Manusia hanya bisa berencana, Tuhan yang menentukan.
Manusia hanya bisa meminta, Tuhan yang mengabulkan.
Manusia hanya bisa berusaha, urusan berhasil atau tidaknya, itu tergantung pada Tuhan.
Manusia juga hanya bisa berusaha, Tuhan yang menjawab semuanya.
Meskipun bisa dibilang begajulan, Anna tetap sering berdoa ketika hatinya tengah memiliki keinginan. Bersikap layaknya seseorang yang taat, padahal kelakuan lebih banyak maksiat. Tolong jangan ditiru!
Anna sudah menyangka akan hal ini, namun tetap saja, ia masih merasa belum percaya sepenuhnya. Di mana, satu minggu yang lalu ia dipertemukan dengan seseorang yang amat tampan dan rupawan, seseorang yang bisa membuatnya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama, seseorang yang sikapnya seperti bukan manusia, namun perilakunya sangat dan amat istimewa, dan hari ini ia akan resmi memiliki laki-laki itu.
Ah, tidak, belum memiliki, karena hari ini mereka hanya akan menjalankan proses lamaran atau tunangan, lebih tepatnya. Dan seminggu kemudian, keduanya akan resmi menjadi sepasang suami istri.
Tentu hal yang sangat gila, namun membahagiakan, bukan?
Sejak pulang ke Indonesia, maupun ketika ia masih berada di Amerika, Anna tidak pernah terbayang atau terpikirkan sedikitpun kalau ia akan menikah dengan waktu secepat ini. bukan masalah umur karena umurnya yang memang sudah sangat pas untuk menikah, melainkan karena jodoh yang datang kepadanya yang terlalu cepat.
Kenal hanya dalam satu minggu dan langsung memutuskan untuk menikah—meski belum ada kata cinta dalam hati keduanya—itu merupakan hal yang sangat luar biasa, namun Anna tidak akan pernah menyesalinya.
Masih ingat dengan perkatannya yang mengatakan bahwa ia akan membuat Rakha tunduk dan jatuh cinta kepadanya? Sepertinya … hal itu akan terjadi secepatnya.
Prosesi lamaran sudah berlangsung sejak satu jam yang lalu, kini jari manis Anna maupun jari manis Rakha, sudah terpaut cincin manis berwarna silver mengilap. Menjadi tanda bahwa keduanya sudah saling terikat, dan hanya tinggal menunggu resmi menjadi suami istri saja. Anna senang akan hal itu, ditandai dengan raut wajah yang sumbringah, tanpa melunturkan senyum manisnya sedetikpun.
Sedangkan Rakha, sejak mengatakan dan bertanya apakah Anna siap menjadi istrinya atau tidak, ia merasakan hal yang benar-benar berbeda. Seperti tidak percaya, seperti tidak menyangka, seperti sedikit menyesal namun tak tahu harus bagaimana, seperti merasa salah karena ia harus berkorban demi keinginan keluarganya. Seperti benci, namun tak tahu harus benci dengan apa dan kepada siapa. Seperti takut, takut kalau pada akhirnya ia yang sudah salah melangkah dengan keputusannya.
“Hey, kau tidak ikut berbaur dengan mereka?” tanya Anna yang baru saja menghampiri Rakha.
Sejak acara selesai, keluarga Rakha memang tidak langsung pulang. Sengaja, biar sekalian menentukan apa yang belum mereka tentukan, menyiapkan apa yang belum mereka siapkan, membicarakan apa yang belum sempat mereka bicarakan. Sedangkan Rakha hanya mengikut saja, karena hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang. Daripada ikut berbincang yang mungkin akan semakin membuat kepalanya pusing, lebih baik Rakha mengasingkan diri dengan duduk di kursi taman belakang rumah Anna, dan hanya sendirian.
Selain menenangkan diri, tidak bisa dipungkiri kalau mulai detik ini, Rakha juga harus memikirkan rencana hidup untuk ke depannya. Akan bagaimana, akan seperti apa, dan akan melakukan apa saja. Biarpun ia sudah pasrah dengan masa depannya sendiri, semua itu tetap perlu disiapkan. Jaga-jaga, karena tidak akan ada yang tahu ke depannya akan seperti apa.
“Kamu lihat saya di sini, berarti saya tidak ikut berbaur dengan mereka,” jawab Rakha pelan. Sejak semalam—ketika ia datang bersama mamanya ke rumah Anna—cara bicaranya memang sudah sedikit berbeda. Rakha lebih sering menjawab pertanyaan atau membalas ucapan Anna, dia juga sudah emngganti kata ‘kau’ menjadi kata ‘kamu’ sebagai panggilan lawan bicaranya yang tidak lain adalah calon istrinya sendiri.
Anna yang mendengar itu, menarik sudut bibirnya. Tersenyum samar sembari ikut mendudukkan tubuhnya di sana. “Cara bicaramu sudah sedikit berubah, apa aku juga harus mengikuti cara bicaramu?”
“Terserah.”
“Kamu mau dipanggil apa?” tanya Anna, yang muali mengubah kata ‘kau’ menjadi kata ‘kamu’. Sama seperti yang Rakha lakukan.
“Terserah.”
“Jangan begitu, katakan saja apa yang kamu mau. Kalau mengikut apa kataku, kamu pasti akan terkejut.”
Tanpa tertarik untuk menoleh, Rakha menarik napasnya dalam-dalam kemudian mengembuskannya secara perlahan. Selain menyiapkan apa saja yang akan ia lakukan ke depannya, Rakha juga harus bersiap diri karena sebentar lagi ia akan menjadi seorang suami dari perempuan yang … demi apa pun, kelakuannya akan selalu menguras kekesalan dan sikapnya yang selalu memancing emosi. Baru pertama kali bertemu saja, Anna sudah bersikap kelewatan, apalagi nanti kalau mereka sudah dekat.
“Kalau begitu, panggil nama saja.”
Kening Anna mengerut, sedikit aneh dengan ucapan Rakha barusan. Namun, detik berikutnya kerutan itu langsung menghilang, digantikan dengan senyum miring yang begitu memiliki banyak arti. Antara suka atau tidak suka, antara bisa atau tidak bisa, antara menerima atau malah merencanakan hal yang lebih gila lagi dalam pikirannya.
“Baiklah, aku akan memanggilmu dengan sebutan Rakha Sayang. Bagaimana? Kamu suka?”
Rakha diam, tidak mau menjawab.
“Hey, kamu dengar, kan?”
Rakha hanya mengangguk sebagai jawaban bahwa ia memang mendengar ucapan Anna barusan.
“Lalu bagaimana, kamu setuju atau tidak?”
Jika dilayani, maka Rakha yakin kalau obrolannya dengan Anna akan memanjang. Namun jika tidak dilayani, ia yakin juga kalau Anna tidak akan pernah berhenti bericara sebelum ia menjawabnya. Bukannya apa, untuk saat ini Rakha hanya ingin diam menyendiri, meratapi kehidupan pahit yang akan segera ia alami. Bukannya menyalahi setiap sikap dan kelakuan Anna, tetapi … kalian semua pasti tahu bagaimana maksudnya.
“Tidak,” jawab rakha pada akhirnya.
“Why?”
“Saya tidak suka dipanggil sayang.”
Demi apa pun, hampir saja Anna tertawa keras akibat terkejut jika saja ia tidak sadar kalau saat ini, suasana rumahnya masih ramai dihuni orang-orang. bagaimana bisa? Sebanyak laki-laki yang ia temui selama tiga puluh tahun ini, baru kali ini ia mendengar ada laki-laki yang tidak suka dipanggil sayang. Serius. Ini terdengar aneh, namun begitu lucu bagi Anna.
“Astaga, apa aku tidak salah dengar?” Anna menatap Rakha yang kini fokus ke depan. “Kau serius? Lalu, kau suka dipanggil apa?” lanjut Anna, tanpa sadar ia kembali mengucapkan kata ‘kau’ kepada Rakha.
“Okay, itu tidak masalah. Tapi tolong berpartisipasi, aku bertanya, kau mau kupanggil apa kalau tidak mau dipanggil sayang?” Anna mencoba paham dengan pemikiran Rakha, bagaimanapun ia harus mau mengerti dengan keinginan laki-laki itu. Setidaknya, sampai keduanya benar-benar sudah resmi bersama-sama. Setelah itu, Anna akan bebas melakukan apa pun, termasuk membuat Rakha ketar-ketir dengan kelakuannya. “Bukannya sebentar lagi kita akan menikah? Panggilan apa yang cocok untuk kita setelah menikah nanti?”
“Saya tidak tahu. Tapi, memanggil dengan sebutan nama saja sepertinya sudah cocok.” Rakha menghela napasnya pelan. “Sudahlah, biarkan semuanya mengalir begitu saja. Lakukan apa yang kamu mau, asal jangan mengusik kenyamanan saya.”
Ada apa dengan Rakha?
Kemarin, Anna memang sudah memlihat dan sudah tahu bahwa Rakha memang memiliki sikap seperti ini. selain dingin, dia juga plin-plan. Selain tidak suka ribet, dia juga sangat sulit untuk ditebak. Bukannya apa, Anna juga sudah tahu kalau Rakha suka menyendiri seperti ini, namun sekarang laki-laki itu benar-benar terlihat berbeda. Tatapan matanya seolah mengisaratkan bahwa dia tengah mengalami hal yang begitu berat, sehingga sulit untuk diceritakan.
Anna juga tahu, sudah pasti alasannya karena pernikahan mereka. Sudah pasti karena Rakha merasa sangat terpaksa. Namun, apa harus seperti ini? kalau tidak mau dan tidak suka, setidaknya laki-laki itu bisa mneolak sekeras mungkin. Bukan malah menerima dan pasrah seperti ini, padahal, rasanya sangat sulit untuk dijalani.
Meskipun tergila-gila dengan lelaki tampan dan seksi itu, Anna juga merasa tidak tega jika harus melihatnya seperti ini.
“Kenapa kau menerimanya?”
Rakha menoleh sekilas. “Menerima apa?”
Sudah bisa dilihat, bukan? Biasanya, Rakha lebih banyak diam dan selalu mengacuhkan ucapannya, dia juga sering bersikap sinis dan bertingkah seolah tidak peduli dengannya. Namun sekarang terlihat beda, selain lebih banyak bicara, Rakha juga berekspresi teduh, tak sinis seperti biasanya.
“Kenapa kau setuju untuk menikah denganku?”
“Memang, saya bisa menolak?” Rakha kembali bertanya, dengan tatapan yang kini membalas tatapan Anna.
Anna menghela napasnya pelan. “Harusnya bisa. Biarpun mereka, orang tua kita memaksa, harusnya kau juga bisa memaksa juga untuk menolak. Aku tahu, menikah dengan cara seperti ini sangat tidak baik untuk dilakukan. Pasti berat. Sebenarnya apa alasan kamu sehingga mau menerimanya?”
Tingkahnya seperti anak-anak, tapi pola pikirnya boleh juga. Rakha masih diam, tidak mau menjawab. Lebih tepatnya, ia tidak tahu harus menjawab apa.
“Rakha, kalau kau tidak mau, kita masih bisa batalkan semuanya, sebelum semuanya benar-benar sudah terjadi. Aku memang suka, tertarik, bahkan mungkin tergila-gila kepadamu, tapi aku tidak tega juga jika harus melihatmu seperti ini. kita batalkan saja, biar aku yang bicara kepada mereka.” Anna memberi jeda, berharap kalau Rakha akan berbicara dan mengatakan tidak untuk menolak usulan yang ia berikan barusan. Ayolah, ucapannya hanya bentuk pencitraan saja, sebenarnya ia juga tidak mau jika semuanya harus dibatalkan.
Sayang, barang bagus. Kalau ia tidak memaksa, maka tante yang lain akan merebutnya.
Setelah cukup lama terdiam, akhirnya rakha bersuara juga. “Baiklah, mari kita bicarakan bersama. Kita batalkan saja semuanya.”
Percayalah, Rakha memang tidak ingin menikah sekarang, namun tidak ada keseriusan dalam ucapannya barusan. Itu hanya bentuk candaan, dan ia ingin tahu bagaimana resposn Anna ketika mendengarnya. Lagi pula, ia juga tahu bagaimana sikap dan sifat Anna, sangat tidak mungkin jika wanita itu akan melepaskannya begitu saja. Apalagi saat ini, keduanya sudah bertunangan dan saling terikat satu sama lain.
Mendengar jawaban Rakha, Anna meneguk ludahnya susah payah. Sialan, kenapa Rakha malah setuju dengan usulannya? Kalau sudah seperti ini, ia harus apa?
Demi apa pun, organ dalam tubuh Anna semakin terasa diaduk-aduk saja rasanya ketika melihat tatapan menantang dari Rakha.
“Kalau kamu rela, mari batalkan semuanya. Mari bicara kepada orang tua kita, bahwa kita sudah sama-sama sepakat untuk membatalkan semuanya.” Rakha terkekeh sinis. “Lain kali jangan gegabah, kalau saya tipe manusia yang suka ingkar janji, mungkin saya akan mengiyakan ucapan kamu saat ini juga. Sudahlah, sudah saya katakan, biarkan semuanya mengalir begitu saja, lagi pula, saya juga sudah berjanji di hadapan kedua orang tua kamu. Saya tidak mau jadi laki-laki yang ingkar, apalagi bertindak seenaknya.”
Sial! Ternyata Rakha menyadari pencitraannya.
Terlepas dari itu, Anna merasa semakin gila saja ketika mendengar kata-kata manis yang diucapkan oleh Rakha barusan.
Oh, Tuhan, Anna sudah kebelet nikah sekarang!