Mendengar Dasha bicara sepanjang itu, aku lantas mendecak. “Jangan banyak bicara dulu, Dasha. Simpan tenagamu,” Ucapku dengan tatapan fokus ke depan karena aku melajukan mobil dalam kecepatan penuh. “Aku.. tidak mau pergi ke rumah sakit. Bagaimana jika.. mereka menangkapku?” Ucap Dasha. Suara bergetarnya terdengar sangat lemas. Padahal kondisinya sedang sangat lemah seperti ini, namun ia masih mengkhawatirkan hal itu. Wajahnya bahkan nampak sepucat mayat. “Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Percayalah padaku, hem?” Aku mengusap tangannya sekilas dan itu berhasil menenangkannya. Ketika aku menoleh singkat padanya lagi untuk memeriksa keadaannya, Dasha nampak sedang memejamkan mata dengan tangan terus menekan lukanya. Ia tidak lagi menjawab. Di tengah jalan, aku menemukan sebuah klin

