8. Kei Arashi (4)

1491 Kata
Chapter 8 : Kei Arashi (4) ****** AI langsung mencoba untuk mengalihkan wajahnya ke kanan agar ciuman Kei terlepas, tetapi hal itu berhasil Kei cegah dengan memegang bagian belakang kepalanya. Ai terisak dan dalam waktu yang singkat, ciuman itu berubah menjadi liar. Ai berusaha keras untuk menendang Kei, menjauhkan wajahnya dari Kei, memberontak secara brutal, tetapi semua usaha itu digagalkan begitu saja oleh Kei. Ai betul-betul putus asa karena jauh di dalam benaknya, ia tahu bahwa kemungkinan untuk selamat dari Kei sangatlah kecil; mengingat Kei adalah pria yang terkuat di Shinsengumi. Bukankah Kei mau membunuhnya? Mengapa pria itu justru menciumnya seperti ini? Apa jangan-jangan dia berencana untuk melecehkan Ai terlebih dahulu sebelum ia bunuh? Akhirnya, usaha terakhir Ai adalah dengan menggigit bibir Kei yang sedang menciumnya. Ia menggigit bibir Kei dengan sekuat tenaga. Akibat gigitannya itu, ciuman Kei mendadak berhenti. Kei menjauhkan wajahnya dari wajah Ai, lalu mengelap bibirnya yang berdarah akibat gigitan Ai. Namun, bukannya marah pada Ai, pria itu justru menyeringai. Melihat seringai itu, emosi Ai langsung semakin tersulut. Ia menggeram dan dalam hatinya ia mengutuk Kei habis-habisan. Ia membenci Kei setengah mati. Ia ingin membunuh pria itu sekarang juga. Matanya memelototi Kei dengan penuh angkara. “b******n!! MAU APA KAU?! APA KAU MAU MELECEHKANKU DAHULU SEBELUM AKHIRNYA MEMBUNUHKU?! TERKUTUK KAU, SIALAN!!” Kei hanya mendekati Ai dan mengangkat dagu Ai dengan jari telunjuknya. Mata berwarna merah gelapnya menatap Ai dengan intens. “Aku tidak melecehkanmu.” Kontan saja Ai menendang tubuh Kei, tetapi Kei berhasil menghentikan tendangan itu dengan sebelah tangannya. Ai langsung kembali berteriak, “APA LAGI KALAU BUKAN ITU?!!” Ai melihat Kei yang mendadak langsung melepas cravat yang ada di lehernya. Seperti semua kapten Shinsengumi, Kei mengenakan dasi atau cravat putih di lehernya; cravat itu menggunakan kunci berwarna kuning dan dimasukkan ke dalam rompi hitamnya. Jaket Shinsenguminya yang memiliki kerah itu berwarna gelap, tidak dikancing, dan panjang hingga ke paha, seperti jas mantel. Jaket itu dihiasi dengan gesper emas dan kancing. Kei selalu menggulung bagian lengan jas tersebut sehingga terlihat ada manset merah gelap yang ujungnya berbentuk segitiga di kedua tangannya. Celana panjang hitam yang Kei kenakan itu ditopang oleh ikat pinggang berwarna coklat dengan gesper perak. Di pinggul kirinya biasanya ada katana yang terikat di sana, tetapi hari ini Kei tidak membawa katana itu, entah apa sebabnya. Sepertinya…karena agenda malam ini sudah ia rencanakan. Ketika Ai baru saja ingin menendang tubuh Kei lagi, dengan cepat Kei langsung mencengkeram kedua kaki Ai dan melingkarkan kedua kaki gadis itu hingga ke belakang tubuhnya. Dalam hitungan detik, Kei langsung mengikat kedua kaki Ai, menyatukan kedua kaki gadis itu di belakang tubuhnya dengan menggunakan cravat putih miliknya. Ai sempat berteriak, “Ah!!” tatkala merasakan sakit yang luar biasa begitu Kei mengencangkan ikatan terakhirnya. Dengan gerakan Kei yang secepat kilat itu, kaki Ai sukses melingkari pinggang Kei dan terikat di belakang tubuh pria itu. Menyadari keadaan yang semakin gawat itu, Ai jelas langsung berteriak. Ia langsung ingin meminta tolong kepada siapa pun yang mungkin saja lewat di sekitar rumahnya meskipun ia tahu bahwa rumah Gin itu letaknya jauh dari rumah-rumah lain. Gin tidak tinggal di area permukiman warga yang ramai. Namun, Ai tak mau menyerah. “TOLONG!!!! TOLONG AK—HMM!!!” Teriakan Ai itu kontan terputus karena Kei tiba-tiba kembali mencium bibirnya. Namun, kali ini sedikit berbeda. Kei langsung menciumnya dengan ganas. Langsung meraup bibirnya dengan rakus, melumatnya dengan liar, lalu memasukkan lidahnya ke mulut Ai. Ai kontan merintih; ada setetes air mata yang mulai keluar dari sudut matanya. Sementara itu, Kei langsung melilitkan lidahnya dengan lidah Ai, mengisapnya, lalu sesekali menggigit-gigit kecil bibir Ai. Ia seakan tak berniat untuk melepaskan Ai barang sedetik pun, bahkan tak memberikan Ai waktu untuk bernapas ataupun berpikir. Pria itu terus melumat bibir Ai dengan tak sabar, penuh hasrat, seakan tak ada hari esok. Seakan-akan esok hari ia akan mati atau Ai akan hilang dari muka bumi ini. Beberapa lama kemudian, Kei pun melepaskan ciumannya. Bunyi kedua bibir yang basah itu terdengar begitu erotis tatkala ciumannya terlepas. Ai yakin saat ini mungkin bibirnya sudah bengkak. Ai kembali terisak, air matanya sudah membasahi pipinya. Ia lalu mencoba untuk menarik napas—meski napasnya memburu karena baru saja berciuman dengan Kei—dan menggelengkan kepalanya. “Mengapa? Mengapa kau melakukan ini padaku?!” Tiba-tiba Kei langsung menempelkan keningnya ke kening Ai. Tatapan mata berwarna merah gelap milik pria itu langsung berserobok dengan tatapan mata Ai. Dengan suara rendahnya, pria itu berbisik, “Kaulah yang membuatku melakukan semua ini. Aku hanya ingin membuatmu mengerti bahwa caramu melihatku itu salah.” Ai menatap Kei tak percaya; gadis itu betul-betul merasa heran. Kedua alisnya menyatu dan ia menggeleng samar. “Aku? Kau bilang ini salahku?” Ai menganga. Ia langsung menjauhkan wajahnya dari wajah Kei dan berteriak, “MEMANGNYA APA YANG PERNAH KULAKUKAN PADAMU, HAH?!!! AKU TIDAK MENGERTI!!” Kei menggeram. Ia mengeraskan rahangnya dan langsung mencengkeram dagu Ai dengan sebelah tangan kekarnya. Pria itu kemudian meninggikan suaranya, memandang Ai dengan mata yang melebar dan penuh dengan intimidasi. “KAU MEMANG SELALU TAK MENGERTI!” Mendengar teriakan Kei, Ai langsung tersentak. Ia kaget melihat Kei yang tiba-tiba membentaknya. Kedua matanya melebar. Kei kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Ai hingga hanya berjarak satu jengkal. “Kau pikir untuk apa aku repot-repot menyiapkan kue itu, membayar orang untuk mencarikan obatnya, lalu menunggu hingga kau ditinggal sendirian di dalam rumah?” Kedua mata Ai semakin melebar. Kei…melakukan semua itu? “Kau—” Ai menggeleng tak percaya. “Kau gila. Ada sesuatu yang salah dengan otakmu. Lepaskan aku. LEPASKAN AKU SEKARANG!!” teriak Ai sembari menarik-narik tangannya yang masih terikat. “Aku tahu kalau biasanya di tanggal-tanggal segini bar kalian akan tutup. Bar akan tutup karena Danna akan pergi berkumpul bersama teman-temannya. Teman Danna, Hiroshi itu, hanya akan pulang dari luar kota di tanggal segini,” ujar Kei. Ai menganga. Kei sampai tahu sejauh itu? Ai saja tak begitu memperhatikan semua itu selama ini!! Kalau begitu, sejak kapan Kei merencanakan semua ini?! Kei lalu semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Ai hingga bibir mereka nyaris bersentuhan. Wajah Ai memucat. “Inilah satu-satunya cara agar kau mengerti,” ujar Kei terakhir kalinya sebelum akhirnya ia mencium bibir Ai lagi. Dengan cepat, ciuman itu kembali memanas. “Hmm!!” rintih Ai saat Kei melumat bibirnya dengan kasar. Kei langsung membuka jaket hitamnya dan melemparkan jaket itu ke sembarang arah hingga jatuh ke lantai. Ia kini hanya memakai rompi serta kemeja putihnya yang tergulung di bagian lengan. Setelah itu, ia semakin mengimpit tubuh Ai ke kepala ranjang dan mengunci tubuh Ai dengan tubuhnya yang gagah. Sebelah tangannya yang kekar itu mencengkeram salah satu kayu penyusun kepala ranjang, sementara sebelah tangannya lagi tengah memegangi rahang Ai hingga ke bagian belakang telinganya. Membuat gadis itu diam di tempat dan tetap menerima ciuman panasnya. Kei melilit lidah Ai dengan lidahnya, pria itu mengerang tatkala mendengar Ai tanpa sengaja mengeluarkan suara “Hng!” saat lidahnya bermain di dalam mulut gadis itu. Kei mengeraskan rahang; ia mengumpat di dalam hati. Sial. Dia bisa-bisa gila. Sementara itu, Ai memang benar-benar tak dibiarkan untuk istirahat. Ciuman Kei itu membabi buta, begitu beringas dan tak terkontrol. Ai terus-terusan merintih dan menggeliat minta dilepaskan, tetapi Kei mengimpit tubuhnya dengan begitu kuat. Tubuhnya mulai kehabisan tenaga. Beberapa saat kemudian, Kei melepaskan ciumannya. Pria itu beralih menciumi leher Ai, menghirupnya, lalu menggigitnya kecil. “Ah!!” teriak Ai tatkala Kei mengisap lehernya dengan kuat. Setelah mengisapnya, Kei juga menggigit lehernya di beberapa bagian. “Ke—i!! Hentikan!! Ah!! Kumohon hentikan!!!” Ai yakin lehernya sudah lecet dan luka di beberapa bagian. Ai menangis. Dengan cekatan, Kei langsung membuka separuh kancing piama yang sedang Ai kenakan. Hal ini membuat kedua mata Ai kontan memelotot; ia langsung menggeleng dengan kencang dan berteriak, “JANGAN!!! KUMOHON, KUMOHON SUDAHI INI, KEI!!” Namun, seakan tak menghiraukan teriakan dan permohonan dari Ai, Kei justru memajukan tubuhnya ke arah kepala ranjang, di samping kepala Ai. Pria itu mulai membuka borgol penahan tangan Ai yang sebelah kanan, lalu menurunkan borgol itu sehingga tangan Ai sekarang terikat di bagian bawah kepala ranjang. Hal ini harus ia lakukan jika ia ingin menurunkan posisi borgolnya; borgol itu terpasang dengan ketat di sana karena kayu penyusun kepala ranjang itu berukuran besar. Ai langsung panik. Ia menggeleng dengan wajah yang pucat. “Kei—Kei—sudah, tolong, kumohon. Kumohon!!” Akan tetapi, percuma saja. Kei justru melanjutkan kegiatannya; pria itu beralih ke tangan Ai yang satunya lagi dan sekarang kedua tangan Ai telah terikat di bagian bawah kepala ranjang. Setelah melakukan itu, Kei langsung menarik kaki Ai, menyeretnya ke bawah hingga akhirnya Ai terbaring di kasurnya. Ternyata ia menurunkan belenggu borgol itu agar Ai bisa berbaring di bawah kungkungannya. Terjebak di dalam kuasanya. Berbaring telentang di bawah kurungan tubuhnya. “Kei, kumohon…” Ai menangis; gadis itu sadar bahwa sekarang sudah tak ada cara lagi untuk menyelamatkan dirinya sendiri, kecuali dengan memohon kepada Kei. Agaknya, dia benar-benar akan digagahi. Dia akan diperkosa. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN