chapter 23

1039 Kata
"Varrel," Suara seorang wanita paruh baya memanggilnya. Berjalan mendekati Varrel, pria itu terlihat frustrasi. "Mamah," gumam Varrl sesaat setelah ia menoleh dan mendapati ibunya. Keningnya sedikit berkerut melihat mamahnya yang tiba-tiba datang. "Mamah disini?" "Iya nak, tadi saat mama keluar dari ruangan cek up Mama melihat kamu berteriak memanggil dokter, jadi Mama langsung kesini menyusul kamu!" "Mah, Zahra!" Suara varrel sendu, dapat dilihat kalau manik-manik mata pria itu berkaca-kaca. "Iya, nak. Biarkan, perawat yang akan menangani istrimu!" imbuh Nyonya Mama dengan juga terdengar sendu. "Tidak Bu, aku harus berada disamping zahry," bantah Varrel. "Varrel, Keluar ! biarkan suster memeriksa istrimu. Kalau kamu masuk yang ada akan memperburuk keadaan," ucap ibunya yang langsung menatap tajam ke arah anaknya. "Tapi Mah." "Nak dengarkan Mama ... istrimu tidak apa apa percaya sama Mama biarkan dokter memeriksanya." Tukas wanita paruh baya itu lagi kali ini menarik tangan Varrel memaksa pria itu berbalik melangkah keluar. Membiarkan Varre untuk tidak masuk adalah hal yang paling benar, karena kalau sampai anaknya itu masuk sudah bisa dipastikan kalau zahra tidak bisa ditangani oleh dokter. Mengingat anaknya ini begitu keras kepala. "Apa yang terjadi kepada istrimu? Kenapa dia bisa sampai masuk rumah sakit?" tanya Ibunda varrel dirinya juga belum tau pasti kenapa menantunya sampai dilarikan rumah sakit. "Varrel tidak tau mah, tadi pas Varrel pulang tiba tiba saja zahra hampir jatuh ke lantai untung saja Varrel cepat menangkapnya kalau tidak, Varrel tidak tau apa yang akan terjadi." jawab pria jangkung itu. "Percayalah sama Mama, istri kamu pasti baik-baik saja mungkin karena dia kelelahan atau kurang tidur saja" tutur Mama varrel mencoba menenangkan. "Semoga saja mah, Varrel sangat takut kalau sampai zahra kenapa-kenapa!" sahut Varrel ia sudah menggenggam erat jemarinya. Tak berlangsung lama dari percakapan antara ibu dan anak, seseorang keluar dari ruangan UGD dengan stelan jas sudah rapi berwarna putih lengkap dengan alat pemeriksa jantung bergantung dilehernya. "Dokter ..." guma ibu Mama varrel bersamaan dengan laki-laki itu. "Bagaimana keadaan istri saya? apa dia baik baik saja?" tanya Varrel cepat dengan tampang paniknya. "Iya dok bagaimana keadaan menantu kesayangan saya dok?" Kali ini Mama Varrel juga ikut panik. "Maaf nyonya, tuan muda. lebih baik kita bicarakan hal ini di dalam ruangan saya saja." Kata dokter itu. "Tidak perlu kesana di sini saja, cepat katakan bagaimana keadaan istriku." Desis Varrel kini mencengkram bahu dokter itu serasa ia sudah kehabisan kesabaran ingin segera mendengar kabar tentang Istrinya. "Varrel. apa apaan kamu ini. jangan buat keributan ini rumah sakit bukan lapangan bola yang bisa bersorak sesuka hatimu. ikuti peraturan rumah sakit ini." Seru Mama Varrel seraya menarik paksa tangan anaknya itu. "Ayo dok, silahkan." "Terimakasih nyonya." ucap dokter itu seraya mengelus-ngelus dadanya. Jantungnya sudah bersenam. * Di ruangan khusus dokter Hembusan nafas terdengar keluar tergesa-gesa di dalam ruangan sudah dicat berwarna putih polos secara keseluruhan itu. Apalagi Varrel yang ia sudah mendengus kesal sadari tadi, bahkan tatapannya menusuk ke arah pria yang menjadi dokter di hadapannya sekarang. terasa sudah tidak sabar lagi bagi ia ingin segera mengetahui bagaimana keadaan istrinya dan juga calon anaknya. "Jadi bagaimana ke adaan menantu saya dok?" tanya Mama Varrel memecahkan keheningan. "Sebelumnya saya mintak maaf nyonya, tuan muda." ucap dokter itu seraya menundukkan sedikit kepalanya pertanda penghormatan pada empunya rumah sakit. "Keadaan nyonya muda sangat memprihatinkan, beliau juga mengalami pendarahan cukup hebat tapi untung saja tuan muda membawa nyonya muda kerumah sakit tepat waktu kalau sampai terlambat sedikit saja bisa fatal akibatnya. janin yang di kandung nyonya muda baru apalagi ini anak calon anak pertama dan itu sangat mudah rentak. saya sarankan agar nyonya muda untuk tidak memakan makanan pedas, bersoda atau belum biasa ia makan kerena itu bisa membuat kandungannya berbahaya. kalau boleh saya tau apa makanan apa yang di makan nyonya muda sebelum beliau sakit?" tanya dokter itu. Mendengar pertanyaan itu reflek mama varrel segera menoleh ke arah Vino. "Apa yang di makan zahra sebelum ia sakit?" tanya mama varrel menimpali. "Varrel tidak tau mah, saat itu Varrel berada di kantor. Tapi tunggu! Varrel baru ingat saat itu zahry mengirim pesan pada Verrel kalau dia ingin makan mie instan kaldu ayam." jawab Varrel mencoba mengingat ingat kembali. "Sepertinya dugaan saya benar,"sela dokter menyambar omongan Varrel. "Maksud dokter?" tanya mama varrel kini berpaling. "Saya merasa ada sesuatu yang janggal dengan kasus nyonya muda, sebelumnya saya juga pernah menangani pasien yang kasusnya sama dengan nyonya muda. dan sekarang saya makin yakin kalau nyonya muda sebenarnya diracuni." jawab dokter itu penuh keyakinan. "Maksud dokter menantu saya keracunan." "Sepertinya begitu nyonya, karena gejala yang di timbulkan nyonya muda sama persis seperti pasien saya sebelumnya. tapi pasien saya sebelumnya bayinya tidak bisa di selamatkan karena terlambat mendapat penanganan. menurut saya sepertinya ada seseorang yang tidak suka akan kehamilan nyonya muda makanya dia sampai nekat melakukan hal itu." Jelas dokter itu. "Kurang ajar." Varrel langsung terperanjat dari kursi. laki laki itu sudah mengerutkan dalam keningnya bahkan tatapannya sangat mematikan. "Aku tidak akan mengampuni orang itu." guma Varrel kecil namun penuh penekanan bahkan rahangnya mengeras dan gemetar. *** "Hahahaha .... Varrel yang malang, sekarang kamu harus menyaksikan kematian anakmu yang bahkan dia belum lahir ke dunia ini. itu belum seberapa rel atas apa yang telah kamu lakukan kepadaku. aku tidak akan lupa akan hal itu dan aku pasti akan mendapatkanmu kembali." guma dira dengan mata sayup sayup menatap foto kemesraannya dengan Varrel yang di simpan di dalam galeri ponselnya, walau foto itu terbilang sudah sangat lama tapi ia masih menyimpannya. Kini Dira dalam keadaan mabuk di dalam apartemennya sendiri. Sinta sang sekretaris ataupun sahabatnya hanya bisa pasrah. Dia juga sudah menghabiskan beberapa botol minum beralkohol. Dirinya juga sama dengan Dira, mencintainya seseorang yang akan bisa ia gapai, ya. Sinta awalnya sudah mencoba melakukan rencanya untuk mendekati Rama, tapi apa. Pria itu malah tidak meliriknya sama sekali. Padahal berbagai perhatian sudah dilakukan Sinta. "Wanita itu, wanita sialan itu, aku pasti akan menyingkirkan mu." sambung Dira lagi kini sudah terjatuh di ranjang. "Hahaha .... Sayang, jangan memikirkan laki laki sialan itu lagi mulai sekarang kau harus memikirkanku." gumam Reza manik-manik matanya seolah-olah melihat sosok Rama ditubuh Dira ia kini sudah menindih Dira. Pengaruh alkohol yang cukup tinggi membuat keduanya sama-sama melupakan diri mereka. Awalnya Sinta hanya menerima persetujuan Dira untuk minum melepaskan unek-unek mereka sendiri. Tapi tidak disangka dia malah ikut mabuk. Bersambung ......
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN