Malam ini malam kedua.
Bukan, bukan malam kedua setelah pernikahan Anna dan Rakha, melainkan malam kedua bagi Anna yang akan kembali melancarkan aksinya. Melancarkan aksi yang di mana masih gagal dan belum dilakukan sampai sekarang.
Ini gila! Benar-benar gila! Anna pikir, setiap malam setelah pernikahan atau yang sering disebut malam pertama, pasangan pengantin akan melakukan hal-hal negatif namun positif di dalam kamar, namun ternyata tidak. Sangat jauh dari dugaannya.
Ah, sepertinya tidak seperti itu. Mungkin, bagi mereka yang menikah karena cinta, akan langsung melakukannya. Namun tidak dengan Anna dan suaminya, yang di mana pernikahan mereka saja didasari oleh keterpaksaan.
Sebenarnya Anna akan siap-siap saja, biarpun lama dan permainannya sangat ganas, Anna tidak akan pernah mempermasalahkan hal itu. Malah, mungkin yang ada Rakha yang malah ketar-ketir menghadapinya.
"Rakha?" ujar Anna, memanggil Rakha yang tengah membersihkan tubuhnya di kamar mandi.
Hari ini, tidak seperti biasanya Rakha pulang malam, tepat pada pukul delapan malam. Alhasil laki-laki itu melewatkan makan malam bersama keluarga dan harus mandi malam-malam seperti ini. Tidak apa, meskipun Anna sempat curiga, pada akhirnya ia tetap biasa saja, malah merasa senang karena menganggap bahwa hal ini bisa dijadikan kesempatan.
"Rakha?!" Anna kembali berteriak karena Rakha tak menjawab di dalam sana. Sebenarnya sedang apa laki-laki itu? Sedang mandi? Sedang menggosok badan? Atau... Sedang melakukan hal-hal yang aneh?
Astaga... Kenapa Anna jadi m***m seperti ini? Demi apa pun, jika diperbolehkan ia sangat ingin masuk ke dalam sana dan mandi berdua bersama lelaki tampan dan seksinya. Anna tidak bisa membayangkan akan sepanas apa jika mereka berhasil melakukan hal yang ia inginkan di dalam sana.
Astaga... Lagi-lagi Anna berpikiran m***m! Sangat memalukan, namun itu memang kenyataan.
“Rakha?!” sekali lagi, Anna berteriak memanggil nama suaminya. Jika masih tidak ada sahutan di dalam sana, Anna akan nekat mendobrak pintu dan menerkam Rakha saat ini juga. Tidak apa, sedari lahir Anna memang sudah gila, dan sekarang ia akan semakin tambah gila karena kecuekan suaminya.
Rakha ini memang benar-benar menantang. Sikapnya cuek dan labil, iman dan nalurinya kuat sekuat baja, dan tingkahnya selalu sukses membuat Anna terpana. Masih ingat dengan Anna yang memeluk Rakha dari belakang? Iya, ketika mereka membicarakan persoalan cinta yang tumbuh tanpa ada alasan.
Mungkin, jika saja Anna lebih bergerak cepat, saat itu keperjakaan Rakha sudah terenggut langsung olehnya. Hanya tinggal sedikit, namun sialnya pintu kamar mereka diketuk dari luar sana yang mana hal itu membuat niat nakal Anna kandas begitu saja.
Sangat disayangkan. Padahl, jika hal itu sudah terjadi, mungkin saat ini ia akan senang dan bahahagia sepanjang hari.
Ah, sial! Anna malah semakin tidak tahan untuk itu.
Cukup lama Anna menunggu, namun Rakha masih belum menyahuti panggilannya juga. Baru saja ia akan bersiap mendobrak pintu kamar mandi yang belum tentu akan terbuka itu, pintu malah terbuka dari dalam dan memperlihatkan Rakha yang berdiri dengan rambut basahnya. Berdiri dengan wajah freshnya. Berdiri dengan kaus tanpa lengan dan celana kain yang panjangnya hanya sebatas paha saja.
Laki-laki gila! Maksudnya apaan?
Dia yang tidak mau, namun dia juga yang selalu berpenampilan untuk menggodanya.
Sikap dan kelakuan Rakha sudah layak dibilang pemberi harapan palsu, kah?
“Hey, lihat laki-laki di hadapanku ini. Dia selalu menolak, namun terlalu menggoda jika tidak di tindak.” Anna berbicara seraya memperhatikan Rakha yang masih diam di hadapannya. Memperhatikan penampilannya dari ujung kepala hingga ujung kaki, sampai ia tidak menemukan satupun kekurangan di dalamnya.
Laki-laki sesempurna ini akan sangat berdosa jika disia-siakan. Mau tidak mau, pokoknya malam ini Anna harus mendapatkannya.
“Apa?” tanya Rakha dengan wajah datarnya. Memang labil, kemarin sudah terlihat seperti luluh dengan sikap Anna, tapi sekarang sikapnya sudah kembali seperti semula. Memang dia pikir Anna ini wanita seperti apa? Wanita yang mau diberi harapan tanpa kepastian? Tentu tidak!
Alih-alih menjawab ucapan Rakha barusan, tanpa permisi Anna mengambil alih handuk putih yang ada dalam genggaman laki-laki itu, kemudian menarik lengan Rakha dengan tarikan yang sangat keras hingga laki-laki itu tidak bisa mengelaknya.
“Ada apa, Anna?” Rakha masih berusaha bersikap tenang, karena baru saja ia selesai menenangkan diri dengan cara membersihkan tubuhnya. Kelakuan Anna jika langsung ditanggapi dengan wajah kesal, wanita itu akan semakin menjadi-jadi di hadapannya. Jadi, santai saja.
Berjalan beberapa langkah, Anna membawa Rakha menuju sofa yang ada dalam kamarnya. Mendudukan laki-laki itu secara paksa, kemudian kembali menatapnya. “Tubuhmu terlihat atletis, tapi melawanku saja sepertinya tidak mampu. Kau lemah atau memang berniat mau menerima permainanku?”
Menghela napas seraya memutar bola matanya malas. Sudah bisa dilihat, bukan? Anna memang selalu seperti ini. Tengil dan selalu menjengkelkan. “Sudah saya katakan, saya tidak pernah dan tidak akan pernah bersikap kasar kepada perempuan. Saya bisa saja mnegelak dan menghempasmu begitu saja, tapi apa yang akan saya dapat nantinya? Hanya sebuah penyesalan, tidak lebih dari itu.”
Terdengar aneh, namun entah kenapa Anna sedikit senang mendengarnya. “Menyesal? Kau akan menyesal karena telah menghempas perempuan atau istrimu yang berkelas ini? Ah, tidak kusangka, ternyata di balik sikap dinginmu, ternyata kau memiliki sikap manis juga.”
Percaya diri itu bagus, namun sangat buruk jika terlalu berlebihan.
“Saya akan menyesal karena telah berurusan dengan mama papa dan keluarga kamu nantinya. Kalau aksi saling menghempas itu terjadi, saya yakin mulutmu tidak akan tinggal diam nantinya.”
Rakha ini memang gila! Sekali dibuat salting, ujung-ujungnya dibikin sinting juga. Anna mendengus mendengar penjelasan laki-laki itu. sedikit kesal, namun lebih banyak ke rasa malunya.
Daripada menjawab yang kemungkinan ia akan salah memberi jawaban, lebih baik Anna segera melancarkan niat baiknya saja. Jangan langsung pada intinya karena sesuatu yang panas juga butuh pemanasan, bukan?
Setelah diam beberapa saat, Anna bergerak mengangkat lengannya kemudian berhenti tepat di rambut Rakha yang masih basah. Tanpa memedulikan tatapan horor laki-laki itu, Anna langsung menggerakan handuk di telapak tangannya. Gerakan abstrak, namun tetap teratur. Ke kanan dan ke kiri, ke atas dan ke bawah, ke depan dan ke belakang, hingga ia tidak sengaja menarik sedikit rambut Rakha, bahkan sampai membuat laki-laki itu mengaduh.
“Saya bisa sendiri, Anna,” ucap Rakha dengan wajah yang sudah berusaha untuk terlihat sesabar mungkin.
“Tidak, biarkan aku yang melakukannya.”
Tidak mau itu tetap berlanjut, Rakha berusaha menghentikan pergerakan lengan Anna, namun sialnya ia tidak pernah bisa. Wanita itu terlalu lincah untuk laki-laki dingin sepertinya.
“Biarkan aku saja yang melakukannya. Bukannya hal ini juga termasuk ke dalam salah satu tugas seorang istri?” Anna masih bergerak mengeringkan rambut suaminya.
“Iya, tapi saya lebih senang melakukannya sendirian,” balas Rakha.
“Sekarang, biarkan ini menjadi rutinitasku.”
Sudah gila, dia seorang pemaksa juga. Demi apa pun, kalau saja pernikahannya dengan Anna hanya sebuah akting saja, Rakha akan mengundurkan diri karena sudah tak siap lagi. Rakha lebih baik digantikan daripada harus stres menahan kesal seperti ini.
Anna sudah benar-benar keterlaluan. Meskipun hubungannya sudah menjadi suami istri, wanita itu tidak seharusnya bertindak seenaknya seperti ini. Bukannya suami istri juga memiliki keinginan secara pribadi?
Tanpa mau pusing lagi, pada akhirnya Rakha hanya memilih diam dan menurut saja. Berusaha meredakan emosinya yang mulai naik, bahkan mungkin sudah membuat wajahnya sedikit memerah.
“Bagaimana, kau setuju?” tanya Anna memastikan jawaban Rakha tentang ucapannya barusan.
“Terserah,” jawab Rakha cepat.
“Kau marah?”
“Apapun menyangkut kamu, saya selalu marah.”
“Uh, okay. But, why? Apakah aku membuat kesalahan?”
“Selain gila dan pemaksa, kamu tipe tak sadar diri juga ternyata.”
Rasanya Anna ingin tertawa melihat ekspresi wajah Rakha sekarang. Terlihat datar, namun benar-benar menggemaskan. “Kau menggemaskan.”
“Cukup, Anna.”
“Ini belum kering sepenuhnya.”
“Tidak apa, biar saya saja.”
Anna berdecak pelan karena Rakha benar-benar keras kepala. “Biarkan aku saja. Kalau kau melakukan ini sendirian sedangkan aku sedang tidak melakukan apa-apa, lalu fungsiku sebagai seorang istri ini apa?”
“Tidak ada,” jawab Rakha cepat.
“Sialan, untung kau tampan.” Anna menghela napasnya pelan, dengan tangan yang masih bergerak mengeringkan rambut si tampannya. “Selain umurku yang lebih tua darimu, aku juga seorang istri yang perlu kau hormati. Jadi, bersikap sopanlah, Rakha, jaga bicaramu ketika berhadapan dengan ku.”
“Sebelum berbicara, tolong berkaca terlebih dahulu. Memangnya kamu sudah menghormati saya?” tanya Rakha membalikan fakta yang diucapkan oleh Anna. “Untuk menghargai penolakan saya saja, kamu belum bisa.”
“Itu beda lagi.”
“Beda apanya?”
Anna mendengus pelan, lalu menatap wajah Rakha yang berada sedikit di bawahnya. “Karena kau selalu menolak apa yang ingin aku lakukan. padahal, itu enak dan menguntungkan.”
Tolong bawa Rakha hilang sekarang juga, ia sudah tidak tahan menghadapi wanita gila yang tengah berdiri di hadapannya itu. “Terserah kamu saja.”
“Iya, memang terserah padaku. Tapi aku serius, kau harus menjaga ucapan ketika tengah bersamaku. Kalau tidak ….”
“Apa?” Rakha sedikit penasaran.
“Akan kuterkam kau saat itu juga. Dengan sangat terpaksa, dengan ganas, dan maaf, aku tidak akan berhenti sebelum puas.”
Wanita yang benar-benar sudah kehilangan syaraf sadarnya!