Tiba di rumah sakit Zahra langsung diperiksa oleh dokter yang memang khusus Ibu hamil.
Hanya butuh waktu lima belas menit bagi Dokter menjalankan tugasnya memeriksa Zahra. Dan lagi Zahra mendapatkan penanganan khusus dari pihak rumah sakit.
"Tidak ada hal yang serius, ini hanya keram biasa dirasakan Ibu hamil. Biasanya ini terjadi kalau tekanan darah sedikit naik. Dan juga ini bisa berakibat fatal, beruntung nyonya muda mendapatkan penanganan secepatnya jadi Alhamdulillah dedek bayinya aman" jelas dokter. Varrel dan Zahra bernafas lega mendengar.
"Terus apa ada yang lain dok, keadaan bayi saya masih normal kan dok?" tanya Varrel spontan saja mendapatkan cubitan kecil dari istrinya.
"Mas," bisik Zahra. Padahal dokter baru saja menjelaskannya kalau semuanya baik-baik saja.
"Tentu baik tuan muda, Dede bayinya pun sangat lincah," kata dokter.
"Syukurlah, terimakasih Dok kalau begitu," kata Varrel. Sama-sama tuan muda.
***
Di rumah
Saat zahra dan Varrel pulang menginjakkan kaki mereka. Bu Mirna langsung antusias menyambut kedatangan menantunya, spontan saja wanita paruh baya itu memeluk Zahra.
"Ya ampun sayang, Bunda sangat khawatir saat mendengar kabar tentang kamu. Mama sangat takut kamu kenapa sayang." Kata Bu Mirna mencium gemas menantu kesayangannya.
"Zahra gak apa-apa kok, Mah buktinya sekarang Zahra ada didepan Mama." Sahut Zahra membalas pelukan mertuanya.
"Ya ampun sayang, kamu itu hampir buat Bunda jantungan. Pokoknya mulai sekarang kamu gak boleh kemana-mana harus tetap dirumah. Sama Bunda, bunda gak mau kejadian semacam ini terjadi lagi," kata Bu Mirna final.
"Tapi Bunda--,"
"Gak ada tapi-tapian sayang. Bunda itu sangat khawatir tentang kamu tau, pokoknya gak ada penolakan. Kamu akan tetep dirumah sama Bunda. Dan kalau pergi kemana-mana Bunda sendiri yang turun tangan menjaga kamu." Final lagi Bu Mirna.
***
Sinta
Pukul lima sore, seperti biasa adalah jadwal pulang kantor, Sinta wanita itu mendengus kesal. Bergerutu karena kekesalan sendiri sekarang saat mobil yang ia kendarai mengalami bocor ban, dan apesnya Sinta dia tidak membawa ban serap dan memiliki montir. Hal itu benar-benar membuat Sinta kesal setengah mati.
Mobil, silver bermerek Alphard berhenti tepat didepan Sinta. Wanita itu mengerutkan keningnya seketika mobil yang sangat asing baginya.
Dua orang pria langsung saja keluar dari mobil itu, Sinta semakin mengerutkan keningnya salah satunya ia otaknya masih mengingatnya.
"Tuan Alek," gumam Sinta bagaimana bisa ia melupakannya. Laki-laki yang tiba-tiba saja memaksanya untuk menjadi model begini saja.
"Akhirnya kita ketemu lagi Nona," ucap pria itu.
"Maaf ada apa ya?" Tanya Sinta sedikit ragu.
"Aku rasa kamu masih mengingat aku dengan sangat baik. Jadi tidak perlu memperkenalkan diri lagi. Langsung saja, aku. Mengalami banyak kerugian karenamu maka dari itu kamu harus ikut denganku secepat untuk melunasi semua kerugian yang kamu ciptakan," kata Alek.
"Maaf, tapi saya rasa saya tidak punya urusan dengan anda!" Tukas Sinta.
"Apa perlu saya bergerak kasar," kata Alek lagi yang langsung sama mengenggam tangan Sinta.
"jangan lancang tuan Alex, kamu bisa saya tuntun atas pelecehan terhadap wanita. jadi anda harus berhati-hati." ancam Sinta sembari berdiri.
"Oh ayolah nona, jangan munafik, kamu harus membayar semua kerugian yang kamu ciptakan dengan cara memuaskanku, semalam saja kamu bisa memuaskan ku. aku janji akan memberikan apa yang kamu mau, dan menganggap Lunas" ucap tuan alek hendak menyentuh Sinta lagi.
plakk
Sebuah tamparan keras Sinta layangkan tepat di pipi tuan Alek.
"Jangan sesekali kamu berpikir seperti itu kepada saya, dengarkan kata-kata saya ini baik-baik. Aku sama sekali tidak mengenal dirimu pertama, dan kedua aku tidak ada hubungan apapun atau terikat kontrak apapun. Kita tidak saling mengenal. Aku tidak mengenal anda dan anda tidak mengenal diriku." Tukas Sinta.
Lalu tanpa menunggu lagi simta bergegas melengos pergi. Brukkkk .... Sesuatu yang kasar di rasakan menyentuh bahu Sinta, hanya dalam hitungan detik ia sudah tidak sadarkan diri lagi." Oh Tuhan lindungi aku. Rama. Suara Sinta memanggil Rama.
***
Sinta POV.
Aku mengerjapkan kedua bola mataku pelan, lalu mencoba membukanya. Aku merintis saat merasakan punggungku sakit. Samar-samar aku melirik kearah samping yang terasa sangat asing bagiku. Dimana aku? Batinku.
Kembali melirik berharap bisa menemukan sesuatu yang bisa membuat aku tebak dimana aku sekarang. Ruangan ini sangat luas, seperti sebuah kamar besar.
"Aaaaagggrrr ...."
Kepalaku sakit saat mengingat apa yang terjadi denganku. Seingatku aku berada di jalan raya, dan saat itu tuan Alek datang dan-----. Kenapa tiba-tiba aku ada disini!
Apa aku diculik?
Aku hendak beranjak bangkit dari ranjang. Namun aku tiba-tiba saja aku merasakan sesuatu yang berat melingkari kakiku.
Apa ini, kaki di rantai. Apa-apa ini bagaimana bisa kakiku dirantai.
Cekle suara pintu terbuka lebar spontan aku menoleh melihatnya.
Menampakkan sosok yang aku kenali sedang berada di ambang pintu, dia tersenyum sebelum sesaat melanjutkan langkahnya mendekatiku.
"Kau sudah bangun rupanya?" Kata tuan, ya dia adalah tuan Alek seperti apa yang dibayangkan Sinta dalam mimpinya.
"Apa yang kau lakukan denganku! Cepat lepaskan aku!" Tukasku dengan suara lantang.
"Melepaskanmu, cih. Apa kamu sungguh berpikir aku ingin melepaskanmu. Wanita bodoh, kamu pikir aku mau melepaskanmu setelah aku bersusah payah mencari kemana-mana lalu aku akan melepaskanmu begitu saja. Tidak akan pernah terjadi Sinta!" Kata Alek menyentuh wajahku dengan jemari tangannya yang lembut.
"Jangan menyentuhku sialan!" geram ku mendorong tubuhnya kasar hingga membuat dia tergusur cukup lumanyan jauh kebelakang.
"Beraninya kau mendorong ku. Kamu pikir siapa hah!"
"Aggrrrr ...." Aku meringis saat Alex yang tiba-tiba saja menarik rambutku kasar.
"Kamu tau, aku menculikmu kemarin hanyalah ingin membuat kamu menyesal kau sudah sangat keterlaluan merusak acara yang sudah aku siapakah. Aku akan membuat kamu menderita di sini!" Katanya, aku semakin merintis sakit, semakin lama Bella semakin menarik rambutku kasar dan itu sungguh membuat aku sakit.
"Tuan Alek, lepaskan aku! Aaagggrrr .... Aku tidak mempunyai masalah denganmu!" Ujarku, sungguh aku tidak sanggup lagi menahan sakit rambutku yang dijambak oleh Alek.
"Bukankah aku sudah mengatakan, kalau aku tidak akan melepaskanmu sialan. Kamu harus menderita disini. Tidak ada satu orangpun yang akan menemukanmu disini hahahaha .... Termasuk Rama sekalipun." balas Alex menghempas kasar tubuhku kearah ranjang.
"Kau benar-benar keterlaluan tuan Alex, sampai kapanpun kamu tidak akan pernah bisa mencelakaiku. Cih, kau sudah membuangnya dulunya dan baru sekarang kamu memungutnya kembali. Aku tidak peduli sama sekali tidak akan sudi melepaskan kamu kembali."
"Kau, aku akan membunuhmu, kau sudah menghancurkan karir yang sudah payah aku bangun" Kata Alek, meraih sebuah gunting yang berada dalam laci nakas hendak melangkah kearahku. Reflek aku memejamkan mataku sekuat-kuatnya.
"Alex!" Teriak seseorang diambang pintu sepenuhnya terkesiap melihat apa yang akan dilakukan Alex kepadaku.
"Jagan hentikan nak Pah, akexy harus membunuhnya karena gara-gara dia Alex toko yang aku Sinta." Sahut Bella lagi antusias hendak melayangkan gunting lagi. Beruntung tuan Alex segera mencegah Bella. Lalu membuang gunting yang ada ditangan Bella menjauh sana.
"Paj, apa yang Papa lalukan!" teriak Alek sekeras-kerasnya.
"Papa hanya melindungi putra semata wayang papa hari jeritan hukum, jangan melakukan ini lagi Alek, atau kamu akan masuk penjara, kamu mau masuk jeruji besi." kata laki-laki paruh baya itu tegas.
" Tapi Pah!"
"Cepat bereskan semua barang-barang kamu dan segera pergi dari sini. Kamu harus segera pulang kesana Indonesia Nak." tintanya lagi.
Eh, tunggu-tunggu, kembali pulang ke Indonesia. Itu berarti aku diluar Indonesia. Bagaimana bisa, bagaimana bisa aku berada diluar Indonesia. Sudah berapa hari saku tertidur. Batinku yang bukanya lagi terkesiap melakukan terkejut setengah mati.
"Dimana aku! Katakan kau bawa aku ke mana?" Tanyaku serius pada dua berbeda usia itu tersungging senyuman penuh arti kepadaku. Aku berusaha untuk melepaskan diriku dari rantai yang mengikat kakiku. Tapi sepertinya sia-sia karena rantai ini sangat kuat sekali mengikat kakiku. Sialan!
"Percuma Sinta, kamu tidak akan pernah bisa melepaskan dirimu dari rantai itu. Dan oh ya kamu ingin tau dimana kamu sekarang berada dimana, Hem! Baiklah akan aku kasi tau. Sekarang kamu lagi berada jauh dari semua orang, jauh sangat jauh. Dia sama sekali tidak akan bisa menemukanmu disini. Hahahaha ...." Kata Alek mulai mendekatiku spontan aku mengusurkan tubuhku menjauh darinya.
"Bersabarlah sayang, tidak akan lama lagi kamu akan kubuat menjadi milikku seutuhnya dan disaat itu terjadi kamu tidak bisa menolak ajakku untuk melakukan apapun, maka dari itu akan kubuat kau menyesal telah menghancurkan bisniku." bisiknya ditelinga ku.
"b******n, aku bersumpah akan membalasmu tuan Alek, kalau kau sampai berani melakukan itu" Seruku dengan nada sangat tinggi.
"Hahaha .... Semakin kamu marah, semakin kamu bertambah cantik sayang. Aku sangat menyukainya, mimpi indah sayang. Aku akan kembali lagi nanti." Balasnya lalu melengos pergi.
"Aaagggrrr .... Sialan, tuan Alek brens** Rama dan Varrel tidak akan pernah memaafkanmu kalau sampai kamu menyentuhku b******n!"
***
Author POV
Sementara di Jakarta.
Sudah satu hari sejak kehilangan Sinta yang tidak ada kabar lagi setelah pulang dari kantor. Varrel dan Rama, kedua pria itu sama-sama sudah mengeraskan rahangnya. Bahkan Rama yang paling terlihat kesal.
"Bagaimana, apa sudah ada kabar tentang Sinta?" tanya varrel dengan nafas memburu menatap kearah anak buahnya baru saja masuk kedalam ruangan kerjanya.
"Belum bos, masih dalam pencarian!" Jawab pria berseragam putih itu yang langsung membuat Varrel melempar vas bunga yang ada di mejanya ke sembarang arah.
"b******n, siapa yang telah menculik Sinta. Aku akan membunuuh mereka. Kerahkan semua anak buah kalau pergi cari lagi anak buah baru." tinta Varrel meluap.
Rama dan Varrel hanya menemukan mobil Sinta dijalan dan diapun mencoba mencari tau dengan melihat hasil cctv jalanan, dan benar saja kalau Sinta diculik.
"Aku sudah menemukan siapa yang menculik Sinta," kata Rama antusias.
"Siapa katakan?" Seakan tidak sabar Varrel bertanya.
"Alek, pemilik butuh sekaligus CEO model yang menarik Sinta kedalam perusahaannya tanpa sebab apapun. Aku dengar gara-gara keributan waktu itu nama perusahaan mereka hancur, serta para tua saham menarik saham mereka. Mungkin dia marah karet itu dan menculik Sinta. Bajingan." Jelas Rama.
"Alek, temukan dia. Kamu bisa melacaknya?" Tanya lagi Varrel.
"Itu dia masalahnya saat ini, aku tidak bisa melacaknya." Keluh Rama.
"Alek, kau. Aku pasti akan membuat kamu menyesal." Gumam Rama lagi
***
Rama POV
Aku menyelesaikan semua berkas yang diberikan Varrel kepadaku. Hari ini, perkejaanku dua kali lipat karena ada beberapa pekerja penting. Menandatangani semua berkas yang ada.
"Selesai!" Gumamku bernafas lega, akhirnya.
Aaagggrrr .....
Aku meluruskan semua otot-otot ku yang terasa kaku, memejamkan kedua bola mataku yang terasa sangat lelah. Sungguh serasa semua badanku rumuk seketika aaagggrrr .... Untuk kesekian kalinya aku membuang nafas gusar.
Akhirnya semua tugas untuk persiapan investasi selesai juga. Jadi aku tidak pusing pusing lagi memikirkan kantor sekarang, biar anggota Humas saja yang akan mengendalikan semuanya selama aku pergi berlibur mungkin, aku ingin Sinta, semoga semoga saja dia mau ikut denganku.
Sinta, oh Sinta sudah beberapa hari ini aku terus memikirkannya.
Ke-dua ekor mataku melirik jam yang ada dipergelangan tanganku. Spontan saja aku mengerutkan keningku teryata sudah hampir jam lima sore itu berarti sudah jam pulang.
Tanpa menunggu aku meraih ponselku yang sempat aku selipkan dalam jasku.
Mengambilnya cepat, mencari nama Sinta. Ya, aku mengubah nama Sinta menjadi sahabat wanita satu-satunya setelah Dira yang telah pergi, aku menamainya Sinta imut, entahlah bagiku nama itu sangatlah lucu sekali.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak dapat dihubungi mohon tinggalkan pesan anda, biaya akan dibebankan kepada anda."
Suara operator kartu yang aku dengar, aku kembali menghubungi Sinta hingga sampai lima kali dan hasil nihil, tetap sama.
Rasa kekhawatiran melanda dalam diriku, tidak biasanya Sinta tidak dapat dihubungi seperti ini. Apalagi sekarang jam pulang, apa ponselnya kehabisan baterai. Aku berusaha untuk berpikir positif semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan.
Aku menunggu selama sepuluh menit, kemudian aku kembali mencoba menghubungi Sinta dan teryata hasilnya sama saja. Malah sekarang nomornya tidak aktif.
"Sinta oh ayolah, apa yang kamu lakukan, kenapa kamu mematikan ponselmu!" gumamku khawatir, beruntung aku menyimpan nomor Sinta nomor yang, semoga saja nomor yang yang aktif. Tanpa pikir panjang aku langsung melekatkan ponselku diarea daun telinga.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan." suara sama dari operator.
"Siallll ..." Aku melempar ponselku kearah sofa.
Cekle
Suara pintu terbuka, menampakkan sosok Varrel disana. Dia terlihat terkejut melihat ekspresi yang aku tunjukkan.
"lu kenapa, kesambet petir hah?" tanyanya menghampiri.
"Aku dari tadi mencoba menghubungi Sinta tapi gak aktif!" kataku. Kening Varrel terlihat mengerut, dia mendelik kan bola matanya terkesiap.
"Memangnya kenapa dengan Sinta, tapi tadi dia permisi pulang cepat, katanya sih ada perlu," ucap Varrel.
"Kita harus mencarinya Rel aku khawatirnya dua kenapa-kenapa lagi, mana dua nomornya gak bisa di hubungi" ucapku ku beranjak bangkit dari kursi kebesaranku melengos pergi tak lupa aku mengambilkan ponselku terlebih dahulu.
Aku mendengar suara langkah Varrel mulai mengikutiku tak lama dia langsung mengimbangi langkahnya.
"Bos harus didepan bukan dibelakang," ketusnya.
Tiba di mobil buru-buru aku masuk, mengabaikan pertanyaan notif ponselku, bagiku sekarang yang lain tidaklah penting selain Sinta. entah kenapa hatiku begitu sangat gelisah.
"Cepat jalankan mobil, katanya mau mencari Sinta," ucap Varrel memerintah
dan aku-pun langsung menyalakan mobil.
Tenang, tenang, Sinta pasti baik-baik saja. Bukankah dia bilang dia ingin pamit pulang cepat, mungkin dia sudah sampai di apartemen? Kenapa aku bodoh sekali sih seharusnya tadi aku pergi sendiri saja menemui Sinta, ahhh sial ....
Aku kembali meraih ponselku, kali aku menghubungi seseorang di apartemen. Siapa tau Sinta sudah tiba di mansion.
"Halo!" suara seseorang diseberang sana.
"Halo, maaf menganggu. ini aku Rama mau tanya, apa Sinta sudah pulang?" tanyaku to the poin.
"sepertinya belum tuan, mungkin sebentar lagi, apa ada sesuatu? yang bisa saya bantuin?" Aku memijit pelipisku pelan, tidak peduli pertanyaan orang itu, aku sudah memutuskan sambungan telepon sebelah pihak.
Dua puluh lima menit berlalu, akhirnya aku dan Varrel tiba di tempat yang memang sering dikunjungi Sinta, kantor cabang perusahaan, mungkin dia pergi kesini, karena memang biasan Sinta selalu pergi kesini setelah pulang dari perusahaan utama. Kulihat para karyawan mulai satu-persatu keluar dari gedung bertingkat dua puluh itu. Aku menjulurkan kakiku melangkah selebar mungkin masuk kedalam. Tidak peduli para karyawan yang melihatku dengan minat.
"Apa nona Sinta masih ada di kantor ini?" tanyaku pada seorang wanita dimeja resepsionis.
Wanita itu menundukkan kepalanya sekilas sebagai tanda hormat lalu baru setelah itu menatap ku dengan gelengan kepalanya.
"Nona Sintaa sudah keluar kantor lima beberapa puluh menit yang lalu Tuan!" jawabnya.
Apa
Sinta sudah pergi selama beberapa puluh menit yang lalu?
"Katakan kemana perginya?" Rasa khawatir mulai melanda.
"Menurut informasi yang diberikan Ibu Sinta, nona hendak menjenguk salah satu karyawan kantor yang tidak masuk beberapa hari ini, karena rapat penting kontrak kerja sama sangat butuh orang itu. kalau tidak salah Bu Sinta ke Arena grup apartemen" lanjutnya
Aku menaikan alisku. Arena grup apartemen sepertinya nama itu tidak asing bagiku.
"Itu salah satu cabang dari Aleksander Grub. apartemen itu dipimpin oleh tuan muda keluarga Aleksander." Timpal Varrel yang berada dibelakang ku.
Alexandre Grup. Spontan rahangku mengeras seketika. Itu adalah apartemen yang dipimpin oleh pria yang mencoba menculik Sinta waktu itu. Mereka mengubah nama beberapa bulan lalu, mengambil nama belakang keluarga mereka. Mereka pikir aku tidak akan mengetahuinya.
"Bangs**" umatku kesal. "Kita harus kesana ke apartemen itu sekarang juga Rel!" kataku, Varrel hanya mengangguk kecil.
*
Didalam mobil tidak henti-hentinya mengumpat.
"Boss, apa kamu mengenal tuan Alex? Aku mendapat kabar dari anak buah katanya perusahaan itu dipimpin oleh tuan Alex?" tanyaku kepada Varrel tanpa melirik, manik-manik matanku terfokus pada jalan sekarang ini.
" Tentu saja aku tau, ayahnya adalah Albert, beberapa Minggu lalu mengajukan kontra kerjasama dalam pembangunan hotel ke kantor. karena aku rasa dapat keuntungan besar jadi aku menyetujuinya!" jawabb Varrel cepat.
"Apa!" sudah sungguh terkesiap mendengarnya, pantas jadi sekarang dia berubah mencari masalah. "Jadi Sinta l berencana ke sana karena itu, kerja sama dengan tuan Albert, dengan batuan karyawan?" aku memicingkan tatatapku dalam.
"Mereka menjebak Sinta, sialan. Kalau sampai terjadi sesuatu pada Sinta aku bersumpah tidak akan membiarkan mereka hidup."
***
Author POV
Pukul setengah tujuh malam Rama tiba perusahaan tempat yang menjadi tujuannya sekarang. apartemen yang disatukan perusahaan itu terlihat sepi seperti tidak ada orang lagi. Seorang satpam memberhentikan mobil yang dinaiki Rama dan varrel.
"Maaf, mau mencari siapa ya?" tanya satpam setelah Rama menurunkan kaca mobil.
"Apa, masih ada orang didalam?" Tanya Rama balik yang secara cepat mendapatkan gelengan kepala cepat dari satpam tersebut.
"Semua orang sudah pulang. Gedung kosong, dan juga tidak ada yang lembur malam ini, apa terjadi sesuatu tuan?" jawab orang itu.
"Tidak, terimakasih!" Balas Rama kembali menaikan kaca mobilnya lalu pergi kearah jalan raya.
"kita harus lacak keberadaan Sinta, Aku ingin secepatnya mendapat kabar. Kita Mension Albert sekarang!" kata Rama.
***
Suasana semakin panik, satu hari sudah berlalu tidak ada juga tanda-tanda keberadaan Sinta sampai sekarang membuat Rama, varrel dan juga Zahra yang sudah mengetahui menjadi resah, bahkan wanita itu sampai tidak bisa tidur karena belum mendapatkan kabar apapun tentang Sinta sekretaris suaminya. Zahra sudah menganggap Sinta sebagai sahabatnya juga.
Laporan dari pihak polisi juga belum ditemukan, hasil lacak ponsel mereka mendapatkan ponsel Sinta ada pembuangan sampah.
"Bagaimana apa sudah ada kabar tentang Bu Sinta?" tanya Zahra dengan tangpang kepanikannya kepada Varrel suaminya. Pria tampan itu juga menyuruh ikut menyuruh anak buahnya memacari keberadaan Sinta juga melacak keberadaan Alek.
"Belum sayang, kita masih belum menemukan titik terang dimana Sinta sekarang. Alek, pria licik itu, dia mengelabui kita sayang" Jelas Varrel kepada Zahra.
"Maksud kamu sayang?" Zahra merasa tidak mengerti.
"Dia meninggal jejaknya ditempat sampah. Dan informasi dari anak buah ku kalau mereka sudah terbang ke luar negeri!"
"Sepertinya mereka terbang dengan pesawat pribadi karena di penerbangan internasional nama mereka tidak tercatat sayang!" Sambung varrel lagi lalu pria itu mengusap kasar wajahnya.
"Duh, kok aku jadi takut Mas, bagaimana kalau mereka menyakiti Bu Sinta, bagaimana, kalau mereka berbuat jahat kepada Bu Sinta Mas. kamu harus segera menemukan Bu Sinta Mas"
"Iya, sayang. kamu yang tenang, Sinta pasti akan segera ketemu!"
***
POV Sinta.
Aku meremas jemariku kasar, tubuhku juga sudah lelah berusaha melepaskan diri dari rantai yang mengikat kakiku. Bahkan kini tangan dan kakiku sudah memar merah muda karena terus-menerus berusaha lepas.
Hahhhhhh .....
Cekle
Pandanganku menunduk, sama-sama aku mendengar suara telapak kaki mendekatiku.
Tap
Tap
Tap
Teryata seorang wanita berseragam pelayan menghampiriku dengan troli makanan ditangannya.
"Nona ini makanan anda, tuan mempersiapkan khusus untuk anda!" Ucapnya menggunakan bahasa Inggris.
"Tunggu, dimana aku sekarang?" tanyaku cepat sebelum dia melangkah pergi. Tapi apa yang aku harapkan sepertinya pupus karena wanita itu tidak menjawab dan langsung pergi menutup pintu itu lagi.
"Sialan ...." Untuk kesekian kalinya aku berteriak.
Aku harus segera pergi dari sini, jangan sampai semuanya terlambat bahkan aku saja tidak tau entah berapa lama sudah aku di sini. Ekor matanku melirik ke arah troli makanan, melihat makanan apa yang mereka bawakan.
Stek dan See food.
Aku harus mencari cara keluar. Tiba tiba sajak sebuah ide Berlian berkeliaran di otakku. Aku bisa keluar dengan melicinkan kakiku Dengan stek itu.
Bisa pasti bisa, tanpa ragu aku memeras semua minyak yang ada pada makanan itu, baru setelah itu dengan hati-hati aku berusaha mencoba mengeluarkan kakiku.
Aggrrrr ....
Aku merintis sakit, kakiku sudah sangat memar dua tiga kali aku berusaha memaksa hingga di empat dan teryata berhasil.
Hahhhh .....
Aku narik nafas lega akhirnya. Aku mulai bangkit dengan langkah hati-hati aku melihat ke sekeliling mematikan kalau tidak ada orang.
"Jendela, ya itu satu-satunya cara agar aku bisa kabur!" Gumamku pelan.
Hahhhh ....
Aku mendengus senang karena jendela tidak terkunci dan itu artinya aku bisa keluar. Senyuman senang langsung terukur disudut bibirku.
Dengan penuh kehati-hatian aku turun dari jendela, beruntun aku tidak dikurung di kamar lantai dua karena kalau sampai kamar itu sudah pasti akan membuat sedikit kesusahan untuk kabur.
Dengan endap endap dari pohon bunga aku mencoba merangkak ke taman, dapat kulihat ada beberapa orang bodyguard yang berjaga dua dipintu utama dan empat di gerbang, aku harus mencari cara untuk kabur. Tapi bagaimana caranya. Aku memaki diriku sendiri. Disaat seperti ini tidak ada ide Berlian satupun yang kencantol dalam otak kecilku ini.
"Oh, ayolah"
"Aggrrrr ...." suara teriakan keras menggelegar terdengar. Aku spontan menatap teryata suara itu berasal dari dalam rumah. Para bodyguard berangsur-angsur lari secepatnya melihat. Termasuk bodyguard yang menjaga pintu gerbang.
"Terimakasih Tuhan kamu telah menolongku!" aku berlari sekuat tenaga yang aku bisa menuju gerbang. Lagi-lagi Tuhan berpihak kepadaku, pintu gerbang tidak dikunci. Aku mendorong kasar gerbang itu, hingga membuat sedikit suara gaduh.
"Bodoh!" makiku.
"Hey, siapa itu!" Teriak salah satu bodyguard yang melihatku membukakan gerbang. Spontan aku berlari sekuat tenagaku. Tidak peduli rasa sakit yang menyerang kakiku sekarang, apalagi aku tidak mengunakan alas kaki berlari dan sangat-sangat sakit.
"Berhenti!" teriak para bodyguard mulai mengejar ku.
Tuhan, selamatkan aku. Ini hutan belantara sialan. Beberapa bodyguard menaiki mobil mengejarku, aku sudah kewalahan. Dan tidak sanggup berlari lagi. Namun tiba-tiba sebuah mobil berwarna putih berhenti tepat didepan ku. Seseorang membuka pintu.
"Cepat masuk, sebelum ketangkap!" pria itu mengunakan bahasa Inggris memerintah masuk. Tanpa pikir panjang aku segara masuk kedalam mobilnya. Dan pria itu segara menancap pedal gas.
Dari belakang dapat kulihat dua mobil besar mengejar kami. Seseorang dari dari mobil itu mengeluarkan tangan dari pintu kaca mobil.
"Pistol!" teriakku keras.
Duarrrrr ....
Langsung saja mereka menembakkan mobil yang aku naikin, beruntung tidak ada peluru yang menembus kaca mobil.
"Jagan khawatir, mobilku ini anti peluru. Cepat pegangan kita akan ngebut." Kata seorang pria yang mengemudi mobil. Dengan santainya dia menekan pedal gas semakin lama semakin kencang.
Sementara aku sudah takut setengah mati.
"Hati-hati" pintaku. Gila pria itu benar-benar mengebutkan mobilnya.
"Apa kamu bisa menggunakan pistol?" tanyanya. Aku membulatkan kedua bola mataku. Aku melihatnya saja jarang apalagi mengunakannya.
"A-Aku tidak bi---"
"Jangan berlagak bodoh. Cepat tembak mereka sebelum mereka menghancurkan mobilku ini." Potong pria itu melemparkan sebuah pistol dipangkuan ku.
"Jangan diam saja cepat." Teriak pria itu lagi membuat aku tidak punya pilihan lain. Dengan tangan gemetar aku menyentuh pistol itu. Jujur seumur hidupku, baru kali ini aku memegang sebuah pistol.
Dengan berani aku memegang pistol itu menurunkan kaca mobil setengah lalu mengeluarkan tanganku dan pistol.
Duarrrrr ...
Duarrrrr ....
Duarrrrr ....
Dari tiga kali tembakan itu salah satu anak peluru berhasil memecahkan ban mobil para bodyguard yang mengejarku. Mobil itu langsung berputar putar dan tak lama kemudian ditabrak keras dari mobil belakang hingga menciptakan sebuah api besar.
Dummm
Aku terkesiap bukan main melihatnya. Bagaimana, bagaimana bisa aku melakukan ini. Padahal aku sama sekali belum pernah mengunakan pistol sebelumnya.
"Tdiyak ku sangka kau hebat hebat juga dalam bermain pistol rupanya." Kata pria itu memuji, sementara aku masih terkesiap dengan diriku sendiri bagaimana bisa melakukan ini.
***
Aku turun dari mobil setelah sesaat setelah aku menyadari mobil yang aku naiki telah berhenti disebuah rumah besar yang megah dan mewah.
"Turun!" Kata pria itu tanpa melirik, aku langsung membukakan pintu mobil.
Ekor mataku menatap takjub melihat rumah dengan dekorasi modern, ada pancuran yang besar di samping sana tak jauh dari tempat kami berdiri dan sangat jelas terlihat, juga kolam besar, tidak bukan kolam lebih tepatnya danau.
"Apa kau hanya akan bengong di situ tidak mau masuk!" Kata pria itu dan lagi-lagi dengan suara datar nya.
Aku melirik, tubuhku masih mematung ditempatnya, ada keraguan dalam dirimu untuk melangkah mengikuti pria itu. Walaupun dia tadi sudah menolongku. Tapi, aku belum mengenalnya, bisa saja dia berniat buruh kepadaku.
"Hey, apa kau tuli. Diamlah disitu sampai harimau kesayanganku menyerang mu. Memakanmu hidup-hidup!" Teriak pria itu, kini dia sudah tiba dipintu utama masuk.
"Apa? harimau!" Tanpa pikir panjang lagi spontan aku berlari ketempat pria itu. Rasa takutku kepada laki-laki yang menolong ku tidak sebanding dengan rasa takutku bertemu harimau. Aku lebih baik dibunuh olehnya dari pada diterkam harimau.
"Tunggu!" Teriakku.
Hahhhh ....
Dengan nafas ngos-ngosan akhirnya aku masuk juga kedalam rumahnya.
Aku melirik hanya dalam hitungan detik mataku langsung terpesona dengan dekorasi ruangan super modern. Mendominasi bak mansion paling megah.
***
author POV
Ya, rumah ini tidak layak dikatakan rumah melainkan mansion besar.
"Jangan terpesona begitu, cepat ambil ini dan minumlah. Aku tau kamu haus!" Aku dikagetkan dengan suara pria yang menolong Singa tadi sudah berada di depannya dengan secangkir gelas berisi air putih.
"Ambillah, ini bukan racun!" Katanya lagi Karena aku tak kunjung mengambil.
Rumah megah nama besar, Sinta masih tak percaya melihat dirinya sekarang berada dimana. Kalau dibandingkan dengan Mansion Varrel atau Rama tentu saja mansion kedua sahabatku yang kaya raya itu lebih besar lagi dari pada mansion yang ia pijak saat ini, namun kelebihan dari mansion ini adalah nuansanya yang modern clasik benar-benar memanjakan mata siapa saja yang akan melihatnya. pikir Sinta.
"Kau, kenapa diam saja seperti itu, seperti orang desa yang tidak pernah melihat rumah besar. Apa jangan-jangan kau dari desa. Apa kelebihan mu sehingga kamu diculik oleh tua bangka seperti Alexander. Katakan padaku, setidaknya aku tau kelebihanmu!" kata pria itu melirik Sinta dari bawah hingga atas, tak ada satupun yang membuatnya tertarik.
Ya, diakui Sinta memang cantik dalam parasnya, bahkan lebih dari pada wanita yang ia temui. Namun itu tidak terlihat menarik baginya, baginya semua wanita sama. Tidak ada yang wau.
"A-Aku, aku tidak tau kenapa dia menculikku. Kalau boleh aku sekarang aku lagi dimana?" tanya Tanya Sinta, rasanya ia sedikit risih ditatap seperti oleh seorang laki-laki yang belum ia kenal.
"Ya dirumahku. Memangnya kamu pikir ini danau!" jawab pria itu ketus ekor matanya masih melirik Sinta, berusaha mencari sesuatu yang membuatnya menarik.
"Iya, aku tau sekarang aku lagi di rumahmu!" balas Sinta sedikit kikuk.
"Kalau kamu tau kenapa bertanya!" ketus pria itu lagi, ia mulai merasa bosan memandang Sinta lalu Akhirnya ia mencoba membalikkan badannya melangkah menuntun.
"Tunggu, maksudku. Kita lagi di kota apa, bukan, lebih tepatnya negara apa?" Sinta meremas jemarinya kasar, menahan diri karena bisa-bisanya dia gemetar. Entah kenapa rasa gugup melanda dengan sendirinya didalam tubuhnya itu.
"Kamu amnesia, atau geger otak, kita ini di Kanada, tepatnya di kota di ibukota. Apa sekarang sudah jelas, hah. Apa masih ada yang tanya lagi. Lain kali tanyalah yang bermutu." jawab pria itu dengan tampang dinginnya yang mengerikan.
"Apaaaa!" Seakan tidak percaya Sinta membulatkan kedua bola matanya tajam.
"Kanada!" sambung Sinta lagi, rasanya ia ingin pingsan mendengarnya. Indonesia dengan Kanada astaga, ia masih mengingat bola dunia. Dimana titik negara Indonesia dan titik negara Kanada. Itu benar-benar sangat jauh melebihi apapun.
"Kau terkejut, memangnya kau dari mana?" Baru dua langkah pria itu menaiki anak tangga mendengar apa yang dikatakan Sinta barusan spontan membuat langkahnya memutar. Menatap Sinta kembali dari bawah hingga atas. Memicingkan tatapannya melihat kearah Sinta.
"Tapi tunggu, kalau diperhatikan sepertinya kamu bukan orang Eropa. Kau terlihat seperti orang Asia!" Dengan kulit putih dan mata yang sedikit abu-abu pria itu bisa menebaknya.
"Kenapa aku tidak menyadarinya. Dia sama sekali tidak terlihat seperti orang Belanda, Amerika, Rusia, Itali Spanyol atau pun Eropa. Matanya yang sedikit sipit dan kulitnya yang begitu putih, dia terlihat seperti orang Asia." Batin pria itu.
"Jangan menatapku seperti itu!" Sinta. geli sendiri melihat tatapannya.
"Katakan kepadaku kau berasal dari negara mana?"
"Indonesia!"
"Indonesia!" Kali ini mata pria itu ikut membulat sempurna bahkan melebihi Sinta.
"Kau sungguh benar-benar dari Indonesia?" Tanya pria itu lagi seakan akan tidak percaya mendengarnya.
"Bagaimana bisa seorang Alexander itu menculik seorang gadis dari Asia, bahkan Indonesia. Negara yang bahkan belum terpikir olehku. Apa Alexandera itu sudah gila!" batin pria itu lagi merasa sangat terkesiap.
"Kenapa, kamu terlihat terkejut seperti itu? Seharusnya aku yang terkejut bukan kamu!" tukas Sinta.
"Hanya dalam sekejap aku sudah tiba di negara ini!" Sambung Sinta.
"Kau tidak sedang bercanda kan?" Pria itu mengusap kasar wajahnya. Ia pikir ia berhasil melakukan tugasnya.
"Jadi kau benar-benar dari Indonesia?" Seakan tak percaya pria itu kembali bertanya.
"Apa aku terlihat seperti seorang pembohong. Iya aku, memang dari Indonesia. Maka dari itu aku terkejut kenapa aku bisa di negara ini!" Kata Sinta. Merasa sangat aneh dengan apa yang ia alami. Sungguh seberapa kali Sinta mencoba mengingat apa yang terjadi setelah ia pingsan atau atau sebelum. Tapi kepalanya tidak menangkap sesuatu apapun. Yang ia ingat adalah bertemu tuan Alek terakhir kalinya.
"Oh Tuhan. Kenapa bisa aku salah orang!" Kata pria itu memegang dadanya serasa sesak.
"Kau baik-baik saja, btw terimakasih sudah menolongku tadi dari kejaran anak buah tuan Alek!" tutur Sinta ia mulai sedikit merasa tidak enak hati.
Sementara pria itu masih dalam lamunannya.
"Hm, aku ketinggalan ponselku. Apa boleh aku meminjamkan ponselmu. Aku harus menghubungi keluargaku, mereka pasti sedang khawatir karena aku tidak pulang-pulang!" Ucap Sinta.
Sesaat tak ada jawaban dari pria itu melainkan keheningan namun setelah tiga menit kemudian baru ia menyodorkan ponselnya yang ia ambil dalam saku jasnya.
"Ini!" Katanya sekilas melirik kearah Sinta.
"Terimakasih!" Tanpa menunggu lagi dengan gerak cepat Sinta meraih ponsel itu. Lalu ia mencoba mengingat ingat berapa nomornya varrel.
"Aaahhh sial!" Luna berdecak kesal dia lupa nomor belakang bosnya itu. Sinta mengeruti dirinya sendiri.
"Oh, ayolah. Ayo berpikir jernih pasti ada aku ingat nomor Varrel!" Gumam Sinta berdecak kesal.
"Satu, dua hingga lima kali masih saja salah. Hingga di keenam panggilan terhubung.
"Yes!" Sinta mengigit bibir bawahnya.
"Ayo Rel cepat angkat!"
"Halo!" Suara sahutan Varrel dari seberang sana.
"Varrel, Vsrrel ini aku Sinta hikkk!" Ucap Sinta entah ia harus bahagia ataupun sedih sekarang. Satu sisi dia diculik dan berada di negara yang sangat jauh. Sedangkan satu sisi lagi dia senang karena akhirnya bisa berbicara dengan Varrel.
"Sinta, ini kamu. Kamu dimana sekarang!" Suara Varrel terdengar tergesa-gesah. Sinta bisa membayangkan betapa paniknya laki-laki itu itu, apalagi Rama. Selaku orang yang paling ia sayangi dan ia cintai walau perasaannya belum terbalas sampai sekarang.
"Aku, aku berada di Kanada." Kata Sinta.
"Kanada" Suara Varrel terkesiap.
"Iya Rel, tuan Alek menculikku. Dia membawaku ketempat jauh, supaya kita bisa melakukan apa yang dia perintahkan, hikkk. Varrel aku sangat takut. Kamu tau, bahkan tuan Alex berencana ingin menjadikan aku istrinya." Keluh Sinta mengatakan seadanya.
"Apa, brens** akan aku bunuh dia." umpat Varrel kesal dengan rahang mengeras di seberang sana.
"Rel, aku ingin pulang. Hikkk, aku ingin pulang, aku takut disini Rel!" Lirih Luna.
"Iya,Kamu yang tenang, malam ini juga aku dan Rama akan berangkat kesana. Segera kamu kirim alamat, aku pergi sekarang." Kata Varrel yang tergesa-gesa. (Perbedaan waktu Indonesia dan Kanada)
"Iya, aku menunggu kamu!"
"Iya Sinta, jaga baik-baik diri kamu. dan kalau ada apa-apa segera hubungi aku"
"Iya"
Tutttt
Panggilan pun terputus. Sinta segera mengirim alamatnya melalui google map kepada Varrel. Baru setelah itu ia memberikan kembali ponsel pria yang telah menolongnya itu.
"Terimakasih!" Kata Sinta lagi.
"Hm, sama-sama. Maaf, aku pikir kamu seseorang yang aku cari!"
"Oh, tidak apa-apa. Aku bersyukur kamu mau menolongku. Sekali lagi aku ucapkan terimakasih!"