"Sayang ..." Varrel membulat penuh matanya tak percaya mendengar perkataan istrinya barusan.
"Oooo begitu rupanya. Dasar anak nakal, rasakan ini. sekali lagi kamu menganggu menantu dan calon cucuku akan aku tarik ni kupingmu sampai hilang di tempatnya." ucap Bunda varrel seraya menjewer kuping anak semata wayangnya.
"Aaagggrrr sakit Mah." rengek pria itu mengelus ngelus kupingnya kini sudah merah seperti tomat.
"Awas kalau kamu macam macam sama menantuku." Ancam Ibunya.
"Eh bunda baru ingat, astaga. Varrel apa kamu sudah memberitahukan kepada mertuaku tentang Zahra masuk rumah sakit?" Ibunda varrel menepuk jidatnya sendiri pelan.
"Belum, Mama dan papa mertua lagi di luar negeri. Jadi aku tidak berani menganggu mereka, lagian tidak ada kejadian yang serius!" Jawab varrel.
"Hah, syukurlah. Benar juga, kalau kamu beritahu takutnya mereka khawatir nantinya." Balas Ibu Verrel.
"Kalau begitu, ayo sayang. kita pulang, kamu pasti sudah tidak sabar pergi dari sini bukan." ajak ibunda varrel seraya memegang lembut tangan Zahra. Sungguh zahra merasa sangat bahagia mempunyai mertua yang sangat baik sebaik wanita paruh baya didepannya ini.
"T-tapi Mah kata dokter---"
"Sudah kamu tidak perlu khawatir Mama sudah membicarakannya dengan dokter. Kamu sudah diizinkan pulang." sahut ibunda varrel cepat.
"Mama mau membawa istriku ke mana?" tanya Varrel berusaha mencegah.
"Ke Thailand! emang kamu pikir Mama mau membawa istrimu kemana kalau bukan pulang kerumah heh!" ketus wanita paruh baya itu.
"Tapi Mah, biarkan zahry pulang bersamaku saja."
"Cepat menyingkir jangan halangi kami kamu bisa membuat menantuku stres lama lama di sini. Ayo sayang kita pulang." sambung Ibunda varrel seraya memaksa menerobos.
***
Mobil milik ibunda varrel kini telah keluar dari parkiran rumah sakit, mobil itu nampak berjalan mulus dan santai, menelusuri ibu kota, padatnya mobil di jalanan membuat sedikit macet.
"Mas ... " panggil Zahra menatap ke arah suaminya.
"Hem ..."
"Aku mau makan mangga."
"Mangga, hm baiklah nanti kita mampir di supermarket." balas varrel.
"Aku tidak mau yang ada di supermarket mas, aku maunya yang baru di petik dari pohonnya." rengek zahra memanyunkan bibirnya.
"Aduh Varrel kamu bagaimana sih, ibu hamil itu maunya buah yang segar bukan buah yang udah layu. Emang kamu mau anak kamu layu kayek toge." celutus ibunda varrel berada di bangku depan sedangkan zahra dan Varrel berada di bangku belakang.
"Enggak." sahut pria itu cepat diikuti kepalanya menggeleng.
"Aku engga mau anakku layu seperti toge. Baiklah Beby Dedy akan mencarikan mangga yang kamu inginkan." sambung Varrel lagi seraya mengelus ngelus perut istrinya yang masih nampak rata.
"Makasih Mas." Zahra mengembangkan senyumannya penuh. Tampa sengaja bola mata zahra melirik sela sela jendela dan terlihat pohon manga nampak berbuah di belakang sana.
"Itu, Mas berhenti!" teriak zahra, berhasil membuat mobil yang di kemudikan Yudi berhenti mendadak hingga membuat semua orang serentak tergusur ke depan.
"Aaahhhh .... Yudi apa yang kamu lakukan! kenapa tiba-tiba kamu rem dadakan seperti ini." gerutu ibunda varrel dengan nafas tak beraturan. Bagaimana tidak wanita tua itu hampir saja kehilangan jantungnya karena terkejut.
"M-Maafkan saya nyonya saya tidak sengaja, tadi saya mendengar nyonya muda suruh berhenti jadi saya berhentikan." bela pak Yudi sedikit terbata-bata.
"Kamu menyalahkan istriku." protes Varrel di bangku belakang.
"B-Bukan seperti itu tuan muda, Maksud saya--"
"Zahra," guma ibunda varrel terkejut saat melihat menantunya sudah keluar dari mobil.
"Sayang ..." Varrel yang baru sadar sontak langsung keluar dari mobil.
"Sayang kenapa kamu turun?" tanya pria jangkung itu seraya berjalan mendekati istrinya.
"Mas aku mau makan buah itu." tunjuk bumil ke arah buah mangga masih hijau bergerandut banyak di pohonnya.
"Yang mana?" Varrel melirik kearah mana istrinya.
"Itu yang berada di rumah itu." tunjuk zahra lagi.
"Y-yang itu?" Varrel menelan salivanya.
"Kamu yakin? sayang itu buahnya tinggi sekali." imbuh Varrel menelan ludahnya kasar.
"Sayang aku tidak mau tau pokoknya aku mau buah itu." rengek Wanita itu.
"Tapi sayang buah mangganya sangat tinggi."
"Kamu mau nanti anak kamu ileran." ketus Zahra.
"Tidak, baiklah sayang kalau kamu memaksa demi anak kita akan aku usahain." tutur Varrel.
"Pak Yudi." panggil pria jangkung itu.
Yudi yang merasa namanya di panggil pun segera turun dari mobil. Yang diikuti oleh varrel setelah itu.
"Iya Tuan muda." sahut Yudi sembari melangkah cepat mendekati majikannya.
"Cepat kamu ambil buah mangga itu sekarang." Perintah Varrel seraya menunjukkan apa yang di tunjuk Wulan tadi.
"Mas aku tidak mau pak Yudi yang mengambilnya aku mau kamu." rengek zahra lagi.
"Sayang aku tidak bisa memanjat pohon, tapi kalau pak Yudi bisa memanjat. Iya kan?" Varrel sudah menatap tajam Yudi kedua bola matanya memutar mengancam.
"Tidak, nyonya. Saya tidak bisa memanjat." tutur pak Yudi menggelengkan kepalanya.
"Yudi." Varrel melotot kan matanya.
"Biarkan Yudi saja yang mengambilnya." Sela Ibunda varrel di belakang.
"Nanti kalau cucuku sudah lahir Yudi saja yang jadi ayahnya." sambung wanita paruh baya itu lagi.
Varrel yang mendengar itupun langsung menaikan alisnya." Loh kok pak Yudi sih, kan aku. aku yang berolahraga tiap malam bersama istriku masak Dedy nya pak Yudi, enak aja." sahut Varrel tidak terima.
"Kalau kamu Dedy nya kenapa tidak kamu saja yang mengambilnya, kenapa malam menyuruh orang lain kan itu anak kamu yang minta." cetus ibunda varrel merasa geram dengan tingkah anaknya yang satu ini.
"Baiklah..." Varrel membuang nafas kasarnya.
"Sayang..." Varrel berjalan mendekati istrinya lalu mendekatkan wajahnya di telinga.
"Sayang kamu harus membayar ini semua, pokoknya nanti malam aku akan menjenguk baby kita sampai pagi." bisik Varrel penuh maksud lalu melangkah dua langkah, setelah itu berhenti sesaat melihat kearah pohon mangga itu.
"Sayang, kamu yakin menyuruh aku manjat pohon setinggi itu. jujur sayang seumur hidup aku belum pernah memanjat pohon." ucap Varrel berusaha membujuk Istrinya sedangkan Wulan mengangguk dengan cepat.
"Baiklah kalau itu pilihanmu." Varrel segera membalikkan badannya menatap kembali ke arah buah mangga yang masih nampak tergantung bagus disana.
"Semangat Tuan." bisik pak Yudi seraya mengangkat tangannya, dia benar benar ingin tertawa sekarang saat melihat ekspresi wajah bosnya itu nampak masam.
"Kau mengejekku." gerutu Varrel menajamkan tatapannya.
"Tidak Tuan. saya hanya memberi Tuan semangat." sahut Yudi cepat.
"Minggir." ketus Varrel lalu langsung melangkah pergi. Setelah berhasil menyebrang jalan dan hendak ingin masuk namun sebelum itu ia sudah sudah di kejutkan seekor anjing ganas.
Gooogggg ...
Gooogggg ....
Gooogggg .....
"Hahhh..." Varrel mengelus dadanya.
Gooogggg ... Anjing itu mengongong terus menerus.
"Mas semangat," Teriak zahra melambangkan tangannya memberikan semangat.
Sementara Varrel hanya bisa tersenyum membalasnya. Nyalinya langsung saja menciut begitu saja.
"Hey, pergilah anjing baik. Jangan berteriak seperti itu, aku hanya ingin mengambil buah mangga itu saja. Ya, anjing baik!" rayu Varrel mencoba mendekati pagar, baru saja tangannya menyentuh besi itu anjing ganas kembali mengeluarkan suara gonggongannya.
" Astaga, hey suuttttt diam lah." dengus Varrel merapatkan giginya geram.
"Roni, Roni sayang kemari!" seorang wanita cantik keluar dari rumah minimalis modern yang berada tepat disamping pohon mangga yang ingin ditujukan Varrel.