“Sebenarnya aku masih heran, kenapa kau bisa setuju untuk jalan berdua bersamaku, tapi … that’s good, I’m happy.”
Tidak mendapat jawaban, Anna kembali mengeluarkan suaranya. “Kau yakin akan mengikut saja?” tanyanya.
Rakha yang tengah sibuk mengemudikan mobilnya, menghela napas seraya melirik Anna sekilas. “Iya.”
“Oke, kalau begitu, kita pergi ke club sekarang,” balas Anna dengan penuh antusias.
“Kalau begitu, saya tidak setuju.”
“Why?” Anna menatap Rakha dengan kerutan di dahinya. Katany dia akan mengikut saja, lalu kenapa tidak setuju?
“Boleh ke manapun, asal jangan ke tempat yang kau sebut tadi,” ucap Rakha, dengan mata yang masih fokus ke depan.
Keduanya memang tengah berada dalam perjalanan, menuju tempat yang bahkan belum ditentukan hingga sekarang. Kedatangan Anna yang tiba-tiba ke rumahnya, mau tidak mau Rakha harus menuruti permintaannya. Ditambah, saat itu ia tengah tidak masuk kantor dan hanya diam saja di rumah, dan ada mamanya juga yang ikut membujuk agar ia mau ikut dengan Anna.
Sebenarnya merepotkan, namun akan lebih merepotkan lagi jika ia menolak dan tidak mau menuruti apa kata mamanya. Wanita itu akan marah-marah, dengan cara membawa masalah lalu sampai ke masalah hidup dan mati juga. Yang mana hal itu akan semakin membuatnya muak dan pusing kepala.
“Memangnya ada apa dengan club? Kau tidak pernah berkunjung ke tempat menyenangkan itu?” tanya Anna yang heran kenapa Rakha tidak setuju dengan usulan tempatnya. Padahal, club malam akan menjadi tempat yang sangat cocok untuk melampiaskan semua beban pikiran dan melepas lelahnya tubuh karena pekerjaan.
“Pernah.”
“Lalu?”
“Saya tidak suka dengan tempatnya, Anna. jadi, tolong jangan ke tempat itu.”
Rakha menjawab dengan nada rendah dan raut wajah yang kelewat serius, yang mana hal itu membuat Anna merasa tidak enak hati jika harus membahas dan bertanya lebih jauh lagi. Sudah jelas, dan Anna sangat yakin kalau Rakha memiliki sesuatu atau alasan yang tepat kenapa dia bisa sampai tidak suka dengan tempat menyenangkan itu.
***
Sudah berekspetasi tinggi, namun ternyata Rakha hanya membawanya ke tempat makan angkringan yang ada di pinggir jalan. Yang benar saja, Anna sudah menghabiskan waktu selama dua jam untuk memilih baju dan menata setiap lekuk wajahnya, tetapi pada akhirnya laki-laki itu malah hanya membawanya ke tempat biasa seperti ini.
Kalau tahu seperti ini, lebih baik ia yang mengusulkan tempat tadi. Bukan malah pasrah dan menyerahkan kepada Rakha persoalan memilih tempatnya.
Bukan, bukannya sok iya atau terlalu mementingkan hidup mewah, namun setidaknya Rakha tahu dan paham dengan apa yang dipakai oleh Anna. selama hidupnya, Anna tidak pernah melihat perempuan yang mengenakan pakaian, sepatu dan aksesoris mewah, ditambah dengan wajah dan bodi mendukung, makan di tempat yang mohon maaf, bisa dibilang kumuh seperti ini. Atau … memang ia yang tidak tahu apa-apa?
“Rakha, kau serius akan makan di tempat ini?” tanya Anna dengan raut wajah yang sudah sulit untuk dijelaskan. Seperti marah, namun tak bisa diungkapkan. Seperti kesal, namun Rakha tidak mau memedulikan.
Rakha yang sudah duduk tepat di kursi kayu di bawah tenda seadanya itu mengangguk singkat, tanpa mau menoleh kepada Anna yang masih berdiri sembari mencak-mencak di sampingnya.
“Yang benar saja!”
Mendengar suara Anna yang kelewat tinggi, bahkan sampai membuat si pedagang menoleh, Rakha ikut menoleh menatap Anna dengan tatapan seperti biasa. Datar dan tak memiliki ekspresi. “Memangnya kenapa? Tadi kamu sudah setuju untuk menyerahkan soal tempat kepada saya. lalu, kenapa sekarang berkomentar?”
Kenapa katanya?! Anna berdecak sangat keras, dengan wajah yang sudah memerah. bahkan wanita itu tidak peduli dengan tatapan-tatapan pelanggan yang lain, yang tengah duduk tak jauh dari tempatnya berada. “Oh, ayolah, kau tidak melihat penampilanku? Sudah nyaris sempurna seperti ini, masa harus duduk dan makan di tempat yang ….”
Sekali lagi, Anna berdecak keras. Semakin kesal dengan Rakha yang tidak menghiraukan apa yang ia katakan. Yang lebih parah, bukannya berdiri dan mengajaknya untuk berpindah tempat, laki-laki sialan itu malah berdiri dan memesan sesuatu kepada si pedagang sana.
Gila! Dasar Rakha Gila!
“Rakha?!” Anna kembali mendumal ketika Rakha sudah kembali ke tempatnya semula.
Dengan tatapan malas, Rakha membalas tatapan Anna yang sudah nyalang, persis dengan tatapan ibu-ibu yang memergoki suaminya yang tengah berselingkuh. Semarah itukah dia? Padahal, untuk duduk dan makan di tempat ini, apa susahnya? Padahal, soal rasa, tempat ini juga tak kalah enaknya dengan restauran-retauran besar di luaran sana.
“Apa?” jawab Rakha dengan nada santai.
“Kau ini!”
“Kenapa?”
“Kau tidak dengar atau bagaimana?”
Menarik napas dalam, Rakha berusaha agar tetap terlihat tenang. Meski sedikit kesal dengan tingkah Anna, tidak mungkin jika ia harus berdiri kemudian menuruti keinginannya. Tidak mungkin. Sebab, ia sendiri memang sengaja datang karena sudah lama ingin makan di tempat ini. “Saya baru tau kalau kamu bisa emosi seperti ini. Maksudnya, awalnya saya juga sudah tahu bagaimana kelakuan kamu, tapi sejauh ini, malam ini yang paling mencengangkan bagi saya.”
Mendengar itu, Anna diam. Namun dengan mata yang masih terbuka lebar, juga d**a yang naik turun akibat napasnya yang tak beraturan.
“Duduk, Anna. kau hanya tinggal duduk dan nikmati makanannya. Kalau masih kurang puas, kita pergi ke tempat yang kamu inginkan.”
Pada akhirnya, Anna tidak bisa berkutik dan hanya bisa menurut saja. Meski kesal, meski marah, meski malu, ia tetap melakukan apa yang dikatakan oleh Rakha. Duduk dan menikmati makanannya.
Awalnya malu-malu, namun ketika mulutnya sudah mencicipi beberapa suapan, ia dibuat bungkam dengan rasa yang ternyata tak kalah enak dari restauran yang sering ia datangi. Sangat menggiurkan, bahkan sampai membuat Anna lupa kalau ia tengah duduk berdua dengan Rakha. Anna tidak tahu bagaimana tanggapan laki-laki itu ketika melihatnya makan serakus ini, yang pasti rasanya memang benar-benar seenak ini.
Biarlah, meskipun apa yang dikatakan oleh laki-laki labil itu benar, Anna tetap tidak mau mengakuinya. Gengsi, karena sudah terlanjur marah-marah, bahkan hampir saja sampai menghina.
***
Sampai di rumah, setelah membersihkan tubuhnya, Rakha langsung membaringkan tubuhnya di kasur untuk mengistirahatkan tubuhnya. Bahkan, ia tak sempat menghampiri meja kerja dan laptop yang sehari-hari selalu menemaninya itu. selain capek, ia juga ingin cepat tidur. Berharap isi kepalanya dapat beristirahat, dari masalah yang semakin hari semakin terasa runyam.
Matanya sudah tertutup rapat, namun beberapa saat setelahnya kembali terbuka ketika mendengar suara notifikasi dari ponselnya. Bukan, ternyata bukan hanya notifikasi, melainkan suara panggilan yang menunjukan panggilan dari temannya.
“Hallo, Bro!” ujar seseorang di ujung sana.
Dengan malas Rakha menjawab, “Hm?”
“Layu amat suara lo, kayak nggak dikasih jatah sama doi aja.”
“Ada apa? Saya lagi istirahat.”
Terdengar suara gelakan tawa di ujung sana. “Gila ya, Rakh, berhenti pake saya kamu kalo sama gue, lama-lama gue baper nanti sama lo.”
“Gila,” jawab Rakha sembari mendengus keras.
Namanya Dino Alatas, sikapnya memang selalu gila seperti itu.