"Sekarang bagaimana? sudah kenyang?" tanya Varrel sorot matanya tak terlepas menatap kearah zahra.
"Sudah!" Zahra mengangguk cepat.
"Kalau begitu ayo, kita segera tidur ini sudah larut malam?" ajak laki-laki tampan itu. Mengambil piring kosong yang ada dihadapan istrinya lalu menaruhnya dipiring kotor.
Zahra mempertahankan itu, sangat jarang ia melihat sisi suaminya seperti ini. Biasanya sangat arogan sekali tapi ini apa, dia begitu lembut dah bahkan memasak untuknya.
Seketika zahra-pun teringat, kalau ia belum mengabari Varrel bahwa ia sedang mengandung sekarang.
"Mas!" panggilnya sembari beranjak bangkit dari kursi empuk tempat ia duduki menuju suaminya yang kalau itu sedang mencuci tangan.
"Hmm," Varrel hanya melirik sembari tersenyum manis.
"Aku sangat mengantuk, ayo kita ke kamar!" ajak zahra menyandarkan kepalanya di bahu laki-laki itu.
"Aku sudah membuatkanmu makanan yang sangat banyak sekarang giliranku, kamu harus membayarnya, sayang!" bisik Varrel penuh maksud seraya tersenyum penuh maksud.
"Hah!"
Zahra reflek menelan kasar lidahnya. Ia sangat tau apa maksud dari laki-laki itu, keganasan Varrel diatas ranjang memang tidak diragukan lagi. Dia tidak memberi ampun sama sekali, walau sudah menagis tapi suaminya masih tetap saja menghujaninya dengan penuh nafsu.
Sampai-sampai setiap paginya dia harus bangun kesiangan gara-gara kelelahan. Apalagi timun Arab suaminya itu begitu besar dan panjang, setiap bersentuhan membuat area sensitifnya perih bukan main.
*
Dikamar Varrel menurunkan tubuh istrinya secara pelan-pelan diatas ranjang. Membaringkan tubuh istrinya itu, sebelum sesaat akan menghujaninya dengan kecupan.
"Mas tunggu!" pinta zahra menahan wajah suaminya. Memegang dagu pria itu.
"Hmm"
"Aku ingin memberitahumu sesuatu!"
"Katakan, apa?"
"A-Aku, A-aku hamil, Mas." ucap Zahra sedikit terbata-bata. Nyaris saja mulutnya mengatup tidak berani berkata. Entah kenapa rasanya ia sedikit gelisah walau yang ia katakan adalah kebenaran.
Sesaat ia memperhatikan suaminya yang terlihat biasa saja menatap kearahnya. Ya, Varrel tidak bergeming dia menatap zahra dengan tatapan tidak bisa diartikan.
Namun tak berlangsung lama karena Laki-laki itu sudah kembali menghujaninya dengan banyaknya kecukupan di sekujur wajahnya.
Mata, bibir, pipi, dahi, bahkan telinga. Semuanya itu tak luput dari bibir merah muda itu.
Zahra hanya terdiam melihat apa yang dilakukan suaminya. Dia juga tidak berbicara ataupun berkata.
"Terimakasih, sayang!" Dengan mata berbicara Varrel berbicara, manik-manik matanya terlihat berkaca-kaca merasa sangat bahagia.
Sungguh, Varrel merasa sangat bahagia sampai ia tidak tau bagaimana caranya meluapkannya.
"Kamu tidak marah kan Mas?" Suara zahra terdengar bergetar, dirinya belum bisa membaca ekspresi yang ditunjukkan suaminya ini.
"Apa aku sudah kehilangan akal ingin marah kepadamu! Hem, sayang terimakasih kau sudah membuat aku bahagia hari ini. Terimakasih" Varrel menurunkan kecupannya sekarang. Mengecup perut istrinya dengan bertubi-tubi.
Zahra bernafas lega, sungguh ia sempat tenggang tadi pikirannya sudah kemana-mana.
Setelah puas menciumi perut zahra masih rata baru Varrel ikut membaringkan tubuhnya di samping istrinya itu membawanya kedalam pelukan.
"Ayo tidur, kamu pasti lelahkan!" ucap Varrel.
Semakin mempererat pelukannya.
Zahra menggeliat disana, beberapa kali mencari kenyamanan. Tapi kali ini tidak seperti biasanya, susah mencari kenyamanan.
"Mas, buka bajumu!" tinta zahra merasa sedikit risih dengan baju yang digunakan suaminya.
"Untuk apa?"
"Mas kamu bau, kamu belum mandi ya?" bulu hidung zahra seperti ingin copot mencium bau tubuh suaminya tidak seperti biasanya.
Dan Varrel langsung teringat kalau ia belum membersihkan dirinya malam ini.
"Astaga sayang, aku lupa!" ucap laki-laki itu seolah-olah tidak bersalam sama sekali. Segera ia beranjak dari ranjang dan bergegas ke kamar mandi.
***
Zahra memanyunkan bibirnya, sudah lima menit Varrel berada didalam kamar mandi tapi belum juga keluar. Ia mendengus untuk kesekian kalinya. Sembari menunggu kedatangan suaminya terus saja memainkan ponsel.
Membuka i********: melihat lihat status orang yang ia ikuti. Karena zahra begitu menyukai film Korea jadi tidak heran jika di Instagramnya banyak sekali para aktor maupun Atris Korea. Terutama Kai aktor sekaligus idol member EXO yang paling ia gemari.
Bahkan semua film yang diperankan biasnya itu ia tonton semuanya tak terkecuali.
Wulan sangat berharga kalau anaknya nantinya akan sedikit mirip dengan biasnya ini atau setidaknya seimut. Agar bisa membuat dia gemas setiap saat.
Tak berlangsung lama perhatian zahra teralih kepada suara ponsel suaminya yang berada diatas nakas. Keningnya sedikit berkerut lalu sekilas melihat kearah pintu kamar mandi yang masih tertutup dengan rapat.
Awalnya zahra tidak menghiraukannya tapi ponsel itu berdering lagi, dengan perasan malas zahra mengerakkan tubuhnya meraih ponsel itu.
Seketika kerutan di keningnya semakin berkerut bahkan lebih dalam dari pada biasanya. Melihat ada sepuluh pesan masuk dari Dira. Da dua panggilan tak terjawab dari wanita itu juga.
Rasa penasaran pun langsung melanda, zahra kembali mencoba melihat pintu kamar mandi, memastikan kalau benar-benar pintar itu tertutup baru ia mulai menelisik matanya membuka ponsel suaminya itu.
Untung, ponsel Varrel tidak ada kata sandi jadi dengan mudah ia bisa membuka ponsel berwarna biru itu.
Tanpa pikir panjang zahra langsung membukakan pesan w******p dari Dira.
"Rel, maaf menganggu malam-malam"
"Tapi aku tidak punya pilihan lain"
"Selain meminta bantuanmu saat ini!"
"Ini sudah larut malam, aku tidak berani meminta bantuan kepada orang lain!"
"Listrik di apartemenku padam, bisakah kamu membantuku."
"Aku sangat ketakutan!"
"Rel, apa kau sudah tidur!"
"Rel, aku sangat takut!"
"Sepertinya ada sesuatu yang menarik gorden jendela kamarku!"
"Aku sangat ketakutan!"
Sepuluh pesan yang sekarang langsung berwarna biru yang pertanda kalau pesan sudah terbaca.
Nafas zahra langsung naik turun membacanya, bisa-bisanya wanita itu meminta bantuan suaminya. Yang jelas-jelas Varrel sudah berstatus suami orang.
"Dasar, perempuan gatal!" umpat zahra dalam hatinya merasa sangat kesal.
"Suamiku sudah tidur!"
"Jangan menganggunya, ini sudah larut malam tidak baik seorang laki-laki datang ke tempat perempuan apalagi suami orang. Akan menjadi fitnah nantinya!" Zahra mengetik tombol keyboard membalas chat untuk wanita ganjen itu.
Tak berlangsung lama notif pesan masuk langsung berbunyi lagi.
Pesan dari Dira.
"Zahra, ini sangat mendesak! Aku tau kalau Varrel belum tidur tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak berani meminta bantuan kepada orang lain! Karena biasanya aku selalu meminta bantuan kepada Varrel." Pesan chat namun penuh maksud dan tujuan dari Dira.
"Kenapa kamu ngotot sekali sih, sudah aku bilang suamiku sudah tidur. Lagian kamu di apartemen kan, pasti ada security. Kenapa tidak meminta bantuan kepada security saja. Kenapa malah meminta bantuan suamiku, setauku kamu satu apartemen dengan Sinta kenapa tidak meminta bantuannya atau tidur di apartemenya, atau lagi meminta bantuan tuan Rama!" balas Zahra sedikit mengeluarkan unek-unek di kepalanya.
Bagi zahra ia masih belum mempercayai Dira sepenuhnya, melihat apa yang di lakukan oleh wanita itu sangat sulit bagi zahra melupakannya maka dari itu dia tidak akan pernah membiarkan suaminya dekat lagi dengan wanita itu.
Bersambung ....