Hari ini saat sinar matahari mernyeruap masuk melalui sela-sela jendela yang ada, sosok wanita cantik terpaksa mengerjapkan kedua bola matanya karena silaunya cahaya matahari yang ada.
Zahra menggeliat diatas tempat tidur, ketika rasa mual kembali menyerangnya. Seperti biasanya rutinitasnya setia pagi, Varrel pria itu dengan sigap membantu istrinya.
Dua dua bulan sudah semenjak zahra keluar dari rumah sakit, Varrel masih tetap tidak di izinkan untuk melakukan lebih kepada istrinya lebih dari sekedar pelukan, bukan tampa alasan memang mengigat kandungan zahra masih saja lemah. bahkan setiap laki-laki itu masuk kamar harus di awasi oleh Bi Ani yang kadang kadang membuat laki-laki itu geram sendiri dengan dengan tingkah laku ibunya itu menurutnya sangat berlebihan seperti itu.
Kini kandungan zahra sudah menjelang lima bulan perutnya pun juga sudah mulai terlihat membuncit Permintaan rasa ngidam setiap hari xahry minta bahkan sampai tengah malam pun permintaan wanita itu harus tetap di penuhi. Biasalah ibu hamil.
Zahra dan Varrel kini tengah berada di salah satu cafe ternama di kota itu, mereka sedang menikmati kepiting rebus karena sadari tadi pagi zahra selalu meminta kepiting rebus. setiap tawa dan candaan zahra layangkan entah kenapa hari ini suaminya sangat lucu hingga tawa wanita itu terdengar di telinga seseorang yang cukup mereka kenal.
"Wanita sialan berani beraninya dia tertawa sedangkan aku menderita di sini. cihhh.... sampai kapan pun aku tidak akan pernah melupakan ini kau harus membayar mahal atas semua ini gadis kampung. Gara-gara kamu sekarang aku dipecat dari perusahaan dan tidak diizinkan untuk ketemu lagi dengan sahabatku sendiri.
Ya, setelah Rama memberitahukan kalau teryata Diralah sosok wanita yang hendak mencelakai Zahra. Dengan berat hari Rama memberitahukan informasi itu, seperti dugaan Rama kalau Varrel marah besar akan hal itu. Namun karena mengingat Dira adalah teman baiknya maka Varrel memutuskan untuk memecat sahabatnya itu dari perusahaan melarangnya untuk bertemu dengannya lagi.
"Mas aku ke toilet dulu ya." ucap zahra di sela sela makannya. Entah kenapa rasa mual kembali menyerangnya saat ini.
"Ehm, jangan lama lama ya sayang." sahut Varrel.
"Iya."
***
Toilet
Zahra berjalan seperti biasa, walau jalannya sedikit ngangkang karena susah membawa perutnya kian membesar. Menuju kearah toilet wanita yang tidak jauh dari meja makannya tadi.
Tanpa disadari zahrt seseorang yang memang menunggunya berjalan mendekatinya.
Suara sepatu seseorang terdengar memasuki toilet wanita langka kakinya yang cepat membuat wanita itu tidak menghentikan niatnya.
"Aaaaa...." pekik zahra ketika mendapat rangsangan kuat di kepalanya, seseorang telah menarik rambutnya kasar dari arah belakang.
"Wanita jalang rasakan pembalasanku, kali ini aku tidak akan mengampunimu lagi matilah kau." ucap Dira seraya mendorong tubuh zahra dengan kuat hingga nyaris perut buncit zahra berbenturan dengan wastafel namun dengan cepat wanita itu membalikkan badannya berusaha menepis tangan Dira yang masih memegang rambutnya.
"Dira ... Apa yang kau lakukan?" Desis zahra seraya mundur beberapa langkah.
"Kau ingin tau apa yang akan aku lakukan, baiklah akan aku beritahu! dengar baik baik. aku mau membunuhmu dan juga bayi sialan mu itu." teriak Dira dengan rahang mengeras mencoba melangkah mendekati Zahra.
Sungguh wajah Dira saat ini bagaimana monster begitu mengerikan.
"A-Apa kau sudah gila." gumam zahra juga mundur.
"Ya, karena kehadiran kamu dan bayimu itu membuat aku gila, gara gara kamu aku kehilangan pria yang aku cintai dan gara gara kamu juga hidupku hancur. Kamu dan bayimu ini akan menerima balasan dariku. Selama aku masih hidup aku tidak akan membiarkan kalian hidup bahagia." ucap Dira penuh penekanan masih melangkah mendekati zahra.
"Dengarkan aku, kita bisa membicarakan ini dengan cara baik baik. Dira, tidak seperti ini," bujuk zahra.
"Tidak ada cara yang lebih baik selain melenyapkan kalian semua." bantah Dira lalu melayangkan tangannya hendak memukul zahra, beruntung dengan cepat zahra memegang tangan Dira berusaha menghindar namun karena dorongan tangan wanita itu yang kuat, hingga membuat zahra terjatuh ke lantai.
"Aaagggrrr..." pekik zahra merasa sakit di area perutnya karena terbentur dengan lantai.
Sementara di meja makan Varrel sudah merasa resah karena Istrinya tak kunjung balik.
"Kenapa lama sekali." gumam laki-laki jangkung itu matanya tak berhenti memandang ke arah jalan yang menuju toilet wanita, bahkan laki-laki tidak fokus lagi dengan makanannya. terasa firasat buruk menghantui batinnya.
"Tuan muda Varrel." ucap seseorang di samping Varrel berhasil membuat laki laki itu segera menoleh ke arah suara.
"Kamu" Tutur Varrel mengerutkan keningnya merasa heran sekaligus sedikit terkesiap dengan keberadaannya putri Fernandez ini, yang merupakan kalangan bisnisnya.
Ya, Varrel dan Rama dibuat terkejut dengan fakta yang mereka dapatkan kalau model bernama Dewi adalah anak dari tuan Fernandez, rekan bisnis mereka. Sebelumnya ia tidak pernah menyangka bahkan ia sudah beberapa kali berkeja sama dengan wanita itu.
"Dewi!" Gumam Varrel sedikit menungging kan senyuman kecil.
"Apa aku boleh duduk di sini?" tanya wanita itu.
"Ehm, ya, tentu." Varrel sedikit mengangguk-angguk kepalanya lalu dengan segala hormat mempersilahkan Dewi untuk duduk didepannya.
"Oh ya sedang apa anda di sini? Apa anda sendirian" tanya Dewi basa basi.
"Aku---"
"Oh saya tau anda pasti sedang makan siang. Ya kan," mata Dewi melirik ke arah meja nampak banyak makanan yang masih tersisa. Namun ekor matanya menangkap dua piring diatas meja.
"Kebetulan sekali saya juga mau makan siang. ehm, apa saya boleh bergabung?" tanya Dewi dengan pedenya.
"Tentu, silahkan." jawab Varrel sedikit mengembangkan senyuman lalu matanya kembali melirik kearah lorong menunggu kedatangan seseorang yang sadari tadi meresahkan hatinya.
"Tuan muda Varrel." panggil Dewi mencoba mencari pehatian Varrel.
"Ya."
"Kepiting, Anda makan makan ini. Bukanya setau saya anda tidak suka kepiting." ucap Dewi yang spontan membuat varrel mengerutkan keningnya, bagaimana bisa wanita ini tau. Apa dia mencobanya mencari tau hal pribadi. Pikir Varrel.
"Itu mungkin dulu sekarang aku sangat suka kepiting!" Sahut Varrel cepat bahkan nyaris tidak memberi jeda dari pertanyaan yang dilontarkan oleh Dewi.
"Sepertinya aku harus segera ke toilet. permisi." Sambung Varrel beranjak bangun dari kursi, matanya kembali melirik ke arah toilet, laki laki itu hendak melayangkan kakinya namun Dewi sudah menghentikannya.
"Tuan muda Varrel ..." panggil Dewi tangannya secepat kilat memegang pergelangan tangan Varrel.
"Maaf," Varrel menepis kasar.
"Aaaaaa...." pekik Dewi pergelangan tangannya terkena kursi dengan sangat kasar akibat dari dorong varrel.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Varrel sontak terkesiap dengan apa yang ia lakukan..
"Sakit, sakit sekali!" Sahut Dewi dengan ekspresi wajah menahan rasa sakit.
"Maaf, aku tidak sengaja." gumam Varrel merasa menyesal.
"Aaaggrrr... rasanya sakit sekali"
"Hey kau kemari." panggil Varrel pada pelayan yang berada sedikit jauh darinya,
"Iya tuan." ucap pria itu seraya menundukkan kepalanya.
"Tolong bawa dia, dia butuh pertolongan!" perintah Varrel.
"Dan kau bawakan nona Dewi, segera ke rumah sakit." sambung Varrel lagi melirik ke arah pria satu lagi.
"Baik taun." Jawab pelayan itu sembari menganggukkan kepalanya pertanda mengerti.
"Tuan muda Varrel." Dewi memegang erat lengan Varrel, menatap seduh ke arah laki laki itu.
"Maaf saya ada urusan yang lebih penting, anda bisa diantarkan oleh anak buah saya. Percayalah mereka tidak akan berani menyakiti anda!"
**
"Kau tidak akan selamat aku pastikan kau akan mati hari ini juga." guma Dira seraya mengeluarkan sesuatu dari dalam tas jinjit nya.
Sementara zahra langsung membulatkan penuh matanya bagaimana tidak benda itu nampak putih mengkilat.
"Pergilah kau ke neraka wanita sialan" teriak Dira langsung melayangkan tangannya
Bersambung .....