Apa yang kamu pikirkan tentang malam pertama?
Sesuatu yang panas dan menggairahkan?
Bagi kebanyakan orang, mungkin seperti itu, namun tidak dengan Anna. Malam pertama yang harusnya menjadi momen terindah, malah menjadi momen yang menyebalkan. Iya, menyebalkan. Sebab, laki-laki yang menikahinya bukan tipe orang seperti para suami-suami di luaran sana.
Setelah selesai membersihkan diri, Anna keluar dari kamar mandi dengan baju yang sering disebut dengan baju ‘dinas malam’ oleh kebanyakan perempuan yang sudah bersuami. Rambutnya yang masih basah, ia gosok-gosok menggunakan handuk putih. Setelahnya, mungkin akan disisir lalu dikeringkan menggunakan hairdrayer.
Saat membuka pintu, hal pertama yang ia lihat adalah Rakha—suaminya yang tengah duduk dengan mata yang fokus ke layar laptop. Helaan napas keluar, heran dengan isi kepala suaminya itu. Setelah melalui hari yang cukup melelahkan ini, apakah masih ada tenaga untuk mengurus pekerjaan? Setelah melewati momen pernikahannya, apakah tidak ada sesuatu yang panas dan menggairahkan? Anna sudah bersiap, mengenakan baju kurang bahan demi melancarkan aksi suaminya malam ini, namun apa kenyataanya? Rupanya Rakha malah lebih sibuk dengan pekerjaannya.
“Apa layar itu lebih menarik daripada tubuhku ini?” ujar Anna, seraya mendekati Rakha.
Sebelum Anna, Rakha sudah lebih dulu membersihkan tubuhnya. Setelah sedikit berdebat memperebutkan kamar mandi, akhirnya laki-laki itu yang menang untuk menggunakannya terlebih dahulu. Aneh memang, biasanya laki-laki sering mengalah dengan perempuan, namun tidak dengan suaminya itu.
“Ayolah Rakha, harusnya ini menjadi momen indah bagi kita, tapi kau malah sibuk dengan pekerjaanmu yang tak pernah ada selesainya itu.” dengan tangan yang masih menggosok rambut menggunakan handuk, Anna berjalan mendekati Rakha. Laki-laki yang mengenakan pakaian tidur berwarna abu polos itu. “Hey? Apa kau tidak mendengarnya?”
Anna kesal. Sebab, Rakha tidak menghiraukan kehadirannya di sana. Juga, laki-laki itu tidak mendengar dan menjawab ucapannya. Hey?! Seumur-umur Anna hidup di Amerika, baru kali ini ia menemukan laki-laki yang bisa berpaling dari tubuh seksinya sekarang. Bagaimana bisa? Di saat semua bule yang ia temui di sana, selalu menggoda bahkan terang-terangan menginginkan tubuhnya, namun Rakha malah bersikap seolah tidak tertarik seperti ini.
Sialan.
Harga diri seorang Anna Lee bisa terancam kalau seperti ini.
Tidak mau kalah, Anna berjalan lebih mendekat. Ia duduk di tepi meja, tepat di hadapan laki-laki yang memakai kacamata berbentuk bulat itu. “Rakha… Sayang… ayolah, tubuhku sudah siap.”
Sedangkan Rakha hanya menatapnya dengan tatapan malas, lalu kembali menatap ke layar laptop-nya.
“Hey? Apa kau tuli?” tanya Anna dengan nada yang mulai kesal.
“Sibuk, bukan tuli,” jawab Rakha.
Anna memutar bola matanya, mendengus kemudian berdecak keras. “Sibuk kau bilang? Kau lupa kalau tadi pagi kau sudah mempersuntingku sebagai istrimu?”
“Tidak.”
“Lalu?”
“Saya hanya sibuk” Rakha menjawab dengan jawaban yang sama, yang mana hal itu semakin membuat Anna geram di dekatnya.
“Sebelum sibuk dengan pekerjaan, harusnya kau puaskan istrimu terlebih dahulu. Apa kau tidak lihat? Aku sudah memakai pakaian dinas malam, khusus untuk suamiku yang super tampan ini. Apa kau tidak tertarik?”
“Tidak.”
“Sialan!” ujar Anna kelepasan. Setelah menyadarinya, ia segera menutup mulut lalu kembali menatap Rakha yang masih tidak berpaling sedikitpun. “Aku tidak yakin kalau kau memang laki-laki sungguhan.”
“Apa maksudmu?”
“Apa kau penikmat sesama jenis?”
“Saya masih normal.”
“Lalu kenapa?”
“Kenapa apanya?”
“Kenapa kau tidak tertarik sedikitpun dengan tubuh seksiku ini?”
Rakha terlihat memutar bola matanya malas. “Saya sibuk.”
Lagi dan lagi, Anna mendengus di tempatnya. Tidak mau kalah begitu saja, juga ia yang ingin mengetes laki-laki itu, Anna beranjak turun dari meja, setelahnya berjalan untuk lebih mendekat lagi. Sebagai aksi pertama, Anna menggerakkan lengannya, menyentuh bahu Rakha dengan cara yang sangat pelan.
“Ayolah, Rakha. Jangan malu-malu.”
Rakha tidak menjawab.
“Rakha….” Suara Anna sangat lembut, berusaha menggoda laki-laki yang sok sibuk itu. Namun nahas, godaannya tetap tidak membuat Rakha berkutik di tempatnya.
“Rakha….” Anna menyentuh rahang Rakha, yang mana hal itu langsung ditepis oleh laki-laki itu. “Hey? Kau kasar sekali!” ujarnya marah, padahal Rakha tidak mengeluarkan tenaga sama sekali.
“Jangan lebay.”
“Siapa yang lepay? Jelas-jelas kau menghempas lenganku barusan.”
“Tidurlah Anna, saya sibuk.”
Rakha ini memang bukan laki-laki normal. Bukan laki-laki seperti laki-laki di luaran sana. Bukan laki-laki yang gampang tergoda dengan perempuan, juga bukan laki-laki yang pandai membuat suasana. Bahkan, dia hanya bisa menghancurkan suasana.
Anna lupa, kalau laki-laki yang menikahinya itu tipe laki-laki yang tidak pandai berkomunikasi. Dingin, dan sulit disentuh. Disentuh dalam artian diajak berkomunikasi dan saling bekerja sama. Tepat sekali, kerja sama sebagai suami istri.
“Aku ingin tidur denganmu.”
“Nanti aku menyusul.”
Anna menghela napas panjang, aksinya bertambah, ia menempelkan dagunya di bahu laki-laki itu. “Rakha….” Nadanya dibuat-buat. Yang mana, membuat Rakha sedikit tidak suka.
“Rakha… ayolah…”
“Tidur Anna, saya sibuk.”
Anna memajukan bibirnya. “Apa kau akan mengabaikanku? Kau akan menyia-nyiakan malam ini? Malam yang harusnya menjadi malam yang panjang ini? Ayolah Rakha, malam pertama setelah pernikahan itu hanya akan ada sekali, jadi, jangan sampai kau menyia-nyiakannya. Kecuali, kalau kau memang akan menikah lagi. Tapi, aku pastikan kalau hal itu tidak akan pernah terjadi.”
Rakha berusaha menyingkirkan kepala Anna dari bahunya, karena jujur, itu sangat dan sangat mengganggu. “Semua malam sama saja.”
“Tidak!”
“Sama.”
“Tidak Rakha!” Anna mengeluarkan suara yang cukup kencang.
“Sama, Anna,” jawab Rakha dengan nada suara yang masih sangat santai.
Menyebalkan. Anna kembali berdecak keras, sudah tidak habis pikir lagi dengan laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu. “Ngomong-ngomong, umurku jauh lebih tua dari umurmu, tapi, kenapa kau hanya memanggilku menggunakan nama? Kau tahu, itu sangatlah tidak sopan.”
“Lalu, saya harus memanggilmu dengan sebutan apa?”
Anna berdeham, memikirkan panggilan apa yang cocok untuk dirinya. “Hmm… sepertinya… ‘sayang’ cocok, atau ‘honey’, atau ‘beybi’ atau ‘sweety’. Banyak lagi, jika kau mau, kau buat saja panggilan sayangmu untuku.”
“Tidak, itu semua terdengar sangat menjijikan.”
Anna menganga tak percaya. “Hey? Bagi suami istri, panggilan seperti itu sudah sangat wajar, apanya yang menjijikan?”
“Tidak, Anna.”
“Pakai panggilan yang sopan!” Anna berdecak. Ia bergerak mengalungkan lengannya di leher laki-laki itu. Yap, dia memeluk suaminya dari belakang. “Ayo, panggil aku dengan panggilan yang sopan.”
Demi apa pun, baru kali ini Rakha bertemu dengan perempuan yang amat ribet seperti Anna. perempuan petakilan, juga sangat banyak bicara. Padahal, umurnya sudah tua. Daripada harus ribet dengan urusan wanita itu, lebih baik ia mengalah saja. Rakha menghela napas panjang, bahunya turun tanda kepasrahan. “Iya, Tante.”
What the?!
Apa-apaan?
Maksudnya apa?
“Hey?! Maksudmu apa?”
“Bukannya kau ingin dipanggil dengan panggilan yang sopan? Kurasa itu sudah cukup sopan.”
Rakha ini memang benar-benar tidak tahu diri. Sikap dan kelakuannya seolah tidak bersyukur sudah memiliki seorang istri yang nyaris sempurna seperti Anna. Perempuan cantik dengan tubuh seksi, elegan, berwibawa, pintar, cerdas, pandai mencari uang, dan masih banyak lagi. Hanya saja, mungkin sikap wanita itu yang terlalu aktif sehingga Rakha sangat sulit untuk mengendalikannya.
Tapi apa salahnya? Memeiliki sikap yang terlalu aktif juga bisa menjadi kelebihan, terlebih menjadi pelengkap Rakha yang notabene-nya seorang yang amat minim ekspresi.
Memang, sih, pernikahan mereka bukan atas dasar cinta, melainkan perjodohan dari orang tua. Namun, Anna sudah berusaha untuk menerima, namun Rakha seperti masih tidak rela. Laki-laki itu memang menikahi Anna, tapi tidak dengan sikapnya. Kalau seperti ini, Anna jadi berpikir, kenapa Rakha menerima perjodohan itu kalau ujung-ujungnya akan seperti ini? Ia tahu, meski orang tuanya memaksa dengan beribu alasan pun, Rakha masih memiliki kekuatan lebih untuk menolak.
Lalu alasan sebenarnya apa?
***
Pagi harinya, Anna sudah duduk di meja makan, tidak lupa dengan Rakha yang juga tengah duduk di sampingnya. Meja makan di rumah keluarga Alexi ini sudah dipenuhi dengan berbagai hidangan, dari makanan berat hingga makanan ringan. Iya, Anna memang memilih untuk tinggal di rumah Rakha sementara sebelum Rakha menemukan hunian yang cocok untuk mereka. Sebenarnya jika tinggal di rumahnya pun tidak apa-apa, mengingat ia juga harus mengurus bundanya di rumah. Namun entah dengan alasan apa, bundanya lebih menyarankan agar ia mau tinggal di rumah ini saja. Sekalian proses pendekatan, katanya. Padahal, Anna yakin kalau alasan yang sebenarnya adalah, bundanya yang sudah tidak mau mengurus anaknya sendiri.
Sebagai menantu yang baru pertama kali tidur di rumah mertuanya, harusnya Anna memberikan kesan yang baik, setidaknya agar mereka tidak memberikan cap buruk kepadanya. Namun sialnya ia membuat sedikit kesalahan, kesalahan yang seharusnya menjadi sangat memalukan jika ia sadar. Akibat semalaman membujuk Rakha yang nyatanya tidak membuahkan hasil sedikitpun, Anna jadi bangun kesiangan. Iya, bahkan ia membuat keluarga Rakha menunggu lama hanya karena ingin melaksanakan sarapan bersama dengan dirinya.
Sangat memalukan. Apalagi ketika ia baru saja turun dari lantai atas, sorot mata manusia yang ada di meja makan itu, menatapnya dengan serentak. Anna tidak habis pikir, ia juga tidak berhenti mendumel dalam hati karena Rakha tidak tergerak untuk membangunkannya tadi pagi. Sialan. Laki-laki itu memang harus dikasih pelajaran.
Untung tampan.
“Anna, kata Rakha, hari ini dia mau langsung masuk kerja. Tidak apa-apa?”
Itu suara Raya, mamanya Rakha. Anna yang tengah mengunyah makanan, sedikit menoleh kemudian mengangguk kecil. “Tidak apa-apa, Ma.”
Dasar pencitraan! Kalau saja tidak mau menjaga image-nya, mungkin Anna akan meneriakkan kata ‘tidak’ sekencang-kencangnya. Bagaimana tidak, ini baru satu hari setelah hari pernikahan mereka, dan Rakha sudah akan masuk kerja? Yang benar saja. Harusnya saat ini mereka masih sibuk di kamar, atau paling tidak, sibuk memilih tempat untuk menjadi tempat honeymoon keduanya. Namun nyatanya, Rakha memang sosok yang sangat gila kerja. Sepertinya Anna lupa, jangankan satu hari setelah pernikahan, bahkan semalam saja, malam yang harusnya menjadi malam yang panas dan menggairahkan bagi keduanya, Rakha malah lebih sibuk dengan layar laptop dan mengabaikannya begitu saja.
Rakha memang keterlaluan.
“Kamu serius, Anna? Kalau kamu tidak mengizinkannya, Papa akan suruh Rakha untuk tidak dulu masuk kerja hari ini,” sahut Janson, papanya Rakha. Laki-laki rupawan yang penampilannya nyaris kembar dengan Rakha.
“Sudah Rakha katakan, kan, Anna pasti menyetujuinya,” ucap Rakha yang tengah sibuk dengan makanannya. “Anna sudah setuju, dan Rakha tetap masuk kerja hari ini.”
Perasaan Anna semakin kesal, muak dengan kepura-puraannya. Rasanya, ia ingin bersikap seperti biasa, mengutarakan apa yang ia inginkan dan apa yang tidak ia sukai. Jika keadaannya terus seperti ini, maka Rakha akan seenaknya. Selalu menyudutkannya. Sedangkan dirinya? Tidak bisa apa-apa.
“Memangnya kalian tidak ada niat untuk pergi bulan madu?” tanya Raya.
“Ada,” jawab Anna cepat. Ia tidak mau jika Rakha lebih dulu menyahuti dan mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak dikatakan. Anna yakin seratus persen kalau laki-laki itu akan mengatakan ‘tidak ada’ kepada mamanya. Memang, mereka belum memiliki niat, namun itu menjadi pilihan menarik untuk membalas semua kelakuan Rakha kepadanya. Kelakuan berondong muda yang amat menyebalkan itu.
Semua mata menatap Anna. Raya dan Janson dengan tatapan berbinar, sedangkan Rakha menatap penuh heran dan seperti ada kekesalan di sana.
“Ada, Ma. Anna dengan Rakha ada niat bulan madu, besok.”
Haha, lihat, Anna tidak akan diam saja. Ia akan memulai semuanya dari sekarang. Sedari dulu, seorang Anna Lee itu tidak pernah mau dikendalikan, dan selalu mau mengendalikan. Rakha sudah mengabaikannya, sudah memanfaatkan keadaan bersama kedua orang tuanya, dan sekarang, giliran Anna yang memanfaatkan semuanya.
“Oh, ya? Kalian ada rencana ke mana? Biar Papa bantu urus,” ucap Janson.
Anna bersikap seolah tengah berpikir keras, memikirkan tempat yang sekiranya cocok untuk membalas semua perlakuan Rakha semalam. “Mm… ke mana, ya? Anna pengennya di luar negri.”
“Boleh, dong, kamu mau ke mana?” Janson masih menanggapi dengan semangat. Berbeda dengan anaknya, sosok laki-laki yang menjadi mertua seoarang Anna itu memang memiliki sikap yang hangat, dan pandai membangun suasana dengan orang di sekitarnya.
“Kira-kira yang paling cocok ke mana? Mama ada rekomendasi?” tanya Anna kepada Raya.
Raya berpikir sebentar, sebelum akhirnya kembali bersuara dengan menyebutkan berbagai negara yang menjadi rekomendasinya. “Ke Paris sepertinya cocok, biar Mama sama Papa bisa sekalian ikut. Atau ke Swiss juga boleh.”
“Ke Italia aja gimana?” Janson ikut merekomendasikan.
“Sebenarnya tergantung kamu, Anna. Kamu mau suasana perkotaan atau lebih ke suasana alam.”
Anna bingung, namun hatinya seolah bergejolak gembira karena melihat ekspresi Rakha yang terlihat sudah tertekan. Ia yakin, Rakha tidak menginginkan hal seperti ini, selain dia yang memang selalu sibuk dengan pekerjaan, nalurinya sebagai laki-laki juga tidak tertarik dengan hal itu. Semalam, Anna hampir saja melenyapkan seluruh kain yang membalut tubuhnya, namun tidak sampai itu terjadi, Rakha sudah mengancamnya dengan cara yang sangat tidak masuk akal.
Tidak usah tahu, sebab bentuk ancaman itu sangat memalukan bagi Anna. Jadi, ia tidak mau mengumbarnya.
“Kalau kamu sendiri, mau ke mana Rakha?” tanya Janson kepada anak lelakinya.
Rakha diam. Dalam hatinya, ia berdecih akibat melihat Anna yang terlihat tengah menertawakannya. Ayolah, ia sangat sibuk, ia tidak memiliki waktu lebih untuk melakukan hal seperti itu. Sudah cukup ia dibuat senam jantung dan geleng-geleng heran akibat kelakuan Anna yang di luar nalar. Jangan sampai ia terjerat dalam situasi seperti itu lagi.
Rakha menghela napas panjang. “Tidak ada, Pa. seperti yang kalian tahu, Rakha sibuk dengan pekerjaan, jadi, tidak ada waktu untuk melakukan hal seperti itu.”
Raya ikut menghela napas, heran dengan anaknya yang terlalu mementingkan pekerjaan itu. “Rakha, sudah, lepaskan dulu pekerjaanmu. Kamu bisa ambil cuti, atau serahkan semuanya kepada asistanmu. Dan kamu bisa fokus dengan Anna. Ingat, kalian baru saja menikah, harusnya waktumu dihabiskan dengan Anna, bukan pekerjaan.”
Anna menjerit kegirangan dalam hatinya. Namun ekspresi wajahnya tetap tenang. Wajar, malu jika ketahuan oleh kedua mertunya.
“Mamamu benar, Rakha. Setidaknya ambil cuti satu bulan, itu tidak akan membuat perusahaan hancur berantakan. Lagi pula, Papa juga bisa menggantikan kamu untuk sementara waktu.”
Kalau sudah seperti ini, kalau mama dan papanya sudah bertindak, Anna yakin kalau Rakha tidak akan mampu menolaknya. Ia semakin tersenyum senang akan hal itu. Biarlah semalam ia sudah terabaikan, biarlah hari ini ia juga sudah ditinggal kerja, yang terpenting, besok ia akan pergi bersama Rakha. Berdua, ke suatu tempat, melakukan hal yang pastinya membahagiakan, dan dalam waktu yang cukup lama.
Anna menarik salah satu sudut bibirnya, dengan mata yang fokus memperhatikan Rakha. Lihat saja, ia akan membuat laki-laki arogan itu bertekuk lutut di bawah tubuhnya sendiri.
Astaga… Anna sudah tidak sabar untuk itu.
***
Pukul setengah dua belas siang, Anna tengah melangkah di lorong kantor milik suaminya. Melangkah dengan penuh percaya diri, juga senyum yang sedari tadi ikut menghiasi bibirnya. Tangan kanannya memegang ponsel yang tengah menempel di telinga, sedangkan tangan kirinya membawa satu kotak bekal makanan untuk diberikan kepada Rakha. Tentunya, hasil masakan mertuanya.
Oh, ya, Anna lupa menyebutkan kekurangannya semalam. Ia tidak pandai membersihkan rumah, apalagi memasak. Tapi, apakah itu termasuk ke dalam kekurangan? Anna rasa tidak.
“Apa?! Dia mengabaikan tubuhmu semalam?” ujar seseorang dalam telepon.
Anna berdecak pelan. “Iya, aku tidak pernah berbohong.”
“Terus kau diam saja? Tidak bertindak?”
Anna memutar bola matanya. “Aku sudah bertindak, tapi Rakha tetap mengabaikanku.”
“Astaga, aku tidak percaya, ternyata masih ada laki-laki yang tidak tertarik dengan tubuh seksimu itu.”
Anna kembali berdecak dengan ucapan sahabatnya yang bernama Liora itu. Sahabat kecil yang sudah menemaninya selama di Amerika, dan sampai saat ini, gadis itu juga masih berada di sana. “Kau tahu, Rakha itu seperti Kucing Garong yang tak pernah keluar rumah untuk mencari mangsanya. Dia terlalu cuek, tapi aku gemas juga.”
Gelak tawa terdengar diujung sana. “Apa? Kucing Garong? Ada-ada saja kau ini.”
“Lihat saja nanti kalau kau sudah mau pulang ke Indonesia.”
Liora masih tertawa di ujung sana, yang mana hal itu membuat Anna semakin kesal. “Tapi awas saja kalau kau sampai tertarik.”
“Ah, tidak mungkin. Cuek-cuek seperti Rakha, itu jelas bukan tipeku.”
Anna menarik salah satu sudut bibirnya ketika matanya sudah melihat pintu di mana ruangan Rakha berada. “Pegang ucapanmu.”
“Iya, iya, memang, apa yang membuat laki-laki itu menarik di matamu? Sampai kau tidak mau jika aku sampai tertarik juga padanya.”
“Dia itu tampan, paripurna dan tak terkalahkan. Seumur aku hidup di Amerika, aku tidak pernah melihat laki-laki setampan dia. Tampannya sampai membuat aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.”
“Aku ragu kalau matamu masih berfungsi.”
“Hey?” Anna mengernyit, bingung dengan maksud ucapan sahabatnya. “Maksudmu apa?”
“Tidak, biasanya, meski kau melihat laki-laki setampan Zayn, kau masih mengatakan bahwa itu masih standar.”
“Lalu?” tanya Anna penasaran.
“Aku hanya penasaran dengan wajah suamimu itu. Apa benar dia memang tampan, atau… matamu saja yang sudah kurang berfungsi.”
Lagi, Anna menghela napasnya pelan. “Aku tidak mau banyak bicara, yang pasti, secepatnya akan kukirim fotonya kepadamu. Tapi, lebih baik lagi jika kau melihatnya secara langsung.”
“Baiklah, tunggu aku pulang.”
“Tapi ingat, kalau kau sampai tertarik padanya, pertemanan kita akan sampai di situ saja.”
Liora kembali tertawa. “Baiklah, Anna. Siap. Ngomong-ngomong, kau ada di mana sekarang?”
Anna berhenti tepat di depan pintu ruangan Rakha, namun matanya masih mengintip suasana di dalam sana melalui pintu kaca itu. “Aku sedang berada di kantor Rakha.”
“Ada apa kau ke sana?”
“Rindu.”
“Ya, ampun! Apa aku tidak salah dengar?!” suara Liora semakin kencang di ujung sana.
“Tidak, Liora, kau tidak salah dengar.”
“Lalu, apa maksud dari kata rindu itu?”
Anna terkekeh, ia menyiapkan diri untuk masuk ke dalam ruangan sana. Ia yakin penampilannya sudah sempurna, dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi tentang hal itu. Namun, yang perlu ia siapkan adalah sabar dan tenaga, sebab, ia akan berperang dengan sikap dingin laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu. Ia juga yakin kalau Rakha pasti tidak akan senang dengan kehadirannya, oleh karena itu, ia harus ekstra berpikir keras, untuk membangun suasana. Setidaknya, sampai laki-laki itu mau menghiraukan keberadaannya di dalam sana.
“Anna? Kau masih di sana, kan?”
Anna berdeham. “Hm… aku tidak tahu, ini juga bukan seperti diriku yang dulu. Yang pasti, saat ini aku sudah merindukannya, padahal, kami hanya berpisah baru beberapa jam saja. Sekarang aku tahu artinya jatuh cinta, aku juga tahu bagaimana sulitnya berjuang untuk memperjuangkan cinta itu. Jangan berani tertawa kau Liora, aku berkata jujur. Sungguh.”
Tidak mau mendengar respon sahabatnya lagi, Anna langsung memutuskan sambungan telepon begitu saja. Ia yakin kalau Liora tengah mengumpat keras, sebab, ia mematikan telepon seenaknya.
Beralih dari Liora, sebelum membuka pintu, mata Anna sibuk mencari keberadaan Rakha di dalam sana. Di dalam ruangan yang sangat luas, yang juga memiliki beberapa ruangan di dalamnya. Ia yakin, ruangan itu merupakan ruangan pribadi, juga ruang untuk Rakha mengistirahatkan diri.
Tidak menemukan keberadaan Rakha, Anna memilih untuk langsung masuk saja. Namun, ada sesuatu yang menghentikan pergerakannya. Di sana, di dalam ruangan Rakha, ia melihat seseorang yang baru saja keluar dari ruangan kecil yang ada di dalam sana. Seorang perempuan dengan gaya penampilan yang cukup norak, menurutnya.
Siapa dia?
Apa mungkin kalau perempuan itu adalah rekan kerja Rakha?
Lalu, kenapa dia berada di ruangan itu? Ruangan pribadi Rakha.