chapter 22

1365 Kata
Zahra menatap wajah Dira lekat-lekat terasa sangat sakit dan perih di hatinya saat Dira mengatakan kalau dia pernah hamil anak suaminya. memang tidak menutup kemukiman apa yang di katakan Dira barusan bisa jadi benar apalagi mengigat kalau Dira begitu dekat dengan varrel, sebisa mungkin zahra berusaha untuk tidak mempercayainya. "Aku tahu kamu pasti akan sok mendengarnya, tapi itu kenyataannya bahkan Varrel dulu sering menghabiskan malam bersamaku saat kami bersama-sama, jujur sebenarnya aku iri kepadaku, saat aku mengandung anaknya dulu malah keguguran, tapi itulah semuanya terjadi begitu saja. Kamu tahu bukan apa yang kami lakukan jika kami sekamar berdua." ucap Dira dengan senyuman miring. "Tapi sayangnya aku tidak percaya apa yang kamu katakan barusan." Desis zahra berusaha menenangkan emosinya, ya, zahra ingin sekali berteriak, memaki dan mengatakan hal kasar kepada wanita di hadapannya saat ini, namun ia mengurungkan niatnya mengingat kalau dirinya sedang mengandung sekarang. "Kalau kamu tidak percaya tidak apa apa tapi yang jelas itu kenyataannya. dan aku sangat menikmatinya, menikmati saat saat varrel bermain di atas ranjang denganku kamu tahu? permainannya sangat luar biasa. aku sangat puas." ucap Dira menekankan kata kata terakhirnya. Zahra langsung terperanjat dari kursi dia sudah tidak ingin berlama lama lagi di sini. Entah kenapa air matanya membendung padahal sekuat hati ia untuk tidak mempercayainya, seraya melangkah zahra mengeluarkan setetes demi setetes air matanya. bagiamana tidak hatinya begitu hancur sekarang entah kenapa kata kata yang di katakan Dira barusan berhasil membuat hatinya tercabik- cabik apalagi membayangkan suaminya sendiri tidur dengan wanita lain. Dira langsung tersenyum puas saat melihat zahra pergi."Langkah pertama sudah berhasil, sekarang saatnya melanjutkan langkah kedua. Aku pastikan kalau kamu tidak akan pernah bisa melahirkan anak Varrel wanita jalang." gumam Dira seraya di ikuti dengan senyuman liciknya. *** Di rumah Zahra berlari kecil menuju arah kamar, dia bahkan tidak menghiraukan panggilan dari Bi Ani yang sudah beberapa kali memanggilnya. "Nyonya " "Nyonya ...." panggil Bi Ani namu zahra tidak menoleh sama sekali, wanita itu terus saja berlari kecil bahkan kini zahra sudah menaiki tangga. Zahra menutup rapat rapat pintu kamarnya langsung mengunci pintu itu. lalu ia melangkah pelan pelan ke arah ranjang dan menjatuhkan tubuhnya di sana mengeluarkan setiap air mata yang ia tahan sadari tadi, zahra juga meluapkan emosinya seraya memukul bantal. "Apa yang di katakan wanita itu benar atau tidak tapi kenapa kata katanya sangat menyakitkan. kalau memang apa yang di katakan Dira benar, itu berati Varrel pernah menghamili orang lain sebelumnya. *** "Akhirnya meeting hari ini selesai juga. ayo cepat kita pulang, aku sudah tidak sabar bertemu istriku." ucap Varrel seraya menandatangani berkas berkas hasil rapat tadi. "Sepertinya anda sangat senang hari ini." tutur Sinta. "Tentu karena sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah, kamu tidak akan tau Sinta seberapa senangnya diriku waktu itu, saat mengetahui istriku teryata hamil. aku bahkan sudah bisa membayangkan bagaimana wajah anakku nanti dia pasti sangat mirip denganku." sahut Varrel yang tak henti hentinya tersenyum. "Ayo cepat aku sudah tidak sabar ingin pulang, tadi zahra mengirim pesan kepadaku kalau dia sangat ingin makan mie instan kaldu ayam." Ajak Varrel seraya berjala sedangkan Sinta hanya bisa menggeleng-gelenggkan sembari mengikuti pria bermata biru itu dari belakang. Empat puluh menit pun telah berlalu kini Varrel sudah tiba di mansion dengan langkahnya yang panjang ia bergegas masuk ke dalam mansion. "Apa zahra ada di rumah?" tanya pria itu pada Bi Ani yang menyambutnya saat dia turun dari mobil. "Iya tuan, nyonya baru saja tiba tapi---" ucap Bi Ani mengantungkan kalimatnya berhasil membuat langkah Varrel terjeda. "Katakan." tutur Varrel. "Tadi saya melihat nyonya pulang dalam keadaan sedih tua." Sambung Bi Ani. Tampa menunggu lebih lama lagi Varrel-pun langsung berlari menaiki tangga. namun langkah laki laki itu terhenti lagi tak kala berusaha membuka pintu yang nampak terkunci. "Sayang ..." "Aku udah pulang kok pintunya di kunci sih." "Sayang cepat lah buka pintu aku sudah tidak sabar ingin memelukmu, aku juga sudah tidak sabar ingin menjenguk beby kita." gerutu Varrel seraya tangannya terus saja mengetok getok pintu namun hasilnya masih sama zahra tidak menyaut sama sekali. "Kunci cadangan." Gumam laki-laki itu seraya menoleh ke arah Bi Ani. "Baik tuan." Dalam kamar. "Aaagggrrr.... kenapa perutku sakit." gumam zahra seraya meremas perutnya nampak sakit sekali. "Aaaaaa...." Brukkkk "Wulan ...." Varrel bergegas berlari memegang tubuh istrinya hampir terjatuh ke lantai. * "Sepertinya langkah kedua berjalan dengan sangat sempurna. Varrel tidak semudah itu kamu bisa mengusirku dari kehidupanmu aku akan melakukan segala cara apapun asal kau kembali ke padaku. flashback Dira berjalan anggun memasuki cafe dengan tangannya yang selalu di genggam oleh seorang pria membuat wanita itu tak henti hentinya tersenyum. namun senyuman Dira seketika langsung memudar tak kala saat melihat sosok wanita yang sangat ia kenal. "Dira ...." guma Dira setelah itu matanya beralih ke arah pria yang menggenggam jemarinya. "Sayang kamu duduk duluan nanti aku akan menyusul. aku mau temanku sebentar." ucap Dira sedangkan laki laki itu hanya mengangguk pertanda kalau dia mengerti. "Wanita jalang pembalasanku akan segera datang aku tidak akan pernah membiarkan kamu bahagia setelah apa yang telah kamu lakukan kepadaku wanita sialan." membatin Dira seraya berjalan menghampiri resepsionis cafe. "Permisi." ucap Dira dengan nada ramahnya. "Iya nona ada yang bisa kami bantu." jawab resepsionis tersebut juga dengan nada ramahnya. "Apa boleh saya tau makanan apa yang di pesan wanita itu." tanya Dira seraya menunjuk ke arah zahra yang asyik dengan ponsel di tangannya. "Maksud anda pesanan atas nama nyonya zahra." jawab resepsionis. "Iya benar sekali." "Sebentar nona saya lihat dulu." "Nona, nyonya zahra memesan mie instan dan jus lemonty masam." ucap resepsionis. Sebuah senyuman licik pun terukir indah di bibir Dira." tolong tuangkan ini ke pada minumannya." ucap Dira seraya mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. "Maaf nona kalau saya boleh tahu anda siapanya nyonya zahra ya?" "Saya ini adik iparnya, kakakku zahra sedang sakit dia sangat susah minum obat jadi kalau setiap makan kami harus menaburkan ini di makannya agar dia mau minum obat." jawab Dira mencoba menyakinkan. "Tapi maaf nona kami tidak bisa melakukan itu!" "Lakukan saja, kalau tidak kakakku pasti mengalami muntah nantinya, tenang ini bukan racun, jadi bisa di minum." "Baiklah nona akan kami lakukan. sebelum itu apa saya boleh tahu nama anda siapa?" "Namaku Intan. Intan " jawab Dira lagi. Padahal ia berniat ingin menyebutkan nama orang lain tapi tidak mungkin, karena takutnya nanti dia ketahuan "Sekali tepuk dua nyamuk mati. kalian berdua akan menerima pembalasanku." "Baiklah nona kalau begitu anda boleh melanjutkan makanan anda." tutur resepsionis. "Terimakasih." "Bukan kah tidak seru jika tidak melakukan pemanasan terlebih dahulu." membatin Dira seraya melangkah mendekati zahra. ** "Cepat siapkan mobil." gerutu Varrel lalu dengan sigap mengendong tubuh zahra yang nampak lemas tak berdaya. ya, kini zahra sudah pingsan. "B-Baik." ucap bi Ani dengan bibir gemetar. Di dalam perjalanan. "Sayang cepat bangun jangan membuat aku tambah takut." ucap Varrel seraya mengelus tangan zahra lembut. " Pak Yudi, apa kamu tidak bisa mengendarai lebih cepat lagi!" Perintah Varrel. "B-Baik tuan" Mata Varrel langsung membulat penuh ketika melihat baju zahra sudah di penuhi darah di area pahanya. "Apa ini? kenapa baju zahra mengeluarkan darah." ucap Varrel panik laki laki itu bahkan sudah tidak bisa berpikir dengan jelas. "Sepertinya nyonya muda pendarahan." "Pendarahan apa itu pendarahan?" "Saya juga kurang tahu tuan." "Kalau begitu cepat, aku tidak mau terjadi sesuatu pada istri dan calon anakku." "Sayang dengarkan aku, aku mohon cepat buka matamu. sayang...." ucap Varrel kini matanya sudah berkaca kaca. Di rumah sakit. "Dokter ..." "Dokter ..." teriak varrel kini mengendong tubuh istrinya dengan tergesa-gesa. Suster yang mendengarkan teriakan Varrel pun segera berlari menghampirinya. "Tuan silahkan bawa kemari." ucap suster itu seraya menunjukkan ruangan UGD Suster yang lain pun segera memencet tombol merah pertanda telah terjadi sesuatu yang darurat. para dokter pun segera berlari menghampiri ruangan UGD. "Tuan muda varrel." ucap salah satu dokter baru tiba di ruangan UGD seraya menundukkan kepalanya, dokter yang lain pun mendengar nama Varrel juga ikut menundukkan kepalanya. "Cepat selamatkan istriku dan calon anakku." teriak Varrel nampak Frustasi. "B-Baik taun muda." "Tuan maaf atas kelancangan saya, tapi saya harap anda bisa menunggu di ruangan tunggu biarkan kami melakukan tugas kami disini." ucap salah satu suster memberanikan diri. "Menunggu kamu bilang, aku tidak bisa menuggu sementara Istriku terbarik lemas di sini." teriak Varrel seraya meremas kedua bahu suster yang berbicara dengannya tadi. Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN