chapter 19

1037 Kata
Sekarang ia harus berhati-hati dengan wanita yang satu ini. Bisa jadi dia akan terus menjadi benalu dalam rumah tanggaku. Pikir zahra Bagi zahra, Varrel adalah laki-laki terbaik sekaligus suami yang begitu sempurna. Karena sudah beberapa Minggu ini juga dia selalu diperlakukan layaknya ratu disebuah istana. Zahra menaruh kembali ponsel suaminya diatas nakas. Ia yakin kalau Varrel akan segera keluar. Dan benar saja, pria itu segera kaluar dari dalam kamar mandi dengan melilitkan handuk putih diarea pinggangnya. Zahra menungging kan senyuman kecil menatap sekilas lalu kembali membaringkan tubuhnya diatas kasur. Untung sebelum Varrel keluar ia segera menaruh kembali ponsel itu tak lupa ia menghapus semua percakapannya tadi. Agar Varrel tidak merasa curiga nantinya. Varrel naik keatas ranjang setelah ia memakaikan celana pendek dan kaos santai lalu langsung memeluk zahra dari belakang. *** Pagi hari. Matahari menelisik menembus kaca jendela. Varrel mengerjakan kedua bola matanya sembari mengumpulkan seluruh alam kesadarannya kembali. Pertama yang ia lihat kearah samping, karena sudah menjadi kebiasaannya setiap pagi melihat wajah cantik istrinya itu. Tapi sepertinya kali ini tidak seperti yang ia bayangkan, zahra sudah tidak berada lagi di sampingnya. Biasanya wanita itu masih tertidur. "Hueeekkkkk .... Hueeekkkkk ..." suara seseorang muntah menyadarkan Varrel, reflek ia bangkit dari ranjang menemui asal suara itu. "Sayang, kamu baik-baik saja?" dengan cepat Varrel memijit pelan pundak Wulan. Menggosokkannya pelan. "Hueeekkkkk ..." Cairan bening terus saja keluar. "Kita ke rumah sakit, ya!" kata Varrel merasa tidak tega melihat istrinya terus-menerus muntah. "Tidak perlu Mas. Ini sudah hal yang biasa bagi orang hamil!" Sahut zahra menatap wajah suaminya dari pantulan cermin wastafel. "Tapi, kamu terus menerus muntah sayang. Kamaren pagi dan pagi ini juga." "Aku baik-baik sa--" "Hueeekkkkk ...." belum selesai selesai zahra berbicara dia sudah muntah lagi. "Badan kamu bau, kamu pakek parfum apa sih?" gerutu wanita itu menutupi lobang hidungnya. "Aku belum mandi, aku tidak pakai parfum apa-apa." keluh Varrel membela dirinya. "Tidak pakai parfum apa-apa. Jelas-jelas badan kamu bau banget. Bau bunga bangkai! Aku tidak tahan!" Zahra melangkah secepatnya meninggalkan kamar mandi. "Mandi dulu kalau tidak jangan berdekatan denganku" ancamnya lagi sebelum benar-benar hilang. *** "Bi Ani tolong siapkan daging ayam, potongkan kecil-kecil. Karena nanti akan dibuatkan sate tusuk!" Ucap zahra setibanya di dapur. "Siap nyonya," sahut Bi Ani mengangguk pertanda mengerti apa yang di maksudkan zahra. Sudah diputuskan kalau ia akan membuatkan sate tusuk menu pagi ini. Entah kenapa ia begitu menginginkannya saat ini. Mungkin ngidam, pikirannya. Jam sedikit lagi menunjuk angka tujuh, tapi zahra dan Bi Ani juga belum siap menyiapkan sarapan pagi. Bi Ani sudah kewalahan melarang zahra untuk membantu menyiapkan sarapan pagi, apalagi kini Bi Ani tau kalau zahra sedang berbadan dua. Yang harus menjaga kesehatan dan tidak boleh lelah. Ya, zahra menceritakan kehamilannya kepada bi Ani kemaren selepas pulang dari rumah sakit. Kabar gembira itu segera ia kabarkan karena merasa sangat bahagia. "Nyonya, biarkan saya saja yang akan mengerjakannya!" tawar Bi Ani yang entah keberapa kalinya sudah. Dan lagi-lagi jawaban yang harus didengar Bu sama. "Tidak apa-apa, aku sangat kangen memasak. Sidah lama sekali juga aku tidak memasak sarapan pagi!" kata wanita itu membuat Bi Ani menghela nafas panjang. Disisi lain Varrel sedang menuruni anak tangga sudah siap dengan penampilan kantornya, tak lupa ia memakaikan jas dan parfum yang disiapkan Zahra. Awalnya dia menolak, karena parfum yang dipilih Zahra adalah bau perempuan, dia sebagai laki-laki perkasa tidak suka memakai bau yang seperti itu. Namun pada akhirnya terpaksa Varrel harus mengalah demi istrinya yang merengek. "Mas, pakai ini saja!" Kata Zahra. "Tidak mau sayang, ini parfum cewek. Nanti aku diketawain di kantor bagaimana gara-gara memakaikan parfum cewek. Para karyawan pasti akan mengosipkan ku nantinya!" tolak Varrel. "Kamu kan bos mas, mana mungkin mereka akan mengosipkan kamu!" Kekeh Zahra. "Sayang--" "Pakai ini atau kalau tidak kamu tidak boleh dekat-dekat denganku. Dan nanti malam tidur di kamar tamu!" Final Zahra membuat Varrel menelan salivanya kasar. Varrel menuntun kearah ruang makan, disini dia langsung disambut ramah oleh Zahra. Wanita itu tersenyum manis kearahnya, bau parfum yang dipakaikan Varrel sudah tercium di lubang hidung bumil itu. "Mas, kamu sudah siap! Ya ampun aku belum siap-siap, mas tungguin aku ya," ucap Zahra. "Hm, sayang kamu mau kemana?" "Kantor!" "Tidak perlu, mulai sekarang kamu tidak aku ijin kan kekantor lagi!" "Lah, kok gitu?" "Kamu itu lagi hamil sayang, gak boleh capek-capek dan mikirin pekerjaan kantor. Biar aku saja, lebih baik kamu disini dirumah jaga kesehatan kamu, makan makanan bergizi!" "Tapi---" "Tidak ada tapi-tapian!" *** Di kantor global grup Terlihat Dira tergesa-gesa pergi melangkah memasuki ruangan Varrel. Bahkan perempuan itu masuk tanpa mengucapkan permisi sama sekali. Dengan mata membasahi pipi Dira duduk tepat didepan pria bermata biru itu. Memperhatikan manik-manik mata Varrel. "Dira! Kamu kenapa? Kenapa menangis? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Varrel secepat kilat ia langsung memasang wajah sedih. "Kamu jahat Vin, Teganya kamu melakukan ini kepadaku? Aku tau kamu sudah berkeluarga, tapi apa salah kalau aku minta bantuanmu." ucap Dira membuat Varrel mengerutkan keningnya dalam. "Apa maksudmu! Aku tidak mengerti?" "Apa istrimu tidak memberitahumu?" Tanya Dira yang hanya mendapat keheningan dari Varrel. "Gara-gara kamu aku hampir saja diperkosa!" sambung Dira lagi. "Apa?" "Saat itu aku sangat membutuhkanmu untuk membantuku, listrik di apartemenku padam. Aku tidak punya banyak teman laki-laki kecuali dirimu dan Rama karena hanya kalian berdua biasanya aku meminta tolong. Tapi istrimu tidak menghiraukannya sama sekali!" keluh Dira wajahnya sudah di banjiri air mata palsu. "Zahra!" Varrel merasa tidak percaya. "Rama kemaren pergi ke luar kota, kalau dia ada aku pasti tidak akan meminta bantuanmu!" *** Rumah sakit. Zahra dan pak Yudi sang supir baru yang ditugaskan oleh Varrel untuk mengantarkan kemanapun zahra pergi. Sangat mudah bagi Varrel memperkejakan seseorang, apalagi pak Yudi merupakan salah satu supir mamanya dulu. Setelah sarapan pagi tadi zahra sudah berencana ingin berkunjung menjenguk mengecek kesehatan bayinya lagi, sekaligus meminta vitamin khusus ibu hamil karena kemaren dia tidak lupa memintanya. "Selamat siang Dok. Maaf saya datang lagi!" Ucap Zahra menampakkan gigi putihnya yang berjejer rapi. "Nona Zahra, silahkan masuk. Kebetulan kosong jadi tidak perlu menunggu mengambil antrian. "Terimakasih Dok!" Oh ya, ada keperluan apa ya, apa ada sesuatu yang bisa saya bantu?" "Saya hanya memeriksa kandungan sekali lagi Dok. Sekaligus meminta resep vitamin dan s**u mana yang baik untuk ibu hamil!" "Oh, kalau begitu mari kita periksa perkembangan janin terlebih dahulu!" Bersambung .....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN