Zahra POV
Nuansa malam dari sinar rembulan kembali menerawang, saat rotasi matahari kembali berputar dan terbitlah bulan sebagai pusat utamanya menyinari bumi sekarang.
Tiupan angin sepoi-sepoi malam membuat rambut poniku berterbangan kesana kesini, sejuk seperti tembus menusuk ke tulang.
Ku pandangi seluruh tempat yang sanggup jangkauan mataku melihat. Tubuh yang bergetar dingin dan rasa tidak sabar bergejolak. Setelah mengantar Intan kerumah sakit tadi aku memilih pulang lebih awal, rasa mual juga masih terjadi. Perkataan dokter beberapa jam lalu masing terbanyak jelas dikepalaku, aku hamil. Rasanya sedikit tidak percaya tapi ini adalah kenyataannya. Kenyataan dimana aku akan memberikan keturunan bagi keluarga Jonas.
Aku berdiri diam diri di balkon kamar menunggu suamiku pulang. Setelah makan malam tadi perutku kembali diaduk meminta dikeluarkan.
Sungguh! Aku tidak ingin memakan apapun saat ini yang aku inginkan saat ini adalah kemunculan suamiku.
Jam sudah bergerak cepat menuju pukul setengah sepuluh malam tapi tanda-tanda kepulangan mas Varrel belum juga muncul, apa mungkin dia lembur, karena sebulan terakhir ini sangat jarang mas Varrel ambil lembur kecuali saat pertama kali kami menikah.
Apa dia tidak ingin pulang, kenapa? Apa mas Varrel memang tidak pulang, atau dia menginap di apartemennya. Entah mengancamnyanya pikiran melintas diisi kepalaku.
Ku genggam erat-erat surat keterangan hamil dari dokter, sudah berkali-kali aku membacanya menelisik karena sangking senangnya.
Suara mobil masuk kepakaran mansion membuat aku tersenyum kecil, aku pun segera menoleh melihat siapa yang turun, apakah sosok pria yang aku tunggu!
Dan teryata benar, Mas Varrel keluar dari mobil. Dug .... Jantungku berpacu cepat seolah-olah memaksa ingin keluar dan loncat agar bisa segera bertemu dengan pria itu, pria yang mengisi hatiku.
Namun tak berlangsung lama, senyuman senang di bibirku hilang seketika bagaikan ditelan bumi saat manik-manik mataku memandang sosok yang membuat hatiku resah.
Dira, sosok wanita yang selalu membuat masalah dalam hubungan kami, memang sudah beberapa Minggu ini dia tidak terlalu songkang lagi seperti sebelum-sebelumnya. Tapi tetap saja dia wangi yang sangat licik, mungkin dia bisa menipu semua orang dengan wajahnya yang polos tapi tidak denganku. Aku sangat mengenal siapa dia, setiap yang dia lakukan pasti memiliki maksud tertentu.
Apa yang dia mau lakukan disini? Kenapa Mas Varrel pulang bersamanya?
Kedua pertanyaan itu memenuhi otakku sekarang. Keningku berkerut rasanya hatiku sakit melihat wanita itu bersama mas Varrel.
Dengan penuh pertanyaan dan bimbang aku membalikkan tubuhku menuntun keluar kamar melihat sendiri. Setapak demi setapak langkahku menuruni anak tangga, baru di anak tangga yang kelima aku melihat pemandangan yang membuat hatiku seperti ditusuk ombak begitu sakit.
Mas Varrel berpelukan dengan Dira. Mataku langsung berkaca-kaca tidak mau melihat lagi aku-pun segera kembali kedalam kamarku.
Naik diatas ranjang duduk meringkuk menangis sekuat yang aku bisa.
Kenapa aku melihat pemandangan itu tadi, apa mungkin sekarang mas Varrel sudah jatuh cinta padanya?
Akan ingat betul apa yang dikatakan Dira, kalau dia akan melakukan apapun untuk merebut mas Varrel dariku. Menang dia yang lebih dulu mengenal mas Varrel tapi aku Istrinya. Seharusnya dia tidak berkata seperti itu.
Sakit, sakit sekali! Aku terus menangis hingga tanpa aku sadari Mas Varrel sudah berada disampingku.
"Sayang, kamu menangis?" suara Mas Varrel terdengar mengalun di telingaku.
Mas Varrel ada disini. Kenapa bisa, ku hapus air mataku cepat-cepat. Mengelapnya dengan telapak tanganku.
Lalu baru aku menengadah menghadap kearahnya.
"Tidak, aku tidak menangis. Mataku kelilipan aja," elakku sekilas menatap dirinya lalu berpaling ke sembarang arah. Apa dia tidak bisa melihat!
Dia tersenyum, menungging kan senyuman manis sembari duduk atas ranjang tepat di depanku.
"Jangan berbohong, aku tau kamu habis menagis, kenapa, Hem? Katakan, apa yang membuat kamu menangis?" bujuk Mas Varrel sembari menarik lembut wajahku agar bisa menatap kearahnya.
"Tidak, aku tidak apa-apa!" elaku lagi. Batinku merasa gelisah apa aku harus mengatakan apa yang aku lihat tadi. Tapi nanti bagaimana kalau mas Varrel mengelak.
"Aku tau, kamu berbohong! Lihat wajahmu sembab seperti itu kamu bilang hanya kelilipan. Apa seseorang yang menyakiti istri tercinta ku ini Hem, katakan? Biar aku akan memukulnya habis-habisan!" Kata Mas Varrel masih tidak menyerah ingin tau kenapa aku menangis, kalau dilihat dari mataku yang merah dan sembab siapa yang mau percaya kalau aku tidak menangis.
Kamu mas yang menyakiti perasaku! Ingin sekali aku berkata seperti itu.
"Katakan sayang," sambung Mas Varrel lagi.
"Kenapa wanita itu satu mobil denganmu, apa kalian habis berkencan?" akhirnya aku mengeluarkannya isi di hatiku.
"Maksudmu Dira?" tanya Mas Varrel aku-pun langsung mengangguk cepat pertanda mengiyakannya.
"Hahahaha ...." mas Varrel terkekeh setelah itu.
"Kenapa mas ketawa!" desis-ku memanyunkan bibir menatap kearah lain. Sungguh menyebalkan aku padahal masih terisak karena habis menagis dia malam terkekeh dengan pertanyaanku.
Apa yang aku tanyakan tadi fakta, kalau Mas Varrel berkencan dengan Dira.
"Sayang, kamu cemburu?" tebak mas Varrel, aku hanya meliriknya sekilas.
"Ya ampun sayang. Kamu sangat lucu hahahaha ..."
Dia bertambah terkekeh. Apa yang lucunya sih, tinggal menjawab iya atau tidak. Apa mungkin dia ingin mencari alasan yang masuk akal agar aku percaya nanti dengan omongannya.
"Dengarkan Aku baik-baik ok. Jangan menangis tidak jelas seperti ini. Aku tidak suka, mengerti!" ucap mas Varrel setelah ia selesai dalam tertawanya yang tidak jelas itu.
"Jadi benar kalau kalian berkencan?"
"Tidak! Aku tidak bilang begitu, dengar! Aku dan Dira itu tadi tidak sengaja aku bertemu dengannya saat aku pulang. Ban mobilnya kempes di basemen kantor. Dia sudah menelpon asistennya untuk membawakan ban serap tapi asistennya malah terjebak macet. Jadi aku merasa kasian jadi sebagai teman makanya aku menawarkannya masuk kedalam mobilku. Lagian kami tidak melakukan apapun sayang, Dira sudah berubah kami bisa lihat perubahannya dia tidak seperti dulu lagi!" jelas Mas Varrel semakin membuat aku curiga kedua manik-manik mataku sudah memicing menatap kearahnya.
"Kenapa ditawarkan memangnya tidak ada taksi disana?" ketusku sedikit kesal.
"Ya mau bagaimana lagi masak aku membiarkannya sendirian. Dia itu perempuan Lo sayang, dia juga asistenku di kantor, kalau sampai ada laki-laki berniat jahat kepadanya bagaimana!"
"Ya, laki-laki itu adalah mas Varrel sendiri!" sahutku cepat.
"Astaga sayang. Didalam mobil aku tidak berduaan dengannya Lo ada Sinta."
"Mana, aku tidak melihat ada orang lain tadi keluar. Kamu pembohong, kamu jahat Mas kamu bermain-main dengan para wanita diluar sana."
"Ya ampun sayang, jangan berpikir seperti itu. Sinta ada, dia ada didalam mobil. Dia tidak turun sayang."
"Buktinya mana sekarang wanita yang kamu sebutkan itu?"
"Dia udah pulang sama Dira. Dia meminjamkan mobilku!"
"Alasan! Terus kenapa Mas dan Dira berpelukan tadi di ruangan tamu. Aku melihatnya mas berpelukan dengannya." jelasku pada akhirnya kutanyakan semuanya. Manik-manik mataku berkaca-kaca menatap kearah Mas Varrel siap tumpah saat ini juga.
"Itu tadi Dira hampir terjatuh kelantai dia kesandung, jadi aku menolongnya supaya tidak terjatuh!" jelas Mas Varrel air mataku langsung tumpah.
"Dia tadi mampir kerumah cuma mengambil berkas kantor, aku yang menyuruhnya masuk, hanya itu sayang tidak lebih. Percayalah aku tidak mungkin berpaling darimu. Aku sangat mencintaimu!" Kata Varrel.
"Jadi gara-gara itu kamu menangis, Hem! Hanya gara-gara melihat aku menolong Dira tadi?" Sambungnya lagi
"Pokoknya kamu jahat, kamu jahat!"
"Astaga, baiklah. Jangan nangis lagi. Ya udah Aku minta maaf, karena telah membuat istri tercintaku ini menagis malam ini."
"Kamu jahat,"
"Sayang, aku minta maaf. Sungguh aku tidak berniat melakukan itu tadi kalau bukan karena ingin menolongnya mana mungkin aku memeluknya!" jelas Mas Varrel langsung membawaku kedalam pelukannya. Memeluk erat sembari terus mengecup lembut kepalaku.
"Kamu tidak sedang membohongiku kan?" tanyaku lagi rasanya aku masih tidak mempercayainya dengan mudah.
"Tidak, percayalah. Sudah jangan nagis lagi nanti cantiknya hilang!"
"Aaaaa ..."
"Hahaha ..."
Bersambung ...