chapter 17

1022 Kata
Krukkk .... Suara perut berbunyi membuat Varrel menaikan alisnya. "Sayang, itu suara perutmu?" tanya Varrel masih menaikkan alisnya. "I-Iya, hehehehe ...." Zahra tersenyum menampakkan gigi putihnya yang berjejer rapi. "Kamu belum makan?" Varrel hanya bisa menggeleng-gelenggkan kepalanya dengan tingkah gemas istrinya itu. "Sudah, tapi semua makanan yang aku makan tadi keluar semuanya." sahut zahra cepat mengerucutkan bibirnya. "Kenapa? Kamu sakit?" "Tidak, hanya saja aku tidak suka makanan yang dibuatkan Bi Ani makanya terasa hambar di lidahku!" Jawab Zahra apa adanya. "Apa? Sayang, kamu tidak salah bicara kan?" Varrel terkekeh dengan apa yang dikatakan Wulan barusan, seumur hidupnya belum pernah sekalipun dia memasak kecuali nasi goreng dan mie instan dan beberapa makanan ringan lainnya, itupun dia asal memasak dulu Amerika. Ia tidak memperdulikan rasanya terpenting perutnya kenyang. Sekarang istrinya ingin dia memasak! "Kamu tidak mau memasak untukku?" tanya zahra dengan nada melemas, entah kepada rasanya sekarang ia sangat ingin memakan makanan yang dibuatkan oleh suaminya ini. Zahra melakukan trik agar bisa meluluhkan hati Varrel. Dan benar karena merasa tidak tega dengan zahra bersuara seperti itu akhirnya Varrel berhenti terkekeh. "Tapi aku tidak bisa memasak. Aku bahkan sangat jarang pergi ke dapur!" ucap Varrel. "Tapi aku ingin kamu yang memasaknya, kalau tidak aku tidak mau makan!" protes zahra mendengus kesal yang langsung membuat Varrel menghela nafas panjang. "Waktu itu kamu juga memasak nasi goreng Mas, pagi-pagi sekali untukku. Itu bisa aku suka!" Sambung zahra "Baiklah-baiklah, kalau itu yang kamu inginkan. Ayo, tapi jangan salahkan aku nantinya kalau makananku tidak enak!" "Iya!" Zahra reflek bersemangat sembari mengajukan jempolnya. *** Di dapur Varrel sudah uring-uringan tidak tau harus memasak apa untuk Zahra. "Apa aku masak nasi goreng aja ya?" Batin Varrel berasumsi. "Sayang, kamu mau makan apa?" tanya Varrel. "Hemmmm nasi goreng aja sama telor mata sapi dua!" sahut zahra setelah sesaat ia mencoba memikirkan apa yang enak di lidahnya sekarang. "Ya, tuhan nyonya muda, tuan Muda!" ucap Bi Ani diambang pintu masuk dapur dengan tampang terkejutnya melihat kedua majikannya itu sedang berada di dapur. "Maaf nyonya," dengan segera Bi Ani menundukkan kepalanya, tapi rasa terkejut bercampur penasaran masih terlintas. "Hehehe .... Maaf Bi aku lagi menyuruh mas Varrel memasak soalnya lapar banget Bi!" ucap Zahra sedikit cengir menampakan gigi putihnya. "Tapi nyonya, kan aku bibi" "Gak apa-apa Bi sesekali, bibi masuk kamar aja tidur gak papa kok. Mas Varrel bisa masak, dia udah ahli!" Bi Ani hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya lalu meninggalkan ruangan dapur. "Sayang, katakan pertama-tama apa yang harus aku lakukan untuk memasak nasi goreng dengan telur mata sapi dua sesuai dengan apa yang kamu inginkan? Takutnya nanti aku salah dan kamu tidak menyukainya." Varrel sudah mengambil nasi putih dan dua butir telur di atas meja. "Serah kamu mas! Aku akan melihat mas disini saja, pokonya yang enak," Sahut zahra bukannya membantu malam membuat Varrel menggaruk kan kepalanya tak gatal. "Baiklah, kalau begitu aku akan melihat buku resep saja." gumam Varrel pada dirinya sendiri. Lalu bolak-balik mencari buku resep makanan. Setelah menemukannya dengan percaya dirinya pria itu membaca bagaimana cara membuat nasi goreng. "Bawang merah, cabe merah, tomat ..." Varrel membacanya sembari mengambil bahan makanan tersebut satu persatu ditaruhnya diatas meja tak jauh darinya. Lalu barulah laki-laki tampan itu memotong bahan tersebut sesuai instruksi yang tertera di buku resep makanan tersebut. Dengan percaya diri tinggi Varrel memasak, menaburkan bubu yang sudah diiris halus halus dituangkan kedalam wajan. "Aaagggrrr ...." Vino terperanjat jauh, karena terkena percikan minyak panas. "Panas," Pekik pria itu. Zahra yang melihat itu terkekeh sendiri. Kelakuan Varrel sungguh membuat ia sakit perut melihat tingkah pria itu. "Ayo Mas semangat, jangan sampai hangus bawangnya!" seru zahra bersorak memberikan semangat. "Oh, iya. Tunggu sebentar!" sahut Varrel segera memberanikan dirinya untuk maju dan menuangkan nasi putih kedalam wajan tersebut. Percikan minyak sudah hilang. Kali ini yakin seratus persen dengan apa yang dia masak. Pelan-pelan dia mengaduk-aduk nasi putih tersebut dengan rata agar semuanya terkena lalu mengambil telor ayam tadi menuangkannya kedalam nasi tersebut. Varrel tersenyum atas tingkat rasa percaya dirinya yang tinggi. Tak lupa dia menaburkan garam dan kecap kedalam nasi tersebut. Entah dia sadar atau tidak Varrel nyaris saja menghabiskan satu botol kecap asin. Setelah merasa pas dia menuangkan nasi itu kedalam piring lalu menungging kan senyuman puas dari hasil karyanya. "Tara, nasi goreng sudah siap sayang!" Ucap Varrel bersemangat. "Ye ...." Zahra bertepuk tangan senang. Matanya langsung memicing melihat makanan yang dibuat suaminya. Warna sudah jauh berbeda dari nasi goreng umumnya, zahra masih tidak protes tapi tak lama setelah melihat telur ayam sudah hancur karena di aduk-aduk membuat zahra sontak menengadah menatap kearah Varrel. "Mas, kenapa telurnya hancur?" Tukas zahra. "Ahhh, itu sayang. Versi terbaru! Ini hanya khusus untukmu!" sahut Varrel menampakkan gigi putihnya. Zahra penasaran lalu mengambil sendok dan langsung mencoba mencicipi makanan hasil kerja keras suaminya. "Hem, enak ..." gumam wanita itu spontan mengajukan jempol sembari mengunyah nasi goreng itu dengan lahap. "Benarkan?" ia merasa tidak yakin karena penasaran akhirnya Varrel mengambil sendok juga ingin mencicipinya. Baru masuk kedalam rongga mulutnya laki-laki itu langsung memuntahkannya. "Ahhhhh .... Asin sayang. Asin sekali!" desis Varrel hendak merampas piring nasi itu. Tidak mungkin dia membiarkan zahra memakan makanan seasin itu. Sungguh, Varrel tidak menyangka kalau makanannya akan asin, padahal sebelumnya yang pernah ia masak tidak seasin ini. "Jangan," rampas balik zahra kembali mengambilnya nasi goreng itu. "Sayang, kamu tidak boleh memakannya itu sangat asin!" Protes Varrel. "Nanti kamu bisa muntah lagi!" sambungnya. "Tidak mau, ini sangat enak!" bantah zahra kembali memakan nasi goreng itu dengan lahapnya tak tersisa sedikitpun. Mata Varrel membelak melihat piring bekas nasi goreng itu sudah habis tidak tersisa sedikitpuan lagi. kepalanya langsung bertanya tanya, apa mungkin istrinya sudah kehilangan indra rasa sehingga dia tidak merasakan nasi goreng itu asin. "Aaagggggg ...." Zahra mengelus-elus perutnya karena kekenyangan. Sungguh dia tidak menyangka kalau suaminya bisa memasak makanan seenak itu. Bahkan melebihi makanya. "Sayang, makanan kamu benar-benar enak!" Zahra kembali mengajukan jempol tangannya. "Astaga sayang. Jadi kamu benar-benar sudah kehilangan indra rasa di lidahmu" Varrel menggelengkan kepalanya merasa tak percaya. "Mas, besok aku mau lagi, buatkan lagi ya." rayu zahra kembali memasang wajah polosnya. "Ho'oh!" Varrel hanya bisa mengangguk mendengar permintaan istrinya ini. Sikap zahra malam ini sungguh membuat ia terkejut! Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN