Satu bulan setelah kejadian tuduhan itu. sikap Varrel kepada Zahra semakin hari-hari semakin memperlihatkan Istrinya. Juga perusahaan Papa Zahra sudah stabil. Tuduhan yang sama sekali tidak berdasarkan membuat kehebohan yang tidak logis.
Heran tentu saja, bagaimana kejadian Zahra dituduh selingkuh dengan suaminya sendiri sedangkan Dira hanyalah sebatas teman tidaklah lebih. Isut yang tidak mengenakan itu kini sudah kembali normal secara perlahan-lahan beriring berjalan waktu.
*
Rumah sakit.
Intan dan Zahra berapa dirumah sakit, ya karena tadi Intan badan Intan sangatlah panas juga wajahnya terlihat pucat pasi. Maka dari itu dia membawakan sahabatnya itu kerumah sakit.
"Hueeekkkkk .... Hueeekkkkk ...." Zahra kembali memuntahkan isi perutnya, setelah tadi pagi ia berkutik di toilet rumahnya memutahkan apa yang dia makan. bau rumah sakit benar-benar membuat kepalanya terasa pusing di tambah bau parfum pakaian suster berbeda berlalu lalang sungguh membuat ia tidak tahan.
"Hueeekkkkk ..." tidak ada satupun yang keluar kecuali air bening. Rasa mual menyerbu tubuhnya.
"Apa yang terjadi denganku. Sudah hampir satu Minggu ini aku mual terus, apa jangan-jangan aku hamil?!" Gumam Zahra terkesiap sendiri.
"Alat tes kehamilan, apa aku tes sekarang juga." gumamnya lagi menatap dirinya sendiri dari pantulan cermin wastafel.
Ya, Wulan masih berasa di rumah sakit sekarang. Saat berbicara dengan Intan tadi perutnya kembali diaduk seperti adonan buru-buru dia pergi keluar mencari kamar mandi. Dan untungnya tidak jauh dari ruang UGD.
"Tapi aku tidak tau bagaimana cara kerjanya!" Batin zahra sembari mencoba mengambil alat tes kehamilan itu dan memperhatikannya dengan seksama. Beruntung dia dirumah sakit tidak memerlukan waktu lama dia membelikan alat kehamilan itu di apotik rumah sakit.
"Apa sebaiknya aku pergi periksa saja ke dokter. Mumpung masih di rumah sakit!" Tidak ada pilihan lain sekarang selain memeriksa ke dokter untuk memastikannya.
Zahra menggelap wajahnya yang basah dengan tisu yang ada disana lalu baru setelah itu melangkah keluar.
"Tunggu ...." suara seorang dari arah belakang pintu.
Zahra yang mendengar itu menghentikan langkahnya sejenak lalu mutarkan badannya mencoba melirik.
"Intan" gumam zahra menaikan sebelah alisnya.
"Kamu mau kemana?" Tanya intan suaranya sedikit parau.
"Hm, a-aku aku ingin memeriksa kesehatanku. Akhir-akhir ini aku muat terus jadi aku berencana ingin memeriksanya. Kamu kenapa keluar apa dokter sudah memeriksa bagaimana keadaanmu. Lebih baik kamu istirahat dulu badan kamu masih lebih, setelah aku memeriksa nanti kita akan segera pulang. Aku akan mengantarmu sampai kerumah." Kata Zahra.
"Hm baiklah, aku tunggu disini saja. Kamu cepatlah!"
"Iya, duduklah yang manis disitu aku akan segera kembali!"
Di perjalanan zahra melengak lenggok mencari ruangan dokter yang bisa memeriksanya. Namun tidak ada satupun ruangan yang membuat ia nyakin akhirnya tanpa segaja bola matanya menatap sosok ibu hamil keluar dari salah satu ruangan.
Dengan percaya dirinya ia mencoba masuk kedalam ruangan tersebut.
"Permisi, Dok." sapa zahra terlihat dokter berhijab duduk kursi kebesarannya. Hanya ada satu dokter, zahra bernafas lega jadi dia bisa lebih leluasa bertanya.
"Silahkan masuk, ada yang bisa saya bantu." Dokter itu menoleh lalu mempersilakan zahra untuk duduk di salah satu kursi didepannya.
"Terimakasih," zahra tersenyum simpul jemarinya meremas kasar dibawah.
"Boleh saya bertanya siapa nama anda Bu, apa anda pergi sendirian?" tanya dokter itu menoleh sekilas kearah zahra lalu meraih pulpen dan menuliskan sesuatu dalam bukunya.
Seperti daftar nama kehadiran pasien, zahra bisa menebaknya karena melihat daftar hadir pasien tertera jelas diatas kota kecil dibuku itu.
"Nama saya Fatia Azahra, suami saya sedang berkerja jadi saya datang sendiri." Jelas Zahra apa adanya.
"OOO, tidak apa-apa. Sendiri juga bisa," balas dokter itu.
Zahra tersenyum getir mendengarnya.
"Saya ingin cek dok, sudah sejak dari tadi pagi saya mual-mual terus, kepala saya juga pusing jika mencium bau minyak wangi apalagi bercampur. Datang bulan saya juga belum sebulan ini." jelas Zahra menjelaskan apa yang ia alami membuat dokter itu menoleh kepadanya lalu tersenyum kecil.
"Mari Bu saya periksa supaya bisa memastikannya agar lebih jelas." sahut dokter itu beranjak bangkit yang Susul zahra setelah itu.
Membaringkan tubuhnya diatas ranjang tersedia. Membiarkan sang dokter memeriksa.
**
"Bagaimana dok?" rasa penasaran yang dilanda membuat zahra tidak karuan ingin segera mendengarnya. Berharap kalau apa yang dikatakan harinya adalah benar.
Sungguh saat ini dirinya begitu gregetan.
"Selamat ya Bu, hasilnya positif, ibu sedang hamil." ucap Dokter itu dengan tampang manisnya.
Dug ...
Jantung zahra bagaikan dipompa begitu cepat, rasa senang yang ia dengarkan membuat manik-manik matanya berkaca-kaca membendungkan disana.
"Kandungan ibu baru berjalan tiga Minggu, masih dalam tahap trimester pertama. Saya akan memberikan ibu vitamin penambah stamina diminum secara rutin ya, Bu." Jelas dokter itu lagi sembari menuliskan resep obat dan memberinya kepada zahra.
"Terimakasih, terimakasih banyak!"
Tidak disangka tidak lama lagi dia akan menjadi seorang Ibu. Terimakasih tuhan engkau telah memberikan aku titipkan yang sangat berharga ini.
Awalnya Wulan sempat mengelak perkataan hatinya, sempat berpikir kalau dia hanya masuk angin saja. Tapi sekarang dia sudah yakin seratus persen apalagi surat pernyataan hamil yang ia pegang saat ini. Rasanya ia tidak sabar ingin memberitahukan suaminya.
**
Apartemen Setia Budi
Merupakan apartemen elite yang rata-rata dibeli oleh para bangsawan. Varrel pergi kesana, dia baru saja memarkirkan mobilnya di basemen.
Tujuannya saat ini adalah ketempat Rama, karena memang laki-laki itu pandai melacak keberadaan orang.
"Kamu sudah datang!" kata Rama melihat varrel memasuki apartemennya tanpa permisi atau menekan bel, karena memang Varrel sudah sudah sering berkunjung ke apartemen sahabatnya ini.
"Bagaimana, apa sudah mendapatkan informasi?" Tanya Varrel balik ia mendaratkan tubuhnya di samping Rama, melihat apa yang sedangkan pria itu lakukan dengan laptopnya.
"Belum, tidak semudah itu mencarinya. Sepertinya dia orang cukup pintar! dia memblokir semua akses yang terhubung dengannya." sahut Rama sembari melanjutkan tugasnya.
"Aku ingin kamu segera melancaknya dan mencari tau tentang keberadaannya sekarang!"
"Apa kamu masih mencintainya?"
"Kau bicara apa Ram. Aku mencintainya apa kamu tidak punya pertanyaan lain. Aku sudah menikah dan satu-satunya wanita yang aku cintai adalah Zahra hanya dia yang mampu membuat aku nyaman!"
"Dulu kamu juga berbicara demikian Rel, aku sudah mengenalmu sejak kamu masih kecil. Sebagai teman aku ingin memperingati mu, jangan bersikap atau berpikir bodoh cukup Dira saja wanita yang telah kamu sakiti jangan Zahra lagi. Dia wanita sekaligus Istri yang baik. Jangan hancurkan hatinya!"
"Apa kamu sudah selesai mengoceh, sekarang cepat carikan apa yang aku suruh. Aku tidak punya banyak waktu. Pekerjaan ku di kantor sangatlah banyak, aku kesini bukan untuk mendengar ocehanmu!"
"Iya, baikan tunggu aku pasti akan menemukan apa yang kamu cari. Tapi perkataan ku tadi kamu ingatlah baik-baik!"
Bersambung .....