"Iya, bahkan Mama lebih parah, istrimu masih mending ngidam buah mangga masih mudah di cari, lah Mama dulu waktu ngidam kamu lebih parah dari buah mangga." jawab Ibunda varrel.
"Memangnya waktu itu mama mengidam apa?" tanya Varrel lagi.
"s**u sapi liar" jawab Ibunda varrel cepat.
"Heh. s**u sapi liar, sapi yang besar-besar itu, yang makan rumput" Varrel menelan ludahnya sangat kasar.
"Iya sapi yang paling besar. sampai sampai Papa kamu sepuluh hari sepuluh malam nyariin tu sapi bhabis melahirkan untuk Mama." Sahut Ibunda varrel
"Hueeekkk... hueeekkk..." sontak Varrel langsung memuntahkan air ludahnya merasa jijik.
"Kamu kenapa?" tanya Ibunda mengerutkan keningnya.
"Mah jorok Mah... hueekkk... masak Varrel di kasih s**u sapi liar sih" gerutu laki-laki itu.
"Itukan kamu sendiri yang mintak." Sahut cepat ibunda varrel.
"Enggak! Varrel kan masih di dalam perut mana mungkin Varrel bisa ngomong sama Mama" bantah Varrel.
"Iya memang kamu itu tidak bisa ngomong tapi itu kan bawaan bayi Varrel, bawaan ibu hamil. kamu tau ada satu lagi ngidam Mama waktu hamil kamu." Celutus ibunda varrel.
"Apa?"
"Mama mengidam ingin peluk anjing laut."
"Anjing laut"
"Iya Anjing laut, anjing laut yang berada di sungai itu sampai sampai ayah kamu makek kostum anjing laut betina agar bisa menarik perhatian anjing laut jantan supaya keluar dari sungai. Terus kalau udah keluar langsung di bius di buat pingsan, setelah itu baru di bawa pulang. hebat kan Papa kamu dia memang benar benar laki laki jentelmen berani berbuat berani bertanggung jawab." ucap ibunda varrel bangga.
"Teryata perjuangan Papa lebih mengerikan dari pada perjuangan ku."
"Hem..." Ibunda varrel sudah menahan tawanya dalam hati, sungguh rasanya ia ingin sekali tertawa terbahak-bahak sekarang melihat anaknya begitu polos dibohongi.
**
Setelah mampir sebentar dirumah mertuanya kini zahra dan varrel sudah kembali pulang ke rumah mereka.
"Nyonya, nyonya, anda sedang apa?" tanya Bi Ani ketika melihat Zahra mengotak atik dapur dia bahkan menyuruhku para pelayan dapur untuk keluar.
"Ah, Bi Ani, bibi rupanya. Sini bantuin aku" ucap wanita itu.
"Baik nyonya, apa yang harus saya lakukan?" tanya Bi Ani.
"Bantuin aku cari pisau buah." jawab Zahra matanya masih melirik setiap sudut dapur mencari pisau buah. Karena ruangan dapur yang besar sehingga membuat ia sedikit kesusahan menemukan apa yang ia cari.
"Pisau buah ada di sana nyonya." tunjuk Bi Ani atas atap lemari, di sana sudah tersusun rapi berbagai macam pisau.
"Em, di sini rupanya." Gumam Zahra langsung mendekati apa yang ditunjukkan oleh bi Ani dan meraih pisau itu.
**
Apartemen Setia Budi.
"Pergi kamu, sialan. Kamu sama sekali tidak bisa membantuku!" gumam Dira mendengus sembari memaksa seorang laki-laki yang setengah telanjang disampingnya. Mendorong pria itu untuk turun kebawah.
"Kau mengusirku!" Desis pria itu yang tak lain dan tak bukan adalah.
"Ya, kau sama sekali tidak berguna. Jadi cepat pergi dari apartemenku."
"Tidak berguna katamu, kau yang tidak berguna!" Balas pria itu dengan suara sangat tinggi.
Dira, wanita itu spontan ketakutan melihat ketegasan pria didepannya Sungguh ini pertama kalinya bagi dia melihat pria itu seperti ini. Sebelumnya tidak pernah karena laki-laki itu selalu bersikap lemah lembut kepadanya. Dan menuruti semua keinginannya.
"Kau ingat, asal kamu tau, aku bertahan sampai sekarang mengejarmu karena aku benar-benar mencintaimu, tapi sepertinya kamu tidak menghargai perasaanku!"
"Maaf!" dengan bibir bergetar Dira berucap. Pandangannya menunduk kebawah sembari meremas jemarinya.
"Hahhhhh .... Cepat mandi bersiap-siap, kau harus pergi dari sini sebelum semuanya terlambat! Aku tidak yakin kamu diampuni" ucap pria itua kali ini nada bicaranya sudah rendah.
Entah kenapa hatinya tidak tega melihat Dira ketakutan seperti itu, sungguh.
"T-tapi, aku takut varrel?" ucap Dira mencoba menengadahkan kepalanya menatap manik-manik pria didepannya. Matanya pun sudah berkaca-kaca menahan bendungan air siap jatuh disana.
Pria itu membuang nafas panjang, lalu sesaat kemudian kembali mendekati ranjang dan langsung membawa Dira kedalam pelukannya.
Mengecup pelan dahi wanita itu.
"Maafkan aku!" gumamya semakin mempererat pelukan.
"Hikkkkkk ...." Akhirnya tangisan Dira pun tumbang. Menangis pilu di bidang d**a sixpack pria itu. Walau sudah sering dia merasa d**a sixpack itu. Bahkan menciumnya berkali-kali.
***
Suara langkah kaki yang begitu cepat terdengar sayup sayup di telinga Varrel, laki laki segera melirik ke arah pintu. mengetahui seseorang akan datang masuk ke dalam kamarnya.
Clek... (suara pintu terbuka lebar seseorang berdiri di sana mengembangkan senyuman penuh di bibirnya yang agak ke merah-merahan, begitupun juga dengan Varrel, laki laki itu langsung saja berdiri melangkah mencoba menghampiri.)
"Mas ... " Panggil zahra pelan.
"Ehm,"
Zahra tak henti hentinya mengembangkan senyumannya.
"Tebak aku membawa apa." sambung wanita itu lagi dengan tanganya sadari tadi berada di balik punggung menutupi sesuatu yang akan hendak ia berikan ke pada suaminya ini.
"Apa kamu ingin mengajak aku bermain tebak tebakan?" sebuah anggukan cepat berhasil di lakukan oleh zahra membernarkan, terlihat wanita itu sangat bersemangat tak sabar menunggu apa yang akan di katakan Zahra nanti.
"Baiklah." Varrel mengelus-ngelus dagunya pelan mencoba menerka-nerka.
" Apel." tebak zahra, ia yakin istrinya pasti membawa buah apel.
"Bukan." Zahra menggeleng cepat wajahnya pertanda kalau tebakan suaminya salah.
"Kopi, kamu pasti membawakan aku kopi kan." Varrel menaik turun kan alisnya ia yakin kali ini tebakannya pasti benar.
"Salah."
"Salah." guma Varrel mengerutkan keningnya hingga kerutan itu terlihat jelas di mata istrinya, wanita itu tersenyum penuh kemenangan.
"Tara ..." Zahra akhirnya wanita itu menunjukkan apa yang ia bawa.
"Mangga."
"Ya, aku ingin kamu makan mangga ini." ucap Zahra penuh semangat. sedangkan suaminya sudah ngilu sendiri melihat buah mangga yang terlihat masih sangat muda itu.
"Ayo Dedy cepat buka mulutnya Mami akan menyuapi Dedy sekarang. aaaa..." seraya tangan zahra lagi sembari mengambil sepotong buah mangga mengangkat tangannya hendak menyuapi suaminya ini. namun dengan cepat suaminya segara menggelengkan kepalanya.
"Sayang jangan, aku tidak bisa memakan buah belum matang." elak Varrel menutup mulutnya rapat rapat.
"Aaaaa.... kamu harus makan ini, pokoknya kamu harus makan." rengek zahra.
"Sayang aku tidak terbiasa memakan buah belum matang, bukanya tadi kamu yang ingin makan mangga muda." tutur Virrel masih terus menggelengkan kepalanya.
"Iya aku memang ingin mangga muda tapi aku inggin kamu yang memakannya bukan aku." Zahran memanyunkan bibirnya.
"Tapi sayang---"
"Hik... hik... hik..."
"Yah sayang kok malah nangis."
"Kamu pasti tidak mau makan kan karena aku yang mengupasnya, coba aja kalau Diira atau mbak Sinta yang mengupasnya kamu pasti langsung mau." ucap Zahra dengan raut wajah sedih, entah kenapa dirinya merasa sangat sedih jika Varrel tidak mau makan buah mangga yang sudah ia kupas.