Pahlawan

1892 Kata

“Eum.. Sepertinya aku akan mengajarkanmu memecahkan telur di lain waktu. Ini sudah cukup siang, kau pasti sangat lapar.” Ucapku seraya merebut telur dari tangan Dasha perlahan. Gadis itu tidak bereaksi. Ia hanya membiarkan aku mengambil telur itu dari tangannya dengan tatapan kosong. Aku memecahkan telur ke atas wajan dan berusaha sibuk memasaknya seakan aku adalah seorang chef professional. Sembunyi-sembunyi, aku melirikkan mataku padanya. Apa yang sedang ia pikirkan? Kenapa ia hanya diam saja seperti itu? Kedua mataku seketika membesar ketika menyaksikan tangannya meraih pisau dari tempatnya. Di saat bersamaan, telur yang aku masak sudah matang. Aku segera mematikan kompor dan menatapnya tegang, “Apa.. yang hendak kau lakukan?” tanyaku perlahan. Ia menolehkan wajahnya padaku. Kedua ma

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN