chapter 25

1028 Kata
Rumah sakit. "Sayang muka kamu kok masih cemberut gitu sih. senyum dong." ucap Varrel seraya mempraktekkan senyuman lebar. "Aku ingin bertanya sesuatu tapi kamu harus berjanji kalau kamu harus menjawab pertanyaanku dengan jujur." celutus zahra menatap lekat lekat wajah suaminya. "Ehm, baiklah asalkan itu membuatmu tersenyum." sahut varrel. "Janji." "Janji aku akan menjawab dengan jujur." Zahra menarik nafas dalam dalam sebelum sesaat ia akan melontarkan pertanyaan yang selalu menghantuinya saat ini. perkataan Dira tadi siang sungguh membuat ia terus saja kepikiran. "Apa kamu pernah tidur bersama Dira?" tanya zahra di ikuti nafasnya memburu. Sontak kening Varrel langsung berkerut dalam." Sayang pertanyaan apa ini. ini sungguh tidak lucu." elak Varrel dia sudah merasa ada firasat buruk. "Itu bukan jawaban Mas, kamu sudah berjanji kalau kamu akan mengatakannya dengan jujur." celutus Zahra. "Sayang tidur lah kamu pasti sangat capek kan, tidur lah dengan nyenyak aku akan di sini menjagamu." ucap Varrel mengelus tangan zahra. "Aku tidak akan tidur sebelum kamu menjawab pertanyaanku mas. kalau kamu masih tidak mau menjawab pertanyaanku maka jangan harap kamu bisa melihat aku dan anak kita ini lagi." ancam zahra berhasil membuat Varrel menghela nafas panjang. "Sayang jangan bercanda ini sudah malam tidur lah." "Jawab pertanyaanku Mas." bentak zahra kini wanita itu benar benar hilang kesabarannya. Varrel membuang nafas kasarnya. "baiklah, ya aku memang pernah tidur seranjang dengan Dira, tapi itu dulu sayang. Saat aku masih SMA itupun hanya sekali setelah itu tidak pernah lagi, kamu tau sendiri kan. Bagaimana aku dulu sangat menyayanginya." sahut Varrel menundukkan pandangannya menatap ke arah selimut yang membaluti tubuh istrinya. "Apa kalian melakukan itu?" tanya lagi Zahra kini matanya berkaca kaca, terasa sakit hatinya ketika mendengar kata kata itu langsung dari mulut suaminya sendiri. Varrel mengangguk pelan pertanda jawabannya. Dug.... suara detak jantung, zahra memejamkan sesaat matanya setelah itu membuka secara perlahan lahan. "Berati Dira pernah hamil anak kamu?" Tanya zahra yang di ikuti air matanya mengalir begitu saja. "Sayang." ucap Varrel kini menatap lembut istrinya." Aku akui aku memang pernah tidur dengan Dira tapi aku melakukan itu diluar kesadaran sayang. Dan lagi pula aku memakai pengaman sayang, jadi bagaimana mungkin dia bisa hamil anakku." sambung Varrel berusaha menyakinkan istrinya. "Dasar pembohong, kamu pasti menutupi semua itu kan?" air mata mulai mengalir begitu saja. "mana mungkin Dira tidak hamil setelah apa yang kalian lakukan." ucap Zahra kini sudah menangis. "Sayang aku mohon percayalah ke padaku aku memang melakukan itu denganya. Tapi aku tidak akan menanamkan benih ku kepada perempuan yang belum berstatus istriku. aku selalu membuang benihku keluar jika aku melakukannya dengan wanita lain selain dirimu. hanya dirimulah wanita satu satunya yang aku tanamkan benihku percayalah." bujuk Varrel mencium beberapa kali telapak tangan istrinya. "Tetap saja kamu melakukannya dengan wanita lain." guma zahra memalingkan wajahnya. "Sayang maafkan aku, jujur itu adalah masa terburuk yang pernah aku lakukan, aku bahkan menyesal telah melakukannya sayang." Namun zahra tidak menggubris sama sekali, wanita itu bahkan menutup rapat rapat telinganya. sementara Varrel bukanya merayu tapi laki laki itu malah tertawa melihat tingkah laku istrinya, mungkin Zahra lagi cemburu pikir Varrel. "Hahaha..." Varrel terkekeh sendiri melihat kelakuan istrinya yang menurutnya sangat lucu saat ngambek. "Kamu bertambah cantik sayang kalau lagi cemburu, aku suka." gombal Varrel seraya tangannya mencoba membalikan tubuh zahra hingga membuat mereka berhadapan. "Jangan sentuh aku, lepaskan." Zahra memberontak. "Hahahaha... kamu gemesin tau gak." Varrel mencibir pipi istrinya. "Aaaaa...." "Sayang aku boleh mintak itu." sambung Varrel lagi seraya melirik ke arah gunung kembar zahra yang nampak menonjol. "A-Apa..." Zahra yang tau akan itu membulatkan matanya ia pura pura tidak tau. "Itu..." "Aku itu lagi marah kenapa kamu malah mintak yang aneh aneh." ketus Zahra menutup dadanya dengan tangannya sendiri. "Marah sih marah tapi hak seorang suami tatap harus di beri sayang, karena itu memang peraturannya." ucap Varrel. "Tidak ada peraturan seperti itu." elak zahra. "Ada peraturan itu hanya khusus buat istriku saja." goda varrel lagi kini tangannya sudah memegang kedua tangan zahra tidak memberi celah untuk menolak. "Huuuaaappp... aku sangat mengantuk sepertinya aku harus segera tidur." ucap Zahra mencoba membalikkan badannya namun tidak semudah karena Varrel tidak membiarkannya. Varrel langsung menanamkan wajahnya di leher jenjang Zahra bahkan laki-laki memberi kecupan yang sangat panjang di sana hingga membuat leher Zahra memerah seketika. Clek....(Suara pintu terbuka kecil sedangkan dua sejoli di atas ranjang mereka bahkan tidak menghentikan aktifitasnya entah mereka tidak sadar atau mereka memang tidak menghiraukannya.) "Maaf, aku tidak tau! Silahkan lanjutkan." Rama tersenyum menyeringai lalu menutup cepat pintar itu. Awalnya dia berniat ingin mengabari kalau Varrel sudah lebih dulu menangkap siapa pelaku yang ingin berencana menyakiti istri temannya itu, tapi ia harus mengurungkan niatnya apalagi saat melihat kejadian tadi. *** Dua hari telah berlalu di rumah sakit kini keadaan zahra sudah mulai membaik. sebenarnya zahra sudah bisa pulang namun Varrel tetap bersikeras supaya istrinya tidak boleh pulang dulu, bukan tampa alasan tapi karena Varrel ingin zahra benar benar sembuh. Varrel bahkan tidak bekerja selama Zahra di rumah sakit jangankan ke kantor keluar dari ruangan istrinya saja terasa enggan baginya. "Sayang aku mau pulang." rengek zahra seraya memanyunkan bibirnya. "Kamu harus benar benar sembuh dulu baru boleh pulang." sahut Varrel mencibir pipi zahra gemes. "Aku sudah sembuh bahkan sudah sangat-sangat sembuh lihat ini." Zahra menampakkan jotosnya. "Kamu sudah kuat ya, ehm... kalau begitu bagaimana kalau kita bertempur. untuk membuktikan kalau kamu memang benar benar sudah sembuh." ucap Varrel menaik turunkan alisnya penuh maksud. "Bertempur?" tanya zahra pura pura tidak tau. "Ehm." angguk Varrel cepat matanya sudah menatap Istrinya penuh arti. "Bertempur apa?" ucap seseorang tiba tiba di ambang pintu tak lain adalah ibunda dari varrel. "Mama!" "Dasar! istrimu sedang sakit kamu malah meminta yang aneh-aneh" gerutu Mama varrel seraya berjalan mendekati mereka. "Zahra tidak sakit Mah dia sudah sehat zahra sendiri yang bilang begitu. iya kan sayang." tutur Varrel dengan tatapan memohon. sedangkan zahra malah senyum senyum sendiri. "Sayang lihat lah papa kamu sedang di marahi oleh Oma. ayo Oma marahi aja papa Oma." "Sayang kok kamu diam sih jawab dong." "Tidak bunda, zahra masih sakit sebenarnya. cuma mas Varrel ya aja ni mintak di manjain terus padahal badan zahra masih sakit ni." ucap Zahra dengan raut wajah segaja di buat buat. entah kenapa ia merasa senang jika melihat suaminya di marahi. Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN