Depresi?

1846 Kata
Malam pertama gagal, malam kedua pun gagal. Anna tidak tahu apa yang membuat Rakha sampai setidak mau itu untuk menyentuh tubuhnya. Padahal, apa yang kurang? Wajahnya cantik, bodinya juga sangat aduhai. Biarpun malas, padahal Rakha juga bisa hanya diam dan menikmati saja, biar Anna yang bermain sepuasnya. Namun demi apa pun, semalam Anna sudah berusaha sekuat tenaga, menggoda suaminya dengan cara ternakal sekalipun, dia tidak berkutik sama sekali.   Sekuat itukah imannya? Padahal, apa yang dilakukan oleh Anna semalam benar-benar termasuk ke dalam kategori keterlaluan.   Dua malam yang penuh dengan kegagalan dan kekecewaan, kali ini Anna merencanakan sesuatu yang semoga saja bisa membuat keinginannya terwujud dengan segera. Sebenarnya terdengar aneh dan memalukan, di mana Anna bersikap seolah ia yang mengemis dan meminta agar bisa bersentuhan dengan Rakha. Namun tidak apa, karena itu memang kenyataannya. Sekarang sudah bukan tertarik lagi, level perasaan Anna terhadap Rakha sudah berubah jadi obsesi.   “Aduh, Non, Non Anna nggak usah turun tangan, semuanya biar Neneng yang urus.”   Mendengar itu, Anna menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak apa, lagi pula, saya bosan jika harus diam terus di kamar. Saya ingin bantu kamu, sekalian belajar memasak juga,” balasnya.   Iya, siang ini Anna keluar dari kamar dan menghampiri Neneng—asistan di rumah Rakha—yang tengah memasak makanan di dapur. Akibat rasa bosan yang kian memuncak, Anna memantapkan diri untuk membantu Neneng sekaligus belajar masak di sana.   Siang ini, hanya ada Anna dan Neneng di rumah. Kang Doyok tidak ada karena tengah bercuti untuk pulang ke kampung halamannya. Nyonya dan tuan rumah juga tidak ada, mereka pergi ke luar kota untuk menghadiri undangan dari saudaranya. Sedangkan Rakha seperti biasa, pergi ke kantor sejak pukul delapan pagi tadi.   “Aduh, Neneng takut dimarahin sama Mas Rakha,” jawab Neneng dengan wajah cemberut, menyiratkan rasa takut di dalamnya.   “Jangan takut, Rakha tidak mungkin marah.”   “Tapi, Non?”   Anna menghela napasnya pelan. Lengannya mulai bergerak, ikut memotong sayur sama seperti yang tengah dilakukan oleh perempuan di dekatnya. Apa yang diucapkannya barusan, itu sebuah kenyataan, harusnya Neneng tidak perlu khawatir dengan hal itu.   Untuk tahu kabarnya saja Rakha tidak akan pernah mau peduli, apalagi dengan Anna yang nekat belajar masak siang ini? Laki-laki cuek macam rakha tidak akan pernah mau repot mnegetahui atau ikut campur dengan apa yang dilakukan oleh orang di sekitarnya. Sekalipun Anna sudah berstatus sebagai istrinya, tetap saja, rakha tidak akan pernah mau peduli dengan hal itu.   “Percaya sama saya, kamu tidak akan kena marah,” balas Anna lagi.   Pada akhirnya, Neneng hanya bisa mengangguk pasrah. Berharap semoga apa yang dikatakan oleh perempuan yang sudah berstatus menjadi istri dari anak majikannya itu benar, dan ia tidak akan kena marah oleh Rakha maupun tuan dan nyonya-nya.   “Kamu sudah lama bekerja di sini?” Anna membuka suara. Meskipun sudah bisa ditebak kalau sikapnya dengan sikap Neneng sangat jauh berbeda, Anna tetap ingin kalau akhirnya mereka bisa dekat sedekat Neneng dengan mama mertuanya.   Neneng mengangguk seraya menjawab, “iya, Non. Sudah lama, sejak Mas rakha masih dalam proses penyembuhan.”   Tunggu, Anna mendengar kata yang aneh dalam ucapan Neneng barusan. Penyembuhan? Maksudnya penyembuhan apa? Rakha kenapa? Dia sakit apa?   “Wait, wait, wait, what does it mean?”   Bukannya menjawab, Neneng malah menggaruk kepalanya sendiri akibat perkataan Anna yang tidak masuk ke dalam otaknya. Ayolah, Neneng hanya lulusan SMP, itupun sekolah di kampung yang tidak mengutamakan Bahasa Inggris. “Anu, Non, what the maksud? Neneng nggak tau artinya apa.”   “Saya tanya, maksudnya apa? Maksud penyembuhan itu apa? Rakha pernah sakit apa sampai harus melalui proses penyembuhan?” Anna kembali menjelaskan.   Sekarang, Neneng mengangguk paham. “Oh itu, itu Non, Mas Rakha pernah ngalamin depresi berat sampai harus dirawat di rumah sakit segala.”   Apa?! Depresi?! Depresi karena apa? Kenapa Anna tidak pernah tahu akan hal itu? kenapa tidak ada yang memberitahunya?   “Depresi?!” ujar Anna dengan wajah terkejut.   Neneng kembali menganggukkan kepalanya. “Iya, Mas Rakha pernah depresi.”   ***   Penasaran dengan ucapan Neneng tadi siang, malam ini Anna berencana akan menanyakannya langsung kepada Rakha. Apa benar Rakha pernah mengalami depresi? Apa benar suaminya seperti itu?   Biarlah malam ini ia tidak bertingkah dan berbuat ulah terlebih dahulu, sebab ia akan fokus bertanya kepada laki-laki itu.   Malam sudah menunjukan pukul tujuh malam, tapi suaminya tak kunjung pulang juga. Anna sudah melakukan beberapa panggilan, namun tak terjawab, ia juga sudah mengirim banyak pesan, namun tidak ada balasan juga.   Sebenarnya ke mana dia? Kenapa tidak bisa dihubungi?   Alih-alih takut suaminya kenapa-napa, Anna malah lebih takut kalau Rakha ada main dengan perempuan di luaran sana. Awas saja kalau itu sampai terjadi, akan ia pastikan bahwa malam ini Rakha sudah tidak perjaka lagi.   Berkali-kali mendengus kesal, Anna beranjak dari kasurnya, ia berniat akan menunggu Rakha di bawah saja, tepatnya di ruang keluarga. Namun, ketika baru saja ia akan memegang gagang pintu kamarnya, pintu kamar itu sudah terbuka dari luar dan memperlihatkan Rakha dengan wajah lelahnya.   ‘Akhirnya, dia datang dengan keadaan selamat, tapi, apakah keperjakaannya masih utuh?’ ujar Anna dalam hati.   “Kenapa?” tanya Rakha yang heran dengan tatapan Anna kepadanya.   Anna menggelengkan kepalanya pelan. Tanpa diminta dan tanpa permisi wanita itu menarik lengan Rakha kemudian membawanya menuju sofa, tak peduli seberapa marahnya laki-laki itu.   “Ada apa, Anna?” tanya Rakha lagi, yang kini sudah duduk di sofa dengan tatapan heran yang masih dilayangkan kepada istri gilanya itu.   Diam sejenak, Anna menarik napas kemudian mulai menyuarakan hal yang sedari tadi ia pikirkan. “Aku ingin bertanya kepadamu.”   “Silakan,” jawab Rakha cepat. “Selagi masih bisa saya jawab, saya akan menjawabnya.”   “Ini serius, amat serius. Jadi, kau harus menjawabnya dengan jujur,” ucap Anna lagi.   Menghela napas, Rakha tidak suka dengan Anna yang selalu bertele-tele seperti ini. “Iya, apa?”   Tidak, Anna sangat ragu untuk mengatakannya. Bagaimana kalau Rakha marah? Bagaiaman kalau Rakha akan tersinggung? Sikap Rakha yang sekarang sudah sangat cuek dan dingin, ia tidak mau jika hal itu akan semakin bertambah lagi ketika Rakha marah kepadanya.   Apakah ini pantas untuk ditanyakan? Mengingat, hal yang akan ia tanyakan sekarang, menyangkut dengan kepribadian. Apakah sopan jika ia ingin tahu apa yang seharusnya tidak ia tahu?   Merasa pusing sendiri, pada akhirnya Anna menghela napas kemudian meyakinkan dirinya sendiri. Setelah diam cukup lama, Anna kembali menatap Rakha dengan tatapan yang tak bisa dideskripsikan. Seperti merasa tak enak, namun keponya sudah kelewatan. “Rakha, aku ingin bertanya. Ini serius, kau harus jawab dengan jujur.”   Sudah tambah gila, kah? Sedari tadi Rakha sudah mempersilakan wanita itu untuk bertanya, namun dia malah semakin bertele-tele sampai detik ini. Hal ini membuat Rakha semakin kesal, dan ingin pergi saja rasanya. “Iya, silakan. Sekali lagi kamu seperti itu, saya akan pergi.”   Anna menghela napasnya pelan. “Oke, jadi, maaf kalau ini terlalu personal untuk ditanyakan. Tapi aku penasaran. Emm… aduh, itu… aku penasaran, apa kau masih perjaka?”   Benar-benar wanita gila! Gila yang gilanya sudah gila sungguhan. Rakha benar-benar tercengang mendengarnya, apa yang ditanyakan oleh wanita itu bukan hanya pertanyaan personal saja, melainkan pertanyaan yang seharusnya tidak ditanyakan.   Oke, Anna istrinya, sangat wajar jika wanita itu mengkhawatirkan persoalan yang ditanyakan barusan. Namun, apakah itu perlu? Sudah tidak perjaka pun agakanya tidak akan menjadi masalah, mengingat Anna sendiri pun pasti sudah lepas segel dengan laki-laki liar di luaran sana. Ya, Rakha yakin dengan pemikiran yang diungkapkannya barusan.   “Kau gila?” tanya Rakha. Laki-laki itu sudah akan berdiri hendak pergi dari hadapan wanita gila itu, namun tak sampai berdiri lengannya sudah kembali ditarik. Memang sialan!   “Aku butuh jawaban,” ucap Anna dengan mata yang terlihat serius.   “Saya tidak perlu menjawabnya.”   “Why? Apakah kau sudah menjual keperjakaanmu itu kepada wanita jalang di luaran sana?” Anna sedikit berdesis mengatakannya.   Mendengar hal itu, pupil mata Rakha sedikit membesar. Bukan, bukan karena apa yang diucapkan oleh Anna itu benar, melainkan karena kenyataannya tidak seperti yang Anna ucapkan. Yang benar saja, laki-laki murahan mana yang akan menjual keperjakaannya?   “Dasar gila!”   “Aku butuh jawaban, Rakha.”   “Saya tidak mau menjawabnya, Anna.”   “Iya, but why? Apa kau takut? Apapun jawaban darimu, akan tetap kudengar. Ya, meskipun kemungkinan aku akan kecewa mendengarnya.”   Demi apa pun, kalau saja melempar Anna ke laut tidak akan membuat masalah baru dalam hidupnya, mungkin Rakha sudah melakukan hal itu sekarang juga. Selain banyak bicara, selain gila, selain mengerikan, wanita itu juga benar-benar memiliki sikap yang menjijikan. Di mana letak harga dirinya? Di mana yang katanya dia wanita yang berkelas, ternyata memiliki sikap yang rendahan seperti ini.   Sebenarnya, ini biasa saja, daripada pusing dengan pertanyaan Anna yang kemungkinan akan lebih berlanjut, Rakha bisa saja pura-pura kebelet ingin ke kamar mandi dan meninggalkan Anna dan segala pemikiran gilanya. Namun, sekali lagi Rakha tegaskan bahwa dia tipe orang yang tak suka berpura-pura, apalagi berdrama.   “Rakha, sekali lagi aku katakan, aku butuh jawaban dengan segera agar rasa penasaranku tak semakin meronta-ronta.” Anna kembali bertanya, dengan mata yang kini lebih terlihat memaksa. Berusaha terlihat lembut nan menggemaskan, namun kemungkinan yang akan dilihat dan disimpulkan oleh Rakha ialah tatapan yang aneh dan menjijikan.   “Saya tidak mau menjawabnya.”   “Oke, biar kusimpulkan saja, kuyakin bahwa kau sudah tak perjaka. Iya atau iya? Jawabannya hanya dia, iya dan iya saja.” Mendengus kecewa, Anna mengubah posisi duduknya menjadi menyamping dari arah Rakha. “Sebenarnya sudah kuduga, tapi aku hanya penasaran saja. Haduh… kurasa, ada yang retak tapi bukan kaca, ada yang hancur berkeping-keping tapi bukan remahan biskuit di toples kaca.”   “Saya masih menjaga hal itu, tolong simpan persepsi burukmu itu.” pada akhirnya, Rakha menjawab pertanyaan gila itu dengan jawaban simpel namun sudah jelas kepastiannya. Ya, dia masih menjaganya, dia masih perjaka, dia masih tersegel dengan sempurna. Meskipun tidak bisa dibilang laki-laki baik sepenuhnya, Rakha juga memiliki batasan tersendiri dalam hal itu.   Jawaban yang mengejutkan, namun tidak mengecewakan. Anna langsung berbinar mendengarnya. “OMG, kau serius, tidak sedang bercanda? Ya, ampun, Tuhan dan semesta memang paling adil memilihkan jodoh sempurna untuk diriku. Sudah tampan menawan, sudah seksi menggoda, ternyata, masih tersegel pula.”   Anna terkekeh setelahnya, memikirkan keberuntungan besar yang kini telah menghampiri hidupnya. Terlalu senang, bahkan ia sampai lupa dengan pertanyaan awal yang akan ia tanyakan kepada Rakha sebelumnya.   “Kau menjaganya untuk istrimu saja?”   Meskipun sempat mendengus kasar, Rakha tetap menganggukkan kepalanya.   “Kau luar biasa sekali.” Anna masih tersenyum. Setelah memerhatikan Rakha dengan tatapan sedalam samudra, ia kembali mengingat pertanyaan awal yang akan ia tanyakan sebelumnya. pertanyaan mengenai depresi, bukan malah keperjakaan seperti yang ia tanyakan tadi.   “Aku masih memiliki pertanyaan untukmu, dan kau harus menjawab dengan jujur seperti barusan.”   Apalagi? Tidak cukup kah Anna membuat Rakha kesal bukan main seperti ini? Tidak cukup kah dia membuatnya pusing melinting seperti yang lalu, kemarin dan saat ini?   Rakha menghela napas lesu, bahkan untuk menghindarpun sepertinya ia tidak akan pernah mampu. “Apalagi?”   “Sekarang aku tidak akan bertele-tele, langsung pada intinya saja.” Anna menarik napas dalam, kemduian mengembuskannya secra perlahan. “Kau pernah depresi? Atau… kau pernah melakukan perawatan khusus untuk penyembuhan baik secara fisik maupun mental?”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN