Maaf ini episode chapter 31 asli yang 31 itu 32
Kebalik update.
"Aaaaaa ..." pekik zahra memejamkan matanya erat.
"Masuklah ke neraka wanita jalang." Dira melayangkan tangannya hendak menikam tubuh zahra hingga nyaris mengenai lengan wanita itu, namun beruntung sebelum sesaat itu terjadi tangan Dira sudah di pegang seseorang berada di belakang.
Orang itupun dengan sigap mengerakkan tangannya memutar tangan Dira hingga berhasil menjatuhkan pisau mengkilat itu ke lantai.
Brukkk...
laki laki itu mendorong kuat tubuh Bella hingga membuat wanita itu tergusur ke lantai.
"Sayang kamu tidak apa apa?" tanya Varrel sudah sangat khawatir sontak memeluk istrinya erat, menenangkan wanita itu sedang gemetar.
"Maafkan aku, aku sedikit terlambat." gumam Varrel semakin mempererat pelukannya.
"Ck. seharusnya aku yang kamu peluk bukan bukan wanita kampung itu Varrel, aku yang lebih mencintaimu bukan dia!" Hardik Dira.
Varrel tidak menjawab apapun matanya memerah menahan amarah dan juga sorot matanya sudah membunuh.
"Kalau aku tidak bisa memilikimu maka tidak ada satu orangpun juga yang bisa memilikimu aku bersumpah!" tutur Dira seraya berdiri mengambil kembali pisau tadi.
Sedangkan Varrel matanya langsung menajam menatap lurus kedepan, kerutan di keningnya pun juga ikut mendalam. laki laki itu merenggangkan pelukannya menatap ke arah zahra sudah dari tadi tidak berhenti gemetar.
"Jangan takut aku ada di sini aku akan menjaga kamu dan juga calon bayi kita." Ucap Varrel menenangkan istrinya itu.
Varrel segera membalikkan badannya menatap ke arah sosok wanita yang pernah menjadi mantan ke kasihnya dulu, bahkan tatapnya kini sangat mematikan kerutan di keningnya semakin mendalam.
"Kali ini aku tidak akan mengampunimu lagi, kau sudah melakukan kesalahan terbesar mencoba melukai istri dan calon anakku." ucap Varrel penuh penekanan.
"Bahkan sekarang aku melupakan bahkan kau pernah menjadi tamanku," sambung laki-laki itu.
"Varrel, kumohon jangan lakukan ini kepadaku, aku yang lebih dulu mencintaimu lebih dari apapun, dan aku dulu yang ada di kehidupanmu. Kenapa tidak pernah sekalipun kamu melihat keberadaan ku Rel," ucap Dira manik-manik matanya sudah berkaca-kaca.
"Ck. Apa kau lupa kesalahan pertamamu telah aku maafkan dan aku mengampunimu dan kesalahan terbesa adalah mengulang dan menyia-nyiakan kesempatan yang aku buat." Sahut Varrel meretakkan giginya.
"Varrel apa yang kau katakan kau tidak sungguh sungguh kan dengan perkataan mu itu." Kata Dira melemah.
"Aku tidak sudi kembali lagi ke padamu, apa itu masih belum jelas, dan mulia saat ini juga aku melupakan kalau kau pernah menjadi sahabatku" kali ini Varrel benar-benar menakutkan.
"Tidak Rel, kamu sudah sudah di hasut, kamu sudah memilih pilihan yang salah Varrel kalau aku tidak bisa memilikimu maka tidak satupun juga yang bisa memilikimu, selain diriku" Dira melayangkan tangannya lagi seraya berlari hendak menghampiri Zahra.
"Brukkk..." sebuah pukulan kuat berhasil mendarat di leher belakang Dira hingga membuat wanita itu langsung pingsan terjatuh ke lantai seketika.
"Maaf Bos kami terlambat." ucap seseorang yang tadi memukul , yang merupakan pengawal khusus Varrel.
Ya, karena semenjak kejadian hampir Zahra hampir keguguran gara-gara diberikan obat oleh seseorang, sejak saat itulah Varrel menjadi khawatir. Akhirnya diapun menyiapkan beberapa pengawal khusus untuk menjaga istrinya.
"Kalau sampai terjadi sesuatu pada istriku aku tidak akan pernah mengampuni kalian." Gertak laki-laki itu.
"Seret dia dan lakukan apa yang mestinya kalian lakukan, kalian mengerti." sambung Varrel lagi.
"Baik bos." ucap mereka bersamaan. sementara itu Varrel langsung menghampiri istrinya.
"Sayang apa masih sakit?"
"Sedikit, hanya keram saja."
"Kalau begitu ayo kita ke rumah sakit." ajak Varrel tangannya sudah memegang bahu zahra mencoba membatu wanita itu berdiri.
"Tidak usah kerumah sakit Mas, aku sudah tidak terlalu sakit lagi." tolak wanita itu.
"Tapi kandungan kamu harus di cek sayang, aku takut nanti terjadi sesuatu pada baby kita sayang." bantak Varrel memaksa seraya menggenggam jemari zahra mengajak istrinya itu keluar.
"Mas aku tidak apa-apa sungguh, aku tadi hanya takut kepada Dira saja." bujuk Zahra.
Sementara di meja makan, Dewi sudah memberontak tidak mau diajak keluar, oleh pelayan cafe ataupun pengawalan Varrel.
"Aku bilang tidak ya, tidak. Aku sudah sembuh!" Dewi menghempaskan tangan bodyguard kasar.
"Tapi nona, anda harus di bawa ke rumah sakit untuk melihat keadaan nona." ujar bodyguard itu.
"Tidak perlu aku bisa pergi sendiri." bantah Dewi hendak meninggalkan tempat itu namun tak sengaja matanya menangkap Varrel bersama seorang wanita sedang berjalan ke arahnya perempuan itu langsung mematung di tempat.
"Kenapa kau masih ada disini, tidak tidak berangkat kerumah sakit?" tanya Varrel setelah sesaat berada di depan Dewi.
"Nona Dewi, apa yang ada lakukan disini?" tanya Zahra yang langsung melontarkan pertanyaannya bahkan Dewi belum menjawab pertanyaan dari varrel barusan.
"A-Aku, aku ingin makan. Aku menunggu seseorang!" jawab Dewi sedangkan sedikit terbata-bata.
Tak berselang lama seseorang telah memanggil Dewi dari ambang pintu.
"Dewi?" Panggil orang itu seraya menuntun mendekat.
"Sayang ayo kita pergi." ajak Varrel sengaja mengajak Zahra pergi bahkan kini tangannya merangkul pinggang zahra mesra.
"Hm, iya. nona Dewi,." pamit zahra menundukkan sedikit kepalaya setelah itu langsung mengikuti suaminya.
"Sayang kenapa kamu menundukkan kepalamu seperti itu?" tanya Varrel seraya berjalan dengan tangannya masih merangkul pinggang istrinya.
"Hem, memangnya kenapa? apa aku melakukan kesalahan?" tanya balik zahra menaikkan alisnya.
Bukannya hal yang lumrah jika sedikit menunduk kepada bangsawan, pikir Zahra..
"Tidak, kamu tidak melakuka kesalahan tapi aku heran kenapa kamu menundukkan kepalamu biasanya kamu tidak pernah melakukan hal itu." ujar Varrel.
"Aku mau melihat berapa nomor sepatu yang ia pakai." sahut Zahra sedangkan Varrel yang mendengar itu langsung mengerutkan keningnya dia masih belum bisa mencerna apa yang di katakan istrinya.
"Sayang untuk apa kamu melihat nomor sepatunya, memangnya kamu mau memakai sepatu yang ia pakai?"
"Bukan tapi aku mau menamparnya dengan sepatu yang sebesar ia pakai kalau dia coba coba melirik suamiku lagi." ketus Zahra.
"Bahahaha.... aku baru paham kalau kamu lagi cemburu." Varrel terkekeh kecil.
"Siapa yang cemburu aku tidak cemburu hanya saja aku tidak suka tatapanya saat menatap suamiku."
"Hahaha itu sama aja dengan cemburu sayangku." ejek Varrel.
"Apa jangan-jangan kamu suka ya mas ditatap seperti itu olehnya. Ngaku?" Terka zahra.
"Siapa Dewi!"
"Emangnya siapa lagi kalau bukan cewek ganjen itu yang suka kamu mas, dan kamu pasti juga menyukainya kan"
"Ya, ampun sayang. Dewi itu hanya menyukai suamimu ini yang tampan sedunia, tapi aku sama sekali tidak menyukainya, bagiku kamu adalah salah satu wanita tercantik yang pernah ada."
"Aku gak yakin dengan perkataanmu Mas, bisa jadi kamu berbohong padaku kan" Ketus Zahra.
"Sayang, hey. Dengarkan aku. Ya apa aku ini terlihat seperti pembohong. hatiku sudah penuh dengan dirimu hanya dirimu."
"Apakah laki-laki selalu akan berkata seperti itu jika merayu perempuan?" Tanya Zahra
"Mungkin, tapi aku berkata jujur saya. Aku hanya mencintaimu hanya mencintaimu sayangku." Jawab Varrel
"Sungguh, kamu tidak berbohong kan?'
"Tidak, aku tidak akan pernah berbohong kepada istriku yang cantik ini." Wajah Zahra langsung tersenyum mendengarnya.
"Terimakasih!"