bab 27

1084 Kata
"Roni" wanita itu kini telah tiba didepan, mengambil anjing galak tersebut. Dan anehnya anjing itupun langsung terdiam tenang dalam pelukan si wanita. "Maaf, tuan. Anjing saya suka galak sama orang baru," ucap wanita itu. "Hahhh, untunglah kamu datang!" Varrel tersenyum gentir. "Oh, ya. Ada keperluan apa ya. Tuan datang kerumah saya?" tanya wanita itu sembari melirik Varrel dari ujung kepala hingga kaki. Terlihat jelas dari penampilan Varrel yang tidak seperti orang biasanya. "Hmm, begini, istri saya sedang hamil jadi dia menginginkan mangga itu." Jelas Varrel. "Mangga itu?" tunjuk wanita cantik itu memastikan setelah melihat kearah yang ditunjukkan Varrel barusan. "Iya." Varrel menganggukkan kepalan ya dengan cepat. "Oh, Ambil saja tuan, tidak apa apa itu punya saya kok, mari masuk." ucap wanita itu lagi seraya membuka gerbang penuh dan mempersilahkan Vino masuk. "Tuan ambil saja, saya mau membawa anjing saja masuk dalam dulu, takutnya dia akan mengongong lagi nantinya." tutur lagi wanita itu. "Ah, iya." "Roni cepat masuk! buat malu saja kamu." menatap tajam ke arah anjing peliharaannya. "Dasar anjing gila, untung saja tuanmu cepat datang kalau tidak kamu pasti sudah kuhabisi!" gumam Varrel berkata layaknya seorang pemberani menatap anjing galak yang dipangku oleh wanita itu hingga lenyap dari pandangannya. "Beby kamu dan Mami berhasil mengerjai Dedy hari ini. hahhh... awas kalian berdua Dedy akan membalasnya nanti malam." gumam Varrel membuang nafas kasarnya. lalu ia berusaha mencoba memanjat pohon itu. sudah 10 kali Varrel berusaha memanjat namun tidak berhasil lagi lagi pria jangkung itu jatuh ke bawah. "Aaagggrrr... kenapa susah sekali." gerutu Varrel kesal. "Aku tidak boleh menyerah demi istri dan anakku, aku harus mendapatkan buah mangga itu. baiklah." Varrel melepaskan jas dan kemeja yang ia kenakan, laki-laki itu juga melepaskan celana dan sepatu, ya kini pria jangkung itu hanya menyisakan kaus hitam dan celana pendek yang masih melekat di tubuh kekarnya itu. "Beby kau akan lihat perjuangan Dedy sekarang." gumam Varrel lalu langsung berusaha memanjat pohon itu lagi. "Aaagggrrr..." *** "Huufff...." suara nafas Varrel nampak tak beraturan." akhirnya" gumamya seraya mengembangkan senyumannya atas keberhasilannya. Ya, Varrel kini sudah berada di atas cabang pohon mangga. "Sayang ..." panggil pria itu melambaikan tangan ke arah zahra di ujung sana. Zahra yang melihat suaminya melambai pun juga ikut melambai. "Tunggu aku akan membawakan buah mangga ini untukmu!" Teriaknya. "Hufff..." Kini Varrel mulai memetik satu persatu buah mangga dan menjatuhkannya ke bawah. Setelah ia rasa sudah cukup barulah ia mencoba turun, awalnya Varrel tidak berani apalagi melihat kearah bawah. Dia langsung menelan salivanya karena sangking takut. Akhirnya dari pada terus menerus memikirkan rasa takut ia pun berhasil turun. Tapi nyaris saja tubuhnya terjatuh kebawa, beruntung tangannya masih memegang pohon mangga erat. "Hahhh hhhhh ...." suaranya terdengar ngos-ngosan. Setelah sesaat kedua kakinya berhasil menginjakkan tanah. Setelah ia rasa kelelahannya sudah pulih laki-laki itupun beranjak memakaikan kembali pakaiannya. "Tuan..." panggil wanita cantik tadi berada belakang Varrel sembari melayangkan langkah kakinya mendekati Varrel. "Ehm," Varrel-pun yang mendengar itu segera menoleh, nyaris saja tubuhnya terjatuh karena ketidak seimbangan saat menoleh cepat. "Tuan hati-hati!" ucap wanita itu. "Ahh, iya. Saya tidak apa-apa!" Sahut Varrel menungging kan senyuman kecil. "Ini kantong plastik." ucap wanita itu lagi seraya menyerahkan apa yang ia bawa. "Terima kasih." Balas Varrel dengan sedikit senyuman lalu langsung mengambil dan memasukkan buah mangga yang ia petik tadi. "Terima kasih, ini uangnya." Ucap varrel lagi mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribu dari dalam dompetnya. "Oh, tidak perlu tuan, saya ikhlas kok." tolak wanita itu. "Tidak apa apa ambil saja." paksa Varrel. "Tidak, tidak perlu tuan terima kasih." "Tidak mau?" tanya Varrel lagi memastikan berhasil mendapat anggukan kepala cepat dari wanita itu. "Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu." pamit Varrel. "Iya tuan, hati hati." Kata wanita itu ramah. "Gong .... " suara teriak anjing galak berhasil membuat ketakutan dan berlari terbirit-b***t keluar dari pakarangan rumah. Tubuhnya nyaris saja tergusur kedepan karena kesandung tidak hati-hati dalam berlari. "Hahhh...." suara nafas tak beraturan keringat pun juga sudah mulai bercucuran di dahi laki laki itu. "Sayang ..." guma Varrel ngos-ngosan berlari menghampiri istrinya. "Yes, mas kamu berhasil!" Seru zahra menepuk tangannya seraya loncat. "Astaga zahra." guma ibunda varrel langsung memegang bahu menantunya. "Ingat kamu itu lagi hamil, kamu tidak boleh loncat seperti itu kasian anak kamu." gerutu Ibunda varrel masih memegang erat bahu menantunya itu. "Hehehe .... Maaf bunda, zahra lupa." seraya menepuk jidatnya sendiri. sedangkan ibunda varrel bisa hanya menggeleng geleng kan kepalanya melihat menantunya yang satu ini. "Sayang ini." tutur Varrel kini sudah sampai seraya tangannya menyerahkan kantong plastik ke arah zahra. "Ye... terima kasih." ucap Zahra langsung mengambil kantong palstik itu dari Varrel. "Hahhh... hahhh... hahhh..." "Tuan muda tidak apa-apa?" tanya Yudi menyadari kalau bosnya itu bernafas tak beraturan. "Sangat tidak apa apa, hahhh... aku itu tadi di kejar anjing gila" ketus Varrel. "Anjing gila," Pak Yudi tersenyum kecil. "Bapak menertawakan saya," Varrel reflek memukul bahu Yudi sedikit kasar hingga membuat laki-laki itu terdiam seketika. "Sudah-sudah, ayo kita pulang!" ajak ibunda varrel. "Sayang..." panggil laki-laki itu pelan. "Kau lihat pak Yudi dia tidak menghawatirkan ku sama sekali." Adu varrel lagi kesal. "Sabar tuan, ini merupakan sebuah ujian untuk anda." ucap pak Yudi. "Berhenti bapak pasti ingin tersenyum lagi kepadaku kan." tegas Varrel, lalu laki laki itu langsung berjalan mengikuti istrinya. "Hahaha... nasib nasib." *** Sebuah mobil Alphard berwarna putih kembali berjalan mulus menelusuri padatnya jalan raya dari mobil yang berlalu lalang, hingga tak lama kemudian memasuki kawasan mansion besar, mobil itupun berhenti tepat di depan pintu utama mansion. "Ye... makan mangga makan mangga." cerocos Zahra sadari tadi tidak pernah menghentikan kata kata itu, bumil itu benar benar di buat senang oleh buah mangga. "Sayang hati hati turunnya." tutur Varrel menasehati Istrinya karena memang zahra hampir kejedot atap mobil sangking terburu buru ya turun. "Aku tidak apa apa." ucap Zahra lalu langsung berlari ke kecil masuk ke dalam mansion. "Lihat lah istrimu di sangat senang dapat buah mangga, ehm. Mama dulu juga seperti itu waktu hamil kamu." tutur Ibunda varrel menghampiri anakkya mengajak masuk bersama. "Em. Mama seperti itu juga saat hamil Varrel?" tanya pria itu menatap mamanya. "Iya, bahkan Mama lebih parah, istrimu masih mending ngidam buah mangga masih mudah di cari, lah Mama dulu waktu ngidam kamu lebih parah dari buah mangga." jawab Ibunda varrel. "Memangnya waktu itu mama mengidam apa?" tanya Varrel lagi. "s**u sapi liar" jawab Ibunda varrel cepat. "Heh. s**u sapi liar, sapi yang besar-besar itu, yang makan rumput" Varrel menelan ludahnya sangat kasar. "Iya sapi yang paling besar. sampai sampai Papa kamu sepuluh hari sepuluh malam nyariin tu sapi bhabis melahirkan untuk Mama." Sahut Ibunda varrel Bersambung .....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN