Hari ini, Anna sengaja bangun pagi karena ia akan pergi ke rumah calon mertuanya. Iya, tepat sekali, rumah Rakha, laki-laki tampan yang setiap hari semakin membuatnya terpana. Ah, tidak hanya terpana, melainkan sampai tergila-gila seperti dimabuk cinta.
Memang lebay. Tolong jangan ditiru.
“Anna, tolong ambilkan wadah berukuran sedang,” ujar Melati yang tengah mengaduk adonan kue di meja.
Anna yang memang sedari tadi berada di dekat mom-nya—karena berniat membantu mom-nya yang tengah membuat kue—langsung berjalan untuk mengambil apa yang diperlukan oleh Mom-nya.
Datang ke rumah calon mertua dengan tangan yang kosong, tentu akan sangat memalukan, bukan? Tidak memalukan, namun hati kita yang akan merasa tidak enak nantinya. Beruntungnya, setelah Mom-nya keluar dari rumah sakit, wanita itu sudah kembali sehat dan sudah bisa beraktivitas seperti semula. Alhasil, dia yang juga membantu mewujudkan keinginan Anna pagi ini.
“Ini, Mom,” ucap Anna seraya menyodorkan wadah yang dimaksud oleh Mom-nya.
Sebenarnya, sebelum Mom-nya menawarkan diri untuk membuat kue, Anna sudah berniat kalau ia akan membeli sesuatu di jalan, sebelum ia sampai di rumah calon suaminya itu. namun, ketika ia mengatakan niat bagusnya itu, Mom-nya melarang dan malah menawarkan diri untuk membuat sendiri di rumah.
“Ingat pesan Mom, kau di sana harus bagaimana?” tanya Melati.
Anna berdeham, bertingkah seolah mengingat apa yang dibicarakan oleh Mom-nya semalam. Iya, kegiatan hari ini memang sudah direncanakan sedari semalam, dan saat itu juga ia langsung memberitahu Mom-nya. Sebenarnya tidak ada hal lain yang akan ia lakukan di rumah Rakha, selain ia yang ingin tahu di mana letak rumahnya, juga ia yang ingin lebih mengenal bagaimana sebenarnya Rakha dan keluarganya.
Jauh, jauh di dalam lubuk hatinya, meski ia belum kenal sebelumnya dengan Rakha, Anna sangat yakin seyakin-yakinnya kalau Rakha adalah laki-laki baik, begitupun dengan keluarganya. Jadi, tidak perlu ada yang diragukan dalam hal itu.
“Anna?” ujar Melati ketika melihat anaknya diam, dan tak kunjung menjawab ucapannya.
“Ah, iya, Mom.” Anna menarik kedua sudut bibirnya. “Selain harus memberi salam, berbicara lembut, bersikap ramah, sopan, dan tau aturan, Anna juga jangan melakukan hal yang memalukan. Tenang aja, Mom, Anna inget semua apa yang Mom katakan. And… I pasti lakuin apa yang Mom katakan. I promise, Mom.”
***
Setibanya di rumah Rakha, Anna langsung disambut oleh seorang asistan rumah tangga yang kalau tidak salah namanya adalah Neneng. Anna mengetahui itu dari calon mertuanya. Perempuan yang sudah bisa ditebak kalau umurnya jauh lebih muda dari Anna. Anna juga bisa menebak bagaimana karakteristik dari seorang asistan rumah tangga itu, sebab, sejak pertama kali bertemu dengannya, Neneng sudah menunjukan bagaimana sikapnya.
“Duh, gusti, ini bidadari turun dari mana? Cantik bener. Non Anna, ya?”
Itu ucapan Neneng ketika bertemu dengan Anna, dan Anna langsung mengangguk membalasnya. “Iya, Saya Anna. Mama-nya ada?”
Dengan mata berbinar, Neneng menganggukkan kepala kemudian menuntun Anna untuk ikut masuk ke dalam. Membawanya ke arah dapur, menghampiri Raya yang tengah mengolah sesuatu di sana.
“Eh, Anna, kamu udah sampai?” tanya Raya seraya menghampiri Anna, kemudian memeluknya.
“Baru saja sampai, Ma,” balas Anna.
Melepas pelukan, Raya tersenyum lebar menatap Anna kemudian menuntun wanita itu untuk menuju ruang keluarga. “Neneng, kamu urus, ya, masakan saya. jangan sampai gosong,” ucap raya sebelum berlalu dari dapur.
“Anu, Nyah, emang sayur bisa gosong?” tanya Neneng sedikit heran dengan ucapan Nyonya-nya.
“Bisa, kalau kamu sibuk ngelamun mikirin Kang Doyong,” sahut Raya seraya terkekeh pelan.
Tanpa mau membalas ucapan Neneng lagi, wanita yang mengenakan setelan rumahan itu terus menuntun calon menantunya sampai mereka memasuki area ruang keluarga. Mempersialakannya untuk duduk, kemudian ia juga ikut duduk di sebelahnya.
“Mama udah bilang, kan, kamu cukup bawa tubuh aja ke sini, jangan repot-repot bawa yang lain,” ucap Raya, merasa tak enak ketika melihat Anna meletakan buah tangannya di meja.
“Justru, Anna yang pasti merasa tidak enak kalau datang hanya membawa tangan kosong, Ma. Ini kue buatan Mom di rumah, mama pasti suka,” balasnya dengan suara yang lembut, sangat berbeda dengan suaranya ketika di rumah.
Senyum Raya kembali mengebang, senang dengan ucapan Anna barusan. Melihat sikap dan perilaku wanita di sampingnya itu, Raya semakin yakin kalau Anna sangat pas dan cocok untuk anaknya. Masalah umur yang lebih tua dari Rakha, itu tidak masalah selagi jalan pikiran dan kedewasaan masing-masing itu sama dan sejalan. Masalah pertemuan mereka yang masih terbilang sangat singkat, itu juga tidak jadi masalah selagi keduanya sama-sama suka.
Tunggu, sepertinya Raya keliru. Sama-sama suka agaknya memang tepat untuk Anna yang sudah terlihat suka dan tertarik kepada Rakha, namun tidak tepat dengan anaknya itu. Rakha memang menerima, namun ia jauh lebih tahu kalau sebenarnya anak itu sangat terpaksa. Melihat Rakha yang terkadang terlihat murung dengan raut wajah penuh kesedihan, Raya juga sangat merasa bersalah. Ia tahu, keputusannya sangat memaksa dan hanya memikirkan kepentingan sepihak, namun jauh dari itu, ia juga memiliki alasan lain dan hal itu juga demi kepentingan dan kebaikan anaknya sendiri.
Raya tidak mau kalau Rakha harus selamanya terpuruk. Raya juga tidak mau kalau selamanya Rakha harus menganggap bahwa perasaannya sudah mati dan tak bisa tumbuh kembali.
Payah hati bukan rintangan, melainkan hanya cobaan. Patah hati juga bukan alasan untuk tidak bertahan dan malah pasrah dengan kehidupan. Harusnya, jika ingin terus tumbuh, Rakha harus bangun dan melawan semua rasa trauma yang dialaminya.
***
Setelah cukup puas membicarakan berbagai hal dengan calon mertuanya, Anna berniat untuk pamit pulang karena hari sudah akan menjelang sore tapi Rakha masih belum kembali dari kantornya. Namun, Raya melarangnya dengan alasan, Anna harus menunggu sebentar lagi sampai calon suaminya pulang.
Demi citra dirinya yang ingin terlihat bagus, Anna sempat menolak meski pada akhirnya ia tetap mengiyakan juga. Kesempatan yang menguntungkan, jadi, jangan disia-siakan. Kapan lagi ia bisa tidur leha-leha di kamar Rakha selain sekarang? Kecuali kalau mereka sudah resmi menjadi suami istri.
Tolong jangan salah paham, meski celamitan, persoalan menunggu di kamar Rakha ini bukan keinginan Anna, bukan juga usulan darinya. Melainkan Raya sendiri yang menyuruhnya untuk menunggu sambil istirahat di tempat yang demi apa pun, wanginya sangat khas dan memabukkan.
Setelah pintu kamar kembali di tutup, Anna tidak langsung mengistirahatkan tubuhnya. Sayang, kesempatan hanya datang sekali, jadi, ia harus menuntaskan rasa ingin tahunya di sini. Berjalan mengelilingi setiap sudut ruangan yang luasnya hampir dua kali lipat dari kamarnya. Ruangan bercat hitam, putih, dan abu, yang setiap barang di dalamnya memiliki warna yang senada. Ruangan yang sangat dan amat rapi, berbeda dengan ruangannya sendiri. Ruangan yang di dalamnya memiliki empat pintu, entah pintu apa saja itu.
Biarkan Anna menebak. Yang pertama, pintu menuju kamar mandi. Ya, itu sudah pasti. Yang kedua, pintu menuju balkon kamar, dan itu juga sudah pasti. Dan dua pintu yang lain, Anna tidak bisa memastikan dan hanya bisa menebaknya. Kemungkinan, satu di antaranya adalah pintu menuju ruang khusus pakaian, dan mungkin yang satu lagi pintu mneuju ruang kerja Rakha.
Setelah puas melihat-lihat, Anna berjalan menuju kasur berukuran besar itu. mendudukkan tubuhnya, kemudian menimbang-nimbang apakah ia harus berabring atau tidak. Posisi duduk seperti ini saja, aroma sprei kasur Rkha sudah menusuk indra penciumannya. Aroma yang harumnya sangat persis dengan aroma yang ia cium ketika berada di dekat Rakha.
Berkali-kali menghirupnya, Anna benar-benar yakin kalau ia bisa gila mendadak jika terus berada di tempat ini.