Rumah sakit batik Huda.
Terlihat Varrel sudah mondar-mandir bagaikan setrika berkeliling sembari mengepalkan tangannya. Dia tidak bisa duduk dengan tenang setelah menelpon Rana tadi
"Ram," panggil Varrel setelah sesaat ia melihat sahabatnya datang diikuti tangannya sudah mengepal dan sorot mata menusuk dan rahang mengeras membuat Varrel seperti monster mengerikan.
"Iya, ada apa kenapa tiba-tiba kalian berada dirumah sakit?" tanya Rama kini berada tepat di depan pria jangkung itu.
"Cari tau dimana cafe yang zahra datangi tadi dan aku ingin kamu temukan pelayan yang melayaninya seret mereka ke hadapanku." tutur varrel dingin lalu langsung melangkah pergi menuju ruangan istrinya.
Rama mengerutkan keningnya, sungguh ia beli bisa mencernanya dengan jelas. Dan beberapa saat kemudian pria pun itu langsung paham, ia tau betul sahabat ini. Kalau sekarang lagi membuahkan bantuannya.
Clek... (suara pintu terbuka)
Hembusan nafas tadinya memanas kini melunak dengan sendirinya, sorot mata juga tadinya menajam menusuk kini mulai sedu. dengan pelan pelan dan hati hati Varrel melangkah mendekati ranjang nampak seseorang terbaring lemas di sana dengan tubuh sudah di suntik jarum infus di pergelangan tangannya.
Senyuman kecil terbit begitu saja di bibir pria itu tak kala saat ia melihat wanita yang sangat ia cintai berpaling menatap ke arahnya."Sayang." gumanya pelan namun penuh arti.
Zahra membalas senyuman kecil, laki laki yang telah menjadi suaminya sekarang namun hanya sesaat seketika itu senyumannya langsung menghilang begitu saja bagikan di terjang angin. kata kata nama Dira kembali teringat di kepalanya, sontak Zahra langsung memalingkan tatapannya menatap ke arah sela jendela kaca yang di tutupi gorden berwarna putih.
Varrel kini sudah duduk di salah satu kursi yang memang sudah di sediakan. mencoba meraih tangan istrinya." Sayang ..." guma Varrel lagi namun dengan cepat Dira memiringkan badannya memunggungi pria itu.
Senyuman kecil kembali terbit di bibir laki-laki itu, "Ada yang ngambek rupanya." tuturnya.
Varrel menghela nafasnya memang ibu hamil sangat susah di tebak pikirnya lagi.
"Sepertinya apa aku bawa ini tidak menarik perhatian, ehm tidak apa apa kalau begitu aku makan saja sendiri." sambung Varrel lagi mencoba melunakkan zahra dengan sesuatu yang ia bawa, wafers coklat.
Sebuah makanan coklat yang entah mengapa ada didalam saku jasnya. Varrel pun heran dengan sendirinya. Perasaannya ia tidak membelikannya.
"Emh... enak sekali, ini benar benar makanan terlezat yang pernah aku makan." guma Varrel mencicip makanan yang ia bawa.
Zahra memejamkan erat matanya seraya menelan ludah dengan sangat kasar."Aku tidak boleh tergoda, aku tidak boleh tergoda, aku tidak boleh tergoda." membatinnya yang terus saja mengulang-gulang kata kata itu.
"Emh... uuuppp.... enaknya..." guma Varrel seraya membunyikan lidahnya seolah olah makanan ya ia rasa sangat lezat.
krukkk... suara perut, sontak zahra langsung memegang perutnya.
"Wah tinggal satu suapan lagi, karena istriku tidak mau kalau begitu aku habiskan saja ya... aaaa..."
"Jangan..." ucap zahra cepat dengan segera membalikkan badannya menghadap ke arah suaminya. sementara Varrel mengembangkan senyuman penuh kemenangan.
"Berikan kepadaku." tutur zahra hendak merampas.
"Eeettt..." ucap Varrel seraya menjauh makanan itu.
"Katanya tidak mau." Sambung Varrel pura pura ngambek.
"Siapa bilang tidak mau, aku tidak mengatakan hal itu." gerutu zahra.
"Terus ngapain kamu memunggungi ku?" tanya Varrel.
"I-itu. karena aku sedang marah." jawab zahra sedikit terbata bata.
"Ya sudah marah saja sana aku mau menghabiskan makanan ini dulu nanti kita lanjutkan marahannya." Celutus Varrel hendak memakan makanan yang tersisa. "aaaa...."
"Jangan..." seru zahra mencoba merampas lagi namun tidak bisa karena Varrel keduluan memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya.
"Eeee...." Zahra mengertak kan giginya seraya memukul bahu suaminya pelan lalu hendak membalikkan badannya lagi. dengan cepat Varrel memegang pinggang zahra sedangkan tangan satunya lagi memegang dagu istrinya.
Dengan cepat Varrel menanamkan bibirnya di bibir istrinya seraya mendorong makanan yang tadi sengaja ia kunyah ke dalam mulut istrinya lalu lidahnya menjelajah setiap inci mulut istrinya itu. hingga membuat istrinya kehabisan nafas.
"Hah...hah...hah..." suara nafas zahra nampak tergesa-gesah.
"Aku sangat mencintaimu." bisik varrel di telinga zahra dengan penuh manja.
***
"Tuan..." ucap seseorang dengan postur tubuh tinggi dan gagah.
"Ehm..."---
"Kami sudah membawa orang yang melayani pemesanan nyonya muda, tuan." ucap Pria itu.
"Bawa orang itu kemari." ---
Pria itu pun langsung menyembunyikan tanganya mengisyaratkan sesuatu.
"Lepaskan saya, lepaskan saya. Saya mohon." ucap seseorang di ambang pintu. orang itu pun langsung di dorong dengan kuat hingga jatuh tepat di hadapan tuan mereka.
"Aaaaa...." pekik orang itu kini tergeletak di lantai.
"Tuan ampuni saya, saya tidak bersalah tuan." guma Orang itu seraya bersujud setelah sesaat ia mengetahui siapa orang yang di hadapannya sekarang.
"Apa yang kamu taruh di dalam makanan Istri sahabatku?"---
"Tuan ampuni saya tuan, saya tidak bersalah saya tidak menaruh apa apa di makanan nyonya muda zahra, Tuan." elak orang itu.
"Kamu pikir aku percaya." --- "Hidupkan CCTV." sambung lagi.---
"Baik nyonya."
CCTV pun di putar dengan layar cukup lebar hingga membuat kejadian itu terlihat sangat jelas.
"Kau mengenali orang itu.''---
"tu-tuan." dengan bibir gemetar." ampuni saya tuan saya cuma di suruh."
"Kamu tau apa yang telah kamu lakukan. gara gara kamu aku hampir kehilangan anaknya. sekarang katakan siapa yang menyuruhmu?" hah?"
"N-nona Intan tuan."
"intan ..." Rama yang mendengar itu terkejut seketika namun tak berlangsung lama terkekeh sendiri.
Ya, teryata Rama Admajaya yang terlebih dahulu bertindak. Jujur hatinya sebenarnya memang belum sepenuhnya tau apa yang terjadi tapi yang tidak dapat di pukiri adalah zahra sedang mengandung anak dari sahabatnya, penerus keluarga Jonas. Ia tidak bisa hanya diam begitu saja melihat seseorang menyakiti calon bayi temannya.
Beruntung anak buahnya bisa andalkan cepat. Kalau tidak, mungkin akan membutuhkan waktu yang lama.
"Apa kau tidak bisa membedakan mana wanita baik baik dan wanita jahat." sambung Rama lagi kini dengan tatapan membunuh.
Sungguh sangat tidak masuk akal, bagaimana bisa Intan melakukan hal sekejam itu kepada sahabat sejatinya. Apalagi selama ini Intan begitu baik dan selalu membantu Zahra dalam hal apapun..
"Tuan ampuni saya, saya berjanji tidak akan berbuat salah lagi." ucap pelayan cafe.
"Aku lebih dulu makan garam ketimbang dirimu jadi jangan pernah mengatakan janji di hadapanku." gerutu Rama.
"Apa kalian sudah menangkap siapa pelakunya?" tanya Rama seraya melirik anak buahnya.
"Maafkan kami tuan, nona pelakunya telah berhasil melarikan diri." jawab salah satu dari mereka.
"Melarikan diri. bagaimana bisa." bentak Rama terkesiap.
"Maafkan kami tuan. ada seorang wanita yang membantu nona Dira kabur tuan"
"Dira! Dira," Rama mengerutkan keningnya dalam rasa tidak asing dengan nama itu membuat ia berasumsi
"Apa jangan-jangan, Dira. oh Tuhan, Dira apa yang telah kamu." Rama seakan sesak nafas mendengarnya. ini sungguh dilema yang begitu besar