Besok sudah sampai pada waktunya. Di mana, Anna akan resmi menjadi seorang istri dari Rakha Alexi, laki-laki tampan dengan sejuta pesonanya. Di mana mungkin mulai besok ia tidak bisa hidup hanya untuk hura-hura lagi, bersenang-senang lagi, dan tidak bisa hidup nakal begajulan seperti sebelumnya.
Anna juga tidak dapat memastikan bahwa setelah menikah nanti, ia bisa pergi ke Amerika untuk menemui keluarga neneknya atau tidak. Semuanya tergantung pada izin suaminya.
Terdengar konyol, bukan?
Anna yang notabene-nya perempuan bebas dan sangat anti dengan peraturan, namun mulai besok wanita itu akan menjadi wanita yang mungkin akan gampang diatur dan selalu menurut dengan apa kata suaminya. Anna yang senang menghabiskan waktu dengan hal-hal bodoh yang tak bermanfaat, mulai besok akan mengikis waktu yang terbuang itu agar lebih bermanfaat lagi.
Selain konyol, Anna juga masih belum percaya dengan dirinya sendiri. Di mana ia sangat anti dengan hal-hal seperti ini. Anna juga tidak memiliki niat untuk menikah, apalagi mendadak seperti ini. Namun, semuanya benar-benar terjadi begitu saja, berbanding terbalik dengan apa yang ia kira.
Setelah selesai dari urusan kamar mandinya, Anna kembali berjalan keluar kamar untuk menemui keluarga besarnya yang tengah sibuk di bawah. Mamanya yang sibuk berbincang dengan keluarga neneknya, papanya yang sibuk berbincang dengan para lelaki yang masih berhubungan keluarga dengannya. Damian yang sibuk mengarahkan mereka yang bertugas untuk menyusun dekorasi, dan Melia yang seperti biasa, sibuk dengan anak-anaknya.
Tepat di anak tangga terakhir, Anna menghampiri Damian yang kebetulan tengah berada di sana. “Hei, Brother. Bagaimana? Semuanya lancar?” tanyanya.
Damian mengangguk seraya mengacungkan jempolnya. “Lancar, Komandan!” balasnya.
Pernikahan awalnya akan diadakan di gedung yang masih menjadi milik perusahaan keluarga Rakha, namun Dad-nya menolak dengan alasan dia ingin pernikahan anaknya dirayakan di rumah saja. Bukannya apa, halaman rumah milik Edgard sangat luas, dan itu sudah cukup untuk menjadi tenda dan tempat untuk menampung para tamu undangan.
“Sip, kalau begitu I senang dengernya.” Anna kembali berjalan, namun kembali menoleh ketika Damian kembali bersuara. “Why?”
“Mau ke mana?”
“Mau lihat-lihat.”
Damian menggelengkan kepalanya pelan, heran dengan tingkah adiknya itu. bukan, bukan karena ucapan Anna barusan, melainkan dengan gaya bicaranya yang terlalu dibuat-buat. Terlebih, pakaian yang tengah dikenakan Anna sekarang demi apa pun sangat dan sangat tak layak pakai, dan tak baik untuk dipandang.
“Jangan ke tempat ramai, mending ke kamar gue aja, temenin Melia. Kasian, dia kelimpungan jagain anak-anak kayaknya,” ucap Damian.
Tidak langsung mengangguki ucapan kakaknya, Anna malah mengerutkan keningnya. “Kenapa?”
“Udah nurut aja sama Abang.”
Sebenarnya malas, namun kasihan juga jika mengingat Melia yang mungkin saat ini tengah kelelahan akibat mengurus anaknya yang banyak itu. berdecak pelan, Anna kembali putar arah untuk menuju kamar kakaknya yang labil itu. Bukan labil perasaannya, melainkan labil cara bicaranya. “Dengar, berpikir sebelum bertindak itu perlu. Punya anak kok banyak, padahal, dua aja juga udah cukup.”
Tidak mau kalah dengan ucapan adiknya, Damian menjawab, “Belum tahu aja rasanya gimana, nanti lo ketagihan juga.”
Jika terus diladeni, maka tidak akan pernah selesai. Maka dari itu, Anna langsung bergegas untuk menuju kamar kakaknya. Meninggalkan Damian yang tengah terkekeh di bawah sana.
Di momen-momen seperti ini, harusnya calon pengantin tengah duduk manis, atau … tengah bersenang-senang bersama teman dan sahabat-sahabatnya. Menceritakan segala hal, tentang persiapan, calon suami atau apa pun itu. yang pasti, harus sampai menghabiskan waktu.
Namun, momen itu agaknya tidak bisa dirasakan oleh Anna yang bisa dibilang tidak memiliki teman di Indonesia. Sebenarnya ada, hanya saja itu teman sewaktu SMA dan entah pada ke mana perginya. Bahkan, mungkin Anna tidak bisa mengingat bagaimana wajahnya.
“Hi guys! What are you doing?” ujar Anna ketika ia baru saja membuka pintu kamar Damian. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah anak-anak kakaknya yang tengah menyebar, menempati setiap pojok ruangan luas ini. Selain itu, ada suara tangis dari Mochi yang tengah disusui oleh Melia. Selain manusia, ruangan ini juga dipenuhi oleh mainan-mainan yang berserakan, yang banyaknya hampir menempati semua lantai di kamar ini.
Gila, melihatnya saja Anna sudah pusing, apalagi jika merasakan menjadi Melia.
Yang benar saja.
Mengingat ucapan kakaknya di bawah tadi, Anna jadi teringat dengan perbincangannya bersama Rakha waktu lalu. Perbincangan di dalam mobil ketika mereka hendak pulang ke rumah. Perbincangan yang topiknya serius, namun cara penyampaiannya benar-benar terdengar lucu.
“Rakha, kalau kita sudah menikah nanti, kau ingin memiliki anak berapa?” tanya Anna saat itu. matanya berbinar, tertarik dengan pertanyaan yang dibuatnya sendiri.
Rakha yang saat itu tengah mengemudi, hanya diam saja. Seperti biasa, laki-laki itu memang harus dihujani beberapa pertanyaan, baru akan membalasnya.
“Rakha, ayolah, apa salahnya? Kau hanya tinggal menjawab saja, kau ingin berapa?” Anna kembali bertanya. Ia sangat penasaran dengan jawaban Rakha.
Rakha menghela napasnya secara kasar. “Saya, tidak berpikir sampai ke situ.”
“Why? You tidak menyusun rencana untuk masa depanmu?” tanya Anna dengan kening yang mengerut heran.
“Menyusun, hanya saja, saya tidak menyusun rencana tentang itu.”
“Why? Kau tidak serius dengan pernikahan kita?”
“Entahlah.”
Anna berdecak mendengarnya. Laki-laki ini maunya apa, sih? Harusnya, jangan menjawab seperti itu. kesannya, Anna yang terlalu memaksa dan Rakha hanya menjadi korban paksaan saja. Meski itu kenyataan, setidaknya ada celah untuk menjadi peralihan. “Kau ini!” Anna mulai kesal.
“Aku serius, Rakha. Tolong jangan bikin aku kesal untuk yang kedua kalinya. Setidaknya, beri jawaban yang sedikit membuatku senang.” Kali ini ekspresinya berbeda, seperti marah namun hanya di pendam saja.
Melihat ekspresi Anna yang seperti itu, Rakha menghela napasnya pelan. Merasa bingung dengan dirinya sendiri, bingung dengan apa yang harus ia lakukan. “Saya belum memikirkan hal itu, Anna.”
“Jawab saja asal,” balas Anna, dengan raut wajah yang masih sama. Dengan nada bicara yang lebih rendah dari biasanya.
Perempuan memang seperti ini, ya? ingin rasanya Rakha bersikap bodoh amat dan tak mau peduli dengan Anna. mau marah atau tidak, ia tidak akan mau peduli. Namun, bagaimana kalau Anna akan mengadukan semuanya kepada mamanya?
Bukannya Rakha takut, namun jika sudah berurusan dengan mamanya, semuanya akan tambah runyam dan meribetkan. Jadi, lebih baik ia menurut saja.
“Saya ingin sepuluh, kamu siap?”
Seperti diguncang ombak yang tingginya sampai berpuluh-puluh meter, demi apa pun Anna sangat terkejut mendengarnya. Wajah yang mulanya fokus ke depan, dengan spontan menoleh menatap Rakha dengan bola mata yang hampir keluar. Sepuluh katanya?! Yang benar saja. Melihat anak kakaknya saja sudah pusing, apalagi harus sebanyak itu!
“Sepuluh? Yang benar saja!” ujarnya masih dengan ekspresi wajah tak percaya.
Rakha menoleh sekilas dengan kepala yang mengangguk pelan. “Iya, kenapa? Kamu tidak siap?”
Mendengar cara bicara Rakha, Anna merasa tertantang dengan hal itu. Rakha sudah antusias, ia jangan sampai kalah. “Kata siapa? Aku siap. Yang penting kau harus cari uang yang banyak!” balasnya.
Wanita gila! Rakha benar-benar tidak paham dengan bagaimana jalan pikiran Anna.
Sudah tidak mau meladeni lagi, Rakha kembali menghela napasnya pelan kemudian mefokuskan matanya ke depan. “Jangan, deh, tidak jadi sebanyak itu. Nanti keburu encok duluan saya.”