chapter 34

3884 Kata
Apa ini?" tanya Zahra ketika ia melihat sesuatu nampak seperti kotak makan berada di atas meja kerja suaminya. Varrel dan Rama saling pandang, mereka berpikir dalam pikiran mereka masing-masing. "Itu makanan Rama, ya itu makanan Rama sayang. benarkan kan Ram." VArrel mengisyaratkan dengan bola matanya. "Iya nona itu makanan saya, saya tadi menaruh di situ," jawab Rama seraya mengambil makanan itu. "Ooooo" zahra hanya manggut-manggut pertanda mengerti. "Sayang kemarilah aku sudah tidak sabar ingin memakan masakan kamu." ujar Varrel menepuk sofa di sampingnya. "Ehm." Zahra yang di panggil segera berjalan ke arah sofa yang di tepuk suaminya tadi. "Hemmm , nona kalau begitu saya izin permisi saya tidak mau jadi nyamuk di antara kalian berdua" tutur Rama lalu membalikkan badannya. "Kak Rama" panggil Zahra cepat. "Iya nona." sahut Rama setelah membalikkan badannya kembali menatap ke arah zahra. "Kenapa kak Rama pergi kemarilah kita makan bersama sama aku tadi memasak banyak." pinta Zahra. "Tidak, enak saja. sayang tadi kamu masak untukku kan kenapa kamu malah ngajak dia. aku tidak mau makanan yang kamu buat di kasih pria lain selain diriku." ketus Varrel langsung menyela. "Biarkan Rama makan di luar saja sayang." sambung Varrel lagi. Zahra yang mendengar itu menarik nafasnya dalam-dalam dengan membuangnya kasar kasar. "Suamik u yang tampan, putih, imut, seksi dan paling kaya sedunia kita itu harus saling berbagi harus saling melengkapi dan juga harus saling tolong menolong. bukankah rezeki kita akan berlimpah kalau kita berbagi jadi tidak masalah ya kalau makanan ini kita bagi kak Rama. bukankah dia juga sudah di anggap sebagai keluarga oleh Bunda." jelas Zahra mengembangkan senyumnya penuh. "Tapi sayang."--- "Suamiku sayang, paling aku cintai, kita itu harus saling membagi tidak boleh pelit nanti kuburan kita sempit Lo." rayu zahra memegang lembut lengan kekar suaminya. "Hmm, Baiklah, kali ini aku mengalah karena kamu merayuku, tapi aku tidak mau Rama duduk di sini dia harus duduk di sana." tunjuk Varrel ke arah sofa tunggal. "Bhahaha sekali kenak rayuan Non bos varrel langsung luluh teryata." Kekeh Rama. "Kak Rama tunggu apa lagi ayo cepat duduk nanti makanannya dingin." tutur Zahra. "Terimakasih nona." "Tidak perlu terimakasih bukankah kita sudah di anggap seperti keluarga," sahut Zahra. "Sayang udah kamu tidak perlu berbicara dengannya lagi kamu berbicara denganku saja." ucap varrel, sifat positif laki-laki itu terlihat sangat jelas. "Ya ampun suamiku kenapa kamu sangat cemburuan sih." Ketus Zahra tak habis pikir. "Aku tidak cemburu, untuk apa coba aku cemburu kepada dia." Sinis Varrel. "Lalu itu apa namanya? Hem?" Tanya Zahra. "Aku hanya tidak suka saja kamu berbicara dengan laki laki lain di depanku." elak Varrel. "Sama saja tidak itu Mas, bilang aja cemburu," "Gak, enak aja aku cemburu kepadanya!" *** Di ruangan khusus tamu Terlihat Dewi sedang mengamuk kesal dan taun Fernandez hanya bisa menggigit jarinya melihat keadaan anaknya itu. "Aaaaaa ....." teriak Dewi. "Dewi kamu kenapa?" tanya tuan Fernandez. "Aku benci aku benci wanita itu pah." tutur Dewi memukul kasar meja di depannya. "Siapa? siapa wanita yang kamu benci sayang, bilang sama Papa?" Tanya tuan Fernandez. "Siapa lagi kalau bukan Zahra Pah, dia sudah merebut laki-laki yang aku cintai dariku bahkan dia sudah membuat Varrel tergila gila padanya" "Putriku, sayang tenanglah, Papa akan berusaha membuat Varrel jantuh cinta kepadamu. papa akan pastikan itu." Rayu tuan Fernandez. "Aku mau Varrel pah, aku mau Varrel dia adalah milikku, dia hanya boleh memiliki ku pah, hik .." tangis wanita itu. "Aku sangat menyukai Varrel pah, aku sangat-sangat menyukainya dan lagi pula aku juga lebihnya dulu mengenalnya ketimbang wanita itu, saat kuliah di Amerika aku yang lebih dulu mengenalnya, tapi saat aku tidak berani mendekatkan diriku kepadanya aku belum siap, tapi sekarang kenapa dia malah menjadi milik orang lain, ini tidak adil Pah ini tidak adil, hikkk." "Sayang..." tuan Fernandez langsung memeluk putrinya itu. *** Diruang Varrel "Mas aku keluarnya aku mau berkeliling, aku ingin melihat situasi di kantor." Kata Zahra mohon izin. "Ehm, hati-hati ya, jangan lari-lari ingan kamu itu lagi hamil," ucap Varrel menasehati istrinya. "Iya lo mas aku itu bukan anak kecil yang selalu di nasehati." tutur Varrel lalu langsung pergi. Zahra yang mendapat anggukan cepat dari Varrel langsung tersenyum senang mendapat izin keliling. Hal yang paling tidak sabar untuk ia kunjungi adalah ruangan Humas, ruangan tempat dia berkerja dulu sebagai anggota Humas. "Selamat siang Nona Zahra," panggil Sinta yang menyapa istri bosnya ketika melihat Zahra keluar dari ruangan varrel. "Bu Sinta," kata Zahra tersenyum kecil. Sudah lama sekali ia tidak melihat wanita ini. "Tolong jangan bersikap formal kepada saya, nona bisa bisa memanggilku Sinta saja," kata Sinta entah kepada sekarang wanita itu merasa tidak nyaman jika istri bosnya itu memanggilnya dengan sebutan Bu. "Ah, tidak apa-apa. Sudah biasa seperti ini aku lebih nyaman aja," sahut Zahra. "Hm, mau kemana menemui nona Intan?" tanya Sinta. "Iya, sudah lama sekali aku tidak menemuinya aku ingin kesana," jawab Zahra. Tapi Nona Intan tidak di kantor, para anggota humas sedang melakukan pemeriksaan di kantor cabang selama 3 hari, ini hari kedua mungkin lusa mereka akan kembali ke kantor," jelas Sinta. "Oh, begitu rupanya." Zahra hanya bisa pasrah. "Kalau begitu aku keliling saja," lanjutnya lagi. "Silahkan hati-hati, kalau anda membutuhkan sesuatu jangan sungkan untuk memberitahu saya," tutur Sinta. "Tantu," Zahra menganggu pelan lalu ia pergi menuju pintu lift. Tiba dilantai 40 puluh Zahra berjalan-jalan mengelilingi setiap sudut ruangan melihat bagaimana semua orang bekerja didalam kantor suaminya itu. Zahra sadar kalau perusahaan global grup adalah perusahaan terbesar dan termegah di dalam negeri jadi tidak heran jika banyak sekali para pegawai berkerja disini. Baik baik orang dalam negeri ataupun luar. Zahra juga melihat ada banyak orang bule yang berlalu lalang di setiap lantai ia kunjungi sampai di lantai 44 karena tanpa hati-hati wanita itu dengan secara tidak sengaja menabrak seseorang. "Aaagggrrr" pekik zahra nyaris saja tubuhnya hampir terjatuh untung saja ia berhasil mengimbangi tubuhnya sendiri. "Wanita sialan berani beraninya kau menabrakku. Apa kau tidak punya mata hah," seru orang itu yang tak lain adalah tuan Fernandez. Ya Zahra sekarang berada dimana lantai para tamu dan orang asing ditempatkan. "Maaf tuan maaf, saya tidak sengaja." tutur zahra berusaha memperbaiki keadaan. "Maaf kamu bilang. enak saja kamu bilang maaf, kamu tidak tau siapa saya hahhh..." kali ini suara tuan Fernandez sedikit meninggi. "Sekali lagi saya mintak maaf tuan saya bersalah saya tadi benar-benar tidak sengaja." ucap Zahra lagi. "Maaf maaf, cepat ambilkan berkas berkas ku." perintah tuan Fernandez, ya memang sebagian berkas yang di pegang tuan Fernandez sudah berhamburan saat tertabrak zahra tadi. "Tapi tuan saya lagi hamil, saya tidak bisa menunduk," ucap Zahra. "Enak saja tadi bisa, aku tidak peduli mau kamu hamil atau apapun aku tidak peduli, kau harus tetap mengambilnya." teriak tuan Fernandez lalu mendorong tubuh Wulan. "Tapi tuan, saya benar-benar tidak bisa," "Tidak bisa katamu, kamu pikir kamu siapa hah beraninya menolak apa yang aku perintahkan." Gerutu taun Fernandez mendorong tubuh Zahra. "Tuan, aaahhh" lagi-lagi tubuh Zahra nyaris saja terjatuh. Happp... Beruntung sebuah tangan berhasil mendarat mulus di pinggang Zahra, menahan tubuh wanita hamil itu dengan kuat hingga membuat tubuh zahra dan orang yang menariknya tidak tercipta jarak sama sekali. sekilas pandang mereka bertemu saling menatap antara satu sama lain juga, suasana menjadi hening. "Nona Zahra," ucap Sinta terkejut bukan main dengan apa yang ia lihat barusan, wanita itu langsung berlari menghampiri istri bosnya itu. Sontak langsung saja Zahra berusaha melepaskan dirinya dari dekapan orang itu. "Maaf..." ucap Zahra dengan sedikit gugup sembari tangannya merapikan dress yang ia kenakan. "Tidak apa-apa. apa kamu baik-baik saja Nona?" tanya orang itu. "Aku baik saja, terimakasih." "Nona Zahra apa Anda baik-baik saja?" tanya Sinta tampang paniknya melirik Zahra dari kaki sampai kepala. Memperhatikan kalau memang benar-benar tidak terjadi apa-apa. "Aku tidak apa apa tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja Bu Sinta" jawab zahra, membuat nafas Sinta sedikit lega. "Syukurlah." gumam Sinta kemudian matanya melirik ke arah tuan Fernandez, terlihat jelas dari raut wajah yang di tunjukkan Zahra atas ketidak sukaanya. "Apa yang anda lakukan, apa anda tidak lihat kalau Nona kami sedang hamil. berani sekali anda mendorong seorang wanita sedang hamil." ucap Sinta, sadar ia sedang berbicara dengan siapa namun melihat apa yang dilakukan Tuan Fernandez barusan sangat tidak manusiawi. "Lancang, berani sekali wanita rendahan sepertimu meninggikan suara kepadaku apa kau tidak tau siapa aku." sorot mata tuan Fernandez seakan membunuh. "Bu Sinta apa yang kau lakukan." Zahra menarik tangan wanita itu. "Tolong biarkan saja aku baik-baik saja tidak masalah, ini hanya masalah kecil." Ucap Zahra,. "Tidak bisa begitu nona, anda sedang berbeda dua tidak seharusnya mendapatkan perlakuan seperti tadi," sahut Sinta menatap lekat wajah Zahra. "Kurang ajar wanita rendah seperti kalian seharusnya tidak berada di sini." Dengus tuan Fernandez semakin emosi laki-laki paruh baya itu hendak menjambak rambut Sinta namun orang itu, orang yang menolong Zahra tadi mencegah niat tuan Fernandez. "Tuan Fernandez apa yang anda lakukan, jangan mengotori tangan anda dengan hal sepele seperti ini. lepaskan saja mereka, lagian bukankah anda ingin pergi ke tuan muda Varrel, mari saya temani." ucap orang itu mencoba meleraikan. "Aku tidak akan melepaskan kalian. wanita seperti kalian begitu saja, aku pastikan kalian akan segere mendapatkan hukuman dari ku." tutur tuan Fernandez lalu langsung pergi bersamaan dengan orang itu. "Kalau sampai Bos tau aku pastikan dia dan putrinya akan didepak keluar dari kantor ini," desis Sinta. "Bu Sinta, tolong jangan perpanjang kan masalah ini," kita Zahra. "Ya ampun nona anda masih membela orang seperti itu. Apa tidak sadar bagaimana anda diperlakukan tadi" Sinta hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bilang kalau aku membelanya." sahut Zahra cepat. "Seharusnya anda marah tadi, anda kan istri tuan Bos sedangkan saya hanya sekretaris biasa," jelas Sinta. "Tolong jangan berbicara seperti itu, dan jangan bicara formal seperti ini, aku merasa sangat risih. Bicara seperti biasa saja panggil aku Zahra." Celutus Zahra. "Hm. Baiklah, aku hanya tidak suka kamu diremehkan seperti tadi Zahra. Kamu kan bisa melawan," "Bu Sinta tidak lihat kalau aku sedang bunting, aku tidak boleh marah, sedih ataupun stress. karena itu bisa berdampak buruk bagi kandungan ku." "Aaagggrrr, tuh kan apa yang aku bilang, perutku keram lagi." pekik Zahra memegang perutnya. "Zahra, kamu tidak apa apa?" Sinta spontan sudah kepanikan. "Tidak apa-apa hanya keram kecil saja, maka dari itu aku tidak boleh marah atupun sedih." sahut Zahra masih menahan rasa sakit. "Kalau begitu aku minta maafkan," tutur Sinta merasa bersalah. "Kenapa Bu Sinta minta maaf aku tidak apa apa, ini hanya karam sedikit saja sebentar lagi juga bakal hilang," kata Zahra. *** "Kenapa kamu menghentikan ku seharusnya tadi aku memberikan pelajaran ke pada wanita rendahan itu. berani beraninya mereka berteriak ke padaku mereka pikir mereka siapa." Tukas tuan Fernandez. "Tuan Fernandez kenapa hal kecil seperti itu di perbesarkan ini tidak seperti tuan Fernandez yang saya kenal." Balas pria jangkung itu. "Hal kecil apa yang kamu bilang, wanita rendahan seperti itu meneriakiku kamu bilang hal kecil." Sahut cepat tuan Fernandez. "Bukankah anda seorang pengusaha, biasanya seorang pengusaha tidak akan mau berusan dengan hal kecil. tapi saya melihat sisi lain dari anda." Kata pria jangkung itu lagi "Apa maksudmu?" Kening tuan Fernandez berkerut. "Tuan Fernandez sepertinya saya harus pergi ke suatu tempat, maaf saya tidak bisa menemani anda bertemu tuan Muda Varrel." ucap orang itu setelah itu menundukkan kepalanya pertanda memberi hormat lalu langsung pergi. "Kenapa tuan Rahul sangat peduli kepada wanita rendahan itu, apa mungkin tuan Rahul mengenal wanita itu. tapi di lihat dari cara bagaimana tadi tuan Rahul menolong wanita rendahan itu, seperti saling kenal." membatin tuan Fernandez. *** Di dalam ruangan Varrel. "Pak Varrel mungkin nanti malam saya akan berangkat pulang ke negara saya karena saya harus segera menyelesaikan beberapa masalah di sana, jadi saya kesini hanya ingin menitip Dewi tolong pak Varrel menjaga putri ke sayangan saya." ucap tuan Fernandez. "Kenapa terburu-buru sekali tuan Fernandez. menginaplah di sini beberapa hari lagi." ujar Varrel basa basi padahal ia tidak berniat menawarkannya. "Tidak pak Varrel saya tidak bisa berlama lama lagi dini, saya harus segera pulang karena di sana juga membutuhkan saya." Sahut tuan Fernandez. "Baiklah kalau memang itu sudah menjadi keputusan anda, saya tidak berhak melarang anda. soal nona Dewi anda tidak perlu khawatir saya akan menjaminkan semua fasilitas lengkap kenapa nona Dewi." Kata Varrel "Saya merasa senang atas kebaikan pak Varrel, tapi pak Varrel ada satu hal lagi yang ingin anda lakukan untuk saya" ucap tuan Fernandez. "Apa itu?" "Saya ingin anda menghukum sekretaris anda yang berkeja di ruangan tamu. saya ingin anda menghukum wanita itu seberat-beratnya kalau perlu anda pecat saja, dan juga wanita hamil itu." tutur tuan Fernandez. "Apa? pegawai saya melakukan kesalahan?" Tanya Varrel spontan. "Bukan lagi sebagai kesalahan tapi lebih tepatnya menghina saya, bahkan mereka menghina saya di depan tuan Rahul. saya merasa diperolok kan." Keluh tuan Fernandez. "Kalau begitu saya minta maaf atas nama mereka. nanti saya akan menasehati mereka. tapi saya merasa ada yang aneh, tadi anda bilang ada wanita hamil. saya ingin tau wanita hamil mana maksud anda?" Tanya Varrel lagi. "Wanita hamil yang berada di lantai bawah. wanita hamil itu bahkan dengan sengaja menabrak saya, wanita itu jika juga tidak mau membatu saya mengutip berkas-berkas sudah berserakan di lantai. sepertinya wanita hamil itu sengaja ingin mempermalukan saya. Saya tadi ingin memberikannya pelajaran tapi sayang tuan Rahul membela wanita rendahan itu.", "Mas ..." Panggil Zahra tiba tiba, perempuan itu menerobos masuk ruangan suaminya. "Mas Varrel." ucap Wulan tiba-tiba menerobos masuk ke dalam ruangan suaminya. sontak ia menghentikan langkahnya tak kala melihat seseorang tak asing baginya. "Kau ..." tuan Fernandez merapatkan rahangnya. "Beraninya kau masuk tampa mengetuk pintu lebih dulu, wanita rendahan memangnya kau pikir siapa kau ini siapa hah." kata tuan Fernandez. Vino yang mendengar tuan Fernandez berkata seperti itu mengerutkan alisnya, mencoba mencerna apa yang terjadi sebenarnya. namun sesaat kemudian laki-laki jangkung itu pun teringat akan apa yang di katakan tuan Fernandez tentang sosok wanita hamil. "Tapi saya sudah meminta maaf kan. kenapa anda masih mempermasalahkannya?" tanya Wulan. "Karena wanita rendahan sepertimu tidak pantas mendapatkan maaf dariku, seharusnya sudah dari aku menyeret mu keluar dari perusahaan ini." tegas tuan Fernandez hendak mendekati Zahra namun sebelum itu tangannya sudah di pegang erat oleh Varrel. "Sekarang aku baru menyadari kalau wanita hamil yang anda maksud itu adalah Zahra." Varrel menekankan kata-katanya bahkan sorot matanya pun menusuk ke arah tuan Fernandez. "Apa, aku tidak percaya ini pak Varrel lebih membela wanita rendahan ini ketimbang saya." ucap tuan Fernandez tampang terkejutnya. Varrel tidak berkata apapun, tangannya kini beralih memegang kerah kemeja tuan Fernandez mencengkeram erat di sana hingga nyaris membuat tuan Fernandez susah bernafas. "Kalau aku tau wanita hamil yang kamu maksud itu adalah istriku sudah dari tadi aku mematahkan lehermu. kalau sampai terjadi sesuatu pada istri ku dan calon anakku, kau dan anak tersayang mu itu akan menanggung semuanya." guma Varrel dengan rahang mengeras."Sudah banyak aku memaafkan mu dan aku juga sudah banyak memberikan apa yang kau minta. itu aku lakukan semata-mata karena aku menghormati mu sebagai sahabat terbaik Papa ku, untuk kali ini aku melupakan semua itu kerena kau sudah berani menganggu apa yang berharga dalam hidupku. kau bukan lawanku." Varrel menghempas kasar tuan Fernandez hingga membuat tuan laki-laki paruh baya itu terbentur dengan dinding. "Aaaggrrr.... Berani sekali anda pak varrel, beraninya kau mendorong ku." teriak tuan Fernandez. "Mulai saat ini aku memutuskan semua ikatan dengan mu dan mulai saat ini juga aku menarik kembali saham ku. dan juga kau harus ingat pak Varrel, aku bersumpa tidak akan melupakan penghinaan ini. aku pasti aku akan membalas semua apa yang telah kau lakukan ke padaku." ucap tuan Fernandez tak kalah gentar dengan Varrel. laki laki langsung keluar dari ruangan. "Mas Varrel." Zahra yang masih berdiri di tempatnya terkesiap melihat apa yang dilakukan suaminya. jangankan mendekati melangkah saja seakan tak berani, bagaimana tidak ini pertama kali ia melihat suaminya semarah itu. sorot mata yang di tunjukkan oleh Varrel seakan menyerahkan di mata Zahra. Varrel yang melihat istrinya ketakutan pun segera menghampirinya, menanamkan pelukan hangat pada wanita yang ia cintai itu. "Maafkan aku, aku benar-benar suami yang tidak berguna melindungi istriku saja aku tidak bisa. aku adalah orang yang paling bodoh di dunia ini." Varrel semakin mempererat pelukannya. "Maafkan aku sayang." *** "Dewi cepat kau bereskan semua barang-barangmu kita akan pulang sekarang juga." ucap tuan Fernandez seraya membereskan semua barang-barangnya. "Apa? Pulang? maksud papa apa?" tanya Dewi bingung. "Apa kau tuli, papa bilang cepat bereskan semua barangmu kita akan pulang sekarang juga." bentak tuan Fernandez. "papa sudah memesan tiket pesawat kita terbang nanti sore." sambung tuan Fernandez lagi. "Tidak pah, aku tidak mau pulang aku mau tetap di sini. aku akan tetap di sini bersama Varrel." tolak Dewi. "Varrel. Varrel. Varrel kenapa kau selalu memikirkan dia, dia laki laki tidak pantas untukmu dia itu tidak mencintaimu. dan tidak akan pernah mencintaimu, seharusnya kau sadar akan hal itu Dewi." jelas tuan Fernandez tampang emosi. "Cinta itu butuh pengorbanan pah, aku yakin aku pasti bisa mendapatkan cintanya Varrel." bantah Dewi. "Kau itu sudah di buta kan oleh cinta. Dewi putriku." tuan Fernandez mendekati putrinya tangannya memegang kedua bahu istrinya. "Masih banyak di luar sana laki laki yang sekaya dan setampan Varrel, bahkan kamu bisa mendapatkan laki laki jauh lebih kaya dari laki laki brensek itu." "Tapi pah."--- "Kita pulang Dewi. papa bilang pulang ya pulang. papa sudah mutuskan hubungan dengan Varrel jadi kita tidak berhak berada di sini lagi." tegas tuan Fernandez lalu meraih tangan putrinya seraya melangkah keluar. *** "Sayang kita ke dokter ya, aku takut nanti baby kita kenapa-kenapa." rayu Varrel kini dia dan Zahra sudah berada di lantai bawah hendak ingin pulang. "Kenapa kamu memaksa ku pergi ke dokter, aku itu baik baik saja hanya keram kecil saja." tolak Zahra. "Kau ini sangat keras kepala, kenapa kau tidak pernah mau mendengarkan apa yang aku bilang." ketus Vsrrel merasa jengkel dengan Zahra. Padahal disini dia begitu sangat mengkhawatirkan Istrinya. "Varrel, aku mencintaimu," ucap seseorang yang tiba tiba saja langsung memeluk Varrel dari belakang tak lain adalah Dewi. "Aku tidak bisa menjauh darimu Varrel, aku sungguh sangat mencintaimu Rel." Dewi semakin mempererat pelukannya. "Dewi apa yang kau lakukan, hentikan," tukas Varrel. Zahra yang melihat spontan saja darah tinggi wanita itu langsung naik ketika melihat seseorang memeluk suaminya itu. "Lepaskan suamiku," kata berusaha memisahkan Dewi yang masih saja memeluk suaminya. "Kalau kau tidak melepaskan suamiku aku bunuh kau." ancam zahra namun Katrina tidak menghiraukannya sama sekali. "Aaaaaa..." pekik Dewi karena Zahra menarik kasar wanita itu, rambut gelombang Dewi menjadi sasaran empuk bagi Zahra meluapkan kekesalannya. "Dasar pelakor lepaskan suamiku." teriak Zahra tangannya dengan kuat menarik rambut Dewi, dan akhirnya berhasil wanita itu melepaskan Varrel. "Aku peringatkan kepadamu, sekali lagi kamu melakukan ini kepada suamiku aku pastikan kamu akan menyesal," ancam Zahra masih menarik kasar rambut wanita itu. "Lepaskan putriku." Kata tuan Fernandez dengan cepat mendekati Zahra, Varrel yang melihat itupun dengan sigap menghadang tuan Fernandez. Semua para karyawan menjadi tegang tak ada satupun di antara mereka yang berani meleraikan pertengkaran itu mereka hanya bisa menonton saja, tapi sebagai dari mereka berlari memanggil sekuriti. "Putriku..." tuan Fernandez berlari menghampiri Dewi masih menjerit kesakitan. "Kurang ajar aku tidak akan memaafkan mu." Katatuan Fernandez merapatkan jemarinya matanya berpaling menatap tajam ke arah Zahra. laki laki berdiri hendak melangkah mendekati zahra. "Brukkk..." sebuah pukulan mendarat mulus di pipi tuan Fernandez. ya Varrel sendiri yang lebih dulu memukul tuan Fernandez hingga membuat laki laki tua itu juga tergeletak di lantai bersama dengan Dewi. "Jangan pernah kau menatap seperti itu ke pada istriku kalau tidak, aku akan mengeluarkan bola matamu dari tempatnya." ancam Varrel lagi bahkan sorot matanya lebih tajam dari pada tuan Fernandez. "Pah..." Dewi berusaha membantu papanya berdiri. "Cih, kalia semua akan menerima pembalasan dariku." guma tuan Fernandez. "Dan kami aku pasti aku kembali lagi." tunjuk Dewi ke arah Zahra. Para sekuriti pun segera berlari menghampiri tuan Fernandez dan Dewi. mereka berusaha memaksa Dewi dan tuan Fernandez keluar. "Bawa mereka keluar dan pastikan kalau mereka tidak bisa lagi memasuki perusahaan ini." tegas Varrel. "Lepaskan aku." Dewi berusaha melawan. "Varrel aku pasti bisa mendapatkanmu, mungkin saat ini aku kalah, tapi aku pasti akan datang lagi" teriak wanita itu tak henti-hentinya "Rel!" panggil Rama sembari berlari menghampiri sahabatnya. "Apa kau sudah bosan bekerja di sini?" tanya Varrel. "Maksud lo?" tanya balik Rama tidak mengerti, kini laki-laki itu berdiri tepat di depan Varrel. "Kenapa kau datang setelah pertempurannya selesai, apa kau ingin melihat istriku terluka." ketus Varrel. "Maaf Rel, tadi aku berada di toilet." elak Rama mengarukkan kepalanya tak gatal. "Sayang apa kau baik-baik saja?" tanya Varrel tampang khawatirnya. Bukan malah menjawab zahra malah pergi meninggalkan Varrel, entah apa yang di pikirkan bumil itu tapi raut wajah yang di tunjukkan Zahra. ketidak sukaanya terlihat jelas di wajah bumil itu. "Sayang ..." Varrel berlari berusaha mengejar istrinya. "Sayang tunggu." Varrel berhasil menarik pergelangan tangan Zahra, hingga membuat bumil itu mengehentikan langkahnya. "Sayang kamu itu kenapa sih? apa kamu marah kepadaku?" Tanyanya. "Apa kamu puas sekarang, kamu senang Hem, melihat diriku marah seperti itu hanya gara-gara aku tidak suka jika wanita itu memeluk dirimu. apa kamu sangat senang sampai-sampai kamu tidak melawan wanita itu, apa kamu juga merasa sangat nyaman di peluk wanita lain hem." Zahra meluapkan emosi nya. Varrel bukanya menjawab dia malah tersenyum penuh senang. "Sayang maafkan aku." Varrel kini memeluk istrinya. "Aku tadi tidak bermaksud seperti itu, aku niatnya tadi memang ingin menghempas Dewi tapi kamu malah lebih dulu memberikan dia pelancar, terimakasih kasih, telah melakukan itu aku senang. Itu tandanya kamu sangat mencintaiku" jelas Varrel masih memeluk Zahra dengan hangat. Zahra merenggangkan pelukan,"kamu jahat" ucapnya memukul pelan d**a suaminya. sedangkan Varrel hanya tersenyum. "Aku baru tau sekarang teryata istriku jauh lebih ganas dari pada seekor singa betina." goda Varrel memegang dagu Zahra lembut. lalu ia mencium sekilas di sana. "Apa aku sudah di maafkan, sayang?" tanya Varrel sementara zahra menggelengkan kepalanya. Muaaaa Varrel dengan cepat menamkan bibirnya di belahan bibir zahra. bahkan laki laki melumat ya sanga dalam. "Astaga, mata polosku" gumam Rama langsung memalingkan wajahnya."kalau aku jadi bos aku pasti akan menghukum mereka, apa mereka tidak tau apa jiwaku bergejolak saat melihat itu. mereka benar-benar sudah tidak menganggap ku lagi sebagai laki laki normal." ketus Rama kini pandangannya beralih ke belakang. "Apa kini kesalahanku sudah di maafkan?" tanya lagi Varrel. "Separuh." jawab Wulan cepat. "Apa? kalau begitu aku akan melakukannya lebih panas lagi." Kata Varrel hendak melakukan aksinya lagi, namun dengan cepat Zahra menutup mulutnya rapat-rapat. "Sayang kenapa kamu menutup mulutmu bukankah tadi kamu bilang kamu memaafkan ku baru separuh?" "Lihatlah itu." Zahra menunjuk ke arah mobil yang di tumpangi Rama. "Itu mobil kita memangnya kenapa?" tanya lagi Varrel berhasil mendapat cubitan dari zahra. "Aaauuu..." pekik pria itu. "Dasar laki laki tidak tau malu." ketus zahra wajahnya sudah merah merona, ia merasa sangat malu kejadian tadi pasti di saksikan oleh Rama pikir zahra. "Aaagggrrr" Zahra merintis memegang perutnya. "Sayang kamu kenapa?" sontak Varrel langsung memegang bahu istrinya. "Sakit mas, aaaaaa sakit."--- "Ram, Rama cepat..." teriak Varrel sudah sangat khawatir. Rama yang mendengar suara teriakan Varrel pun langsung menyalakan mobil *** Di dalam perjalanan menuju rumah sakit. "Aaagggrrr sakit mas. perutku sakit." Rintis Zahra masih menjerit kesakitan. "Sabar sayang sabar, kita sebentar lagi akan sampai. Rama cepat" seru Varrel "Sabar Rel, ini juga udah kenceng." "Sakit ..." tangan Zahra kini sudah beralih memegang rambut Varrel, bahkan bumil itu menjambak ya dengan sangat kasar. "Aaagggrrr..." pekik Varrel menahan rasa sakit. Bukannya malah berhenti menarik rambut Varrel, zahra malah menariknya lebih kuat, bahkan bumil itu memutar bolak balik kepala suaminya. sebuah senyuman terukir di bibir zahra. "Sudah sampai." gumam Rama langsung mengehentikan mobilnya. sontak zahra langsung melepaskan rambut suaminya. Bersambung .....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN