chapter 21

1009 Kata
Pagi yang cerah menyinari ibu kota, awan putih berkelabut di langit langit biru. Rutinitas semua orang kembali ke pekerjaan mereka masing-masing. Jalan raya pun sudah dipadati dengan dengan banyaknya mobil berlalu lalang. Sementara di rumah bernuansa modern yang menjadi tempat naungan Zahra dan Varrel berteduh selama ini, hawa kegembiraan meliputi keluarga bersama. Ya, Setelah zahra mengabari keluarganya keluarganya tentang kehamilannya yang pertama. Kedua orang tuanya baik ibu ataupun mertua sama-sama antusias senang mendengarnya. Seakan tidak sabar keduanya pulang kerumah Zahra hari ini juga. Hari ini Zahra tidak tau akan kedatangan keluarganya, dia dikejutkan. "Mama, bunda!" Ucap zahra sedikit terkesiap melihatnya. Tanpa menunggu ia langsung menghamburkan pelukannya kepada kedua wanita paruh baya itu. "Aaahhhh, sayang!" Ucap Ibu zahra "Kami kangen!" Timpal perempuan yang di panggil Bunda. "Zahra juga, hemmm kenapa gak bilang-bilang kalau mau datang. Kan zahra bisa siap-siaplah. *** Bau tubuh Varrel pun, mulai sedikit demi sedikit menghilang. Zahra tidak perlu menghindari lagi jika berbicara atau pun tidur dengan suaminya itu. tapi rasa mual setiap hari masih melanda di mulut Wulan, wanita itu benar benar bingung menghadapi rasa mual yang kapan saja bisa datang. "Sinta apa meetingnya tidak bisa di lanjutkan besok?" tanya Varrel, laki laki itu benar benar tidak sabar. "Tidak bisa bos, meeting kali ini sangat penting kita tidak bisa melanjutkan besok apa lagi besok kita akan ke Singapura." Jawab Sinta. "Ckckck. meeting itu benar benar membuat aku kesal." gerutu Varry dirinya baru saja memenangkan tender proyek baru di Singapura dan dalam waktu dekat pihak perusahaan ingin dia segera kesana. "Besok kau saja yang pergi ke sana, aku mau menjaga istriku di rumah." sambung varrel lagi. "Itu yang paling tidak bisa lagi pak Bos, tuan Kenzo akan sangat murka jika kamu tidak datang. apa lagi malam besok bertepatan dengan acara ulang tahun putrinya." sahut Sinta cepat. "Aaggrrr.... kenapa Kenzo itu lama lama bikin aku pusing, kemaren dia hendak menjodohkan aku dengan putrinya dan sekarang dia menyuruhku menghadiri acara tunawisma model putrinya juga." gerutu Varrel. "Bos, apa Anda sudah memberi tahu tentang keberangkatan kita ke Singapura pada Bu Bos?" tanya Sinta. "Belum, aku pikir aku tidak mau pergi jadi aku tidak membicarakan nya dengan istriku tapi kalau kenzo memaksa apa boleh buat. tua bangka itu benar benar menyusahkan awas saja kalau sampai dia menjodohkan ku lagi dengan putrinya." tutur Varrel, laki laki itu sangat kesal bagaimana tidak sebentar lagi dia akan pergi jauh dari istrinya. ** Di rumah setelah kepulangan kedua orangtuanya. Zahra bolak balik keluar dari kamar ke kamar mandi wanita itu terus saja memuntahkan semua isi perutnya. sesudah merasa mendingan Zahra turun ke lantai bawah mencari udara segar, tampa sengaja matanya melirik ke arah tv yang menyala. siaran tv pun menampakkan dua orang yang sedang asik memakan mie instan rasa kaldu ayam terasa sangat mengiurkan siapapun yang menontonnya termasuk zahra sekarang wanita bumil itu benar benar menginginkannya. Zahra sudah beberapa kali mencoba menghubungi Varrel namun panggilannya tidak terhubung hal itu membuat bumi kesal. lebih baik ia pergi saja sendiri dari pada harus di temani oleh suaminya itu. Toh dia pergi bersama Yudi sang supir setianya. Tapi sebelum sesaat zahra pergi wanita itu sempat mengirim pesan ke pada Varrel yang menyatakan kalau dia akan pergi memakan mie instan. "Nyonya muda anda mau kemana ?" tanya Bi Ani dari arah belakang zahra berhasil membuat langkah wanita itu dan terhenti dan menoleh ke arahnya. "Aku mau memakan mie instan Bi." jawab Zahra singkat lalu hendak kembali melangkah namun lagi lagi kepada pelayan itu memanggilnya menghentikan langkahnya. "Nyonya jangan pergi nanti tuan muda bisa marah, biarkan saya saja yang akan membelinya nyonya." tawar Bi Ani. "Tidak, aku tidak mau yang di bungkus aku mau makan langsung di situ." Sahut Zahra cepat. "Tapi nyonya---" "Bi Ani kali ini saja, kumohon, bibi tenang saja aku akan pulang cepat nanti, aku hanya makan mie saja lalu setelah itu langsung pulang jadi tidak perlu khawatir." bantah zahra lalu langsung melangkah meninggalkan Bi Ani yang masih mematung menatapnya hingga lenyap dari pandangan. "Pak Yudi tolong antar kan saya ke cafe xxx." tutur zahra ke pada pria paruh baya yang telah menjadikan supirnya setelah sesaat ia mencari cafe yang menyediakan mie instan rasa kaldu ayam di google bicara. Dua puluh menit pun telah zahra lalui akhirnya wanita itu pun tiba di tempat yang dia inginkan. Seketika ia mengembangkan senyumannya setelah ia turun dari mobil, wanita itu benar benar ingin segera makan mie instan. Zahra melangkah memasuki cafe dan langsung memesan makanan yang ia inginkan. Sambil menunggu wanita itu memainkan game ular yang berada di ponsel ya. ya, hanya game itulah yang ada di ponsel zahra karena memang dia tidak terlalu tertarik dengan dunia game. "Mbak ini pesanannya." tutur pelayan cafe seraya menaruhkan mangkok berisi mie instan rasa kaldu ayam yang sudah di taruh daging sapi di atasnya. "Iya terima kasih." sahut Zahra seraya tersenyum hangat. "Sama sama selamat menikmati makanan anda." ucap pelayan itu lalu langsung pergi. "Duh baunya sangat wangi, sabar ya baby makanan akan segera meluncur." gumam zahra seraya mengelus-ngelus perutnya yang masih nampak rata. Zahra sangat menikmati makannya sampai sampai dia tidak mendengarkan getaran ponsel yang terus saja bergetar. ya, karena kekesalannya dengan Varrel yang tidak mengangkat panggilannya zahra pun mengaktifkan mode diam di ponselnya. "Hay...." tutur Seseorang di samping zahra yang tak lain adalah Dira. ya, tanpa sengaja saat Dira masuk ke cafe ia melihat wanita yang sangat ia kenal sedang asik menyantap makanan. Zahra pun mendongakkan kepalanya menatap ke arah sumber suara. "Bagaimana ke adaan mu? akhirnya kita ketemu lagi." ucap Dira basa basi seraya duduk di depan zahra. Zahra nampak diam dia malah melanjutkan makanannya yang belum abis. "Aku dengar kamu lagi hamil selamatnya atas kehamilan mu." tutur Dira mencoba memancing mancing, wanita itu menatap tajam ke arah Wulan ketika zahra tidak melihat ke arahnya. "Terimakasih." sahut zahra singkat tanpa menoleh. "Aku juga pernah mengalami hal yang sama seperti mu." gerutu Dira lagi berhasil membuat zahra segera menoleh ke arahnya. "Maksudmu?" "Maksudku aku pernah berada di posisimu, yaitu hamil anak Varrel, cuma beda nasib. Aku keguguran kalau tidak mana mungkin kamu bisa berada diposisimu seperti sekarang." ucap Dira Bersambung .....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN