Sekarang, Anna dan Rakha sudah baikan.
Sekarang, tidak ada kata marah, saling diam, dan saling bingung satu sama lain.
Tidak ada Rakha yang marah-marah, tidak ada Rakha yang diam saja, dan tidak ada Rakha yang bersikap parah seperti kemarin-kemarin.
Setelah melewati beberapa hari lamanya, melewati beberapa drama untuk menyelesaikannya, akhirnya Rakha mau bicara dan mau memaafkan kesalahan Anna yang tidak disengaja. Iya, serius, bahkan sampai detik ini Anna masih tidak percaya kalau pertanyaannya waktu itu sampai membuat Rakha sensitif seperti kemarin.
Marahnya seorang Rakha itu bagaikan gelap tanpa cahaya bagi Anna. Selain menyesakkan, hal itu membuatnya sedikit takut juga.
Takut kalau Rakha akan semakin menjauh dan tidak berusaha untuk mencintainya.
Tapi untungnya, kemarin Rakha mau menerima kesepakatan yang Anna berikan.
“Oke, kita baikan,” ucap Rakha kemarin. Itu terkesan sedikit menghina, secara tidak langsung dia benar-benar tidak menginginkan tubuh Anna, namun itu tidak masalah, yang terpenting sekarang mereka sudah berbaikan. Persoalan terkam menerkam, itu bisa dilakukan nanti.
"Hari ini kira-kira kau pulang jam berapa?" tanya Anna ketika Rakha baru saja selesai memakai bajunya. Seperti biasa, ketika Rakha bersiap untuk bekerja, Anna hanya diam seraya menikmati pemandangan manis di hadapannya.
"Tidak tahu."
"Bagaimana bisa? Kau yang bekerja seharusnya kau juga yang menentukan kapan pulangnya," imbuh Anna, heran dengan jawaban Rakha barusan.
Tidak mau pusing dan bertele-tele, dengan tangan yang masih merapikan kemejanya, Rakha menghela napasnya pelan. "Memangnya kenapa?" tanyanya.
Diam dengan pandangan yang fokus kepada laki-laki di hadapannya. Anna berdeham ketika otaknya sudah menemukan alasan kenapa ia menanyakan waktu pulang suaminya. "Kalau kau mau, aku mau mengajakmu untuk makan malam di luar. Bagaimana?"
Rakha diam, tidak menjawab. Hal itu diartikan sebagai kata setuju oleh Anna. "Kau setuju?"
"Di mana?" tanya Rakha yang penasaran dengan tempatnya.
"Mm... Untuk itu, serahkan saja padaku. Akan kucari tempat makan paling enak, lebih enak dari tempat makan yang kita datangi waktu lalu." kalau sudah bertanya seperti itu, artinya Rakha akan setuju dengan ajakannya. Merasa senang, Anna mengembangkan sudut bibirnya menjadi senyuman sempurna. "Bagaimana, kau setuju? "
"Tidak, saya ada acara di kantor malam ini. Acara makan-makan bersama rekan saya yang lain."
Senyum Anna seketika memudar, digantikan dengan tatapan heran penuh tanda tanya. “Acara di kantor? Makan bersama?”
Rakha yang tengah memasangkan dasi di kerah bajunya, menganggukkan kepalanya pelan. “Iya, jadi maaf, saya tidak bisa menerima tawaranmu.”
Berdecak, Anna beranjak kemudian menghampiri Rakha di tempatnya. “Kau lebih memilih ikut dengan rekan sekantormu daripada ikut denganku?”
Tunggu, ucapan Anna terdengar sedikit aneh di telinga Rakha. Bukan, bukannya itu tidak benar, namun … sudahlah. Melihat Anna cukup lama, hingga pada akhirnya Rakha kembali menganggukkan kepalanya. “Ya, itu sudah jelas.”
“Sialan! Kau ini suami macam apa, sih? Tidak pernah sekali saja menyenangkan hati istrinya.” Anna mendengus, kemudian kembali berjalan menuju tempat duduk awalnya. Berharap kalau Rakha akan memilih untuk ikut makan malam bersamanya, itu sama saja dengan mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi adanya.
Sekarang bagaimana? Ingin memaksa pun agaknya percuma, sebab acara kantor pun mungkin acara yang penting bagi Rakha.
“Saya tidak seperti mereka, di mana mereka selalu berusaha membahagiakan orang lain daripada dirinya sendiri. Bagi saya, sebelum mereka, harus saya dulu yang bahagia. Itu bukan egois, tapi keharusan. Itu bukan jahat, tapi sesuatu yang memang seharusnya dilakukan.”
Sudahlah, Anna diam saja seperti sampah. Ingin mengamuk pun rasanya percuma.
***
Sudah pukul lima sore. Setelah berbincang bersama mama mertua sekaligus bersama Neneng di bawah, Anna kembali menuju kamarnya untuk membersihkan dirinya di sana. Pikirannya yang sudah gundah sejak tadi pagi, kini semakin gundah karena sampai detik ini Rakha masih belum pulang, masih belum membalas pesannya, dan tidak menjawab panggilannya.
Sialan, dia memang seniat itu untuk membuatnya merana.
Memang, tadi pagi Anna sudah mengiyakan dan tidak apa-apa jika Rakha akan ikut makan bersama dengan teman sekantornya, namun detik ini Anna berubah pikiran. Mau tidak mau Rakha harus ikut makan malam dengannya, tidak boleh dengan teman sekantornya.
Bukannya apa, bukannya Anna merasa terasingkan sebab Rakha tidak memilih dirinya, hanya saja ia sedikit merasa khawatir namun lebih banyak rasa takutnya. Takut kalau di sana, ketika Rakha makan bersama, laki-laki itu akan nakal dan menggoda perempuan di luar sana atau mungkin perempuan yang masih menjadi rekan sekantornya. Atau yang lebih parah lagi, Anna takut kalau Rakha akan main-main bersama felicia, wanita gatal yang tidak lain adalah sekretaris suaminya itu.
Tidak mau kepalanya tambah pusing, Anna meraih ponselnya yang tergeletak di kasur kemudian membuka kontak bernama ‘si ganteng’ di ponselnya. Iya, nama kontak Rakha sudah ia ganti lagi, bahkan sudah berkali-kali.
Niat awalnya yang hendak membersihkan diri kini terlupakan, akibat rasa gundahnya yang tak bisa ditahan lagi.
Dua kali Anna melakukan panggilan, namun tidak terjawab. Entah sengaja atau Rakha yang memang masih sibuk dengan pekerjaan.
Tidak mau berhenti sampai di situ saja, Anna beralih untuk mengirimi Rakha pesan. Pesan yang isinya menyuruh laki-laki itu agar segera pulang, dan semoga bisa langsung dibaca olehnya. Lebih bagus lagi kalau Rakha akan mau menuruti keinginannya.
Anna:
Rakha, kau masih sibuk?
Kapan pulang?
Aku menunggumu?
Kau harus tetap ikut makan malam denganku! Titik! Tanpa penolakan!
Aku tidak akan tenang kalau kau makan malam dan bertemu dengan rekan-rekan kantormu, apalagi dengan wanita gatal itu.
Runtuyan pesan itu sudah terkirim, namun sampai lima menit Anna menunggu, tak kunjung ada balasan juga. Sebenarnya sedang apa Rakha? Bukannya dia sudah berjanji akan pulang terlebih dahulu sebelum ikut makan malam bersama?
Berdecak kesal, Anna sudah akan membanting ponselnya ke kasur namun suara notifikasi menghentikan pergerakannya. Merasa senang bukan main, apalagi ketika melihat notifikasi dari Rakha, Anna segera membukanya.
Si Ganteng:
Sebentar lagi saya pulang. Kamu siap-siap, nanti ikut saya makan malam di acara kantor.
Tunggu, apa Anna tidak salah melihat? Tidak salah membaca? Ia hampir saja berteriak dan meloncat-loncat kalau saja suara ketukan pintu dari pintu kamarnya tidak terdengar. Sialan, Rakha membuatnya salah tingkah seperti ini.
***
Sepertinya, senyum saja tak cukup untuk menggambarkan betapa bahagianya Anna sekarang. Wanita yang mengenakan dress selutut berwarna biru gelap itu tidak berhenti menyunggingkan senyumnya, apalagi ketika Rakha memperkenalkan dirinya ke teman kantor laki-laki itu sebagai seorang istri.
Oh, Tuhan… Anna sangat bahagia sekarang. Wanita yang juga mengikat rapih rambutnya itu benar-benar tidak menyangka kalau Rakha akan mengajaknya makan malam bersama dan mengenalkannya kepada mereka.
Iya, jangan heran, saat resepsi pernikahan mereka berlangsung, Rakha memang sengaja tidak mengundang rekan-rekan kantornya sebab, kalian sendiri tahu seperti apa alasannya. Dan saat ini, hal yang Rakha hindari waktu lalu malah ia lakukan, bahkan dengan senang hati.
“Anna,” ucap Anna seraya tersenyum ketika ada seorang laki-laki yang mengenalkan nama kepadanya. Laki-laki gagah namun tak segagah suaminya. Laki-laki yang cukup tampan, namun tak mampu mengalahkan ketampanan suaminya. Laki-laki yang kalau tersenyum, matanya menyipit hingga tak terlihat. Hampir saja, Anna terpana melihatnya. Kalau saja ia belum memiliki Rakha, akan ia pastikan bahwa laki-laki yang baru saja berjabat dengannya itu akan menjadi calon selanjutnya.
“Kau sendirian?” tanya laki-laki itu.
Apa katanya, sendirian? Anna memicingkan matanya heran, kenapa laki-laki itu bisa bertanya yang bahkan jawabannya sudah diketahui banyak orang. Ia datang bersama Rakha, suaminya, dan dia masih bertanya sendirian? Atau jangan-jangan… ketika Rakha mengenalkan dirinya, laki-laki itu tidak mendengarkan atau bahkan tak ada di sana?
“Aku tidak tahu kalau di lingkungan Alexi Group ada perempuan cantik seperti dirimu. Pesonamu membuat mataku yang bahkan dari jauh pun, terpana dan ingin mendekat. Apakah kau ingin minum, Anna?”
Laki-laki yang sikapnya sangat beda jauh dengan Rakha. Bagaimana ini? Haruskah Anna merespon selagi Rakha ada urusan lain? Haruskah ia minum bersama laki-laki itu? sudah sangat yakin kalau Rakha tidak akan marah, tapi … bagaimana kalau dia benar-benar akan marah kepadanya?
Kalau Anna menolak, sama saja ia menolak dan menghindar dari keberuntungan kedua yang akan ia dapat. Tapi jika ia menerimanya, akan bagaimana urusannya bersama Rakha?
“Hey, apa yang kau pikirkan?” laki-laki itu kembali bertanya membuat Anna tersadar dari lamunannya.
“Ah, tidak.” Anna mendadak jadi grogi. “Aku ingin ke toilet sebentar,” lanjutnya.
Setelah melihat laki-laki itu mengangguk, Anna berjalan menjauh dari sana. Mencari toilet yang entah ada di mana letaknya. Sebenarnya ia tidak ingin ke toilet, hanya saja itu sebagai bentuk penolakan paling baik menurutnya.
Setelah dipikir-pikir, mencari mangsa setelah memiliki suami bukanlah sesuatu yang baik, terkecuali jika mungkin Rakha sudah benar-benar keterlaluan, maka ia akan melakukannya.
Ngomong-ngomong Rakha, sejak tiga puluh menit yang lalu laki-laki itu belum kembali juga. Entah ke mana perginya, yang pasti Anna tidak tahu harus ke mana mencarinya. Ngomong-ngomong Rakha juga, laki-laki itu sudah berbohong kepadanya. Katanya, acara kantornya sendiri, ternyata ini acara seluruh perusahaan yang bersangkutan dengan keluarga Alexi. Katanya hanya ada rekan kantor saja, ternyata mama dan papa mertuanya pun ikut ada di tempat ini, namun mereka tengah bercengkrama dengan tamu seusianya.
“Mati, sekarang aku harus ke mana?” ucap Anna pada dirinya sendiri.
Melanga-melongo seperti orang yang kebingungan, ingin menghubungi Rakha pun ponselnya tertinggal di mobil. Sekarang, harus bagaimana dia? Jika kembali ke tempat tadi, sudah pasti Anna akan khilaf dan meladeni laki-laki yang berbincang dengannya tadi. Kalau tidak kembali, masa iya ia harus berdiri sendirian di lorong sepi seperti ini?
“Ah, bodohnya aku!” dumel Anna. dengan mata yang masih melihat ke sana ke mari, ia kembali berjalan entah akan ke mana nantinya. Semoga ke tempat yang mempertemukannya dengan Rakha.
Sampai di ujung lorong, Anna dihadapkan dengan dua pintu yang ia pun tidak tahu itu pintu apa. Merasa bingung dan tidak mau lebih tersesat lagi, Anna memilih putar balik saja. Biarkan meskipun ia harus bertemu dengan laki-laki itu dan malah khilaf berkepanjangan.
Memang, harusnya Anna tidak bersikap seperti orang bodoh seperti ini. Namun bagaimana? Laki-laki tadi memang tampan, menawan, seksi, berwibawa, hampir sama seperti Rakha. Terlebih dengan sikapnya yang terkesan asik diajak bicara.
Catat dan ingat, kelemahan seorang Anna Lee adalah laki-laki dengan deskripsi yang ia sebutkan tadi.
“Anna?”
Mendengar suara yang ia kenal juga kebetulan suara yang menyebutkan namanya, Anna berbalik. Kembali menolah ke arah dua pintu tadi. Seolah mendapat sesuatu yang amat dan amat mengejutkan, ia mematung dengan bola mata yang sedikit melebar. Tidak, harusnya Anna senang melihat Rakha berdiri di sana, tapi kenapa jantungnya malah merespons seolah ia merasa takut?
“Sedang apa kau di sini? Bukannya sudah saya katakan, kau hanya perlu duduk tenang dan tunggu saya di sana?” Rakha yang keluar dari salah satu dari dua pintu itu berjalan mendekati Anna dengan tatapan yang seolah tengah mengintimidasi.
“Kau lama, jadi kucari saja,” jawab Anna dengan nada sedikit gugup.
Ayolah, bahkan ia tidak membuat kesalahan sedikitpun, tapi kenapa harus bertingkah seolah takut seperti ini? Benar-benar memalukan!
“Kau dari mana saja?” lanjut Anna dengan tatapan yang mulai melunak, tidak setegang sebelumnya.
“Ada urusan,” jawab Rakha. “Lalu, kau sedang apa di sini?”
“Mencarimu.”
“Kenapa bisa sampai ke tempat ini?”
Gila! Bukan hanya tatapannya saja, bahkan cara bicara Rakha terdengar seperti menyudutkan Anna. hey?! Ada apa? Kenapa dia bersikap seperti itu? memang, Anna melakukan hal apa?
“Ah, itu, tadinya aku ingin pergi ke toilet, tapi malah sampai di sini. Aku tidak tahu letak toiletnya ada di mana, jadi aku tersesat,” balas Anna, dengan nada bicara yang dibuat setenang mungkin.
Rakha berhenti tepat di hadapan Anna, dengan tatapan yang masih sama. Lama terdiam membuat gerak-gerik Anna sedikit berubah, seperti ada sesuatu yang tengah disembunyikan. “Tersesat? Ingin pergi ke toilet atau berusaha kabur dari seseorang?”
What the hell?! Kenapa dia bisa tahu? Kenapa Rakha bisa tahu kalau ia tengah berusaha kabur dari seseorang. Anna berdecak pelan, membodohkan dirinya sendiri, kenapa ia harus terintimidasi seperti ini. Bukannya ia tidak melakukan kesalahan? Bukannya tadi ia hanya berkenalan? Tidak lebih dari itu, meskipun awalnya hampir lebih dari itu.
“Tidak, kata siapa?”
“Saya melihatnya.”
Mampus kau Anna! ternyata Rakha melihatnya. Melihat ia berbincang dengan laki-laki tampan dan seksi tadi. Melihatnya yang tadi terlihat seperti ragu antara mengiyakan atau menolak, antara sadar atau khilaf, meski pada akhirnya ia kabur dengan perasaan yang masih berharap.
Anna memang bodoh! Kenapa ia harus berkenalan dengan laki-laki tadi? Kenapa ia harus bersikap seolah merespons dia? Harusnya tadi langsung menolak saja, tidak perlu berbohong sehingga terkesan kabur seperti ini.
Tapi tunggu, kenapa Rakha bisa bersikap seperti ini hanya karena melihatnya bersalaman dan berkenalan dengan laki-laki lain? Apa dia cemburu?
Raut wajah yang awalnya terlihat seperti gugup, kini berubah menjadi berseri dan penuh senyuman. Bahkan, wajah Anna terlihat sedikit memerah. “Tunggu, kenapa kau bisa tahu? Dan kenapa kau bisa bersikap seolah marah seperti ini? Jangan-jangan, sedari tadi kau memperhatikanku, lalu kau cemburu? Iya?”
Semoga saja apa yang diucapkan Anna barusan adalah kebenaran. Karena kalau itu benar, itu berarti Rakha sudah memiliki rasa kepadanya. Cemburu karena cinta, bukan? Memperhatikan dari kejauhan juga bentuk kekhawatiran seseorang terhadap orang yang disayangnya.
Namun sayangnya, harapan Anna harus kandas ketika Rakha menggeleng kemudian berjalan melaluinya begitu saja. Tidak lupa, dia juga mengucapkan kata-kata yang seperti biasa, kata-kata yang menyebalkan bagi Anna.
“Tidak ada sejarahnya seorang Rakha Alexi cemburu kepada Tante gatal seperti kamu, yang kalau melihat lelaki bening sedikit saja, akan bertingkah seperti cacing kepanasan.”
Macam orang edan! Sekarang rakha sudah berani seperti itu kepada Anna.