tidak, kamu berdarah. Justin!"
"Lalu, apa yang akan kamu katakan nanti di rumah sakit. Alasan apa yang akan kamu berikan kepada mereka. Kamu ingin mengatakan kalau kita haru saja menembak orang. Dan selepas pulang rumah sakit kita akan langsung membusuk penjara. Kau mau begitu?"
Sinta seketika terdiam. Perkataan Justin barusan adalah hal yang benar. Dia tidak tau nanti alasan apa yang akan ia berikan jika pihak rumah sakit bertanya kepadanya.
Berkata jujur, tapi sangat tidak mungkin. Mereka pasti akan menyelidiki kasus pembunuhan ini.
"Jadi, kalau kamu enggak di obati. Nanti darah kamu makin banyak. Kamu akan kehilangan banyak darah Justin!" tutur Sinta.
"Lebih baik aku kehilangan banyak darah daripada kita nantinya masuk penjara!" kekeh Justin.
"Tapi----"
"Diamlah, kamu bisa membantuku berdiri, aku tidak bisa berdiri sendiri. Bawa aku ke kamarku, aku akan mengobati kakiku sendiri!"
"Kamu yakin?"
"Apa aku terlihat sedang bercanda!"
"Hm, tidak!"
"Lalu, cepat katamu kamu enggak mau melihat aku kehilangan banyak darah!"
"Baiklah!"
***
"Aaauuu ..... hati-hati, ini sangat sakit," ucap Justin.
"Iya, aku tau. Sebentar, kamu duduk di sini dulu. Aku akan mengambil mobil dulu!" kata Sinta ketikan mereka baru saja tiba di depan teras mansion.
"Kamu mau kemana?" tanya Justin menaikkan sebelah alisnya.
"Mengambil mobil!"
"Mobilnya ada di bagasi. Ngapain kamu ambil mobil jauh disana. Cepat, sebelum anak buah tuan Alexander itu akan datang kesini!" tinta Justin.
"Oh, Baik, tapi kuncinya?"
"Ada di tembok samping parkir!"
"Ok, kamu tunggu disini!" Sinta melangkah cepat menuntun kearah bagasi. Tiba disana segera wanita itu mencari keberadaan kunci yang di maksud Justin. Sedikit lama karena Sinta memang tidak tau tempat dimana Justin menaruh kunci mobilnya.
Setelah beberapa saat akhirnya Sinta-pun berhasil menemukan kunci mobil Justin. Tanpa menunggu lagi Sinta pun langsung mengendarai mobil itu menuju teras mansion.
"Lama sekali apa yang kau lakukan di sana, hah!" kata Justin wajahnya semakin terlihat pucat. Degan langkah buru-buru Sinta membantu Justin untuk masuk kedalam mobil.
"Wajah kamu pucat, aku takut sebaiknya kita kerumah sakit saja!" Tutur Sinta kini sudah berada di kursi mengemudi.
"Aku tidak, apa-apa. Cepat jalankan saja mobilnya!"
"Kau sangat keras kepala!"
"Kau juga!"
"Jadi kemana sekarang kita harus pergi?"
"Apartemenku, tidak jauh disini hanya dua puluh kilometer sebelah Utara."
"Ok, baiklah, tapi---"
"Sudah jalankan saja mobilnya. Kamu mau aku mati!" kata Justin setengah berteriak alhasil membuat Sinta terkesiap lalu tanpa berbicara sepatah katapun lagi bergegas ia melanjutkan mobil menuju dimana arah Justin mengatakannya. Karena tidak tau menahu tentang kota Kanada, Sinta hanya bisa membawakan mobil itu sesuai arah petunjuk pria Eropa itu.
"Halo, Justin, ada apa kau menghubungiku. Di jam seperti ini, tumben!" suara seseorang diseberang sana setelah sesaat Justin meraih ponselnya lalu menempelkan benda tipis itu didaun telinganya.
"Cepat ke apartemen ku, aku butuh bantuanmu!" suara Justin terdengar mulai serak.
"Kau kenapa? Apa kau tertebak lagi, oh ayolah Justin, sudahi semua ini cepatlah kau bertobat menjadi berandalan yang tidak punya tujuan!" Tukas pria diseberang sana dengan kesalnya.
"Diamlah, dan cepat pergi ke apartemenku. Atau kau tidak akan pernah lagi melihat matahari terbit besok!"
"Just---"
Tut
Panggilan di akhiri Justin sebelah pihak, ia menyelipkan kembali ponselnya kedalam saku celana.
Tiga puluh menit berlalu, sejak saat Sinta dan Justin meninggalkan mansion. Kini mereka berdua sudah tiba sebuah gedung bertingkat tiga. Setelah memarkirkan mobil, dengan hati-hati ia membantu Justin menuntun masuk kedalam apartemen.
Lagi-lagi Sinta terkesiap melihat nuansa apartemen begitu mewah dan elegan. Padahal ruangan apartemen terlihat sempit.
"Sudah kamu bengongnya. Cepat, bawa aku masuk kedalam kamar!" Justin terlihat semakin lemas. Bahkan badannya pun sudah terasa sangat panas.
"Oh, iya. Maaf!"
Di kamar, Sinta membaringkan tubuh Justin perlahan-lahan menyentuh ranjang dan menaikkan kaki pria Eropa itu yang terkena tembak diatas kasur.
"Kau, bisa pergi. Temui lah keluargamu, dia pasti sudah sampai sekarang!" Ucap Justin nyaris saja suaranya tidak terdengar.
"Astaga aku hampir saja lupa, tapi bagaimana dengannya. aku tidak mungkin meninggalkannya sendirian," batin Luna.
"Aku tidak akan pergi, sebelum aku benar-benar melihatmu baik-baik saja." sahut Sinta tekat.
Tak ada lagi balasan dari Justin, pria itu sudah pingsan seketika. "Justin!"panggil Sinta menepuk nepuk lengan pria Eropa itu.
"Justin!" Suara seorang laki-laki terdengar keras di ambang pintu. Wajahnya yang terkejut melihat keadaan Justin segera menghampiri.
"Dasar bodoh!" Maki pria itu. Lalu tanpa aba-aba langsung mengeluarkan sesuatu dari tas hitam yang ia bawa.
Sinta hendak menghentikannya, namun ia urungkan karena melihat pakaian yang di pakai pria itu adalah pakaian seorang dokter.
"Bisakah kau bantu aku?" tanya pria itu kepada Sinta tanpa menoleh.
"Aku!" Gumam Sinta menunjukkan dirinya sendiri.
"Iya, bisakah kamu panahkan air hangat sedikit. Kita harus membersihkan darah Justin terlebih dahulu. Aku lupa membawa botol alkohol yang baru, ini tinggal sedikit. Tidak akan cukup untuk membersikan darah yang sudah meluber dimana-mana seperti ini!" kata pria itu lagi sembari memotong celana Justin dengan gunting yang ia bawa. Lalu menyisakan celana pendek yang masih melekat ditubuh pria Eropa itu.
"I-Iya, sebentar akan aku panaskan air hangat!" kata Sinta sedikit gugup spontan ia membuang pandangannya kasar saat pria berpenampilan dokter itu menurunkan celana Justin.
"Hm, jangan lama-lama, Justin sudah kehilangan banyak darah dan ini sangat berdampak buruk. Dia bisa saja kritis kapan saja!"
**
Sinta POV
Aku melayangkan langka panjang mencari dimana letaknya dapur. Sungguh aku tidak tau dimana letaknya dapur dirumah ini. Beruntung, karena apartemen tidak terlalu besar jadi tidak membutuhkan waktu lama bagiku menemukan apa yang aku cari.
Tanpa menunggu lagi aku segera memanaskan air cran. Tidak butuh waktu lama karena aku hanya memerlukan air hangat. Lima menit setelah aku rasa air dalam panci cukup panas baru aku menuangkan air itu kedalam baskom sedang.
Dengan langkah panjang nam hati-hati aku kembali dalam kamar dimana tadi aku membaringkan pria Eropa itu. Tiba disana aku langsung disambut dengan keterkejutan.
Justin, pria itu sudah bertelanjang seluruh badannya hanya menyisakan celana pendek itupun tidak sampai lututnya. Bahkan bagaimana bentuk paha putih Justin sangat jelas terlihat di mataku.
Duggg ...
Apa ini yang dimaksud dengan cuci mata. Spontan aku menundukkan pandangan ku sembari melangkah mendekati.
"Cepat, hapus semua darah yang ada ditubuh Justin. Sementara aku, akan mengeluarkan peluru ini" tintah pria itu padaku. oh astaga, apa dia benar-benar sadar apa yang telah ia pintakan kepadaku.
Tuhan, maafkan aku, kalau aku melakukan ini. Tapi percayalah aku tidak bermaksud. Tapi aku tidak bisa melihat Justin dengan keadaan seperti ini, karena gara-gara dia menolongku dia jadi tertembak seperti ini. Aku sudah berhutang banyak kepadanya.
Aku menelan salivaku kasar, saat tanganku menghapus dara yang melekat diperut kotak-kotak Justin. Kulitnya sangat kencang, siapa yang melihatnya pasti akan tergoda.
Glukkk tanpa aku sadari aku sudah menelan salivaku kasar.
"Tuhan Maafkan aku!" Batinku merasa bersalah.
***
"Selesai!" kata dokter yang menangani Justin. Ekor mataku melirik kearah dimana tempat peluru menusuk tubuh Justin. Dan benar saja, dokter itu sudah mengeluarkan peluru dan bahkan kini kaki Justin sudah diikat banyak perban.
"Hm, akhirnya. Panasnya masih belum turun. Berikan obat ini nanti saat dia terbangun." kata dokter itu sekilas matanya yang biru menatap kearah ku, sembari menyerahkan beberapa obat yang sudah ia pilihkan. Dan aku yakin kalau itu obat penurun panas.
"Iya, terimakasih Dok!" Sahutku menerima obat itu.
"Hm,satu lagi. Tolong buatkan di juga bubur, supaya nanti selepas dia bangun dia bisa langsung makan bubur dan minum obat!" kata dokter itu lagi, lalu melengos pergi meninggalkanku dan Justin terbaring tak berdaya disana.
"Bubur!" Aku sekarang takut sendiri mengatakan makan itu. Sungguh belum pernah membuat makanan yang seperti itu sebelumnya.