Pernikahan adalah hari kebahagiaan bagi setiap orang yang beruntung. Namun sayangnya, saat ini Rakha sangat kurang beruntung.
Iya. Di mana hari ini yang seharusnya menjadi hari yang amat membahagiakan, ia malah merasakan hal yang sebaliknya. Di mana harusnya ia merasa senang, namun hari ini kesenangan itu tidak ia dapat sedikitpun.
Rakha tidak tahu, apakah orang-orang yang melihatnya hari ini menyadari raut wajahnya yang demi apapun, mungkin akan sangat terlihat mengkhawatirkan. Wajah sedih yang terlihat pasrah pada keadaan, wajah sedih yang seolah tak memiliki tujuan. Wajah sedih yang benar-benar menunjukkan bagaimana sulitnya hari ini, dan hari yang akan ia hadapi nanti.
Di saat semua orang terlihat sangat bahagia, Rakha malah merasa menjadi orang yang paling menderita.
setelah prosesi pernikahan selesai, setelah Rakha resmi menjadi suami orang, dan setelah Rakha benar-benar menyerahkan semua kehidupannya sekarang, acara dilanjut dengan resepsi yang diadakan di rumah Anna. meski Rakha ingin menangis saja rasanya, ia tetap berdiri di samping Anna yang sedari tadi tak pernah melunturkan senyum konyolnya. mengangkat kedua sudut bibir, membentuk senyum palsu guna menyambut para tamu. menahan pegal yang semakin lama rasanya malah berubah menjadi gatal, menahan kesal yang demi apa pun, kemungkinan sebentar lagi akan membludak bersamaan dengan emosi yang selalu ia pendam.
kalau saja Mama papa dan seluruh keluarganya dengan keluarga Anna tidak ada di sini, tidak memantaunya, dan tidak akan marah, mungkin sedari tadi Rakha sudah pergi melarikan diri, menyelamatkan hidupnya yang sudah terasa seperti mati.
“Senyumlah, orang akan mengira kita menikah secara paksa kalu kau terus memajukan bibir seperti itu,” ucap Anna yang baru saja kmbali duduk di kursi pelaminan—setelah selesai menyambut tamu.
Rakha yang juga baru saja duduk di samping Anna, mengembuskan napasnya yang terdengar berat. “Mengapa? Itu memang kenyataan, bukan? Kita menikah secara paksa.”
“Setidaknya jangan membuat keluarga kita malu, Rakha.”
“Saya tidak suka pencitraan.”
Berdecak, Anna menoleh dengan tatapan tajam kepada Rakha. Senyumnya luntur, diganti dengan bibir yang sedikit maju ke depan. Laki-laki itu memang tidak mengerti dengan caranya berdrama! Apa salahnya senyum dan nikmati momen saat ini? Apa salahnya tertawa dan menganggap semuanya baik-baik saja. Memang, Anna paham dan sadar, menikah dengan cara seperti ini pasti akan sangat menyakitkan, namun ya … setidaknya Rakha harus sedikit pencitraan.
“Sekali lagi aku katakan, tersenyumlah, Rakha. Kalau kau tidak menuruti perkataanku, lihat saja, akan kuhukum kau nanti!” ucap Anna dengan nada yang sangat tajam. Raut wajahnya memang terlihat seolah tengah marah, namun percayalah, semua itu hanya bentuk ancaman agar laki-laki minim ekspresi yang sudah menjadi suaminya itu mau sedikit saja menyunggingkan senyum di hadapan para tamu.
Anna memang tidak mengenal tamu yang terus berdatangan, semuanya merupakan tamu dari keluarga dirinya maupun keluarga Rakha. Sedangkan teman-temannya tidak ada. Namun, meskipun ia tidak mengenalnya, akan sangat memalukan jika Rakha terus menerus bersiakp seperti itu, sedangkan hari pernikahan ini harusnya menjadi hari yang paling membahagiakan.
“Hukum saja, saya tidak takut,” balas Rakha, masih tak mau kalah.
“Kau serius? Kau menantang?!” Anna semakin merasa tertantang di tempatnya.
“Tidak, siapa bilang?”
“Serius, Rakha. Kau harus terlihat bahagia saat ini, kumohon, untuk kali ini saja.”
Rakha menghela napasnya pelan. Kenapa ribet sekali? Demi apapun Rakha tidak suka dengan pencitraan, sandiwara, apalagi drama. Kalau sedih, ia akan terlihat sedih, kalau senang ia akan terlihat senang. Jika menutup-nutupinya, itu hanya akan membuatnya merasa semakin muak dengan semuanya.
“Saya tidak suka berpura-pura, Anna, itu memuakkan,” balas Rakha dengan suara yang masih dengan nada rendah.
Sudahlah, Rakha memang manusia keras kepala yang sangat susah untuk diatur. Semuanya harus sesuai dan tergantung pada keinginannya sendiri, tanpa memikirkan keinginan orang di sekitarnya. Tidak bisakah dia mengikuti keinginan Anna untuk kali ini saja? Apa dia lupa, beberapa jam yang lalu dia sudah berjanji atas apa pun yang menyangkut dalam kehidupan Anna? lalu sekarang apa? Untuk tersenyum, menyunggingkan kedua sudut bibir saja susahnya minta ampun.
Keterlaluan! Lihat saja, secepatnya Anna akan membuat Rakha bertekuk lutut di hadapannya. Dia sudah mempermankannya. Ini seorang Anna, perempuan yang keras kepala dan selalu berhasil mewujudkan keinginannya. Tidak akan ia biarkan Rakha bersikap seenaknya dalam waktu yang cukup lama.
Mendengus kemudian kembali berdiri dari duduknya. Anna tersenyum ketika ada seorang perempuan yang baru saja menghampirinya dengan senyuman. Bersalaman seraya mengucapkan berbagai harapan, Anna berdecak kala menyadari bahwa tamu perempuan itu menatap Rakha dengan tatapan berbeda. Seperti… singa yang tengah menatap mangsanya.
“Terima kasih sudah datang, terima kasih juga atas doanya,” ucap Anna dengan suara yang ditekankan. “Lalu, apa yang kau tunggu?” tanyanya, ketika melihat perempuan itu hanya diam tak bergerak setelah bersalaman dengan laki-laki tampannya.
Perempuan itu terlihat gugup dengan senyum yang kikuk. “Ah, tidak, beruntungnya kamu, suamimu sangat tampan dan menggoda,” ucapanya.
“Sialan! Pulang lewat jalan mana kau, hah?!” Anna terpancing dengan ucapan perempuan itu. padahal, mungkin maksud perkataannya hanya untuk lelucon semata saja.
Perempuan itu berlalu, Anna beralih menatap Rakha yang hanya diam saja. “Kau senang disebut tampan dan menggoda, hah?” tanyanya, dengan nada yang sedikit ngegas.
Rakha menggeleng seraya mengangkat bahunya. “Biasa saja.”
“Jangan bohong!”
Berdecak, lagi-lagi Anna membuat rasa kesal Rakha menguap. “Memangnya kenapa? Pujian-pujian seperti itu sudah sangat sering masuk ke dalam telinga saya sehingga saya sudah menganggapnya seperti hal yang biasa saja.”
Gila! Sekarang dia menyombongkan dirinya sendiri!
“Kau menyombongkan diri?” tanya Anna dengan alis yang terangkat.
“Tidak.”
“Lalu tadi apa? Aku hanya bertanya kau senang atau tidak, bukan malah membeberkan apa yang telah kau dengar!”
Benar-benar menjengkelkan! Rakha tidak tahu kalau Anna akan bersikap seribet ini. Tidak, ia sudah mengiranya dari awal, namun tidak sampai separah ini. Rakha tidak tahu akan seribet apa, senakal apa, dan segila apa lagi sikap Anna kepadanya setelah hari ini selesai. “Sudahlah, Anna, cukup. Kau terlalu banyak bicara, saya pusing dengarnya.”
Rakha sudah akan duduk namun, tiba-tiba telinganya mendengar suara seseorang yang sangat ia kenal. Menoleh karena penasaran, demi apa pun Rakha ingin menghilang saat itu juga. Kenapa Dino bisa ada di sini?! Seingatnya, ia tidak mengundang satupun teman-temannya untuk datang ke pernikahan yang sedikit memalukan ini. Lalu siapa yang mengundangnya?
Melihat Dino tersenyum ke arahnya, Rakha beralih melirik mamanya yang tengah duduk di ujung sana. Tatapan mereka bertemu, hingga Rakha menyadari ada sesuatu yang aneh dalam tatapan mamanya itu. ia tahu, dan itu memang sudah pasti kalau ini semua ulah dari mamanya sendiri.
“Hey, Bro! akhirnya lo nikah juga! Udah move on juga akhirnya!” ujar Dino disertai dengan tangan yang langsung meraih lengan Rakha, kemudian memeluknya.
Rakha yang sudah pasrah karena memang sudah tak bisa berbuat apa-apa, hanya menghela napas dengan bibir yang tersenyum tak ikhlas. “Seingat saya, saya nggak pernah ngundang kamu,” ucapnya.
Dino berdecak kecil. “Lo emang gila! Nikah nggak ngundang-ngundang padahal udah ngasih tau juga. Untung mama lo ngasih gue tiket buat masuk. Gila, ya, lu, mulai besok lu bukan temen gue lagi!”
Dino berujar dengan ekspresi merajuk, yang mana hal itu membuat Rakha lagi-lagi menghela napasnya. “Udah sana, makan yang banyak,” ucap Rakha mals-malasan.
Dino semakin kesal dengan tingkah sahabat cueknya. Setelah berbincang dengan Rakha, laki-laki itu beralih menatap perempuan yang sedari tadi memerhatikannya. Perempuan yang kalau tidak salah namanya Anna, yang tidak lain adalah istri dari sahabatnya sendiri. “Eh, selamat, ya. hati-hati nanti malam, cuek-cuek gini, Rakha mainnya ganas!”
Anna terkekeh mendengarnya. “Oh, ya? tenang saja, akan kubuat Rakha ketar-ketir malam ini!” balasnya dengan senyum miring di bibirnya.
Dino ikut terkekeh, namun setelahnya ia kembali menepuk bahu Rakha seraya berkata, “Btw, istri lo udah tau tentang Tasya?”