"Sayang aku tidak terbiasa memakan buah belum matang, bukanya tadi kamu yang ingin makan mangga muda." tutur Virrel masih terus menggelengkan kepalanya.
"Iya aku memang ingin mangga muda tapi aku inggin kamu yang memakannya bukan aku." Zahran memanyunkan bibirnya.
"Tapi sayang---"
"Hik... hik... hik..."
"Yah sayang kok malah nangis."
"Kamu pasti tidak mau makan kan karena aku yang mengupasnya, coba aja kalau Diira atau mbak Sinta yang mengupasnya kamu pasti langsung mau." ucap Zahra dengan raut wajah sedih, entah kenapa dirinya merasa sangat sedih jika Varrel tidak mau makan buah mangga yang sudah ia kupas.
"Ya ampun sayang bukan begitu, kenapa kamu malah bawa bawa nama mereka sih, kan ini tidak ada sangkut pautnya dengan mereka." tutur Varrel.
"Hik... hik... kalau kamu tidak mau ya sudah aku kasih pak Yudi saja. Atau kalau enggak siapa saja." ucap Zahra setelah itu langsung membalikkan badannya namun belum sempat wanita itu berbalik Varrel sudah lebih dulu memegang tangan zahra.
"Jangan kasi mereka, aku sudah susah susah mengambilnya kamu mau kasi mereka." protes Varrel.
"Bukannya kamu tidak mau." balas Zahra.
"Siapa bilang aku tidak mau sini akan aku habiskan semua." gerutu Varrel seraya dengan cepat tangannya mengambil potongan buah mangga.
"Hem." Varrel langsung memejamkan penuh matanya, laki laki itu benar benar mengetarkan giginya, bagaimana tidak rasa asam terasa sangat kuat di lidahnya. Zahra yang tadinya memanyunkan bibirnya pun mulai sedikit demi sedikit mengembangkan senyumannya.
"Aaaa..." Zahra kembali mengambil potongan mangga melayangkan potongan itu ke mulut suaminya.
"Cukup sayang!" Varrel memegang perutnya, laki laki itu benar benar tidak tahan dengan cepat ia pergi ke kamar mandi memuntahkan semuanya apa yang ada di mulutnya.
"Hahhh.... buah mangga apaan ini kenapa rasanya asam sekali." gerutu laki-laki itu.
"Sayang.... aaakkk lagi." ucap Zahra kembali mengambil potongan mangga.
"Sayang buah ini sangat asam, aku tidak suka." Varrel sudah mengigil ngilu.
"Aaaa.... pokoknya kamu harus habiskan." Rengek zahra seraya tanganya dengan cepat menyuapi Vino memaksa suaminya memakan buah mangga.
*
Sudah lebih dari 20 menit Varrel belum juga keluar dari kamar mandi entah apa yang di lakukan laki laki itu, sedangkan zahra sudah uring-uringan sendiri menunggu dari tadi.
"Kenapa lama sekali." guma wanita itu mendengus kesal.
Clek...
Sontak zahra langsung memalingkan wajahnya dengan cepat menatap ke arah kamar mandi senyuman yang dari tadi tak henti hentinya di bibir wanita itu pun kini mulai memudar dengan sendirinya tak kala melihat suaminya menatap tajam ke arahnya.
Varrel melangkah pelan pelan mendekati istrinya mencengkram lengan wanita itu hingga membuat Zahra tidak bisa bergerak sekaligus membulatkan penuh matanya.
"Mas ..."
"Suuuttttt..." Varrel mengatupkan telunjuknya di bibir ranum Istrinya mengisyaratkan untuk tidak berbicara.
"Sudah cukup kau menyiksaku hari ini sekarang giliran, kau harus membayar semuanya atas apa yang telah kau lakukan." gumam pria tampan itu lalu pelan pelan ia menjatuhkan Zahra di atas rajang menindih istrinya itu.
"Beby kamu baik baik ya di sana Dedy mau menghukum Mami mu sebentar karena sudah seharian penuh Dedy di kerjain oleh Mami sekarang giliran Dedy mengerjai Mami mu sayang.suuutttt kamu jangan berisik ya." bisik Varrel di perut Zahra
seraya mengecup perut itu beberapa kali.
"Mas kata dokter---"
"Suuuttttt.... aku tidak menyuruhmu berbicara diamlah." sahut Varrel memotong ucapan wanitanya.
Varrel pelan pelan penuh lembut mencium setiap lekuk bentuk tubuh istrinya itu. dengan tangannya sudah menjelajahi area terlarang.
Desahan demi desahan pun zahra keluarkan teryata wanita itu sudah mulai menikmati permainan yang di lakukan suaminya hingga membuat ia lupa akan apa yang di katakan dokter tadi siang.
**
Di ruang tamu ibu Mirna yang merupakan ibunda Varrel datang mengunjungi anaknya. Rasa khawatir tentang menantu dan calon cucunya. Bu Mirna membawakan berbagai makanan dan s**u khusus ibu hamil.
"Kenapa belum turun juga." guma Bu Mirna.
"Bi" panggil wanita tua itu.
"Iya nyonya."
"Bi, panggil Zahra dan Varrel kenapa mereka belum turun juga, apa mereka tidak mau makan malam." perintah Bu Mirna.
"Baik nyonya." Sahut Bi Ani.
Tok... tok... tok... (Suara ketukan pintu terdengar jelas di telinga Zahra dan Varrel hingga membuat mereka mendengus kesal terutama Varrel, laki laki itu mengerutkan keningnya dalam.)
"Aaagggrrr... menganggu saja." gerutu Varrel meremas seprei kuat.
"Mas cepat buka pintunya kali aja ada yang penting." ucap Zahra seraya tangannya menarik selimut mencoba menutupi tubuh istrinya masih polos.
"Aku akan memberinya pelajaran." Varrel beranjak dari ranjang segera meraih handuk yang tergantung di dinding tembok, melilitkan handuk itu menutupi area pinggangnya hingga lutut. lalu langsung melangkah membuka kan pintu.
"Ada apa?" tanya varrel dengan nada kesal setelah sesat ia membuka kan pintu dan melihat Bi Ani sudah berdiri tegak di sana menampakkan gigi putihnya.
"T-Tuan muda."
"Aku bertanya ada apa bibi mengutuk pintu? menganggu saja." ketus Varrel merasa jengkel karena aktifitasnya terganggu.
"Tuan dan nyonya di panggil nyonya besar." ucap Bi Ani cepat." matanya tak berkedip sekalipun bagaimana tidak belahan d**a sixpack varrel terlihat sangat jelas di mata wanita paruh baya itu, bahkan wanita itu menelan ludahnya sangat kasar.
Tentu karena Bi Ani adalah wanita normal bukan, apalagi dia seorang janda tentu saja melihat hal ini membuat bulu romanya berdiri.
"Mama disini?" Bi Ani mengangguk kepalanya cepat.
"Hahhh.... Mama tidak bisa melihat anaknya senang sedikitpun. Bilang sama Mama aku dan Istriku mau istirahat kami sangat capek." tutur Varrel lalu segera menutup pintu.
"Menganggu saja tidak tau orang lagi enak enakan apa." gerutu Varrel seraya berjalan mendekati ranjang.
"Siapa mas?" tanya Zahra merasa heran saat melihat suaminya nampak kesal.
"Bukan siapa siapa sayang ayo kita lanjutkan lagi." ajak Varrel hendak menaiki ranjang namun belum sesaat ketukan pintu kembali terdengar.
"Aaagggrrr...." Varrel menjambak rambutnya sendiri." Bibi kali ini aku benar benar tidak akan mengampunimu." seraya melangkah mendekati pintu.
"Dasar wanita tua sudah mulai bosan hidup apa" ketus Varrel seraya membukakan pintu, dia tidak menyadari kalau yang mengetuk pintu adalah Mamanya sendiri.
Sebuah tatapan menusuk menatap ke arah Varrel.
"Anak ingusan beraninya kamu mengatai Mamamu wanita tua." Desis Bu Mirna mengacak pinggang.
"Bun-bunda!"
"Apa kamu ingin jadi anak durhaka." ucap ibu Mirna masih menatap tajam ke arah anakn.
"Bu-bunda b-bukan begitu maksud Varrel." seraya menggelengkan kepala.
"Lalu apa, aku wanita bau tanah hah, wanita tua tak layak lagi hidup hahhh..." gerutu lagi Bu Mirna sementara pria tampan itu dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Cepat turun." Tukas Bu Mirna.
"Tidak Mah, aku dan zahra mau istirahat." tolak Varrel.
"Istirahat kamu bilang, istirahat apa tidak memakai baju seperti ini. ingat Varrel istri kamu itu lagi sakit kandungannya itu sangat lemah sangat berbahaya untuk berhubungan sekarang. kamu mau zahra masuk rumah sakit lagi." tutur Bu Mirna.
"Tidak, Varrel tidak mau zahra masuk rumah sakit lagi. tapi sampai kapan harus menunggu?"
"Tunggu sampai istrimu selesai melahirkan." sahut Bu Mirna cepat.
"Melahirkan, itu sangat lama."
"Resiko, udah cepat keluar tidur sana di kamar tamu jangan ganggu istrimu."
"Bi Ani" panggil Bu Mirna.
"Iya nyonya."
"Perketat kamar ini jangan biarkan anak ini masuk." tutur Bu Mirna final.
"Siap nyonya?"
Bersambung .....