Rupanya, sampai pagi ini Rakha masih marah kepada Anna. Terlihat dari sikapnya yang cuek, lain dari biasanya.
Tidak, biasanya juga cuek bebek seperti itu, namun pagi ini benar-benar terlihat berbeda. Lebih cuek dari biasanya. Dia yang biasanya masih mau menjawab ketika ditanya, sekarang hanya diam saja. Rakha yang biasanya akan mendengus serta mendumel ketika Anna bertingkah, sekarang biasa-biasa saja. Anna jadi merasa tidak tertantang sebab sikap Rakha yang benar-benar terlihat malas-malasan kepadanya.
Seburu-buru apa pun, biasanya Rakha tetap menyempatkan waktu untuk ikut sarapan bersama di rumah, namun kali ini tidak. Bahkan laki-laki itu juga mengabaikan perkataan mama dan papanya. Ada apa? Kenapa bisa semarah itu? Padahal, semalam Anna hanya bertanya mengenai perihal Rakha yang pernah depresi waktu lalu.
Sebagai seorang istri, tentu itu tidak masalah, bukan? Anna ingin tahu dan ia sangat penasaran dengan hal itu.
Terlebih, Rakha yang tidak menjawab sedikitpun dari pertanyaan yang ia tanyakan semalam, dia hanya terlihat merubah ekspresi dengan sorot mata yang benar-benar berubah seketika. Setelah itu Anna tidak berani untuk mempertanyakan kembali, apalagi kalau harus menuntut penjelasana. Melihat Rakha seperti itu saja ia sudah yakin kalau laki-laki itu sudah pasti marah kepadanya.
"Rakha kenapa, ya? Kok, tumben dia langsung pergi gitu aja," ucap Raya yang baru saja menghampiri Anna ke ruang tamu.
Anna menghela napas pelan mendengarnya. "Mungkin, Rakha masih marah."
mendengar jawaban dari Anna, Raya mengerutkan keningnya. "Marah? memangnya ada apa? kalian bertengkar?"
Anna menggeleng pelan.
"Lalu?"
Bagaimana? apakah Anna harus jujur kepada mama mertuanya? atau... diam saja dan pura -pura tidak tahu? Jika ia jujur, akan bagaimana tanggapan mama mertuanya, dan jika ia bohong, alasan pa yang harus ia berikan?
Anna benar-benar merasa bersalah kepada Rakha, berikut kepada mama mertuanya. Ia membodohkan dirinya sendiri kenapa semalam ia harus menanyakan hal itu kepada Rakha, kenapa ia tidak bertanya langsung saja kepada mama mertuanya. Kalau sudah seperti ini, Anna harus apa? Bagaimana cara membujuk laki-laki yang dingin seperti Rakha?
“Anna?”
“Ah, iya, Ma? Itu, kami bertengkar persolana Rakha yang pulang malam terus, Ma. Itu kekanak-kanakan, seakan Anna tidak bisa mengerti dengan pekerjaan dia. Maaf, tapi Anna tidak bisa mengendalikan perasaan itu, Ma.”
Cukup terkejut, namun mengesankan. Raya tersenyum seraya mengusap paha Anna yang berada tepat di sampingnya. Pertemuan mereka masih sebentar, keduanya juga masih dalam tahap perkenalan. Namun, entah kenapa raya sudah seyakin itu dengan Anna, sudah sesayang itu kepada menantunya, sudah sepercaya itu kepada Anna untuk menitipkan Rakha yang siapa pun tahu orangnya seperti apa.
Bagaimanapun perasaan anaknya kepada perempuan itu, Anna yakin seyakin yakinnya kalau Anna pasti akan berhasil membuat Rakha jatuh cinta. Pasti bisa membuat Rakha kembali menjadi rakha kecil yang ceria dan bahagia, pasti bisa membawa Rakha ke perubahan yang lebih maju lagi.
Raya pernah mendengar bahwa jodoh adalah cerminan dari diri sendiri. Mungkin bagi sebagian orang itu benar, namun tidak bagi anaknya. Rakha yang cuek mendapatkan Anna yang ceria. Rakha yang dingin mendapatkan Anna yang banyak bicara. Kurangnya Rakha sudah tertutupi oleh Anna, dan begitupun sebaliknya.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa jodoh bukan tentang cerminan diri saja, melainkan tentang dia yang bisa menjadi pelengkap atas kurangnya satu sama lain.
“Nggak apa-apa, sayang. Sebagai istri, sikap seperti itu sangat wajar. Wajar kalau kamu sedikit khawatir tentang bagaimana Rakha di kantornya, wajar juga kalau Rakha tidak suka dengan sikap kamu yang seperti itu. jadi, kalian pasti bertengkar karena hal sekecil itu. it’s okay, tidak masalah. Kalau kalian mau cari solusi, masalah itu akan cepat menemukan jalan keluar.”
Masalahnya, Anna yang terus memupuk pohon pembuat masalah, dan Rakha yang juga ikut menyiramnya. Anna terus mencari masalah, dan Rakha malah selalu menghindarinya.
***
Selesai meeting, Rakha segera kembali ke ruangan pribadinya guna untuk beristirahat sejenak. Lelah batin membuat batinnya ikut lelah juga. Lelah pikiran membuat fisiknya ikut melemah juga. Lelah dengan realita, membuat kepalanya berhenti berekspetasi tinggi.
Setelah perjodohan yang rasanya seakan membuat Rakha terbunuh secara perlahan itu, kenapa harus muncul masalah baru?
Demi apa pun, meski sempat kesal dan gondok bukan main, Rakha tidak terlalu mempermasalahkan pertanyaan Anna mengenai keperjakaan, tetapi tidak dengan pertanyaan keduanya. Pertanyaan yang hampir membuat jantungnya berhenti berdetak, pertanyaan yang tidak bisa ia jawab semalam, sekarang bahkan mungkin sampai waktu yang lama pun tidak akan pernah bisa ia jawab. Pertanyaan yang bertanya, namun terdengar seolah memastikan.
Rakha tidak tahu dari mana Anna bisa mendengar sampai berpikir dan bertanya seperti itu kepadanya, yang pasti, hingga detik ini Rakha masih merasakan sensasi awal ketika mendengar pertanyaan itu.
Iya, memang terdengar sangat berlebihan. Namun bagaimana? Pertanyaan itu memang benar-benar sensitif bagi Rakha, benar-benar menyangkut dan berpengaruh yang sangat dalam, dalam kehidupannya. Pertanyaannya sederhana, namun mematikan. Pertanyaan yang mungkin hanya butuh jawaban iya atau tidak, namun Rakha tak mampu mengatakannya.
Dering ponsel membuat perhatian Rakha yang awalnya tengah memejamkan mata seraya bersandar di sofa, teralihkan begitu saja. Dengan malas-malasan ia bergerak meraih ponselnya yang ada di meja. Setelah melihat siapa orang yang memanggilnya, ia langsung menjawab tanpa jeda.
“Hallo?”
“Iya, Ma?” ucap Rakha membalas sapaan mamanya di ujung sana.
“Kamu udah selesai meeting? Udah makan siang? Sekarang lagi sama siapa di ruangan?”
Rakha menghela napas, sedikit kesal dengan mamanya yang bertanya seperti itu. terlalau banyak, hingga ia bingung harus menjawab yang mana terlebih dahulu. “Udah semua.”
“Lagi sama siapa di ruangan? Sama Feli atau sendiri?”
“Sendiri,” jawab Rakha.
Terdengar helaan napas di ujung sana, entah karena apa itu. rakha sedikit was-was, namun lebih ke merasa takut. Sebab, tidak biasanya mamanya bertanya seperti sekarang. Was-was akan ada apa dan apa yang akan dibicarakan mamanya, dan takut kalau mamanya akan membahas pertanyaan yang ditanyakan oleh Anna semalam.
Bukannya berpikiran yang tidak-tidak, hanya saja Rakha sudah lebih dari yakin kalau Anna pasti akan menceritakan kejadian semalam kepada mamanya, dia pasti mengadukan apa yang ia lakukan semalam. Dan wanita gila itu pasti akan menjadikan mamanya sebagai tameng, agar ia mau menjawab pertanyaannya yang semalam.
Memang wanita gila dan mengerikan!
“Mama mau tanya sama kamu, kamu jawab yang jujur.”
Terlihat jelas, bukan? Dengan mamanya yang bicara seperti itu, sudah pasti akan ada sesuatu yang sebentar lagi akan menimpanya. Entah itu baik atau sebaliknya. Entah itu menguntungkan atau sebaliknya. Entah itu membuatnya kembalu tersudutkan atau sebaliknya.
Entahlah, sejak hari mengerikan itu, hidup Rakha memang sudah tidak ada kemungkinan untuk berbahagia lagi.