Setelah acara marah-marah dan ngambek-ngambekan kemarin, akibat Anna yang merasa cemburu dengan wanita gatal bernama Felicis itu, setelah Rakha memberinya sedikit bujukkan, ingat, hanya sedikit! Kini Anna sudah kembali bersikap seperti biasa. Layaknya wanita yang gatal dan usil kepada suaminya sendiri.
Saat ini, Rakha tengah bersiap-siap untuk menuju kantornya, sedangkan Anna hanya duduk seraya memerhatikan laki-laki yang demi apa pun semakin hari semakin terlihat tampan itu.
"Berhenti melihat saya seperti itu, Anna," ucap Rakha yang baru saja selesai mengancingkan seluruh kancing kemejanya.
Anna yang tengah duduk di sebuah sofa panjang yang ada di kamar Rakha, tersenyum ketika mendengar ucapan suaminya barusan. Ayolah, melihat Rakha dengan penampilan seperti sekarang ini, benar-benar membuat Anna tak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Bayangkan, celana bahan mengkilap itu terlihat sangat pas, membentuk pinggul Rakha yang demi apapun sangat dan sangat menggoda itu. Kemejanya yang masih belum dimasukan ke dalam celana, membuat hati dan otak nakal Anna berteriak dan membrontak, menginginkan bahwa tangannya sendiri yang harus memasukan kemeja Rakha ke dalam celananya.
Oh Tuhan... Pikiran Anna sudah melayang ke mana-mana sekarang.
Selain dua hal itu, jangan lupakan rambut Rakha yang masih basah dan acak-acakan, belum dikeringkan dan disisir sama sekali. Anna sudah menawarkan dirinya untuk mengeringkan dan menyisirkannya, namun Rakha menolak dengan alasan yang tidak masuk akal. Takut kalau ia tidak becus melakukannya, katanya. Padahal, meski Anna tak bisa melakukan pekerjaan yang sering dilakukan oleh perempuan lainnya, kalau soal mengeringkan dan menyisir, ia masih bisa. Sebab, ia juga seorang pemain dalam hal itu ketika di Amerika.
"Tubuhmu sangat menggoda," balas Anna dengan senyum jahilnya.
Melihat tatapan juga senyum Anna yang seperti itu, Rakha berdecih dengan tatapan seolah merasa jijik. "Ucapanmu menjijikan!" desisnya.
"Dasar munafik!" Anna terkekeh kemudian beranjak dari duduknya. "Kau selalu menolak, padahal aku tahu kalau kau sudah menginginkannya."
"Jangan mengada-ngada! Memang, saya menginginkan apa?"
Anna kembali terkekeh, kali ini terdengar cukup keras. "Menginginkan tubuhku! Jangan kira aku tidak tahu kalau kau sering menelan ludah ketika melihatku keluar dari kamar mandi hanya dengan lilitan handuk saja!"
Tolong jangan terkejut, apa yang Anna katakan itu memang benar adanya. Iya, serius, dengan otak nakal juga pikiran yang memang merencanakan sesuatu, Anna sengaja tidak membawa baju ganti ketika mandi di kamar mandi. Keluar dengan balutan handuk saja, sedangkan handuk yang ia pakai pendeknya tak sampai menuju paha.
Demi apa pun, terkadang Anna merasa gemas sendiri ketika melihat Rakha yang sok-sokan mengalihkan pandangan sedangna sesekali matanya melirik ke arahnya. Jakunnya yang bergerak cepat juga menunjukan bahwa sebenarnya laki-laki itu juga tergoda dengan tubuhnya.
Laki-laki memang seperti itu. menolak dengan alasan tidak tertarik, padahal nalurinya sebagai laki-laki tidak bisa membiarkan kesempatan emas seperti itu.
“Kenapa kau tidak menjawab, karena itu kenyataan, bukan?” ucap Anna, ketika Rakha hanya diam dengan ekspresi seperti kehabisan kata untuk pembelaan.
Melihat itu, Anna semakin tertawa sinis di tempatnya. “Kau menggemaskan.”
Tak kuat hanya diam di tempat, dengan cekatan wanita yang masih mengenakan piyama berwarna merah tua itu beranjak kemudian menghampiri Rakha. Mendekatkan tubuhnya dengan tubuh laki-laki itu yang kini sudah perlahan menjauh.
“Jangan macam-macam, Anna, saya sedang buru-buru,” ucap Rakha dengan kaki yang perlahan mundur, seolah menghindari Anna yang berusaha mendekatinya.
“Ini masih pukul setengah tujuh pagi, kau masih memiliki waktu banyak biarpun sekarang kau ingin bermain-main dulu bersamaku,” jawab Anna, dengan bibir yang masih emnunjukan senyum jahilnya.
Maaf sebelumnya, tapi Rakha benar-benar sudah tak tahan menahannya. Dasar wanita sialan! Demi apa pun, seumur hidupnya, baru kali ini Rakha dipertemukan dengan perempuan seperti Anna. perempuan tak berpendirian, petakilan, dan bertingkah memalukan. Ia tidak menyangka kalau wanita yang kini sudah menjadi istrinya itu—istri terpaksa—ternyata memiliki sikap yang sangat agresif seperti ini.
Keterlaluan. Kalau saja Rakha tidak kuat iman, atau Rakha yang memang seorang pemain juga, mungkin sudah sejak malam pertama wanita itu jatuh di bawahnya. Akan ia taklukan, demi melihat sekuat apa sebenarnya dia.
“Wanita gila!” ujar Rakha, namun dengan suara yang hampir tak terdengar.
“Jangan kira aku tidak dengar. Medengar kau menyebutku sebagai wanita gila, aku semakin tertarik saja untuk lebih gila lagi di hadapanmu.” Anna berhenti tepat di hadapan Rakha. Memperhatikan laki-laki itu dari ujung kaki hingga ujung kepala. Hingga tatapannya jatuh pada wajah Rakha yang putih bersih, namun sedikit memerah di bagian dagunya akibat jerawat yang entah sejak kapan tumbuh di sana.
Gila, suaminya jerawatan!
“Wajahmu mulus, meskipun ada jerawat yang tumbuh di dagu, aku tetap menyukainya” lanjut Anna. disambung dengan kekehan di mulutnya.
Tak mau Anna semakin bertindak aneh, Rakha berniat akan kembali masuk ke dalam kamar mandi sekalian memasukan kemejanya ke dalam celana. Namun nahasnya, wanita gila itu malah mencegat dan dengan tidak tahu malunya memeluk perutnya dari bekang. Sialan!
Dia benar-benar wanita gila!
“Kau mau ke mana? Mau kabur?” tanya Anna dengan posisi tangan yang memeluk Rakha dari belakang. Menyandarkan kepalanya di punggung laki-laki itu yang kelewat lebar. Ini bukan modus, tapi rencana dengan progres yang mulus. Tak hanya sampai di situ, dengan sedikit nakal namun tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Anna menggerakkan jari-jarinya, mengelus perut Rakha yang … yang … ah, jangan berekspetasi tinggi dulu, sebab yang ia rasakan, tidak ada roti sobek di balik kemeja yang Rakha kenakan.
Jangan-jangan… perutnya buncit?! Anna menggelengkan kepalanya cepat, menampik hal itu sebab yang ia rasakan juga, perut Rakha tak sebuncit itu. tidak memiliki roti sobek di perut, bukan berarti tidak seksi, bukan?
“Lepas, Anna.” suara Rakha mulai terdengar, dengan nada bicara yang terkesan seolah menahan kesal.
Anna kembali menggeleng pelan. “Tidak, tidak mau. Ayolah Rakha, aku sudah menjadi istrimu, harusnya hal-hal sekecil ini, sudah sering kita lakukan di pagi, siang atauapun malam hari. Harusnya, sudah menjadi rutinitas kita juga. But, why? Kenapa kau selalu bertingkah seolah menolak? Padahal kuyakin kau juga menginginkannya. Jangan munafik, ayok kita eksekusi sekarang!”
Wanita segila Anna, cocoknya dikasih pelajaran seperti apa? Dicuekin setiap hari? Itu tidak mempan. Tidak bicara dengannya sepanjang hari, itu juga tidak mempan. Tidak mungkin jika Rakha harus mengusir Anna, karena jika hal itu terjadi, yang menjadi masalah dan gawat adalah ia dengan keluarganya.
“Sekali lagi saya katakan, lepas, Anna,” ucap Rakha lagi, namun tak membuat Anna melepaskan pelukannya.
“Apa perlu saya paksa? Saya tidak pernah bersikap kasar terhadap perempuan, jadi, tolong lepaskan.”
Lagi dan lagi, Anna menggelengkan kepalanya cepat, menolak keras perintah yang Rakha berikan. Ayolah, bahu dan punggung senyaman ini, tidak baik untuk disia-siakan. Anna ingin menikmatinya lebih lama lagi, atau kalau perlu ia ingin melakukan hal yang lebih dari pada ini.
“Kenapa? Kau malu karena perutmu yang tidak rata ini? Atau … takut kalau kau akan khilaf dan menentang imanmu sendiri?” tanya Anna.
“Omong kosong!” jawab Rakha cepat.
“Lalu kenapa?” Anna semakin penasaran dengan jawaban Rakha. Kenapa laki-laki itu selalu menolak ketika diajak berhubungan olehnya? Ah, jangankan berhubungan lebih, untuk sekadar memeluk seperti ini saja, sepertinya Rakha sangat enggan. “Bukannya kemarin kau sudah bersikap manis kepadaku? Lalu, kenapa sekarang berubah lagi? Atau jangan-jangan… sikap manismu hanya untuk menutupi kesalahanmu saja bersama wanita gatal itu? iya? Kalau iya awas saja!”
“Kalau iya kenapa?”
Demi adudu yang tak pernah taubat, Anna benar-benar terkejut mendengarnya. Sialan! Apa katanya? Tanpa melepaskan pelukannya dari Rakha, Anna mendengus kemudian menjawab. “Awas saja, akan kuratakan wanita bernama Felicia itu. laki-laki sepertimu itu limitid edition, hanya wanita berkelas sepertiku saja yang bisa memilikinya. Kalau kau memang menyukainya, silakan, tapi akan kupastikan kau sudah tak memiliki masa depan lagi. Kalau aku tidak bisa memilikimu, dia juga tidak akan pernah bisa, bahkan walau hanya untuk melihatmu saja.”
“Kau benar-benar wanita yang mengerikan,” desis Rakha.
“Hanya denganmu dan apa pun yang menyangkut dirimu saja.”
Demi apa pun, Rakha tidak menyangka kalau Anna akan segila ini kepada dirinya. Padahal, yang masih ia herankan, pertemuan mereka hanya sebentar, dengan perkenalan yang sangat singkat juga. Namun, kenapa dia bisa segila ini kepadanya? Maaf, bukannya Rakha terlalu percaya diri, namun ia merasa kalau Anna memang sudah seyakin ini kepada dirinya? Kenapa? Yang ia dengar, Anna menyukainya hanya karena tampang saja, tapi apakah bisa secepat itu?
“Saya jadi heran dan penasaran, sebenarnya apa yang membuat kamu segila ini kepada saya?” tanya Rakha yang juga penasaran dengan jawaban Anna. tanpa laki-laki itu sadari bahwa dia juga sudah tak mempermasalahkan lilitan lengan Anna di perutnya. Semuanya mengalir begitu saja. Bahkan ia juga melupakan niat awalnya yang akan masuk ke kamar mandi untuk segera bersiap.
“Kau percaya diri sekali! Tapi itu memang benar, aku memang sudah segila ini kepadamu.” Dengan posisi yang benar-benar membuatnya nyaman, Anna menghela napasnya perlahan dan semakin mengeratkan pelukannya. “Sebelumnya aku ingin bertanay kepadamu. Kau pernah mencintai perempuan?”
Deg… Rakha terkejut dan tak menyangka kalau Anna akan menanyakan hal itu kepadanya. Demi apa pun, ia benar-benar bingung harus menjawab apa. Haruskah ia jujur, atau berbohong saja?
“Pasti pernah, bukan?” lanjut Anna. “Kau bisa tahu kenapa kau bisa mencintainya?”
Spontan, Rakha menggelengkan kepalanya.
“Karena cinta memang tak butuh alasan. Kau tahu, cinta itu keajaiban dan musibah yang tak terduga. Aku tidak tahu kenapa aku bisa segila ini kepadamu, padahal kita tahu pertemuan dan perkenalan kita masih dalam waktu yang sangat singkat. Aku tidak tahu alasannya, mengapa aku bisa gila secepat itu. mungkin… itu juga cinta seperti yang kubahas barusan.”
Cinta? Secepat itu? memang, masih ada cinta nyata di dunia ini?