"Kauuuu!" suara Dira terkejut melihat siapa sosok yang berdiri diambang pintu.
"Apa yang kau lakukan disini?" katanya lagi, "Bukankah aku sudah menyuruh turun untuk menyelesaikan tugas pagi ini. Apa kamu tidak lihat sudah jam berapa sekarang. Dan tidak lama kita akan berangkat pulang!" suara Dira terkesan membentak. Wajahnya langsung menatap sinis kearah wanita itu.
Zahra memicing, kedua langkah kakinya dia ayunkan agar mendekati sosok wanita yang membuat dia kesal, sangat kesal.
"Apa semua ini ulahmu?!" Suara Zahra tak kalah tegas dari Dira.
"Urusanku, apa maksudnya aku tidak mengerti. Kalau kamu cuma ingin berbicara omong kosong lebih baik kami pergi sebelum aku menyuruh sacuriti untuk mengusirmu!" Desis Dira.
"Kau hanya perlu menjawab apa kau yang melakukan ini semaunya?!" Zahra bergerutu
"Hahahaha .... Baiklah, kamu mau tau jawabannya. Ya, aku yang melakukan ini semua? Aku yang lebih tidak suka karena kamu berdekatan dengan orang yang aku cintai. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah melerakan Varrel bersamamu. Karena dia hanya di takdirkan untukku. Kau harus ingat itu!" Dira berseru keras, bola matanya berubah menajam.
"Suatu saat kamu akan menyesal karena kamu telah melakukan hal ini!"
***
Hotel yang awalnya aman dan sejahtera kini kini sudah padat akan banyaknya reporter dan para wartawan yang ingin mewawancarai Zahra. Varrel, mengetahui itu segera menyiapkan meminta kepada pihak hotel untuk mempersiapkannya ruangan agar konferensi pers bisa segera dilakukan.
Berita host tentang Zahra sudah tersebar luas, mengenai wanita yang sebut pelakor. Bukit dan asumsi yang tidak jelas kini termakan oleh semua orang, dan hal itu sangat berdampak buruk bagi perusahaan terutama perusahaan pak Hasan, Selaku ayah kandung Zahra. Tidak disangka pernikahan mereka secara sembunyi akan memiliki dampak sedemikian rupa.
Dua jam berlalu, Setelah semuanya disiapkan sesuai rencana barulah Varrel mulai angkat bicara didalam ruangan konversi part, juga Zahra. Wanita itu dikawal penuh oleh anak suruhan Varrel, guna untuk melindunginya dari hal-hal yang tidak di inginkan.
Surat nikah dan cincin pernikahan adalah bukti pertama Varrel memperlihatkan kalau dia dan Zahra sudah menikah satu bulan lalu.
"Ini, kalian lihat!" Varrel menunjukkan kearah buku nikah menjadi poin penting dari pembahasan.
"Kalian bisa lihat sendiri, kalau aku dan Zahra sudah menikah satu bulan yang lalu dan maaf kami tidak mengumumkan pernikahan kami karena saya rasa itu sangat privasi jadi jadi saya istri saya hanya menikah secara sederhana saja!" sambung Varrel.
"Bagaimana dengan berita pagi ini. Menurut anda kenapa berita seperti ini bisa terjadi, anda tau betul kalau anda adalah seperti pembisnis ternama di ibukota. Apakah anda akan membiarkan segera mengumumkan pernikahan anda dengan nona zahra secara publik kepada semua orang?" Tanya salah satu wartawan wanita berdiri dari kursi tempat duduknya mengajukan pertanyaan.
"Tentu, untuk masalah mempublish status pernikahan kami awalnya aku berencana ingin mengumumkannya di saat acara ulang tahun istriku. Tapi sayang berita hoax yang sangat menjijikkan ini terdengar merusak rencana ku!" Jawab Varrel cepat.
"Apa anda dan nona zahra menikah secara siri dan bagaimana hubungan anda dan nona Dira. Sebagian besar artikel menyatakan kalau anda adalah kekasih Nona Dira, dan tidak lama lagi akan melangsungkan pernikahan?!" Seorang reporter pria bertanya.
"Tentu tidak, bagaimana bisa aku menikah dengan istriku secara sirih. Kami menikah secara sah baik negara dan agama. Hanya saja pernikahan kami tidak dipublikasikan, sedangkan untuk Dira kami hanyalah sebatas teman, dia teman masa kecilku. Hubungan kami memanglah sangat dekat tapi tidak pernah terpikir olehku akan sampai kejenjang pernikahan. Aku mencintai istriku dan dan sampai kapanpun hanya dialah satu-satunya wanita yang aku cinta dunia ini. Aku tidak pernah punya keinginan menduakannya!" Tukas Varrel.
***
"Aaaaagggrrrrr ...."
Brakkk
Pecahan gelas terdengar keras dalam kamar hotel berbintang itu, lemparan yang keras nyaris saja mengenai seseorang yang sedang melangkah mendekati.
"Dira cukup!" Suara Rama mengeras. "*Berhentilah menyakiti dirimu sendiri. Tidak ada gunanya Dira!"bentak Rama, untuk pertama kalinya ia bersuara keras kepada perempuan yang sudah ia anggap sebagai keluarganya.
"Aku harus bagaimana Ram, aku harus bagaimana. Aku sudah berusaha sebisaku untuk menjauhkan perempuan itu dari Varrel tapi nyatanya aku gagal. Sekarang malah publik mengetahui siapa dirinya. Aku membenci ini Ram aku membenci ini. Kamu tau betul kan, kalau aku sangat mencintai Varrel dia segala-galanya bagiku. Dia alasan mengapa aku bertahan hidup hikkkkkk!"
Butiran air mata mengalir deras diwajahnya Dira, wanita itu menangis sesenggukan. Dadanya terasa sesak untuk sesaat bernafas bercampur sedih.
"Aku tau, aku sangat tau Dira. Tapi kamu tidak seharusnya seperti ini. Bagaimana kalau sampai Varrel tau, dia pasti akan sangat marah dan menjauh darimu!" Rama memeluk wanita itu membawanya kedalam pelukan hangat.
"Tidak, tidak Ram. Varrel tidak bisa menjauhi diriku. Aku sangat mencintainya dia tidak bisa melakukan itu Kepadaku tidak bisa Ram!"
"Maka dari itu kamu tidak melakukan hal gegabah seperti itu Dira. Kamu harus bisa menahan dirimu, kamu harus move on Dira. Varrel tidak mungkin tidak akan pernah bisa lagi kamu miliki. Percayalah padaku, kehidupanmu akan jauh lebih baik kalau kamu berubah dan melupakan perasaan itu. Aku janji akan hal itu!" bujuk Rama ia semakin mempererat pelukannya.
"Tapi--"
"Kamu belum mencobanya Ra, cobalah dulu. Aku tau bagaimana perasaanmu dan sebesar apa cintamu pada Varrel. Tapi apa boleh buat dia bukan milikmu. Dia punya kehidupan sendiri dengan istrinya. Dan mungkin tidak lama lagi dia akan menjadi seorang ayah. Apa kamu mau, memisahkan seorang ayah dengan anaknya dan istrinya. Itu bukanlah sifat dari sosok Dira yang aku kenal"
"Cobalah Dira, setidaknya jangan buat dirimu sedih. Kamu harus kuat dan tegar!"
***
Semasa perjalanan pulang kerumah suasana hening sadari tadi terus saja melanda. Tidak ada pembicaraan ataupun sepatah kata yang terdengar, selain suara mobil berjalan. Sesekali ekor mata Zahra melirik kearah suaminya terfokus dengan dalam menyetir.
"Apa dia sungguh-sungguh mengatakan itu semuanya tadi. Mengatakan kalau di mencintaiku dan tidak akan pernah menduakan ku, kenapa saat dia mengatakan itu hatiku merasa resah. Bukankah seharusnya aku senang. Senang mendengarkan kalau dia akan selalu bersamaku sampai maut memisahkan kami!"
"Entah kenapa aku merasa sangat takut kalau dia berbohong dan akan menjauhi diriku. Aku sangat takut, aku sangat mencintainya!" Batin Zahra.
"Sudah memandangi wajahku Hem!" Suara Varrel tiba-tiba membuat Zahra terkesiap mendengarnya.
"Hah ...."
"Apa yang kamu pikirkan? Hem, katakan padaku, sayang percayalah dari lubuk hatiku paling dalam aku tidak berbohong apa yang aku katakan tadi. Aku benar-benar mencintaimu dan tidak akan pernah menduakanmu. Aku sungguh-sungguh ingin hidup denganmu sampai aku mati!" Kata Varrel tangannya ia layangkan menggosok pelan kepala Istrinya.
Bersambung ....