chapter 13

1019 Kata
Zahra POV "Aaagggrrr sakit!" aku bergumam memekik rasa sakit yang menyerah tubuhku. entah kenapa tiba-tiba saja tubuhku terasa pusing, bayang-bayang semalam terlintas dalam benakku, aku berusaha mengingat jelas tapi tetap saja aku tidak bisa mengingatnya jelas. Tok ... Tok .... Suara ketukan pintu dari luar membuat aku menengadahkankan kepalaku melihat, apa pelayan cafe tadi kembali datang. Bukankah aku sudah bilang untuk menunggu sebentar! "Zahra, ini aku. Zahra! Kamu apa kamu sudah bangun?" Suara seseorang yang sangat aku kenali dibalik pintu, Intan. "Ya, masuk saja Tan. Pintunya tidak dikunci!" Sahutku, tak berlangsung lama pintu kamar terbuka dan langsung menampilkan sosok Intan disana. Langkah kakinya terburu-buru mendekatinya. "Ra,---" suara nafas Intan terdengar ngos-ngosan. "Apaan si Tan?" Aku menaikan alisku melihat Intan sudah seperti seseorang dikejar oleh anjing galak. "Lu harus jelasin semaunya ke gua, dan lu gak boleh meninggalkan apapun mau itu secuil apapun lu harus tetap mengatakan yang sejujurnya kepala gue?" "Tan, kamu kenapa sih? Aku itu lagi sakit kepala malah datang kek orang habis dikejar anjing!" Ketusku, tanganku tak terlepas dari keningku sembari memijit pelipis pelan. "Apa benar lu dan pak Varrel suami istri. Maksudnya gue, pak Varrel itu suami lu?" Tanya Intan kini dua sudah berada tepat di depanku. "Iya, kan lu udah tau?" "Tau darimana, tau dari Hongkong!" "Kan aku udah pernah mengirim foto Suamiku ke kamu!" Tutur ku, seingatku aku sudah pernah mengirim foto Varrel kepadanya, bukankah dia yang memintanya waktu itu. "Iya, lu emang pernah kirim Luna tapi ku kirim yang bagian samping dan itupun tidak jelas jadi mana gue tau suamimu itu pak Varrel!" dengus Intan. "Iyakah, hehehe .... Aku minta maaf!" Ucapku yang kini sudah teringat. Memang waktu itu aku cuma mengirimkan foto Varrel dari samping saja sementara fotonya dari depan masih ada ponselku. "Sekarang bukan saatnya meminta maaf kepadaku Ra, sekarang saatnya membersihkan nama baikmu yang sudah tercemar!" "Maksudmu?!" Aku mengerutkan keningku tiba-tiba membersihkan nama baik, bagaimana tidak seingatku aku tidak pernah melakukan sesuatu yang merusak nama baikku. "Kamu bukan saja membodohi kami Ra tapi seluruh publik, dan seharusnya kamu sadar Ra. Kalau suamimu itu seorang pengusaha ternama di negera ini, dan kenyataan seperti ini akan sangat berdampak buruk bukan bagi pak Varrel melainkan bagi dirimu sendiri!" Kata Intan berusaha menjelaskan. Tapi aku masih belum bisa mencerna dengan jelas apa maksud yang dikatakan Intan barusan. "Tan, aku sumpah tidak mengerti apa yang kamu katakan barusan, jadi tolong katakan pada intinya saja?!" Raut wajahku langsung berubah. "Hahhhhhh ...." Intan menarik nafasnya dalam-dalam sebelum Sesaat ia akan menjelaskannya. "Kamu tuduh sebagian sebagai pelakor yang merusak hubungan pak Varrel dan Bu Dira. Bahkan semua publik menanyakan berita tentangmu, mereka juga memaksa membaikot kamu dari setiap perusahaan!" "Apa?!" Aku membulatkan kedua bola mataku, dituduh sebagai pelakor, perusak hubungan orang bagaimana bisa. "Lihatlah berita tanyangan di TV!" Kata Intan menghidupkan tv yang ada tepat didepan kami. Spontan memperlihatkan foto diriku terpapang jelas disana bagaimana berita membawakan informasi menuduh diriku sebagai pelakor. "Kamu tau sekarang, perusahaan ayahnya amjlok 20 persen karena berita ini dan, kamu di incar-incar oleh para wartawan. Ra, pak Varrel dan kami sedang berusaha memperbaiki nama baikmu!" jelas Intan lagi. "Sialan, benar-benar ini pasti ulah wanita itu!" gumamku siapa lagi yang akan melakukan hal kotor seperti ini kalau bukan Dira. Aku sangat yakin wanita itulah yang melakukan hal ini. "Kami sudah menyelidikinya dan semua tuduhan yang menimpamu teryata dituduh oleh seorang pria muda. Tapi kami belum bisa memastikannya dengan jelas, karena ini masih dalam proses pencarian." *** Author POV Brakkk Geprakan meja terdengar begitu kasar dilakukan oleh Varrel, pria itu sudah merapatkan giginya serta kedua tangannya sudah digenggam erat-erat. Sorot matanya begitu menatap tajam kearah saluran televisi masih memberitakan tentang tuduhan terhadap istrinya. "Hancurkan setia stasiun televisi yang membicarakan tentang istriku!" ucapnya penuh ketegasan, bahkan saraf dibagian lehernya ikut menegang karena tutur dari pria tampan itu barusan. "Maaf, Bos. Teryata pihak stasiun televisi telah bergabung dengan pihak internal, kita tidak bisa dengan mudah menghancurkan mereka." suara Sinta menyahut. "b******k .... Siapapun yang menyebarkan berita ini aku pastikan dia akan menerima konsekuensinya. Dringgg .... Suara bunyinya ponsel terdengar didalam jas hitam di pandu dengan dasi berwarna biru. Varrel mendengar itu segera mengambilnya. "Halo, Pah!" Kata Varrel setelah sesaat pria itu menurunkan tombol hijau kebawah pertanda mengangkat panggilan telepon. "Apa yang terjadi hah .... Bagaimana bisa berita seperti ini beredar!" Suara pak Romi diseberang sana terdengar keras, sepertinya pria itu sedang marah besar. "Maaf Pah, Varrel akan segera membereskannya!" "Cepat siapakah konversi part dan umumkan pernikahan kalian, jangan sampai ini berlanjut karena akan sangat berbahaya bagi Zahra!" "Iya Pah, Varrel akan segera melakukannya.. Papa tidak perlu khawatir secepatnya Varrel akan menemukan siapa dalang semua ini!" Tutttt Panggilan terputus, pak Romi memutuskannya secara sepihak "Buat konversi part secepatnya dan undangan seluruh awan media baik televisi ataupun majalah. Kita harus menyelesaikan masalah ini hari ini juga sebelum semuanya benar-benar terlambat. Dan beritahu Zahra untuk tidak keluar dari kamar hotel walau selangkah pun!" Tukas Varrel. "Baik Bos!" Sinta menjawab serta anggukan kepalanya. Sementara disalah satu ruangan hotel, tempatnya tak jauh dari kamar Varrel seorang wanita sedang menikmati keberhasilannya dengan jus anggur ditangannya. Entah berapa kali sudah dia mengangguk jus anggur itu namun wajahnya berseri memancarkan senyuman penuh arti. "Hahaha .... Zahra-zahra, kau sudah mencoba memainkan api denganku sekarang kamu rasakan akibatnya sendiri kan, semua publik sedang membicarakan dirimu. Dan aku yakin kamu bahkan tidak akan berani keluar kamar hotel sekarang. Kamu tau kenapa, karena aku sudah memberitahu keberadaan mu kepada wartawan, dan sebentar lagi mereka pasti akan menyerang dirimu dengan tuduhan yang aku lakukan Zahra. Hahh .... Sekarang saatnya menikmati dari hasil kerja keras semalam. Aku mau lihat sampai kapan kamu akan bertahan Zahra. Sementara perusahaan ayahmu kian memburu karena berita ini." "Hahahaha ..... Pada akhirnya kau juga kan kalah Zahra." Seru wanita itu penuh dengan kebahagiaan atas keberhasilan yang telah ia lakukan. "Sampai kapanpun aku tidak akan pernah memberikan kamu bahagia diatas penderitaan ku Zahra. Kalau aku tidak bisa memiliki Varrel maka jangan harap kamu juga bisa memilikinya karena sampai kapanpun Varrel itu milikku seorang, kamu tidak akan mampu bersaing apalagi melawan diriku!" Gumam wanita itu lalu menyeruput jus anggur yang masih berada dalam gelasnya. Brakkk ..... Bersambung .....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN