w************n!

1146 Kata
Ternyata... Perempuan itu Felicia. Sekretaris Rakha yang katanya, memiliki perasaan lebih kepada suaminya. Wanita gila! Anna sudah berusaha keras, bahkan mati-matian untuk mendapatkan laki-laki yang tampan dan seksi itu, dan sekarang, dia mencoba mengalihkan perhatiannya? Dengan cara semurah itu, yang benar saja? Tidak mau w************n itu mencari celah untuk mendekati suaminya, tanpa berpikir panjang lagi Anna langsung masuk dan menghampiri kedua orang itu. Mendapat tatapan aneh dan penasaran tentunya tak membuat Anna keheranan lagi, sebab ia sudah menduga akan hal itu. “Anna?” tanya Rakha, dengan raut wajah seperti terkejut melihat kedatangannya. Anna diam, tidak menjawab. Matanya menatap Rakha dan felicia secara bergantian, dengan sorot mata yang sinis dan tajam. Bukan hanya itu saja, bukti menunjukkan bahwa ia kesal dan mulai emosi, tangannya dilipat di d**a, dengan d**a yang naik turun tak beraturan. “Anna? Kamu sedang apa di kantor saya?” tanya Rakha lagi. “Mohon maaf, Pak? Kalau boleh tau, perempuan ini siapa, ya?” tanya Felicia yang ikut penasaran dengan kedatangan wanita di hadapannya. “Kamu yang siapa? Saya istrinya Rakha!” balas Anna dengan tatapan nyalang yang menyorot Felicia. “Kau Felicia? Sekretaris yang memiliki perasaan lebih terhadap suami saya? Yang katanya selalu cari perhatian padahal udah ditolak mati-matian?!” Anna mulai emosi. Tatapan dan cara bicaranya membuat Rakha maupun Felicia merasa heran, menatapnya dengan tatapan bingung dan saling melirik satu sama lain. Rakha sudah tahu maksud dari kenapa Anna bisa bersikap seperti itu, sedangkan Felicia yang tidak tahu apa-apa hanya diam dengan pikiran penuh tanda tanya. “Kau berduaan di ruangan ini bersama dia?” Anna beralih bertanya kepada Rakha yang sampai detik ini hanya diam saja, membuatnya semakin merasa kesal. “Iya,” jawab Rakha singkat. Jujur, karena sedari tadi dan memang kenyataan kalau di ruangan ini hanya ada dirinya dan sekretaris itu. namun, tidak ada hal macam-macam yang mereka lakukan selain berbicara mengenai meeting bersama klien juga laporan-laporan yang harus segera dibaca olehnya. Anna salah paham, dan sikapnya sangat berlebihan. Mendengar jawaban dari Rakha, demi apa pun rasanya Anna ingin mengamuk saat ini juga. Menjambak rambut wanita gatal itu, dan mendaratkan tamparan keras di pipi Rakha. Ia tahu, ini memang berlebihan, namun … ah, sudahlah, insting perempuan memang akan selalu seperti ini ketika melihat laki-lakinya bersama dengan perempuan lain. Terkekeh seraya menggeleng pelan, tatapan Anna masih fokus kepada Rakha yang juga tengah menatapnya. “Kau gila?” “Memangnya kenapa? Ini di kantor, dan Felicia sekretaris saya. kami tidak melakukan apa-apa selain membicarakan masalah meeting bersama klien dan membaca laporan-laporan mingguan.” Rakha menghela napasnya pelan, tatapannya berubah jadi tatapan datar. Seperti malas melayani sikap Anna yang membuatnya malu terhadap Felicia. “Sudahlah Anna, jangan berlebihan. Apa yang kau lihat belum tentu kebenaran.” Sudah dibuat cemburu, kini dibikin malu juga! Rakha sialan! Bukannya tenang, emosi Anna malah semakin naik. Apalagi ketika melihat raut wajah Felicia yang terlihat seolah tengah meremehkan dirinya. Hey?! Apa-apaan? Wanita dengan wajah dan penampilan biasa saja sudah berani menatapnya seperti itu! dia belum tahu saja siapa Anna sebenarnya.   Sedangkan Rakha yang sudah terlanju malu akibat sikap Anna, kembali menghela napas kemudian beralih menatap Felicia yang masih berdiri di sampingnya. “Ya, sudah Felicia, kamu bisa keluar sekarang,” ucapnya yang kemudian langsung diangguki oleh Felicia.   Kepergian Felicia tidak membuat emosi Anna melemah walau hanya sedikit saja. Pandangan yang awalnya masih menatap Rakha, kini beralih menatap ke arah lain dengan d**a yang masih naik turun akibat napasnya yang tak beratutan. Anna masih tidak habis pikir kenapa Rakha malah bersikap seolah membela Felicia, bukan membela dirinya. Memang, status istri dengan seorang sekretaris pentingan siapa?   “Datang ke kantor kenapa tidak bilang ke saya dulu?” tanya Rakha. Setelah mengatakan hal itu, ia berjalan menuju sofa di ruangannya kemudian mendudukan tubuhnya di sana. Catat, hanya dirinya, bahkan dia tak sedikitpun mempersilakan Anna untuk duduk.   Anna hanya diam, tidak mau menjawab. Kekesalan semakin bertamabah saja ketika Rakha duduk tanpa mempersilakannya untuk duduk juga. Benar-benar laki-laki sialan!   “Anna, saya tanya, kenapa kamu tidak bilang dulu ke saya?” Rakha kembali bertanya, sedangkan Anna masih belum mau menjawab.   “Anna?!” suaranya mulai meninggi, namun sekali lagi Anna masih tak mau mengeluarkan suaranya sedikitpun.   Sampai Rakha menghela napas gusar kemudian kembali beranjak dari duduknya. Berjalan menghampiri Anna yang masih diam, kemudian berdiri tepat di hadapannya. Memerhatikan wajah wanita itu yang masih memerah, mungkin masih emosi dengan persoalan tadi.   “Anna?” suaranya merendah.   “Kamu mau terus diam seperti itu?” lanjutnya. Namun lagi dan lagi Anna diam tak berkutik.   “Anna?” sekali lagi Rakha bertanya, kalau wanita itu tak mau menjawab juga, ia sudah akan lepas tangan dan akan bersikap bodoh amat saja. “Saya bertanya, Anna. kamu tidak tahu bagaimana tidak baiknya seorang istri yang mengabaikan suaminya?”   Apa katanya? Suami? Jadi, Rakha sudah mengakui bahwa dia seorang suami?   Anna sudah akan goyah, hampir saja bibirnya terangkat ketika mendengar ucapan Rakha barusan. Untung saja masih tertahan, dan ia ingin mendengar lebih banyak lagi kata-kata dari laki-laki itu.   “Anna? kamu tidak dengar atau bagaimana?”   Masih tidak mendapat jawaban, dengan dengusan kesal yang keluar dari hidungnya, Rakha menarik lengan Anna kemudian membawanya menuju sofa. Memegang kedua belah bahunya, dan mendudukannya secara paksa. Wanita-wanita semacam Anna itu memang perlu diperlakukan secara paksa, daripada diperlakukan secara lembut.   “Duduk dan bicara, saya akan tambah marah kalau kamu terus diam seperti itu,” ucapanya dengan suara pelan.   Sudahalah, lagi pula Anna sudah tak kuat menahan dirinya. Alih-alaih bibir maju ke depan dengan tatapan sinis tak tertahankan, kini Anna malah tersenyum dengan tatapan yang sudah normal seperti biasa kepada Rakha. Senyumnya mengembang, bahkan sampai membuat bola matanya menyipit tak terlihat.   Gila, sebentar lagi Anna akan gila. Ternyata, manusia semacam Rakha juga bisa bersikap dan berlaku manis seperti ini. Memang biasa saja, namun bagi Anna yang baru pertama kali merasakan seperti ini, rasanya sangat luar biasa.   “Memangnya kenapa? Kalau aku izin dulu, kau tidak akan berduaan bersama sekretarismu itu?” ucap Anna. senyumnya kembali menghilang, diganti dengan wajah-wajah marah seperti tengah menuntut penjelasan.   “Tidak,” jawab Rakha pelan.   “Lalu?!” Anna kembali mengeraskan suaranya.   “Setidaknya kalau kamu izin, saya tidak akan ada acara meeting hari ini.”   Anna meneguk ludah, bingung harus mengartikan apa ucapan Rakha barusan. Antara Rakha yang terganggu akibat kedatangannya, atau Rakha yang akan menyisihkan waktu untuk dirinya. Yang benar yang mana?   “Kenapa? Kau takut terganggu dengan kehadiranku?”   Menjatuhkan bahu kemudian menyandarkan punggungnya di sofa, Rakha tidak tahu kenapa Anna bisa se-overthinking itu. padahal, maksud ucapannya bukan seperti itu. “Bukan.”   “Lalu?”   “Setidaknya saya tidak akan membuatmu salah paham seperti tadi, saya juga akan menyerahkan semua urusan saya hari ini kepada Felicia. Memangnya kamu mau duduk sendirian di sini sedangkan saya keluar berjam-jam bersama klien?”   Astaga… laki-laki seksi ini ternyata bisa romantis juga. Anna tidak kuat menahannya, ia tidak tahu akan semerah apa pipinya sekarang.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN