chapter 33

4524 Kata
Saat malam hari zahra dan Varrel sudah tiba di rumah tepat pukul 9 malam keduanya pun memasuki rumah tak terjadi perbincangan apa apa di antara mereka saat itu karena memang Zahra sudah sangat mengantuk bahkan ia sudah menguap beberapa kali melawan rasa ngantuk yang menyerang. "Tuan, nyonya." ucap Bi Ani memberi hormat berdiri di ambang pintu menyambut kedatangan tuannya. Karena memang sudah menjadi rutinitas Bi Ani selalu menyambut kedatangan Zahra, Varrel saat pulang kerumah. "Iya, ssutttt, " Varrel mengerakkan tangannya mengisyaratkan untuk tidak berbicara lagi, lalu ia dan wanita bumil yang berada di sampingnya langsung masuk bergegas menuntun. Rasa lelah dan cepek yang menyerang membuat zahra sangat ingin tidur, moodnya berubah. Keningnya pun sudah basah karena keringat yang bermunculan padahal dalam mobil Varrel tidak sudah menghidupkan AC. *** "Istirahatlah kamu pasti sangat capek." Varrel mencium singkat kepala istrinya menarik selimut menutupi tubuh istrinya. "Jangan pergi," zahra berucap dengan mata sayup sayup menatap ke arah suaminya itu. "Tidak, aku tidak akan pergi ke mana-mana tidurlah." Varrel mengelus lembut rambut istrinya sebelum sesaat ia meninggalkan ciuman di kening istrinya itu. Setelah benar-benar memastikan zahra pergi ke alam mimpi barulah ia beranjak pelan-pelan turun dari ranjang melangkah keluar dari kamar. Meneruni anak tangga, tepat diterakhir dia sudah dihadang oleh pak Romi "Varrel, Papa ingin bicara denganmu?" ucap pak Romi menahan anaknya melangkah. "Iya Pah" sahut pria itu hanya bersuara kecil pertanda mengiyakan serta sekilas matanya menoleh. "Beberapa hari kedepan Papa akan pergi dari keluar negeri, menyusul mertuamu disana. Ada beberapa perkembangan proyek yang harus Papa bantu, kamu tau sendiri kan kalau Pak Hasan tadi memiliki anak lain selain Zahra dan semua bisnisnya saat ini ia kelola sendiri. Jadi Papa memutuskan untuk membantunya, Papa titipkan rumah serta Mama, Mama tidak bisa ikut, Mama kurang sehat," Ucap pak Romi. "Iya Pah, Papa tidak perlu khawatir, Varrel akan menjaga keluarga Varrel dengan sangat baik bahkan lebih dari apapy" Jawab Varrel dengan tampangnya. "Papa dengar kau menangkap Dira lagi, dia membuat masalah lagi," tutur Pak Romi yang berhasil membuat langkah Varrel terdiam sesaat. Pria itu langsung tau apalagi Varrel menangkap Bella dengan melibatkan para bodyguard mansion tentu saja pak Romi tau masalah itu. "Iya Pah!" "Papa harap kau tidak menyakitinya, dia tidak punya siapa-siapa. Lagi pula dia pernah dekat denganmu. Papa bukan membelanya tapi setidaknya kamu bisa mengirimnya pulang ke tempat dimana Ibunya berada, kamu tau kan dia satu-satunya keluarga yang dimiliki ibunya, kalau kamu bertidak seperti itu, itu bukan sikap yang baik. Papa sudah menyuruh seseorang untuk membawanya pergi dan Papa janji tidak akan membiarkan dia kembali pagi ke Indonesia" sambung Pak lalu berpaling dari anaknya dan pergi menuntun menuju keluar. Hubungan antara Dira dan Varrel sudah renggang, akibat keserakahan wanita itu sendiri padahal dia sudah mendapatkan pengampunan sebelumnya namun kedua kalinya Dira mencari masalah. Varrel, pria itu kembali melanjutkan niatnya untuk pergi ke dapur menyuruh Bi Ani menyiapkan bubur ayam. Entah kenapa dahaganya saat ini menginginkan bubur ayam. Apa mungkin aku ngidam, pikir pria jangkung itu. Setelah selesai memberitahu dia kembali menuntun kedalam kamar. "Bunda. " gumam varrel di kejutkan dengan adanya ibunya Mirna diambang pintu. "Suuttttt.... jangan keras keras nanti kamu bisa membangunkan istrimu, kamari lah ada sesuatu yang ingin Bunda bicarakan denganmu." ajak wanita paruh baya itu sembari menutup pintu. "Apa kau sudah memberi pelajaran kepada wanita itu hem?" tanya Bu Mirna pada inti tujuannya. "Maksud Mama Dira." Tebak Varrel mendapatkan anggukan cepat dari Mamanya. "Varrel pikir Varrel akan memulangkannya ke Swedia, dan melarangnya untuk kembali lagi ke Indonesia." jawab Varrel. "Apa? Kamu ingin memulangkannya, Bunda sangat tidak setuju kalau kamu mau memulangkannya. apa kamu sudah amnesia Varrel? kamu lupa apa yang telah ia lakukan, dia hampir saja membunuh istrimu, menikamnya dengan pisau dan kau malah dengan mudah memaafkannya begitu saja." sahut Bu Mirna cepat merasa tidak habis pikir. "Bunda ini bukan soal perasaan atau atupun lainya Bunda, tapi ini .... " Varrel diam sejenak, menghela nafas kasarnya sebelum sesaat ia akan menyambung kan kata katanya lagi. "Bunda taukan kalau Dira hidup sendirian ibunya di selama ini, dia tidak punya siapa-siapa lagi. Kalau kita menghukumnya apa itu adil. Papa tadi memberitahu Varrel, sebenarnya Varrel ingin memberikan Dira sedikit pelajaran, tapi papa melarangnya. Varrel tau dia telah berencana ingin menyerang Zahra. Tapi tidak salahnya kan kita memberinya kesempatan untuk merubah sikapnya. Dia seperti itu mungkin juga karena Varrel meninggalnya." tutur Varrel, jujur setelah mendengar apa yang dikatakan pak roi tadi hatinya tidak tega untuk menghukum Dira. Mengingat wanita itu hidup dalam kesendirian. Varrel berencana memberikan dia kesempatan dan jika dia menyia-nyiakan kesempatan itu makan pria itu tidak akan mengampuninya lagi. "Itu namanya kamu sudah terpengaruh dengannya." Tukas Bu Mirna. "Kau selalu begitu tidak pernah berpikir panjang sebelum mengatakan sesuatu." sambung Bu Mirna lagi mendengus kesal. "Mah, kali ini aku berjanji. aku akan membuat Dira untuk tidak pernah menginjakkan kakinya lagi di sini bahkan di kota ini, aku akan membuat dia melupakan negara kita." ucap Varrel penuh keyakinan "Papa juga mengatakan itu," lanjutnya "Tidak usah berjanji kepada Bunda karena Bunda sudah tau apa yang akan kamu lakukan setelah berjanji. Karena selalu selalu melupakan janjimu kalau sama Bunda. Ya sudah, kalau begitu Bunda setuju tapi kamu harus ingat, jangan biarkan dia mendekati Zahra lagi. Kalau bisa buat dia selamanya di Swedia. Bunda dan Papa tidak habis pikir dengannya. Saat dia tinggal disini dulu dia begitu baik tapi tidak disangka dia sekarang malah seperti ini." * Tepat pukul dua pagi Zahra terbangun dari tidurnya ia menguap beberapa kali seraya mengusap matanya lembut, setelah ia rasa sudah sadar barulah wanita itu beranjak dari tempat tidur. Krukkk terdengar suara di dalam perut zahra "Ah, sayang kamu lapar ya." gumam wanita itu sembari mengelus perutnya sudah membesar. "Iya Mami Beby mau martabak telor." suara zahra menirukan suara anak kecil begitu mengemas menurutnya. "Ehm gemesnya teryata anak Mami mau makan martabak telor ya. Baiklah ayo Beby kita bangunkan Dedy mu." ucap Wanita itu lagi setelah itu langsung merangkak pelan pelan mendekati Varrel masih terlelap dalam tidurnya. "Mas, bangun! Mas," ucap Zahra seraya menggoyang-goyangkan bahu suaminya. "Mas, bangun mas, anakmu ini mau makan." kali ini suara Zahry sedikit lebih keras dengan tangannya selalu menggoyangkan tubuh pria jangkung itu. "Eeeggg..." suara Varrel menggeliat sembari membalikkan badannya memunggungi Zahra. Sementara Zahra yang melihat suaminya malah memunggunginya pun merapatkan giginya."Mas Varrel ..." kali ini wanita bumil itu benar-benar berteriak hingga membuat Varrel yang masih terlelap dalam tidurnya sontak terperanjat dari kasur. Pria itu langsung menatap ke sembarang arah. "Ada apa? apa kau terluka ? di mana yang sakit?" tanya Varrel penuh kecemasan dengan bola matanya melirik setiap tubuh zahra. "Aku lapar," jawab zahra memanyunkan bibirnya. "Hah, astaga sayang kau membangunkan malam malam begini karena kau lapar." Varrel memejamkan matanya singkat. "Kenapa kau tidak membangunkan Bi Ani saja, dia akan menyiapkan makanan untuk mu." sambung pria jangkung itu lalu merebahkan badannya kembali ke tempat tidur. "Enggak mau, aku enggak mau makanan yang ada di rumah ini. aku mau makan martabak telor." rengek zahra menggoyangkan badan Varrelagi. "Sayang aku sangat mengantuk bisakah di tunda besok pagi saja, lagi pula mana ada orang jual martabak telor di tengah malam seperti ini." elak Varrel kini langsung memejamkan matanya. "Aku enggak mau tau pokoknya aku mau martabak telor, aku mau martabak telor, aku mau martabak telor." Rengek Zahra memukul pelan tubuh suaminya. "Ya ampun kenapa kau sangat keras kepala sih sayang. ini itu sudah larut malam sayang, mana ada lagi orang jualan martabak telor." ucap Varrel berusaha menyakinkan Istrinya kini dia duduk tepat di depan zahra. "Kamu carilah di mana kek, pokoknya aku mau martabak telor." rengek Zahra lagi. "Baby ini pasti semua ulah kamu kan, kamu segaja kan meminta martabak telor pada Mami agar dia membangunkan Dedy di tengah malam seperti ini Hem, kau ingin mengerjai Dedy lagi Hem, kau ingin Dedy mu yang tampan ini di makan hantu di luar sana," ucap Varrel melototi perut buncit zahra. "Sayang kamu mau suami mu yang tampan sejagat raya ini di rebut sundel bolong, ini tengah malam lo sayang pasti di luar sana banyak hantu." rayu pria itu. "Tidak akan, sundel bolong itu tidak akan merebut mu nanti aku akan mengirim pesan padanya agar dia tidak menganggumu." ucap Zahra asal. "A-Apa?? kamu mengirim pesan pada sundel bolong?" tanya Varrel tak percaya sementara Istrinya langsung mengangguk dengan cepat. "Iya aku memiliki nomornya bahkan aku juga memiliki grup w******p ya hantu. jadi kamu tidak perlu banyak alasan lagi cepat carikan martabak telor." ketus Zahra. "T-Tapi sayang..." "Kamu mau nanti anak kamu ileran gara gara Dedy nya enggak mau nurutin ngidam Maminya. terus anak kamu ngences setiap saat mau. terus kamu mau nanti anak k---" "Sudah sudah tidak perlu berbicara lagi." Varrel menarik nafas dalam-dalam setelah itu ia membuangnya dengan kasar." baiklah aku akan pergi sekarang, aku akan mencarikan martabak telor sekarang tapi ingat setalah aku membawa martabak telor itu untukmu kau harus membayarnya dengan sangat mahal," ucap Varrel penuh maksud lalu laki laki itu langsung mengambil pakaian dan kunci mobil. ya karena Varrel selalu tidur menelanjangi dadanya. "Beby jangan salahkan Dedy nanti ya kalau terjadi sesuatu padamu nanti pagi karena itu juga salahmu kenapa kau malah minta yang aneh aneh di saat tengah malam seperti ini. untuk itu kau dan Mami harus membayar mahal atas permintaan kalian ini." * Sudah tiga puluh menit lebih Varrel mengelilingi kota namun dia tidak menemukan penjual martabak telor satupun hal itu membuat ia geram sendiri. "Aaagggrrr... kenapa tidak ada penjual satupun." Dengus laki-laki itu. "Rama. ya Rama pasti tau di mana letak penjual martabak telor." gumam Varrel setelah itu tangannya langsung meraih ponsel yang ia letakkan di saku celananya. Varrel mencari nama sahabatnya di layar ponsel setelah itu ia langsung menghubunginya. Sudah dua kali Varrel mencoba menghubungi Rama namun tidak ada tanda tanda kalau Rama mengangkat panggilannya. "Ram kau ini di mana kenapa tidak mengangkat panggilan ku." Varrel kembali berusaha menghubungi Dimas lagi. "Halo Rel." ucap Rama setelah panggilan terhubung. "Hah, kenapa kau lama sekali mengangkat panggilan ku?" Gerutu pria itu "Seharusnya aku yang tanya ini kamu kenapa menghubungiku tengah malam begini. Ingat ini diluar jam kerjaku." oceh balik Rama "Kau sama Zahra sama saja, sama sama nyebelin." ketus Varrel balik. "Hihihi, Baiklah, ayo cepat katakan ada apa kamu menghubungkanku?" Tanya Rama. "Kau tau di mana letak penjual martabak telor." Jawab Varrel. "Martabak telor." gumam Dimas dengan cepat berpikir. "Bahahaha... sekarang aku baru tau Rel, kamu pasti di suruh belik martabak kan sama istrimu hahahah..." Ledek Rama tertekekeh sendiri. "Diam kau jangan menertawakan ku cepat katakan di mana ada penjual martabak." Sahut Varrel. "Hahaha jam segini mana ada!." Kata Rama "Jangan bermain-main cepat katakan dimana ada yang buka?" Ancam Varrel "Hahaha .... Baiklah, kamu jalan saja ke jalan xxx dekat kantor pos nah di situ tepat di depan rumah makan di situ ada penjual martabak telor yang selalu buka 24 jam." ucap Rama yang belum selesai ia bicara Varrel sudah memutuskan panggilan. *** Tepat pukul setengah empat pagi Varrel baru sampai di mansion laki laki itu berlari menuju kamarnya. "Sayang aku sudah membawakan martabaknya." ucap Varrel di ambang pintu namun tidak ada sahutan sama sekali dari Zahry bahkan wanita itu memunggungi suaminya kini tengah berjalan ke arahnya. "Sayang ini martabak telornya." ucap Varrel lagi menyerahkan makanan itu ke hadapan istrinya namun Zahra tidak mengambilnya. "Lo kok enggak di ambil sayang katanya kamu mau makan martabak. sayang?" Tanya zahra "Iya aku memang mau martabak tapi kenapa kamu membawanya lama sekali, kamu pasti berkeliaran kan di luar sana." Celutus Zahra. "Berkeliaran. sayang aku itu nyariin penjual martabak Lo sayang bukan berkeliaran." Bela Varrel. "Mana ada orang belik martabak sampai dua jam lamanya, kalau bukan berkeliaran." ngambek Zahra sementara Varrel menggaruk kepalanya tak gatal sikap ibu hamil sungguh membuat ia pusing pikir Varrel. "Sayang aku mintak maaf tapi sungguh aku tidak berkeliaran, aku lama pulang itu karena aku susah mencari penjual martabak telor yang buka di jam selarut ini sayang." bujuk pria itu lagi. "Kamu tidak bohong kan?" Zahra memicingkan tatapannya. "Sumpah demi apapun aku tidak bohong sayang." Kata Varrel apa adanya. "Ya sudah berikan sini." Pinta Zahra. "Nah gitu dong jangan ngambek ngambek, percaya lah sama suamimu yang tampan ini kalau dia tidak berbohong." Varrel menyerah apa yang dibelinya tadi. Zahra langsung memakan martabak telor itu dengan rakusnya rasanya ia sudah seperti tiga hari tidak makan. "Sayang pelan pelan makannya jangan buru-buru nanti kamu bisa tersedak." ucap Varrel namun istrinya sama sekali tidak mendengarnya sama sekali. Sepuluh menit telah berlalu Zahra sudah siap dengan makanannya ia sudah sangat kenyang sekarang. Wanita itu membaringkan tubuhnya di tempat tidur dengan tangannya mengelus lembut perut buncitnya itu. "Sayang..." panggil Varrel penuh maksud. "Iya." "Mana bayarannya, bukan kah tadi aku sudah bilang kalau kau harus membayar mahal atas kepergian ku memenuhi permintaanmu itu." Kata pria itu. "Ambil saja uangnya di dompet, ambil saja semuanya untuk mu," sahut Zahra. "Sayang aku tidak butuh uang." bantah Varrel cepat. "Lalu aku harus membayarnya dengan apa?" tanya Zahra heran, ia mengerutkan keningnya dalam. Sedangkan Varrel langsung tersenyum penuh arti tampa menunggu lebih lama Varrel langsung melanjutkan aksinya. *** Pagi hari saat rutinitas cahaya sinar matahari kembali dalam tugasnya menyinari bumi fana ini. Terlihat di sebelah timur matahari sudah menampakkan dirinya bahkan dia berjalan seakan akan sangat cepat, semua orang sibuk dengan aktivitas mereka masing masing tak terkecuali di dalam rumah besar milik Varrel dan Zahra. terlihat Bi Ani sibuk membersihkan Rumah yang bantu oleh Bu Mirna, terkecuali sepasang suami istri ini yang masih saja terlelap dalam mimpi mereka masing-masing siapa lagi kalau bukan Varrel dan Zahra mereka sepertinya enggan sekali bangun dari tempat tidur. Bagaimana tidak pertempuran yang di lakukan Varrel tadi pagi cukup memuaskan sampai sampai membuat Zahry kewalahan menghadapi suaminya itu. VArrel sebenarnya ingin melanjutkan aksinya itu sampai matahari terbit tapi niatnya terurung tak kala melihat zahra sudah sangat kewalahan. akhirnya sudah sekian lama Varrel memendam hasrat itu kini tercapai juga. sudah hampir beberapa baik Zahra maupun Varrel berpuasa mereka sama sama tidak melakukan hal suami istri bukan tampa alasan, semenjak pasca Zahra hampir keguguran yang di sebabkan oleh Dira dan kandungan Zahra di vonis lemah semenjak itulah mereka berpuasa. "Jam berapa sekarang, kenapa Varrel dan Zahra belum turun juga." ucap Bu Mirna menghentikan sejenak sarapan paginya. "Jam delapan pagi nyonya." sahut Bi Ani. "Benarkah, sudah jam delapan mereka belum turun juga." Kata Bu Mirna menggeleng-gelengkan kepalanya. ** Di kamar. "Astaga aku lupa." VArrel terperanjat dari kasur. "Aaagggrrr kenapa aku bisa bangun kesiangan." gumam laki-laki itu lalu langsung berlari ke kamar mandi. Sementara itu secara hampir bersamaan suara ketukan pintu terdengar. Tok.... Tok... Tok... suara ketukan pintu dari luar. "Hhhaaaaaa " Zahra mengerjapkan matanya suara ketukan pintu itu berhasil membuat dirinya terbangun. "Mas Varrel." gumam Zahra baru sadar kalau dirinya kini sendiri berada di atas ranjang, Zahra melirik setiap sudut ruangan namun ia tidak juga mendapatkan keberadaan suaminya itu. suara rintikan air pun terdengar di telinga wanita itu."Teryata lagi mandi." Tok tok tok "Sebentar." ucap Zahra hendak turun dari ranjang, wanita itu ingin membukakan pintu yang sudah dari tadi terus di ketok. Zahra sudah hampir ingin membukakan pintu namun suara Varrel dari arah belakang berhasil membuat ia mengehentikan langkahnya. "Sayang..." panggil pria itu. "Iya." sahut zahra menoleh ke arah suaminya "Kamu mau kemana?" Tanya Varrel "Mau buka pintu." Dengan santai Zahra menjawab. "Kamu ingin keluar? tanya Varrel lagi berhasil mendapat anggukan cepat dari istrinya. "Dengan keadaan seperti itu?" tanya Varrel lagi juga mendapatkan anggukan dari Zahra. "Memangnya kenapa?" Zahra balik bertanya setelah itu ia baru melihat dirinya sendiri. "Aaaaaa..." teriak wanita itu baru menyadari kalau dirinya kini dalam keadaan polos tampa menggunakan apapun di badannya. Tanpa menunggu dan berkata apapun lagi Zahra segera berlari ke kamar mandi. "Sayang hati-hati." VArrel hanya bisa tersenyum kecil melihat tingkah istrinya begitu menggemaskan. "Kenapa kamu tidak bilang dari tadi kalau aku tidak memakai baju." Oceh Zahra. "Lah sayang kenapa kamu malah menyalahkan ku." Sahut Varrel tak mau disalahkan. "Awas kamunya," ucap Zahra lalu segara menutup pintu kamar mandi. Varrel kembali menggeleng kepalanya melihat tingkah laku istrinya akhir akhir ini sangat aneh. Tok... Tok... Tok... suara ketukan pintu terdengar lagi dengan segera Varrel membuka pintu. "Selamat pagi tuan. maaf menganggu kenyamanan tuan tapi tuan nyonya besar sudah menunggu anda di ruang makan." ucap Bi Ani." setelah sesaat ia melihat Varrel yang membukakan pintu. "Iya, sebentar lagi kami akan turun." Sahut Varrel. "Kalau begitu saya permisi tuan." pamit Bi Ani. "Tunggu." Cegah VArrel. "Iya tuan, apa ada hal yang harus saya lakukan?" Tanya Bi Ani "Pagi ini aku ingin menu makanan sup daging sapi, tolong siapakah segera karena aku sangat ingin segera memakannya," ucap Varrel. "Baik tuan, akan segera saya siapkan!" Tutur Bi Ani tak lupa dengan tanda penghormatannya. * Di perjalanan menuju kantor. "Vin kita sudah terlambat tiga puluh menit kali ini." ucap Rama. "Iya aku tau kita terlambat, ini semua juga gara gara kamu kenapa kamu tidak membangunkan ku lebih awal." Gerutu Varrel. "Apa kenapa pulak kau menyalahkan ku, masih mending aku memberitahumu kalau tidak mungkin sampai pagi ini kamu belum menemukan makanan itu." Tukas Rama tak mau disalahkan. "Pokoknya salah kamu!" Desis Varrel kekeh. "Apa? Kau masih menyalahkan ku," Rama terkekeh mendengarnya. "Iyalah! Semua itu gara-gara dirimu!" "Vin, sejak kapan kamu bersifat seperti cewek seperti ini?" tanya Rama yang masih terkekeh. "Kau bilang apa?" Varrel langsung menajamkan tatapannya. "Hahahaha .... Tidak jadi lupa!" sahut Rama. "Apa semua berkasnya sudah kamu siapkan?" Tanya Varrel setelah sesaat terjadi keheningan yang melanda. "Tentu, aku itu rajin tidak sepertimu!" Ledek Rama "Kau yakin berkasnya sudah siap?" Varrel memicingkan tatapannya. "Hahaha .... Tidak perlu berprasangka begitu. ya, ya. Aku memang belum menyediakan berkasnya, itu karena bukan aku yang menyediakannya tapi melainkan Dewi dan Sinta." "Dewi" Vino menaikkan alisnya. "Astaga, aku lupa memberi taumu, kalau pertemuan kita kali ini ada sangkutannya dengan tuan Fernandez. jadi semua berkas-berkas sudah di siapkan oleh nona Dewi." jelas Rama. "Berati itu tandanya selama satu Minggu kedepan Dewi akan kembali bekerja di kantor kita?" Tanya varrel sedikit terkesiap. "Hem." Rama mengangguk cepat. "Bagaimana ini, nanti siang aku ingin mengajak istriku makan siang bersama. kalau sampai dia melihat Dewi ada di kantor dia pasti akan ngambek. dan ini semua salahmu kenapa kamu tidak memberitau ku lebih dulu tentang apa yang kita jalani sekarang." Celutus Varrel. "Astaga Vino kau menyalahkan ku lagi." Sahut Rama merasa tak habis pikir. "Lalu siapa lagi, ayo cepat kita pergi ini sudah sangat terlambat." Gerutu Varrel. "Iya ini juga lagi ngebut, sabar napa." . ** Di rumah, hari ini entah kenapa Zahra tiba-tiba saja teringat akan kantor, sudah lama sekali wanita itu tidak main ke kantor sejak hamil. Dia begitu merindukan suasana kantor dan sahabatnnya. "Bi, sekarang coba bibi rasa apa makanannya sudah pas?" Tanya Zahra menyodorkan sedikit makana yang ia masak ke arah Bi ani yang membantunya memasak. "Iya non," "Sayang kamu lagi ngapain?" tanya Bu Mirna, wanita paruh baya itu sedikit terkesiap melihat menantunya berada di dapur. "Eh Bunda, ini Bunda Zahra lagi masak masakan kesukaan mas Varrel." jawab Zahra. "Benarkah," Bu Mirna langsung menghampiri dan mencoba mencium aroma masakan menantunya. "Sepertinya masakan kamu enak sayang, baunya saja sangat wangi." puji Bu Mirna. "Ini Bun coba Bunda rasa apa rasanya sudah pas." Pinta Zahra langsung saja menyodorkan makanan itu pada mertuanya. "Eeemmm... enak sayang, ini enak sekali, teryata kamu sangat pandai memasak rupanya. Mama yakin setelah Varrel memakan masakan kamu dia pasti akan ketagihan." puji Bu Mirna tersenyum senang. "Buda bisa saja." Wajah Zahra memerah merona seketika. "Kalau begitu Zahra pamit ya Bun, mau mengantar makanan ini ke kantornya mas Varrek." ucap Zahra. "Iya hati hati sayang." sahut Bu Mirna sembari menganggukkan kepalanya. Zahra yang tidak sabar segera menaruh makanan yang ia masak kedalam kota makanan. Sungguh ini pertama kalinya Zahra akan mengantarkan bekal untuk suaminya, bahkan pernikahan mereka sedikit lagi setahu tapi wanita itu baru ini kepikiran untuk mengantarkan bekal makanan siang untuk suaminya. *** Tepat pukul setengah sepuluh siang sebuah mobil Alphard mewah berwarna silver keluar dari rumah. mobil itupun berjalan dengan santainya menelusuri jalan raya, Zahra yang berada di dalam mobil itu menurunkan sedikit kaca mobil mencoba melihat langsung bagaimana padanya jalan raya yang di penuhi berbagai macam mobil dan motor. Kota yang indah, kota yang banyak di penuhi berbagai gedung pencakar langit tak terhitung jumlahnya tapi cukup membuat Zahra terkagum-kagum dengan gedung pencakar langit itu. "Bagus." hanya itu yang keluar dari mulut wulan, wanita itu masih saja menatap gedung pencakar langit. Tidak terlalu wou baginya, karena memang Zahra selama kuliah di luar negeri sudah sering melihat bahkan lebih dari ini. "Pak Yudi" panggil Zahra menoleh ke arah pria jangkung didepannya. "Iya nyonya." sahut pak Yudi cepat tak membiarkan zahra menunggu lama. "Ehm, apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Zahra, ia merasa sedikit tidak enak jika Langsung bertanya pada intinya. "Silahkan nyonya. Tentu saja Anda boleh bertanya apa saja, apapun yang ingin nyonya ketahui." Jawab pak Yudi sekilas matanya yang coklat melirik Zahra dari kaca spion depan. "Aku, cuma ingin tau, apa bapak memiliki seorang istri?" Tanya Zahra. "Maksud saya sudah menikah?" Lanjut Zahra. "Ah, iya nyonya. Tentu saya memilikinya" jawab pak Yudi tanpa sungkan. "Benarkah, berati kamu berstatus menikah dong." "Benar, Alhamdulillah saya sudah menikah dengan pacar saya dan sekarang sudah memasuki dua tahun setengah" jawab pak Yudi tanpa sungkan. " Wah, Hebat! Bapak berpacaran cukup lalu menikah dengan pacar bapak. Dulu aku ingin seperti itu tanpa takdir menjodohkan ku dengan Mas Varrel. Aku dulu kalau pacaran tidak sampai satu bulan, karena selalu putus-putus hehehe." Zahra terkekeh sendiri mengingat masa SMA-nya terbilang pengalaman yang tak pernah terlupakan dalam dirinya. "He-he-he, nyonya bisa saja, Alhamdulillah istri saya mau menerima saya apa adanya, dia tidak terlalu dekat dengan cowok-cowok jadi saja mempercayainya." Kata pak Yudi. "Wah hebat." Zahra terkagum. "Nyonya kita sudah hampir sampai." tutur pak Yudi. "Hah ya, hahahaha aku terlalu banyak bicara sampai tidak sadar sudah sampai rupanya. Oh ya bapak boleh pulang tidak perlu menunggu karena aku mungkin akan lama beranda di kantor!" ucap Zahra. "Tidak apa-apa nyonya, saya akan menunggu anda sampai anda selesai." sahut pak Yudi. "Tidak perlu, bapak boleh langsung pulang, nanti bapak bisa langsung istirahat lagian nanti aku pulang bersama mas Varrel nantinya." ucap Zahra lagi. "Tapi nyonya." "Tidak perlu khawatir aku baik baik saja kok." "Baiklah, kalau nyonya memaksa, terima kasih nyonya atas perhatiannya, saya pamit dulu." "Iya hati-hati dijalan pak." *** Di kantor Meeting selesai semua orang saling berjabat tangan. "Selamat pak Varrel atas kemenangan ada hari ini." ucap seseorang paruh baya seraya menjabat tangan Varrel. "Terimakasih." tutur pria itu sedikit menungging kan senyumannya. "Kalau begitu saya pamit dulu, selamat siang." ucap orang itu lagi lalu langsung pergi meninggalkan ruangan meeting. "Siang." Balas Varrel. "Pak Varrel selamat, saya benar benar kagum dengan kepintaran anda, anda benar benar sangat jenius." ucap tuan Fernandez menyela. "Anda terlalu memuji tuan Fernandez." sahut Varrel. "Kalau saja anda mau menikah dengan anak saya Dewi pasti saya akan sangat bahagia, saya akan menjadi orang yang beruntung di dunia ini." Kata taun Fernandez. "Maaf tuan Fernandez, masalah itu tolong jangan di bahas lagi karena saya sudah menikah saya tidak ingin gara gara masalah kecil ini hubungan saya dan istri saya jadi rentak." tegas Varrel sengaja mengataka hal itu. "Sepertinya anda sangat mencintai istri anda." tutur tuan Fernandez lagi segaja memancing. "Tentu! Karena istri saya adalah segalanya buat saya. Dia bagaikan harta Karun yang begitu berharga, jadi saya tidak akan pernah melepaskannya." tegas Varrel lagi. "Tapi bukankah laki laki itu bisa menikah lagi." Pancing tuan Fernandez penuh maksud. "Bagi saya pernikahan satu kali adalah seumur hidup." VArrel menyunggingkan senyuman sinis. "Tuan Varrel." tuan Fernandez menepuk bahu Varrel pelan."Anda boleh mengatakan itu sekarang, tapi bagaimana suatu hari nanti istri anda meninggal apa anda tidak akan menikah lagi." sambung tuan Fernandez seraya tersenyum licik. "Tuan Fernandez." Bentak Varrel mulai muak dengan apa yang ia dengar barusan. "Tuan Varrel anda tidak perlu meninggikan suara anda, karena hidup ini kita tidak akan tau apa yang akan terjadi kedepannya, ehm. bagaimana kalau kita makan siang bersama." ajak tuan Fernandez. "Tapi kata kata anda cukup membuat saya tersinggung tuan Fernandez yang terhormat." Sahut Varrel. "Ehm, lupakan mari tuan Varrel kita makan siang bersama." "Maaf tuan Fernandez sepertinya saya tidak bisa karena siang ini saya ada keperluan lain." Tolak varrel tidak mau berdiri disana lagi. "Permisi!" Pamit Varrel. "Cih, simbong, sebesar itu kah cinta tuan Varrel pada istrinya. seharusnya aku yang menjadi istrinya bukan wanita bernama Zahra itu, namanya saja sudah kampungan apalagi orangnya dia sungguh tidak pantas bersanding dengan Varrel. hanya aku, hanya akulah wanita satu satunya yang pantas bersanding dengan Varrel. Aku pasti bisa merebut Varrel kembali dari wanita kampung itu." gumam Dewi dari tadi dia hanya dia saja mematung disamping ayahnya. *** Di ruangan Vino "Rama apa Zahra sudah sampai?" tanya Varrel setelah sesat ia membaca pesan dari bundanya kalau istri telah pergi ke kantor membawakan bekal makanan. "Belum Rel, sepertinya istrimu lagi berkeliling kota." jawab Rama. "Kenapa lama sekali." guma pria itu mendengus kesal. Tok ... Tok... Tok... "Itu pasti Zahra, cepat buka pintu." perintah Varrel. dengan cepat Rama bergegas membuka pintu. "Selamat siang tuan Rama, tuan Varrel" ucap Dewi di ambang pintu tak kala pintu ruangan Varrel terbuka wanita itu langsung mulai melangkah masuk ke dalam ruangan. "Dewi" Varrel mengerutkan keningnya. "Tuan muda Varrel, senang bisa bertemu anda kembali, oh ya. Saya kesini membawakan makan siang untuk anda, saya tau anda pasti belum makan bukan." Dewi meletakkan makanan yang ia bawa di meja kerja Varrel. "Tidak perlu repot-repot nona dewi karena tuan muda Varrel sebentar lagi akan maka bersama istrinya." sahut Rama dari arah belakang. "Benarkah, saya tidak tau, tapi kenapa sampai sekarang istri tuan Varrel belum datang juga. Apa mungkin istri anda sudah makan." tutur Dewi. "Anda salah besar Nona Dewi, istri saya pasti akan datang tunggu sebentar lagi." kali ini Varrel yang berbicara. Clek... suara pintu terbuka. "Panjang umur, akhirnya zahra kamu datang juga." ucap Rama mengembangkan senyumnya penuh. "Rama, jangan tersenyum pada istriku." Varrel langsung melototi sekretarisnya. Sementara Dewi yang melihat Zahra datang dan menghampiri Varrel merubah wajahnya menjadi masam, ketidak sukaan terlihat jelas di wajahnya. "Sayang akhirnya kamu datang juga." VArrel beranjak dari kursi kebesarannya melangkah mendekati Istrinya. "Aku membawakan makanan kesukaan mu, mas" ujar zahra. "Benarkah, ehm baunya sangat enak sayang." "Mama bilang rasanya sudah pas tapi aku tidak tau nanti rasanya bagaimana." Kata Zahra. "Sayang masakan apapun yang kamu masak pasti akan sangat enak bahkan kamu tidak perlu menaruh penyedapnya cukup melihat dirimu saja makanannya sudah enak." gombal Varrel. "Hueeekkk.... hueeekkk..." Rama yang mendengarnya berpura pura mual. "Kak Rama kamu kenapa?" tanya Zahra cepat mengalihkan pandangan. "Tidak apa apa, mungkin aku cuma masuk angin saja." elak Rama. Sementara Varrel sudah menatap membunuh ke arah sahabatnya. "Nona Dewi." gumam zahra. "Anda disini juga!" Sambungnya lagi. "Selamat siang nona zahra." sapa Dewi. "Senang sekali bisa bertemu dengan mu di sini." ucap Zahra basa basi. "Saya juga senang bisa melihat anda, kalau begitu saya permisi ada sesuatu yang harus saya kerjakan." pamit Dewi. "Kenapa terburu-buru nona Katrina aku membawakan makanan ayo kita makan bersama." ajak Zahra. "Tidak, terimakasih lain kali saja." elak Dewi lalu langsung pergi. "Jangan menatapnya." ucap zahra saat manik-manik matanya menangkap Varrel sedang melihat kearah Dewi. "Sayang aku tidak menatapnya." elak varrel. "Tapi matamu terus memperhatikannya." "Aku hanya melihat pintu saja." "Awas kalau macam macam, aku pastikan senjatamu itu tidak akan berguna lagi." tegas Zahra. sedangkan Varrel menelan ludahnya dengan kasar ia sudah tau apa maksud dari istrinya itu. Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN