Rumah sakit
"Bagaimana dok keadaan calon anak saya?" tanya Varrel, terlihat laki laki itu sudah tidak sabar menunggu apa yang akan di katakan dokter. Rasa cemas pun menghantuinya.
"Tuan muda tidak perlu khawatir kandungan nyonya muda zahra baik baik saja tidak terjadi hal yang serius hanya keram kecil saja. Saya sarankan nyonya zahra untuk tidak boleh banyak gerak dulu terlebih lagi melakukan pekerjaan yang berat karena itu sangat berdampak buruk bagi kandungan." Jelas sang dokter yang memeriksa keadaan Zahra, sedangkan wanita itu kini merapikan kembali pakaiannya yang sempat terbuka.
"Syukurlah ..." gumam varrel bernafas lega sembari memejamkan matanya sesaat sembari menarik nafas dalam dalam terasa hatinya sangat lega mendengar apa yang di katakan dokter tadi, kalau sampai terjadi apa-apa pada calon bayinya tidak apa yang akan dia lakukan kepada Dira nantinya. Pikir Varrel setelah itu matanya kembali terbuka menatap lurus ke arah istrinya.
"Sayang..." panggil pria jangkung itu.
"Ehm." Zahra yang merasa di panggil pun menoleh cepat.
"Sepertinya kamu harus di kawal sayang agar kejadian ini tidak terulang lagi." ucap Varrel penuh lembut.
"Kawal, semacam bodyguard?" Tanya Zahra mencerna perkataan barusan.
"Iya," laki-laki itu menyahut cepat.
"Untuk apa aku dikawal, tidak perlu! Aku tidak mau di kawal." tolak zahra melambaikan tangannya.
"Tapi sayang, aku takut kejadian ini akan terulang langi. untung saja waktu itu aku datang tepat waktu kalau tidak aku tidak tau apa yang akan terjadi. pokoknya kali ini kamu harus menuruti apa yang aku katakan tidak ada kata kata penolakan titik." tegas Varrel final.
"Hahhhh..." Zahra menarik gusar nafasnya, kalau berdebat dengan suaminya tentu saja dia akan kalah.
"Baiklah, tapi aku mau pak Yudi saja yang menjagaku." tutur zahra cepat.
" Apa pak Yudi, tidak! Tidak bisa..." bantah Varrel tak kala cepat dari istrinya.
"Kenapa tidak bisa, setauku pak Yudi pandai bela diri, dan dia juga pemberani jadi sudah pasti dia bisa melindungiku." jelas zahra.
"Tidak! aku bilang tidak ya tidak, enak saja dia yang mengawalmu, nanti kalau kamu ganti baju dia ikut juga gitu." ucap Varrel sudah membayangkan apa yang akan terjadi nantinya jikalau pak Yudi selalu mengekori Istrinya.
"Astaga suamiku enggak seperti itu juga." balas zahra membulatkan matanya mendengar perkataan Vino barusan.
"Tidak boleh aku mau orang yang mengawalmu bisa berada di sisimu di mana saja." tukas Varrel tidak mau mengalah.
"Di mana saja, maksudmu nanti kalau aku buang air dia ngikutin aku juga gitu nemenin aku buang air besar gitu." ketus Zahra sedangkan Varrel langsung mengangguk cepat kepalanya.
Brukkk...
Reflek zahra memukul kasar lengan suaminya.
"Dasar suami enggak tau malu, kau mau menyuruh orang mengintip aku hah..." tutur zahra dengan suara sedikit kuat. dokter yang mendegar pertengkaran adu mulut zahra dan Varrel pun menggelengkan kepalanya merasa gemes sendiri melihat pasangan ini, sangat jarang sekali ia melihat pasangan posesif seperti ini.
***
"Lepaskan aku, lepaskan aku." terika Dira seraya berusaha melepaskan tangannya yang sudah di ikat dengan tali, ya kini wanita itu telah berada di ruangan khusus peryergapan dengan tangan dan kakinya sudah diikat kuat oleh para penjaga ruangan.
"Prok ... prok ... prokkk ..." Sebuah tupukan tangan terdengar bengitu menggelegar di telinga Dira hingga membuat wanita itu sengera mencari sumber suara.
"Bukan kah, sudah aku bilang untuk melupakan Varrel dan carilah laki-laki lain yang mencintaimu apa adanya Dira." ucap seseorang di ambang pintu seraya berjalan mendekati Dira.
"Rama" guma Dira setelah melihat wajah orang itu dengan jelas.
"Selamat kamu berhasil membuat aku tidak berdaya antara menyelamatkan mu lagi dari amukan Varrel atau membiarkan kamu dihukum olehnya," ucap Rama menghampiri.
"Ram, lepaskan aku. cepat lepaskan aku, aku mohon Ram." Tutur Dira dengan tampang sedihnya.
" Melepaskanmu, bukankah sudah aku lakukan sejak kasus pertama saat kamu meracuni zahra di cafe. Itu saja aku sudah berusaha merayu Varrel untuk melepaskanmu tapi kamu malah mengulang lagi kesalahan yang sama!" Tukas Rama mendekati Dira.
"Padahal aku sudah berharap kamu bisa pergi jauh dari kehidupan Varrel dan belajar untuk mencintai orang lain." Sambung Rama.
"Ram, aku mohon lepaskan aku Ram, bukankah kau pernah bilang kalau kau mencintaiku."
"Mencintaimu, apa kau sungguh berpikir kalau aku masih mencintaimu Hem. ck kau salah besar. aku sama sekali tidak pernah mencintaimu, mungkin dulu saat kau belum saat kau belum tergila dengan uang Varrel saat kau masih polos belum mengenal dunia luar tapi, bisa jadi aku mencintaimu, di saat kamu lebih memilih Varrel ketimbang diriku dan berusaha kekasih sahabatku sendiri maka di saat itulah aku tidak pernah menyimpan rasa itu lagi, jadi jangan pernah berpikir kalau selama ini aku baik denganmu itu karena aku menyukaimu, tidak sama sekali Dira. Kamu dan Varrel sama-sama temanku, kalian sama-sama penting bagiku." Sahut Rama.
"Ram, sebenarnya aku juga sangat mencintaimu t-tapi aku tidak berani mengatakan itu." ucap Dira dengan mata sudah di buat sesedih mungkin hingga siapa saja yang melihatnya pasti akan langsung percaya. tapi berbeda dengan Rama, laki laki itu malah tersenyum miring menatap ke arah Dira.
"Kamu pikir aku percaya. ck, kamu memang wanita berkepala dua kau rela menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang kau inginkan kau sangat pantas di sebut ruba betina ataupun ular yang sangat berbisa bahkan kau lebih licik dari sebutan itu. jangan kau pikir aku akan luluh dengan apa yang kau katakan karena itu tidak akan pernah terjadi. Trik murahan mu ini sungguh tidak berguna, selama ini aku bodoh mungkin karena terus menerus membela kamu dan mengikuti semua perintah kamu, " tapi sekarang tidak lagi Dira, aku sudah capek dengan semua ini.
"Ram, percayalah. Aku sungguh mencintaimu, selama ini aku memendamkan rasa ini karena tidak berani saja. Aku memang mencintai varrel tapi itu semua karena uang, aku ingin kebutuhanku terpenuhi dengan cara mendapatkan Varrel maka aku akan mendapatkan semuanya. Kamu tau, aku disepak keluar dari perusahaannya, karirku hancur, keluarga Varrel juga sekarang memusuhiku semua orang membenciku sekarang Ram, tapi kamu, aku yakin kamu berbeda dari yang lain. Ram, aku mohon lepaskan aku hikkkkkk." Air mata sudah membasahi pipi wanita itu wajahnya menatap nanar kearah Rama berharap mendapat belas kasih dari pria itu.
"Percuma, air matamu tidak akan merubah segalanya. Kamu telah melakukan tindakan kriminal dengan berniat membunuh Zahra. Kau tidak akan diampuni!" tegas Rama.
"Rama Lepaskan aku, lepaskan" seru Dira berusaha keras melepaskan diri, namun karena tali yang kuat membuat ia kesakitan melawan.
"Kalau kamu tidak membebaskan ku maka aku berjumpa akan membuat kalian semuanya menanggung apa yang aku alami ini, Rama aku tidak pergi melupakan ini." Dira semakin berteriak.
"Ck, jaga dia jangan sampai dia lolos. pastikan dia hidup jangan sampai mati karena aku akan memberinya kejutan." ucap Rama melirik anak buahnya lalu langsung pergi meninggalkan tempat itu.
"Baik bos." jawab mereka bersamaan sebelum sesaat Rama melangkah keluar.
"Rama, aku pasti akan membalasmu. Kau tidak akan pernah bisa tenang!" teriak lagi Dira.
"Hey diam." Gerutu para bodyguard.
Bersambung ....