Sudah dua hari ini, Rakha masih marah kepada Anna, padahal, Anna sudah berkali-kali meminta maaf kepadanya. Anna sadar, apa yang ia tanyakan waktu itu mungkin memang sangat menyinggung perasaan suaminya, pertanyaan sensitif yang menyangkut kehidupan pribadi Rakha di masa-masa dulu.
Sebenarnya ini menantang, namun tidak menyenangkan bagi Anna. lebih baik melihat Rakha marah dan bersikap sinis daripada harus melihat Rakha yang terus diam seperti sekarang. Itu sangat mengerikan!
“Rakha, ayolah, kau masih marah kepadaku?” tanya Anna.
Sore ini Rakha sudah pulang ke rumah, entah kenapa, mungkin pekerjaan di kantornya tidak terlalu padat seperti kemarin-kemarin. Rakha yang tengah duduk sembari membaca sebuah buku di sofa kamar mereka—kebetulan Rakha yang sudah selesai membersihkan tubuhnya—tidak tertarik untuk menjawab pertanyaan Anna barusan, palagi untuk menoleh ke arah wanita itu. posisinya tetap sama, diam, cuek, dan fokus dengan kegiatannya. Hal itu membuat Anna mendengus pelan seraya berjalan menghampiri Rakha di sana.
“Rakha, ayolah, harusnya kita masih bersenang-senang karena baru beberapa hari yang lalu kita sudah sah menjadi sepasang suami istri. Bukannya malah marah-marah seperti ini!” Anna berdeham pelan seraya memegang dagunya sendiri. “Daripada seperti ini, lebih baik kita berbaikan. Atau … kalau dipikir-pikir, bulan madu sekarang tampaknya oke juga. Kebetulan, aku sudah tidak kuat menahan untuk tidak menikmati tubuh seksimu itu.”
Wanita gila! Memangnya dia menganggap tubuh Rakha seperti apa? Rakha benar-benar tidak habis pikir dengan tingkah Anna, bisa-bisanya dia berkata seperti itu tanpa rasa bersalah sedikitpun. Ah, ya, lebih tepatnya bukan rasa bersalah melainkan rasa malu untuk mengucapkannya.
“Rakha! Sekali lagi kau tidak menjawab ucapanku, akan kuterkam kau sekarang juga!” Anna mulai geram di tempatnya. Melihat Rajha yang masih diam, bahkan tak memedulikan keberadaannya.
Ayolah, harusnya dia tak semarah ini. Lagi pula, Anna hanya bertanya, itupun tidak dijawab oleh Rakha. Lalu, apa masalahnya? Anna yang tidak menegrti dengan perasaan laki-laki itu atau Rakha yang terlalu kekanak-kanakan? Anna tidak tahu dan baru tahu kemarin kalau bertanya sesuatu bisa membuat seseorang bersikap seperti ini. Padahal sekali lagi ia tegaskan, bahwa itu hanya sebuah pertanyaan. Dijawab atau tidak dijawabpun Anna akan menerimanya.
Oh, iya, masih ingat dengan rencana yang ia pikirkan saat membantu Neneng memasak di dapur? Sekarang Anna benar-benar ingin melakukannya. Jika di rumah terus dan terus gagal, lebih baik mereka pergi berbulan madu saja. Iya, siapa tahu jika berada di luar rumah ini atau berada di tempat menyenangkan, hati Rakha akan luluh juga.
Atau jangan-jangan… dia malu melakukannya? Ah, tidak, Anna tidak yakin kalau suami mudanya akan berpikiran seperti itu, apalagi merasa takut.
“Rakha?!” Anna sedikit berteriak, hingga membuat Rakha menoleh dengan wajah datar, mungkin sudah merasa kesal berlebihan.
“Kenapa, sih?” tanya rakha sinis.
“Kau tuli atau bagaimana? Sedari tadi aku mengajakmu bicara, tapi kau hanya diam saja seperti orang bodoh yang sengaja tidak mau mendengar,” ucap Anna tak kalah sinisnya.
“Saya sibuk.”
“Sibuk apa? Kau tidak sedang menatap layar laptop, yang ada di tanganmu itu hanya sebuah ponsel genggam, dan kau bilang kau sibuk?”
Dasar bodoh! Rakha tidak habis pikir, katanya wanita berkelas, tapi otaknya bisa sebodoh itu. “Sibuk tidak harus duduk dan menatap layar laptop saja, di mana pun, dengan apa pun, kalau saya bilang sibuk, itu tandanya saya memang benar sibuk. Atau… berarti saya tidak mau diganngu.”
“Jadi aku penganngu?!”
Sudah bodoh, tak pandai sadar diri juga. “Dasar tak sadar diri.”
Wajahnya saja yang tampan, tapi kelakuan dan ucapan minta diterkam. Anna sudah tak tahan lagi, dengan secepat kilat tangannya mengambil alih ponsel Rakha kemudian menaruhnya secara sembarang di meja. Tak peduli dengan tatapan Rakha yang sekarang, tanpa permisi Anna langsung mengalungkan lengannya di leher Rakha, kemudian berusaha menciumnya di sana.
Laki-laki seperti Rakha jika dibiarkan akan semakin keterlaluan, semakin ngelunjak dan tak tau pendirian. Dari pada merasa kesal secara percuma-Cuma, lebih baik Anna memberinya pelajaran saja. Agar dia tahu, kesalnya seorang Anna itu bukan hanya mengesalkan, namun mengerikan juga.
“Kau gila?” desis Rakha dengan tangan yang berusaha melepaskan tangan Anna di lehernya, juga kepala yang berusaha menjauh dari wajah Anna.
“Kau yang membuatku gila!” Anna masih berusaha keras, bibirnya yang sudah sedikit maju masih berusaha menggapai bibir Rakha yang terlihat cemberut. Lihat saja, setelah ini Anna akan membuat Rakha patuh, takit, dan segan untuk berbicara tidak baik kepadanya.
“Hentikan, Anna!” Rakha kembali ersuara dengan nada yang lebih tajam dari sebelumnya. benar-benar gila, demi apa pun seumur hidup Rakha tidak akan pernah menyangka kalau ia akan bertemu dengan wanita gila yang gilanya sudah seperti monyet lepas seperti Anna.
“Tidak mau!” alih-alih melepaskan, Anna malah semakin mengeraskan tenaganya untuk menggapai Rakha, meskipun ia tahu bahwa kekuatannya tidak akan pernah mampu mengalahkan kekuatan laki-laki itu. biarkan saja, kita lihat siapa yang akan jadi pemenangnya. Apakah monyet cuek seperti Rakha, atau gorila lepas seperti Anna.
“Tante gila!”
Mendengar ejekan itu, Anna semakin makin saja rasanya. Ia menyunggingkan senyum kecut, dengan kaki yang tidak hanya tinggal diam. Berusaha menginjak kaki Rakha agar laki-laki itu tidak bisa mundur ke belakang apalagi pergi meninggalkannya. “Bagus, ayo keluarkan semua kata-katamu, ayo ejek aku supaya kekuatan dan hasratku untuk menerkamu, semakin bertambah juga.”
Tuhan… kesalahan apa yang telah dilakukan Rakha di masa lampau sehingga ia harus dikutuk dengan wanita seperti ini? Kesalahan apa yang ia perbuat sehingga harus beremu dan dihadapkan dengan urusan bersama wanita gila seperti Anna?
Demi apa pun, Rakha sudah tidak kuat untuk menahan amarahnya sendiri. Wanita itu sudah keterlaluan.
“Sekali lagi, saya bilang hentikan, Anna!” suara Rakha merendah, namun semakin tajam di telinga. Akan semenyeramkan apa pun, Anna tidak akan pernah mau berhenti menghentikan tingkahnya, sebelum apa yang ia inginkan didapatkan sekarang juga.
“Aku tidak akan berhenti sebelum aku mendapatkan keinginanku.”
“Jangan bodoh!”
“Kau tahu, selain gila dan mengerikan, aku juga sudah bodoh sejak lahir.”
“Anna….” Rakha menghela napasnya pelan. “Hentikan, atau saya akan ….”
“Akan apa, hm? Akan menyerah dan mengikuti semua permainanku?” Anna terkekeh pelan. “Ayolah sayang, kita buat semuanya lebih mudah agar lebih terasa menyenangkan juga.”
Benar-benar tidak bisa dibiarkan. Rakha menarik napas dalam kemudian mengembuskannya secara perlah. Sekuat apa pun ia menahan emosi, sesabar apa pun dia, jika harus dihadapkan dengan wanita seperti Anna, Rakha akan kalah untuk melawan dirinya sendiri.
Rakha sengaja melemaskan tubuhnya, agar Anna bisa sedikit mudah menggapai wajahnya. Namun jangan salah, ada udang di balik bakwan. Ia sengaja melakukan hal itu untuk membuat Anna mendorong dan mengeluarkan semua tenaganya.
Anna sudah hampir mengecup bibir Rakha, namun secepat kilat laki-laki itu mengalihkan wajahnya hingga membuat Anna sedikit terhuyung ke depan. Tanpa mau membuang waktu, secepat kilat juga laki-laki itu mencengkram kedua lengan Anna kemudian menyudutkannya hingga punggung wanita itu menyentuh dinding kamarnya. Mengunci tangan dan tatapan, hingga Anna tidak bisa bergerak sedikitpun.
“Saya sudah memberimu kesempatan untuk menghentikan, tapi kamu tidak mau mendengar ucapan saya.” Rakha berbicara dengan tatapan yang fokus mentap mata Anna. napasnya yang terengah membuat dadanya naik turun, bahkan sampai terdengar suara seperti orang yang sangat kelelahan.
Menghadapi wanita gila seperti Anna memang harus mengeluarkan tenaga yang ekstra. Kalau tidak, dia akan kalah dengan cara yang sangat memalukan.
“Oh, jadi seperti ini maumu?” tanya Anna dengan senyum kecut di bibirnya. Dengan posisi seperti ini, ia tidak merasa takut sedikitpun, malah semakin gencar rasanya ingin menaklukan laki-laki munafik itu.
“Jangan bertindak bodoh.”
“Bodoh?” ulang Anna. “Menikmati apa yang sudah menjadi milik sendiri itu kau sebut bodoh?”
“Bodoh kalau kau terlalu memaksa!” ujar Anna tak mau kalah.
Lihat, selain munafik laki-laki ini juga terlalu naif. “Kau ini munafik sekali, Rakha. Ayolah, jangan mau ribet seperti ini, kita lakukan saja. Atau… akan kubuat kesepakatan. Bagaimana?”
Kesepakatan apalagi? Tidak mendengar penjelasannya pun Rakha sudah tahu kalau itu hanya sebuah bualan saja. Apa yang bisa dipercaya dari wanita seperti Anna?
“Jangan semakin berulah, Anna, saya sudah sangat pusing menghadapinya.”
“Aku tidak akan berulah kalau kau setuju. Akan kulepaskan kau kali ini, tapi berhenti bersikap cuek dan dingin kepadaku. Bagaimana?” Anna menatap Rakha dengan tatapan meyakinkan. “Kita lakukan sekaang, atau baikan?”